"The Holy Month of Ramadhan 1429H is Gonna be Leaving Us"
Assalamu’alaikum wr. wb.
Tidak terasa bulan suci ramadhan 1429H sudah hampir berakhir. Senang bercampur sedih silih berganti mewarnai hati saya. Senang karena saya punya waktu untuk lebih fokus beribadah, merenung, dan menenangkan pikiran & hati saya. Sedih karena bulan seperti ini sangat cepat berlalu seperti seorang sahabat saya yang harus pergi lagi untuk suatu keperluan yang saya tidak tahu. Sedih karena hadiah-hadiah yang ada di dalamnya, seperti pahala yang berlipat ganda, teman-teman yang lebih ramah dan sopan, serta kesempatan untuk berbagi sudah tidak akan ada lagi.
Tadi malam akhirnya saya bisa beri’tikaf di masjid agung Al-Azhar, senang sekali melihat suasana masjid yang ramai penuh sesak dengan orang-orang yang memanfaatkan waktunya untuk beri’tikaf. Kebetulan kami bertiga, saya dan dua orang teman saya yang memang udah janjian untuk i’tikaf sama-sama. Ternyata di saat orang-orang pada memikirkan mudik dan banyak masjid yang kosong, masih ada juga masjid yang konsisten dipenuhi oleh orang-orang yang concern dengan beribadah.
Walaupun i’tikaf hanya saya isi dengan sholat malam, dzikir dan khatam Al-Quran (btw. sudah tinggal 0.5 juz lagi mudah-mudahan langsung bisa khatam di bulan yang suci ini) tapi saya merasa hangat berada di tengah banyak orang yang beribadah dengan khasnya masing-masing termasuk ada yang sekadar tidur di masjid, saya merasa berada di dalam lingkungan orang-orang yang menghadap kepada Allah Swt. dan satu tujuan yang sama yaitu beribadah. Walaupun sedikit bosan karena saya datang sekitar jam 12:30 AM sampai dengan 5:30 AM dan hampir menghabiskan hampir 3 juz dalam 1 hari (terus terang karena saya ketinggalan makanya saya kebut), padahal saya berharap bisa khatam hari senin sebelum pukul 17:30 karena bisa jadi kalo tim isbat melihat hilal hari ini, berarti besok sudah Ied. Kemudian bersama teman-teman saya sempat berdiskusi pas saat sahur soal bagaimana rasanya saya belajar di Mesir dulu.
Terus terang saya sudah sedikit lupa apa saja yang saya pelajari pada waktu perjalanan saya ke Cairo (Al-Qohiro’) Mesir pada tahun 1998 selama lebih dari 9 bulan. Waktu itu sih tujuan saya memang mau belajar bahasa arab dan belajar agama, tetapi tentunya ekspektasi saya tidak selalu sama, karena belajar bahasa itu sangat membutuhkan waktu yang lama dan harus continue kalau tidak bahasa itu seperti kita mengikat kuda di ikatannya. Walaupun sudah kita anggap kencang, tapi sedikit saja kita lengah pergilah kuda itu tanpa kita sadari. Wah jadi teringat nostalgia saya di Mesir. Terus terang waktu itu saya sangat diterima hangat oleh temen-temen di Mesir, mereka begitu humble mungkin karena mereka berasal dari latar belakang keluarga santri dan keluarga yang sederhana. Berbeda dengan ketika saya belajar di Amerika Serikat di mana rata-rata orang Indonesia yang belajar di Amerika Serikat berasal dari kalangan yang berada. Walaupun kalau saya lihat secara mental orang Indonesia tidak berbeda jauh, semangat tempur (belajar)nya masih kalah (walaupun tidak semua) bila dibandingkan dengan teman-teman dari negara lain seperti China dan India (lihatlah sekarang China dan India sudah mulai membangun new civilization, Orang China sudah bisa berjalan di angkasa…)
Tidak mengapa mungkin saya (kalau ada kesempatan) ketika menjadi pendidik saya akan bilang kepada anak didik saya agar mereka kompetitif dan memiliki disiplin yang tinggi sehingga bangsa ini diisi oleh habitat manusia yang kreatif, disiplin, jujur dan memiliki visi ke depan (I wish…:)).
Sudah tidak banyak lagi yang bisa saya ceritakan, di akhir kalam ini saya ingin mengucapkan Ied Mubarak, Selamat Merayakan Hari Iedul Fitri 1429H, Taqoballahu Minna Wa Minkum dan apabila ada kesalahan dalam bergaul dan berkata baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja saya dan keluarga ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin.
Wassalam,
Ghifi