Updates from Januari, 2008 Hide threads | Tombol Pintas

  • Exchange Traded Fund 

    ghifi 12:58 am on January 27, 2008 Permalink | Balas


    Diambil dari Riset ETF di Indonesia yang diterbitkan oleh Bapepam

    Ingin mencari sebuah alternative investasi selain reksa dana conventional? Saham yang resikonya tinggi? Atau obligasi (bond) yang mahal biaya investasinya? Mudah? Murah? Serta likuid dapat diperdagangkan kapan saja, serta memberikan imbal hasil yang tidak kalah dibandingkan kedua instrumen di atas? Exchange Traded Funds (ETF) adalah produk yang relatif baru di dunia pasar modal. ETF pertama kali dikembangkan di Kanada di sekitar tahun 1990-an. Instrumen ini merupakan instrumen yang murah yang dapat mengakses eksposur pasar secara luas (atau juga sempit bila memang dibutuhkan).
    ETF pada dasarnya adalah penggabungan karakteristik dari dua produk yakni reksa dana berbentuk terbuka dan saham. Namun tidak seperti reksa dana, investor tidak membeli atau menjual kembali unit penyertaannya kepada manajer investasi. Investor justru membeli unit penyertaan atau saham ETF di suatu bursa. Meskipun ETF diperdagangkan sama halnya seperti saham, namun ETF memiliki struktur yang sama dengan reksa dana yang merepresentasikan kepemilikan atas efek-efek dalam portofolio.
    Faktor utama yang mendorong perkembangan ETF secara pesat adalah efisiensi harga. Harga ETF sangat mendekati nilai aktiva bersihnya sebagai akibat investor mengetahui nilai aktiva bersih portofolio ETF yang diumumkan manajer investasi secara harian dan investor mengetahui secara lengkap portofolio dari ETF itu sendiri. Di samping itu, ETF juga memiliki struktur biaya yang relatif lebih rendah dari reksa dana.
    Produk ETF yang berkembang demikian pesat di sejumlah negara ini akan juga dikembangkan di pasar modal Indonesia. Untuk itu perlu kajian mendalam berkaitan dengan peraturan yang dibutuhkan guna penerapan ETF. Selain itu diperlukan kesiapan pelaku pasar modal dalam penciptaan dan perdagangan ETF.

    Pasar modal Indonesia sejak tahun 1996 telah mengembangkan Reksa Dana sebagai salah satu instrumen yang didesain untuk menjangkau investor ritel. Industri reksa dana ini diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam memperkuat serta memperluas basis investor. Sepanjang kurun waktu tahun 2000-2003 perkembangan reksa dana menujukkan peningkatan yang siginifikan, namun pada tahun 2004 peningkatan NAB reksa dana menunjukkan perkembangan yang melambat atau mengalami titik kejenuhan. Hal ini memerlukan inovasi-inovasi baru dalam pengembangan reksa dana. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan reksa dana yang dapat diperdagangkan di bursa (exchange traded funds).

    Di Amerika Serikat, sejak diperkenalkan tahun 1993 perkembangan nilai dana kelolaan ETF menunjukkan tingkat pertumbuhan yang signifikan dan sampai dengan akhir Juni 2005 jumlah ETF yang sudah tercatat dan diperdagangkan sebanyak 171 buah dengan total dana kelolaan sebanyak US$242,6 milliar. Peningkatan nilai asset yang luar biasa tersebut dikerenakan ETF memiliki karakteristik yang lebih menarik dibandingkan dengan reksa dana konvesional. Mempertimbangkan kedua hal tersebut, perlu dilakukan studi tentang kemungkinan penerapan perdagangan Exchange Traded Funds di Pasar Modal Indonesia.

    Karena karekterisitiknya yang unik, berinvestasi dalam ETF memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan berinvestasi dalam Reksa Dana antara lain :

    1. Diversifikasi Penuh (Full diversification)
    ETF memiliki keunggulan dari sisi penyebaran resiko investasi (diversifikasi) karena satu unit penyertaan/saham ETF mewakili sekumpulan saham yang ada dalam indeks acuan, dengan demikian maka dengan memiliki 1 unit penyertaan/saham ETF, maka pemodal
    dapat memperoleh gain atau loss yang sama dengan indeks acuan (underlying indeks) tanpa membeli seluruh saham yang ada dalam indeks yang menjadi acuan.

    2. Likuiditas (liquidity)
    Karena ETF diperdagangkan di Bursa Efek seperti halnya saham, maka ETF memiliki keunggulan dalam hal likuiditas, artinya pemodal dapat melakukan penjualan unit penyertaan/saham ETF setiap saat sepanjang jam perdagangan bursa. Disamping itu karena terdapat mekanisme penyediaan likuiditas yang dilakukan oleh market maker dalam perdagangann ETF di bursa, maka investor tidak perlu khawatir akan terjadinya kekurangan likuiditas.

    3. Transparansi (transparency)
    Karena ETF merupakan efek yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek, maka jenis reksa dana ini memiliki tingkat transparansi yang tinggi. Hal ini tercermin dengan tersedianya informasi mengenai pergerakan dari indeks acuan serta pergerakan harga dari saham konstituen yang membentuk indeks bagi publik sepanjang hari, dan informasi tersebut dapat diakses dengan mudah melalui media cetak maupun elektronik, bahkan dapat diakses setiap saat (real time) melalui internet atau fasilitas yang disediakan oleh penyedia infomasi bursa seperti Bloomberg, RTI dan lain-lain. Disamping itu informasi mengenai perdagangan dan pergerakan harga unit/saham ETF serta kuotasi harga dari pembeli dan penjual tersedia sepanjang hari secara real time.

    4. Minimum investasi yang kecil (low minimum investment)
    Jumlah minimum dana yang dibutuhkan untuk berinvestasi dalam ETF biasanya lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah minimum investasi dalam reksa dana biasa karena unit penyartaan/saham
    ETF diperdagangkan dalam satuan lot yang kecil dapat dicapai oleh investor.

    5. Biaya transaksi yang rendah (low transaction cost)
    Seperti halnya transaksi saham biasa, pemodal yang melakukan pembelian dan penjualan unit penyertaan/saham ETF harus melalui perusahaan pialang (broker) dan akan dikenakan biaya komisi oleh perusahaan tersebut yang apabila dibandingkan dengan biaya pembelian (subscription) atau pelunasan (redemption) reksa dana biasa, maka biaya transaksi unit/saham ETF jauh lebih kecil .

    6. Eksposur global (Global Exposure)
    Beberapa ETF menginvestasikan dana kelolaannya dalam indeks efek yang berasal dari luar negeri, hal ini memberikan kesempatan bagi investor retail untuk berinvestasi di pasar modal luar negeri, dengan demikian memiliki eksposur efek yang berasal dari luar negeri.

    7. Mengakses berbagai macam sektor dan indeks (access to sectors and indeks)
    Salah satu fitur yang menjadi daya tarik dari ETF adalah kemampuannya menyediakan variasi yang luas dari berbagai sektor dan indeks, bahkan saat ini terdapat berbagai jenis ETF dengan acuan (benchmark) yang berasal dari berbagai jenis kategori seperti kapitalisasi (kecil, menengah dan besar), style (Growth, Value dan Core), global dan internasional (sektor atau negara spesifik) serta sektor dan industri di Amerika.

    8. Kemampuan melakukan tracking keseluruhan segmen pasar (ability to track an entire market segment)
    ETF didisain untuk mengikuti (menyamai) indeks atau sektor yang dijadikan acuan dengan tracking error sekecil mungkin. Manajer
    Investasi pengelola ETF dapat melakukan replikasi indeks secara keseluruhan dengan memiliki setiap efek pembentuk indeks tersebut dengan bobot yang sama dalam indeks, atau dalam kasus tertentu mereka dapat melakukan optimalisasi (mengkonstruksi portfolio efek yang akan mengikuti indeks sedekat mungkin tanpa memiliki setiap efek dalam indeks).

    9. Keyakinan (convenience)
    ETF ditransaksikan di bursa efek melalui perusahaan pialang (broker) sepanjang jam perdagangan bursa (trading hours) dan diselesaikan (settled) dengan cara dan dalam rentang waktu yang sama dengan transaksi saham biasa (T+3)

    Disamping itu, dari sisi pengelolaan reksa dana, ETF memiliki kelebihan dibandingkan dengan reksa dana biasa antara lain :

    1. Biaya pengelolaan yang efisien (cost efficiency)
    Dikarenakan ETF dikelola secara pasif, maka tugas pengelolaan yang harus dilakukan oleh Manajer Investasi dan Bank Kustodian tidak terlalu banyak. Manajer Investasi memiliki peran yang penting pada saat penentuan indeks yang akan dijadikan dasar (underlying) bagi ETF, selebihnya tidak banyak kegiatan yang dilakukan kemudian. Oleh karena itu biaya tahunan (annual fee) yang dikenakan atas jasa pengelolaan ETF cenderung lebih kecil apabila dibandingkan dengan reksa dana biasa.
    Disamping itu biaya operasi (operating expense) yang dikeluarkan oleh ETF lebih kecil jika dibandingkan dengan reksa dana biasa, bahkan dengan reksa dana indeks (index fund) yang memiliki indeks acuan (underlying index) yang sama dengan ETF. Hal ini disebabkan ETF diperdagangkan di Bursa Efek, sehingga tidak terdapat biaya-biaya untuk pelayanan kepada pemegang unit/saham (front-end expense) yang dibebankan kepada reksa dana
    misalnya sentral pelayanan telepon (telephone service centre), biaya pencetakan konfirmasi pembelian dan penjualan kembali dan laporan bulanan kepada nasabah serta biaya transfer dana. Disamping itu, karena ETF dikelola secara pasif, tidak terdapat biaya transaksi pembelian atau penjualan saham yang mendasari ETF.
    Dalam laporan hasil riset yang dilakukan oleh James M. Poterba dan John B. Shoven dari National Bureau of Economic Research (NBER) yang dipaparkan dalam working paper-nya yang berjudul “Exchange Traded Funds: A New Investment Option For Taxable Investor” disimpulkan bahwa dari tiga reksa dana yaitu SPDR Trust (SPY), Ishares S&P 500 (IVV), dan Vanguard Index 500 Fund (VFINX) yang memiliki indeks acuan yang sama yakni Indeks S&P 500, dua fund yang pertama yang merupakan ETF Indeks diketahui memiliki rasio biaya operasi (operating expense ratio) yang lebih kecil dibandingkan dengan reksa dana indeks. Dalam laporan riset tersebut diketahui bahwa rasio biaya operasi dari SPDR Trust (SPY) Ishares S&P 500 (IVV) adalah masing-masing sebesar 0.12% dan 0.09%, sedangkan Vanguard Index 500 Fund (VFINX) yang merupakan reksa dana indeks terbesar memiliki rasio biaya operasi sebesar 0,18%.

    2. Biaya pajak yang lebih efisien (tax efficiency)
    Dalam reksa dana biasa, apabila terjadi pelunasan kembali (redemption), maka manajer investasi harus menjual sebagian efek yang mendasari reksa dana untuk memenuhi kebutuhan uang tunai untuk membayar permintaan pelunasan oleh nasabah. Apabila terdapat capital gain dari transaksi penjualan efek tersebut maka akan dikenakan pajak atas capital gain. Dalam ETF, apabila
    sewaktu-waktu nasabah menjual unit/saham ETF yang dimilikinya, maka ia dapat menjualnya melalui bursa efek, dengan demikian ETF tidak harus menjual underlying efek jika terjadi redemption.
    Jika terdapat permintaan penjualan kembali yang dilakukan investor institusi, maka akan dilakukan dengan cara in-kind (membayar penjualan kembali dengan efek yang mendasari ETF, yang menyebabkan ETF terhindar dari kewajiban membayar pajak atas capital gain. Namun demikian reksa dana ETF tetap harus melakukan jual beli saham yang terdapat dalam indeks acuan untuk menyesuaikan apabila terjadi perubahan dalam komposisi indeks yang menjadi acuan, misalnya terjadi aksi korporasi (corporate action) dari perusahaan yang menjadi pembentuk indeks misalnya merger, right issue, stock split atau reverse stock split. Begitu pula apabila terdapat pembagian deviden dari perusahaan yang sahamnya berada dalam portofolio ETF. Dalam hal ini ETF dapat melakukan pembagian (distribusi) dividen kepada para pemegang unit penyertaan/saham ETF atau dapat melakukan investasi kembali (reinvest) atas dana yang berasal dari pembagian dividen.

    Apabila Anda tertarik untuk berinvestasi di ETF silakan hubungi broker bursa terdekat atau yang terpercaya yang sudah menjadi langganan Anda.

     
    • tya 10:58 am on Februari 27, 2008 Permalink

      mo tanya dong…
      kriteria apa aja yg biasa digunakan utk peramalan pembelian saham pada indeks LQ45?

      Maksudnya spy pembeli saham bisa memprediksi saham mana yg kira2 berprospek bgs utk dibeli di kemudian hari…

      Mohon jawabannya…
      makasih…

  • Kedewasaan umat Nabi Isa as. (Jesus) Vs. umat Nabi Muhammad saw 

    ghifi 1:37 am on January 12, 2008 Permalink | Balas

    QS: Al Maidah (ayat 112 & 113)
    Tafsir Al-Maidah
    Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an

    Ayat 112
    (Ingatlah), ketika al-Hawariyyun berkata: Hai Isa Putra Mayram, mampukah Tuhanmu menurunkan buat Kami hidangan dari langit?” Dia menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman.”

    Al-Biqa’i menulis bahwa tujuan disebutkan mukjizat Isa as. Pada ayat-ayat yang lalu dianggap cukup sudah untuk menggugah hati orang-orang yang belum beriman agar beriman, dan telah beriman agar bertambah imannya. Pemaparan ayat-ayat ini adalah mendidik umat Islam agar mengagungkan Nabi Saw., sehingga tidak mengajukan pertanyaan dan permintaan yang aneh-aneh atau mengajukan usul-usul yang bukan tempatnya, maka ayat ini menguraikan sikap pengikut-pengikut Nabi Isa as. Yang tidak terpuji setelah sebelumnya memuji mereka seakan-akan mereka benar-benar mendapat wahyu Ilahi (baca kembali ayat 111), kendati kecaman yang diuraikan dalam ayat ini menyangkut para al-Hawariyyun itu sebelum mereka mencapai tingkat menjadikan mereka wajar dipuji.

    Ketika al-Hawariyyun yakni para pengikut setia Isa as. Berkata: Hai Isa putra Maryam, mampukah, yakni bisakah atau berkenankah Tuhanmu, atau bisakah engkau memohon tuhanmu agar Dia menurunkan buat kami makanan dalam satu hidangan istimewa yan bukan bersumber dari bumi atau buatan manusia tetapi dari langit?” Dia yakni Isa menjawab: Bertakwalah kepada Allah! HIndarilah siksa Allah dengan jalan tidak memohonkan hal-hal yang anek atau tidak wajar. Jika betul-betul kamu orang yang beriman, niscaya kamu pasti yakin bahwa Dia yang maha Kuasa itu mampu dan niscaya kamu pun yakin pula bahwa aku adalah rasul-Nya, sehingga kamu tidak perlu mengajukan permintaan ini.”


    Sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak meminta bukti (baca: mukjizat) karena mereka telah merasa cukup dengan mendengar redaksi dan kandungan ayat-ayat al-Quran serta melihat kepribadian Nabi Muhammad saw.

    Ma’idah adalah wadah yang berisi hidangan atau hidangan/makanan yang dihidangkan. Sementara ulam menilai permintaan pengikut-pengikut Isa as ini merupakan permintaan yang tidak wajar, apalagi dengan berkata mampukah Tuhan-mu? Bukankah seorang beriman pasti yakin akan kekuasaan Allah, Tuhannya? Buakn hanya itu. Dari celah ucapan mereka terlihat juga kurangnya sopan santun pengucapnya ketika berkata Tuhanmu bukan Tuahn tanpa menyebut gelar penghormatan buat beliau. Demikian antara lain pendapat al-Biqa’i. Pendapat ini tidak sepenuhnya didukung banyak ulama tafsir. Karena itu seperti terbaca di atas, ada yang memahami kata yastathi’u rabbuka bukan dalam arti mampukah tetapi dalam arti berkenankah, atau bisakah Dia, sebagaimana ada juga yang memahaminya dalam arti berkenankah engkau, hai Isa, memohon kepada Tuhanmu. Hal ini atas dasar bacaan hal tasthathi’u/apakah engkau mampu dan bacaan rabbaka dalam kedudukan sebagai objek, bukan rabbuka dalam kedudukannya sebagai pelaku.

    Memahaminya dalam arti berkenakah Tuhanmu, justru mengandung penghormatan seperti halnya seorang yang bermohon kepada yang dihormati dengan berkata:”Bisakah Bapak pindah ke tempat lain?” Ucapan semacam ini dipahami dalam arti permintaan halus, yang mengandung makna bahwa permintaan ini bukanlah permintaan seorang yang mendesak, tidak pula dimaksudkan untuk merepotkan siapa yang diminta melakukan sesuatu, bahkan seandainya ia tidak bersedia, maka itu pun tidak mengecilkan hati yang meminta. Memang, dari segi penerjemahan harfiah kedudukan rendah kepada yang lebih tinggi darinya, serta yang sebelumnya telah diyakini memiliki kemampuan, maka pengertian harfiah itu, tentu saja telah sirna, baik dalam benak pembicara dan mitra bicara.

    Adapun penyebutan nama beliau tanpa gelarnya, menurut yang menolak kesan negatif terhadap pengikut Isa as. Itu, maka menurut mereka hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa beliau adalah makhluk manusia yang juga mahir melalui seorang ibu, dan dengan demikian beliau bukanlah Tuhan sebagaimana diduga oleh sementara orang. Isa as. Kurang berkenan dengan permintaan mereka, sebagaimana terbaca dalam jawaban beliau di atas.

    Ayat 113
    ” Mereka berkata:”Kami ingin memakan hidangan itu dan (supaya) tenteram hati kami dan (supaya) kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan.”

    Namun jawaban sekaligus tuntunan yang beliau sampaikan pada ayat yang lalu itu, tidak disambut baik oleh para pengikutnya, sebagaimana terbaca dalam jawaban mereka yang diabadikan pada ayat ini.

    Bagi yang memahaminya dalam arti positif, ayat di atas dipahami sebagai berikut: Mereka berkata:”Kami bukan memintanya untuk menghilangkan keraguan kami, tetapi kami memintanya karena kami lapar sehingga kami ingin memakan hidangan itu untuk memperoleh berkatnya dan supaya tenteram hati kami, ketentaraman hati yang serupa dengan yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as. Ketika bermohon diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan yang mati (QS al-Baqarah :260) dan supaya kami tidak hanya sampai pada tingkat percaya tetapi mencapai tingkat yakin dengan Ain dan Haq al-Yaqin bahwa engkau, wahai Isa, telah berkata benar kepada kami, dalam segala hal yang engkau sampaikan dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepala, bukan hanya dengan mata hati tentang betapa kuasa-Nya Allah menurunkan hidangan itu.”

    Bagi yang memahaminya dalam arti negatif, maka cukup dengan berkata ayat di atas menunjukkan bahwa mereka menolak ajakan Isa as. Agar beriman, mereka meminta untuk makan, dan ingin lebih yakin karena selama ini mereka belum yakin bahwa Nabi mereka Isa as. Telah menyampaikan kebenaran.

    Apapun makna yang Anda pilih dari kata mampukah Tuhanmu, dan apapun kesan yang Anda peroleh dari jawaban di atas, yang pasti adalah bahwa pengikut-pengikut Isa as. Bermohon agar dianugerahi bukti yang jelas tentang kebenaran Isa as. Sebagaimana ditegaskan oleh ayat di atas. Ini menunjukkan betapa berbeda pengikut-pengikut setia Isa as. Dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw.

    Tidak ditemukan satu teks keagamaan pun – baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menginformasikan bahwa ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Yang bermohon atau menuntut bukti kebenaran/mukjizat dari beliau. Kalau ada yang menuntut bukti, maka mereka belum menjadi pengikut beliau. Atau dengan kata lain, mereka adalah orang-orang kafir dan musyrik. Hal ini dijelaskan, diantaranya oleh QS:al-’ankabut: 50 berbunyi: Mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata:”Mengapa tidak diturunkan kepdanya mukjizat-mukjizat (yang bersifat indrawi) dari tuhannya?” Katakankah:”Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Ini berbeda dengan pengikut-pengikut Isa as. Sebagaimana tebaca di atas bahkan jawaban yang diajarkan kepada Nabi Muhammad saw. Untuk disampaikan kepada umatnya berbeda dengan sabda Isa as. Kepada umatnya. Nabi Isa as. Menjawab: ”Janganlah percaya padaku jika aku tidak mengerjakan pekerjana Bapa,” yakni jangan percaya kalau aku tidak memaparkna mukjizat.

    “Masyarakat yang dijumpai oleh Isa as. Membutuhkan bukti-bukti itu karena mereka belum mencapai tingkat kedewasaan berpikir yang memadai.”

    Para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Termasuk Isa as. Selalu mengaitkan kenabian dan kerasulan dengan hal-hal yang bersifat supra rasional, baik berbentuk sihir, gaib, mimpi, dan lain-lain. Masyarakat mereka termasuk masyrakat yang dijumpai oleh Isa as. Membutuhkan bukti-bukti itu karena mereka belum mencapai tingkat kedewasaan berpikir yang memadai. Menurut Nazmi Luke, seorang pendeta Mesir, dalam bukunya Muhammad ar-Rasul wa ar-Risalah, sama dengan membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika ia telah dewasa maka ia pasti akan makan tanpa dibujuk. Pendeta tersebut lebih lanjut berkomentar bahwa menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta dan lain-lain yang bersifat supra rasional merupakan hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi tidak berarti apa-apa jika itu dimaksudkan untuk membuktikan bahwa dua tanbah dua sama dengan lima. Jika demikian, menjadi sangat wajar jika umat Isa as. Meminta bukti dan wajar pula sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak memintanya karena mereka telah merasa cukup dengan mendengar redaksi dan kandungan ayat-ayat al-Quran serta melihat kepribadian Nabi Muhammad saw.

     
  • Pasar Modal Syariah Indonesia dan Performanya 

    ghifi 1:05 pm on January 8, 2008 Permalink | Balas

    Apabila melihat performa dari Jakarta Islamic Index selama 7 tahun terakhir sejak tahun 2000 memberikan imbal hasil sebesar 750% masih di atas LQ 45 yang hanya memberikan imbal hasil sebesar 643% dan IHSG Index yang hanya memberikan imbal hasil sebesar 559.54%.

    Kapitalisasi Pasar JII ditahun 2007 telah mencapai Rp. 1.101 Triliun terdiri dari 30 saham yang didukung oleh reksadana syariah sebanyak 24 reksa dana dengan asset under management mencapai Rp 1.879,9 Milyar (Reksa dana secara keseluruhan telah mencapai Rp 90 Triliun).

    Average Return Arithmetic sebagai berikut:
    1. IHSG: 33.37% per tahun
    2. LQ 45: 35.22% per tahun
    3. JII: 38.04% per tahun

    Sedangkan Average Return Geometric sebagai berikut:
    1. IHSG: 30.94% per tahun
    2. LQ 45: 33.21% per tahun
    3. JII: 35.80% per tahun

    Dari data di atas, JII telah mengalahkan LQ 45 (pada tulisan M.T. Ferdy Reza yang lalu LQ 45 telah memberikan imbal hasil yang lebih baik dari non-LQ 45) maka tidak ada salahnya JII adalah pilihan investasi terbaik di pasar modal Indonesia saat ini.

     
    • sandra 12:19 pm on Februari 8, 2008 Permalink

      assalamualaikum…
      pak, saya ingin download grafik performa JII (pasar syariah indonesia dan performanya) tapi susah…pak, saya sangat membutuhkannya. saya minta tolong kirim ke email saya ; shichigatsu_19@yahoo.com

  • The optimal portfolio construction and portfolio performance comparisons between LQ 45 and Non-LQ 45 equities at Jakarta Stock Exchange 

    ghifi 7:48 am on January 4, 2008 Permalink | Balas

    Written by: M.T. Ferdy Reza

    This research is motivated by a tendency from investors’ observable fact that they incline to invest their funds on stocks classified as index of LQ 45 rather than on stocks classified as non LQ 45 index, reflected from the high volume of market capitalization and their liquidity. Therefore, this research is conducted in order to construct an optimal portfolio and compare the stock portfolio performance between LQ 45 and non LQ 45 index for companies enlisted at Jakarta Stock Exchange.

    The numbers of samples in the research are consisted of 22 LQ 45 stocks and 24 non LQ 45 stocks taken using purposive sampling technique, having criteria of being actively traded at Jakarta Stock Exchange starting from the period of 2002 up to the period of 2006 and having monthly mean return more than 1%. The method used to analyze is Markowitz Diversification in order to form an optimal portfolio of LQ 45 as well as non LQ 45 stocks. Furthermore, the result is plotted in efficient frontier and the result is evaluated for the most optimal portfolio combination.

    The optimal portfolio formed from LQ 45 index gives 65.39% of return, 25.13% of standard deviation, 0.68 of beta, 2.22 of Sharpe index, 80.50 of Treynor index and 60.19 of Jensen index. There are 10 chosen stocks from 22 stocks qualified, that is: PT. Multifarious Tambang, Tbk. accounted for 4.97%, PT. Astra Agro Lestari, Tbk accounted for 22.77%, PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk with weight of 9.07%, PT. Bank Danamon, Tbk accounted for 0.12%, PT. Ciputra Development, Tbk accounted for 0.43%, PT. Global Mediacom, Tbk accounted for 14.98%, PT. International Nickel Indonesia, Tbk accounted for 15.51%, PT. Sumalindo Lestari Jaya, Tbk accounted for 8.68%, PT. Telecommunications Indonesia, Tbk accounted for 17.30%, and PT. United Tractor, Tbk accounted for 6.16%.

    Whereas optimal portfolio formed from non LQ 45 stocks gives 61.07% of return, 27,18% of standard deviation, 0.81 of beta, 1.89 of Sharpe index, 63.61 of Treynor index and 56.79 of Jensen index. For optimal portfolio combination of non LQ 45, there are 12 chosen stocks, that is: PT. Indocement Tunggal, Tbk accounted for 6.52%, PT. Semen Gresik, Tbk accounted for 6.43%, PT. Ambasador Anggada, Tbk accounted for 7.41%, (4) PT. Glorious Real Property, Tbk accounted for 2.90%, PT. Summarecon Agung, Tbk accounted for 10.45%, PT. Light Kalbar, Tbk accounted for 3.44%, PT. Unilever Indonesia, Tbk accounted for 0.78%, PT. Lippo Bank, Tbk with weight of 9.97%, PT. Bank NISP, Tbk accounted for 25.70%, PT. Nature Finance, Tbk accounted for 15.48%, PT. Petrosea, Tbk accounted for 10.76% and PT. Hexindo Adiperkasa, Tbk accounted for 0.42%.

    The research result also indicates that LQ 45 portfolio has a better performance in comparison with non LQ 45 portfolio that is based on the return indicator, standard deviation, beta, Sharpe index, Treynor index, and Jensen index. That is also supported by the calculation result of optimal portfolio using annual data from which they indicate that primarily LQ 45 portfolio has a better performance in comparison with non LQ 45 portfolio, especially if seen from return, Sharpe index, Treynor index and Jensen index.

    By referring at this research result, and while doing investment on stocks, investors should prioritize stocks that classified in LQ 45 index. In addition to that, whenever choosing stocks to form a portfolio, an investor should not only rely his/her decision based only on historical return and systematic risk, but also does he/she need to analyze the market condition and business life cycle as well as business prospect of each and every industrial type.

     
  • Pembentukan Porfolio Optimal & Perbandingan Portfolio Saham LQ 45 dan non LQ 45 di Bursa Efek Jakarta 

    ghifi 7:44 am on January 4, 2008 Permalink | Balas

    Ditulis oleh: M.T. Ferdy Reza

    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kecenderungan Investor dalam menginvestasikan dananya pada kelompok saham yang masuk dalam penghitung indeks LQ 45 dibanding kelompok saham non LQ 45, yang dicerminkan dari besarnya nilai kapitasasi pasar dan tingginya tingkat liquiditas kelompok saham tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membentuk portofolio optimal dan membandingkan portofolio saham LQ 45 dengan saham non LQ 45 pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

    Sampel penelitian ini adalah 22 saham LQ 45 dan 24 saham non LQ 45 yang pengambilannya dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan kriteria saham-saham yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta mulai tahun 2002 sampai dengan 2006 dan memiliki rata-rata return bulanan lebih dari 1%. Metode yang digunakan sebagai alat analisis adalah metode Markowitz Diversification untuk membetuk portofolio optimal dari saham LQ 45 dan non LQ 45, yang selanjutnya diplotkan dalam efisien frontier untuk dicari kombinasi portofolio yang optimal.

    Portofolio optimal yang terbentuk dari saham yang tergabung dalam indeks LQ 45 menghasilkan return sebesar 65,39%, standar deviasi 25,13%, beta 0,68, indeks Sharpe 2,22, indeks Treynor 80,50 dan indeks Jensen 60,19. Ada 10 saham terpilih dari 22 saham yang diajukan, yaitu: PT. Aneka Tambang, Tbk dengan bobot 4,97%, PT. Astra Agro Lestari, Tbk dengan bobot 22,77%, PT. Bakrie Sumatera Plantations, Tbk dengan bobot 9,07%, PT. Bank Danamon, Tbk dengan bobot 0,12%, PT. Ciputra Development, Tbk dengan bobot 0,43%, PT. Global Mediacom, Tbk dengan bobot 14,98%, PT. International Nickel Indonesia, Tbk dengan bobot 15,51%, PT. Sumalindo Lestari Jaya, Tbk dengan bobot 8,68%, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dengan bobot 17,30%, dan PT. United Tractor, Tbk dengan bobot 6,16%.

    Sementara portofolio optimal yang terbentuk dari saham non LQ 45 menghasilkan return sebesar 61,07%, standar deviasi 27,18%, beta 0,81, indeks Sharpe 1,89, indeks Treynor 63,61 dan indeks Jensen 56,79. Untuk kombinasi portofolio optimal non LQ 45, ada 12 saham terpilih, yaitu: PT. Indocement Tunggal, Tbk dengan bobot 6,52%, PT. Semen Gresik, Tbk dengan bobot 6,43%, PT. Duta Anggada, Tbk dengan bobot 7,41%, (4) PT. Jaya Real Property, Tbk dengan bobot 2,90%, PT. Summarecon Agung, Tbk dengan bobot 10,45%, PT. Cahaya Kalbar, Tbk dengan bobot 3,44%, PT. Unilever Indonesia, Tbk dengan bobot 0,78%, PT. Lippo Bank, Tbk dengan bobot 9,97%, PT. Bank NISP, Tbk dengan bobot 25,70%, PT. Buana Finance, Tbk dengan bobot 15,48%, PT. Petrosea, Tbk dengan bobot 10,76% dan PT. Hexindo Adiperkasa, Tbk dengan bobot 0,42%.

    Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa portofolio LQ 45 memiliki kinerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan portofolio non LQ 45, yang didasarkan pada indikator return, standar deviasi, beta, indeks Sharpe, indeks Treynor, dan indeks Jensen. Hal itu juga didukung dengan hasil perhitungan portofolio optimal dengan menggunakan data tahunan yang menunjukkan bahwa secara rata-rata portofolio LQ 45 memiliki kinerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan portofolio non LQ 45, terutama jika dilihat dari return, indeks Sharpe, Treynor dan Jensen.

    Dengan merujuk pada hasil penelitian ini, maka dalam melakukan investasi saham sebaiknya para investor tetap memprioritaskan saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ 45. Selain itu, dalam memilih saham-saham yang akan dibentuk dalam portofolio, hendaknya investor tidak hanya mendasarkan pada return historis, risiko sistematis, tetapi juga perlu mengkaji kondisi pasar dan prospek usaha masing-masing jenis industri.

     
  • Reksa Dana dengan Performa Cemerlang Dapat Berulang? 

    ghifi 7:06 am on January 3, 2008 Permalink | Balas

    Dalam kenyataannya track record fund manager pada reksa dana sangat penting. Menurut Wall Street Journal columnist Jonathan Clements yang menyatakan bahwa performa di masa lalu dapat menjadi guide untuk hasil di masa yang akan datang walaupun, petunjuk ini merupakan petunjuk yang sangat sulit untuk dibaca. Mengapa performa masa lalu sangat sulit untuk dapat dievaluasi? Menurut Shefrin[1], dalam sebuah permainan lempar koin dimana ada tiga tipe koin yaitu emas, perak dan perunggu. Andaikan bahwa hanya koin perak yang paling adil. Koin emas memiliki kelebihan berat pada sisi head, dan koin perunggu memiliki kelebihan berat pada tail. Secara spesifik koin emas memiliki kemungkinan mendapatkan head yaitu 55:45 sedangkan koin perunggu memiliki kemungkinan mendapatkan tail yaitu 55:45. Apabila investor dapat melihat fund manager yang dapat melempar dadu dan mendapatkan head 7 kali dari 10 kali lemparan dibandingkan dengan pasar yang memiliki kemungkinan 5 kali dari 10 kali lemparan, adalah masuk akal di masa yang akan datang investor akan mendukung fund manager tersebut apalagi si fund manager tersebut memegang koin emas. Akan tetapi investor tidak mengetahui fund manager mana yang memegang koin emas. Sehingga apabila investor hanya dibekali dengan performa di masa lalu dalam hal ini track record maka berapa kemungkinan manajer tersebut melempar dengan koin emas? Kemungkinan terkecil adalah 33.3 persen karena sepertiga dari fund manager secara acak diberikan koin emas. Kemungkinan tertinggi tentunya 100 persen, akan tetapi kemungkinan tertinggi tersebut juga terlalu tinggi karena pemegang koin perak juga dapat melakukan lemparan head sebanyak 7 kali. Jawaban yang benar adalah 46.5 persen, tentunya angka ini lebih baik dibandingkan dengan 33.3 persen, tetapi jauh dibawah kemungkinan tertinggi yaitu 100 persen. Dan berapa kemungkinan bahwa fund manager ini dengan track record 7 kali lempar head dari 10 kali lempar akan dapat mengalahkan pasar pada kesempatan berikutnya? Angka tersebut adalah 41 persen lebih baik dibandingkan 38 persen, walaupun perbedaannya tidak signifikan. Kemudian berapa kesempatan pelempar koin melakukan paling sedikit sama baiknya dengan yang mereka lakukan pada kesempatan sebelumnya dalam 10 kali lemparan? Kemungkinan dapat melakukan pengulangan performa di masa lalu adalah hanya 20 persen. Walaupun para manajer memiliki perbedaan pada kemampuan mereka untuk mendapatkan performa yang cemerlang, memilih pemenang di masa yang akan datang berdasarkan track record adalah sangat sulit dikarenakan rules of chance. Pemegang koin emas tercampur bersama dengan pelempar koin lainnya termasuk koin perak dan perunggu, dan banyak manajer yang melempar koin perak dan perunggu dapat mengalahkan pasar. Sehingga memilih manajer dengan koin emas dari koin perak dan perunggu merupakan sebuah seni bukan ilmu pengetahuan. Para investor memiliki kecenderungan heuristic untuk melakukan isolasi terahadap manajer yang memiliki performa, akibatnya mereka menitikberatkan terlalu banyak pada kemampuan atau skill para manajer dan kurang mempertimbangkan hal yang disebut sebagai keberuntungan. Jika skill merupakan faktor pada performa reksa dana, maka kita berharap bahwa performa yang cemerlang di masa lalu dapat berulang kembali. Fund manager yang sukses seharusnya secara konsisten mendapatkan performa yang cemerlang, paling tidak secara rata-rata. Goetzmann and Roger Ibbotson (1994a) melakukan dokumentasi hot-hand effect dimana performa cemerlang berulang. Daryll Hendricks, Hayendu Patel, dan Richard Zeckhauser (1993) juga menemukan bahwa performa cemerlang berkelanjutan. Mark Carhart (19997) memberikan bukti yang paling jelas bahwa keberlanjutan sebuah karakter. Hanya Elton Gruber, Sanjiv Das, dan Matt hlavka (1993), menemukan bahwa tidak ada bukti mengenai alpha yang positif.

    Penulisan yang dilakukan oleh Carthart memberikan potret yang paling nyata mengenai performa reksa dana yang konsisten. Penulisan dilakukan pada periode tahun 1962 hingga 1993 dan mengumpulkan semua dana ekuitas yang diketahui pada periode tersebut. Carhat membagi fund tersebut menjadi 10 group berdasarkan tingkat pengembalian yang mereka peroleh pada 12 bulan sebelumnya dikurangi semua beban biaya dan transaction cost tetapi tidak memasukkan charges penjualan. Kemudian melakukan penulisan pada para manajer yang menempati 10 persen teratas pada setiap tahun. Jika para manajer reksa dana memiliki skill pelemparan koin yang sama maka kita berharap bahwa para manajer tersebut memberikan performa yang tidak berbeda pada tahun berikutnya. Dengan kata lain performa yang cemerlang pada para manajer tersebut dapat berulang.

    Bahkan para manajer dengan performa terbaik ini memiliki kemungkinan dua kali untuk menjadi performa terbaik pada tahun berikutnya dibandingkan dengan manajer lainnya. Hal apakah yang menjelaskan fenomena hot-hand pada satu tahun periode tersebut. Carhart menggunakan pengukuran risiko disamping proxy pada market portfolio, juga menggunakan size, book-to-market, dan short-term momentum variable sebagai factor. Walaupun berdasarkan Shefrin[2] size dan book-to-market merupakan faktor yang dapat melihat mispricing dibandingkan risiko. Grinblatt, Titman, dan Wermers menemukan bahwa manajer reksa dana memiliki kecenderungan untuk memperlihatkan perilaku herding ketika harga stock beranjak naik, mereka membeli past winners pada saat yang bersamaan. Akan tetapi mereka tidak menunjukkan perilaku herding yaitu menjual pass losers. Bagaimana dengan stock yang memiliki momentum jangka pendek karena tingkat pengembaliannya. Menurut Carhart (1997) apakah manajer mengikuti strategi momentum? Para manajer tersebut secara kebetulan telah memiliki stock yang merupakan winner pada masa lalu. Karena tingkat pengembalian stock-stock tersebut di atas rata-rata pada tahun berjalan, maka para manajer telah memiliki stock dalam kategori pemenang, dan mereka menikmati tingkat pengembalian yang lebih tinggi pada tahun tersebut tanpa tambahan transaction cost pada portfolio ini.




    [1] Beyond Greed and Fear “Understanding Behavioral Finance and the Psychology of Investing”

    [2] Ibid, halaman 85

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal