Updates from Oktober, 2008 Hide threads | Tombol Pintas

  • Capital Market Diving Down into the bottom, How our Indonesian Governments May (already) react(ed)? 

    ghifi 7:32 am on October 28, 2008 Permalink | Balas

    Kegalauan masyarakat akan hancurnya pasar modal global dan mata uang termasuk ruipiah membuat saya tertarik untuk berbicara soal ini. Seperti yang sudah pernah dikatakan oleh imam al-Ghazali pada abad ke 11-12, telah memperingatkan bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang.” Dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain.

    Dengan mahalnya komoditas US Dollar karena dipergunakan oleh pemerintah amerika untuk malaksanakan bail out pasar kredit yang mengalami krisis sehingga harga mata uang dollar terhadap negara lain cenderung menguat. Termasuk Indonesia yang memiliki sistem nilai tukar mengambang (floating rate), seperti yang pernah dibahas oleh Joseph E. Stiglitz bahwa liberalisasi capital dan fiancial market akan menyebabkan dana investor masuk dan keluar sesukanya. Masuk ketika negara tersebut dalam keadaan booming dan terkadang dana tersebut tidak diperlukan yang seringkali menyebabkan bubble pada ekonomi negara tersebut karena dana digunakan sesuai dengan appetite market, sedangkan pada saat resesi dana tersebut akan keluar dari negara yang bersangkutan dimana dana tersebut sangat dibutuhkan.

    Tentunya dampak terhadap Indonesia akan mudah ditebak terutama pada pasar modal, dan pasar nilai tukar. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mencegah spekulasi besar (dalam hal ini institusi pemerintah seperti Pertamina, PLN, Jamsostek, Taspen, Perbankan dan lain-lain) untuk tidak membeli US dollar ke market hanya untuk spekulasi.

    Pemerintah memanfaatkan departemen seperti BI, BPK, KPK, Bapepam, dan departemen yang terkait untuk dapat bekerja sama mencegah terjadinya spekulasi di lingkungan institusi pemerintah. Karena ketika mereka melakukan kegiatan spekulasi dampaknya sangat siknifikan terhadap market.

    Pemerintah dapat melakukan beberapa hal seperti mencairkan dana APBN di akhir tahun ini untuk membayar berbagai macam subsidi listrik dan BBM. Kalangan Perbankan BUMN juga dapat digunakan sebagai tangan pemerintah untuk menahan diri dan bersikap lebih konservatif yaitu tidak dengan mudah memberikan kredit valas kepada para debiturnya.

    BI juga merupakan the last resort bagi penyelamatan mata uang rupiah yang memang merupakan tugas utamanya untuk menjaga kestabilan mata uang rupiah. Mereka bisa saja secara berkesinambungan melakukan likuidasi cadangan US Dollar sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga tidak menyebabkan pasar panik untuk membeli dollar terutama untuk kebutuhan ekspor atau kegiatan usaha riil lainnya.

    Beberapa langkah di pasar merupakan solusi yang paling rasional untuk diambil sehingga keadalan market di Indonesia akan lebih stabil walaupun kecenderungan untuk pasar modal adalah masih bearish dan untuk mata uang rupiah mengalami pelemahan.

    Kita berharap kondisi seperti sekarang ini hanya berlangsung sementara menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh US Treasury dalam waktu dekat ini.

    Bersambung…
    Wallahu ’alam bi showab
    ghifi.blogspot.com

     
  • We Are Living To Learn and Eventually Choose Our Path. (English Version) 

    ghifi 6:46 am on October 26, 2008 Permalink | Balas

    Assalamu’alaikum wr wb

    Lately i felt discomfort and drowned by the sea of information I received from TV, Internet, Newspaper, Social Networking as well as my colleagues’ conversation. Furthermore, I saw people tend to feel uneasy about this event so called global financial turmoil. The fear of radical change results on our reduced quality of lives, not merely affected by our daily consumptions but also public information like workers’ layoff, potential threat on economics as well as investors’ panicking . The wealthy as well as the poor are pinched by the deteriorating condition around them.

    Analyst said that the world has entered the recession, and we must act cautiously. It was not too long time ago that our country just recovered from the worst of Asia financial turmoil taking place in 1997. Indonesia was one of the worst affected nation because lots of institutions were fed with high leverage in the form of foreign debt in US$ currency. The crisis hit most of the banking system in the country, forced them to be nationalized by the government. Our characters were under severe test, and every aspects of our lives was attacked, and I believed that the middle class were suffering the most.

    I read Alan Greenspan’s comments, the former chairman of Federal Reserve, on his book “The Age of Turbulence: Adventures in a New World” in his conversation with the former Prime Minister of Japan, Kiichi Miyazawa, he mentioned that the US strategy in solving the crisis of Financial market and real estate taking place in Japan in 1990 was by way of institutions restructuring & forcing bankruptcy for unfriendly debtors , depressed assets acquisition in big discount, and selling them once acquired. It is a pragmatic way that Americans would likely to take. But the smiling Keiichi responded in a very friendly way, “Alan, it was such an accurate analysis on our financial system problems but the solution offered was not the Japanese way”, that action would never been taken by the Japanese because selling assets and forcing institutions’ bankruptcy act were never been the Japanese way. It was like firing people from their jobs, it was considered embarrassment in our culture, and Japanese would never choose that option.

    Japan from the year of 1990 to the year of 2005 had a stagnant macro economy and never recovered as quick as expected. What kind of economics prowess that hold up the Japanese? The answer was not the economy itself, but it was the culture of the Japanese who purposely accept the fact of the economy stagnancy as a result of avoiding the feeling of embarrassment for any institutions and individuals. Alan Greenspan couldn’t imagine that the US would take such a position as their fellow counterparts.

    Strangely, the culture of the japanese known as collective solidarity will save their economy from the conditions of pension funds reserve requirement faced by most of advance coutnries in the coming future which may not be fulfilled by the Japanese government. One of the Japanese ranked officer explained the question on how Japanese government run their commitment for their retired populations in the future that might not be fulfilled. He answered that the benefits for the Japanese can be cut and in doing that will not be a problem, because the Japanese see the change is for the best of their country, and this reason is absolutely enough.

    Learning from the conversation above we as Indonesians have our own prides. The question is whether with our own prides can we go through this so called global crisis into a save heaven compared to other nations?

    The answer could be a definite “yes” or less confident “no”, but do our people have the commitment like the Japanese having their collective cultures, or Americans having their pragmatism, or Australian or New Zea lander with their capital account liberalization, or European with their excess nationalism?

    Only time will tell, and in the end we will eventually choose by ourselves our path to our destiny. I believe while there is a time, we can learn to choose better path, who knows?

    chao,
    ghifi.blogspot.com

     
  • "We Are Living To Learn and Eventually Choose A Path" 

    ghifi 12:46 pm on October 21, 2008 Permalink | Balas

    Assalamu’alaikum wr wb

    Akhir-akhir ini terkadang saya terombang ambing oleh keadaan di sekitar karena semua orang merasa tidak nyaman sekarang. Rasa takut akan datangnya perubahan, perubahan yang menyebabkan hal-hal yang kita bisa nikmati sekarang bisa jadi akan hilang bersama perubahan tersebut.

    Kata orang ekonomi dunia sedang sulit-sulitnya, kita harus lebih berahati-hati, padahal beberapa tahun yang lalu kita baru saja keluar dari krisis yang terjadi di Indonesia, baik krisis ekonomi, politik, maupun krisis karakter.

    Saya pernah mendengar orang bijak kebetulan namanya Alan Greenspan, tahu siapa dia, Alan Greenspan adalah mantan Chairman Federal Reserve US. Beliau berbagi pengalaman dan cerita di buku autobiography-nya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

    Salah satu pengalaman beliau adalah ketika bertemu dengan mantan perdana menteri jepang yang bernama Kiichi Miyazawa. Dalam perbincangannya Alan Greenspan memberitahukan bahwa strategi pemerintah AS dalam menghadapi kehancuran pasar saham dan real estat di tahun 1990 yaitu dengan menjual aset-aset industri penyimpanan dan peminjaman yang gagal dengan diskon yang besar sehingga pasar real estat kembali likuid. Setelah mendengar ceramah Alan, Miyazawa tersenyum lembut sambil mengatakan dengan lembut,” Alan kamu sudah menganalisis masalah perbankan kami dengan cukup mendalam. Namun solusi yang engkau tawarkan bukan cara Jepang.” Membangkrutkan debitur nakal dan melikuidasi jaminan bank mereka harus dihindari, seperti halnya memecat orang. Orang jepang tunduk pada kaidah keberadaban yang membuat mereka menjauhi hal-hal yang mengakibatkan rasa malu.

    Jepang dari tahun 1990 hingga tahun 2005 memiliki ekonomi yang stagnan dan tidak cepat pulih. Kekuatan ekonomi tidak kasatmata apa yang menahan Jepang? Ternyata Kekuatan itu bukan ekonomi, melainkan kebudayaan orang Jepang yang sengaja menerima stagnasi ekonomi yang sangat mahal guna menghindari rasa malu besar bagi berbagai perusahaan dan individu. Alan sendiri tidak bisa membayangkan kebijakan ekonomi AS mengikuti cara itu.

    Anehnya rasa solidaritas kolektif yang sama kemungkinan besar akan menyelamatkan ekonomi Jepang dari persyaratan pembiayaan masa pensiun yang akan dihadapi hampir semua negara maju di tahun-tahun mendatang. Salah seorang pejabat tinggi Jepang yang ditanyai oleh Alan mengenai bagaimana bangsa Jepang akan menjalankan komitmennya terhadap para pensiunan Jepang di masa depan yang mungkin tidak akan bisa dipenuhi oleh pemerintah Jepang. Ia menjawab bahwa tunjangan akan dipotong dan melakukan hal itu bukan masalah, karena orang Jepang akan memandang perubahan itu sebagai kepentingan nasional, dan itu cukup.

    Belajar dari salah satu contoh di atas bangsa kita memiliki kekuatannya sendiri, apakah dengan kebudayaan yang kita miliki kita akan dapat melalui krisis ekonomi global ini dengan lebih baik dibandingkan dengan negara lain?

    Jawabannya bisa ya bisa tidak, tetapi yang pasti apakah masyarakat kita memiliki komitmen kebersamaan seperti bangsa Jepang? pragmatisme bangsa Amerika? atau liberalisasi seperti bangsa Australia, New Zealand? Nasionalisme yang tinggi seperti bangsa Eropa?

    Hanya kita sendiri yang tahu, dan pada akhirnya kita sendiri akan memilih jalan yang akan kita tempuh dengan segala risiko yang harus kita terima. Pilihan itu tidaklah mudah namun waktu yang ada tidaklah banyak, maka selama waktu masih ada masih ada kesempatan bagi kita untuk belajar untuk memilih jalan yang lebih baik, siapa tahu?

    wallahua’lam bishowab
    ghifi.blogspot.com

     
  • Together Again 

    ghifi 12:51 am on October 21, 2008 Permalink | Balas

    The time has been so impatient and it is so hard to meet him even briefly
    I miss the time when we are together, I miss the time when we were younger, and I miss the time when I was warmly squeezed by my guardian.
    My guardians are ready to leave this world, perhaps the only thing that keep them from leaving is the love of their kins.
    Perhaps they want to teach the last lessons because they have no love for the world anymore.
    I feel so distant to them as if we spoke in a different moment in a different language
    I feel all the lessons have been thought, and I feel I have to be ready to replace them whenever the time is right.
    So many things in my mind that I barely understand,
    But being together with my guardians is the happiest moment in my whole life.
    I wish we could be together one last time, and I wish we can never be separated by the time
    Perhaps in different time we will meet again
    Perhaps…

     
  • Whispering Once Again 

    ghifi 2:35 am on October 18, 2008 Permalink | Balas

    I was paralyzed for a brief time last week
    It was like the end of the world
    I realized that I was nothing at that time, and I couldn’t whisper anymore
    I tried to whisper very hard until my voice slowly disappear
    I closed my eyes and said His Name
    In the morning I opened my eyes and hoped that I can be back to normal
    I got my wish I woke up and be thankful in my prayer
    I whispered once again, I tried to whisper into my daughter’s ear
    “Dear my love one, would you like to see the beautiful world?”
    For a while, It was scary but then I found new blessing
    I appreciated what we had and hoped for more and a chance to live
    My love one was whispering into my ear and said, “Daddy let’s go again”
    I said,”Sure, kiss me first before you whisper again”
    So Divine

     
  • Overcoming The Credit Crisis with Internet Banking? 

    ghifi 8:39 pm on October 17, 2008 Permalink | Balas

    Oleh A. Jafar M. Sidik*

    (ANTARA News) – Suku bunga tinggi, penyerapan pasar yang rendah, inflasi
    tinggi, dan keringnya insentif pada sektor riil, telah mempersulit
    penyaluran kredit perbankan.

    Ketatnya likuiditas bank dan tingginya suku bunga adalah faktor utama yang
    membuat permintaan nasabah melemah, kata Presiden Komisaris Bank OCBC-NISP
    Pramukti Surjaudaja (16/10).

    Situasi ini diperparah oleh resesi global yang membuat daya serap ekspor
    memandul sehingga perbankan makin ditarik ke dalam guna menumbuhkan pasar
    domestik.

    Ironisnya, penyerapan pasar domestik juga rendah sehingga kegiatan produksi
    dalam negeri pun hampir melulu diorientasikan untuk ekspor.

    Saat bersamaan, otoritas moneter enggan melonggarkan kebijakan karena
    khawatir memicu terpompa keluarnya modal asing dari Indonesia.

    Bank Indonesia kemudian menaikan BI Rate menjadi 9,50 persen sehingga bunga
    deposito serta suku bunga kredit pun naik.

    Akibatnya, kepercayaan diri bank-bank dalam menyalurkan kredit pun
    berkurang, terutama untuk modal kerja dan investasi.

    Sebaliknya, perhatian ke sektor konsumsi tampaknya membesar karena risiko
    gagal kreditnya lebih rendah dibanding dua sektor itu.

    “Hingga Agustus 2008, suku bunga deposito meningkat lebih tinggi
    dibandingkan kenaikan BI Rate yang dikuti peningkatan suku bunga.

    Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi, sementara Kredit Konsumsi relatif
    stabil,” demikian laporan triwulan ketiga 2008, Bank Indonesia.

    Setahun lalu, ketika krisis global belum separah sekarang, kredit konsumsi
    tumbuh hampir tiga kali lipat dari 9,51 persen pada 2006 menjadi
    24,84persen.

    Sebaliknya, kredit modal kerja dan kredit investasi tumbuh kurang dari satu
    setengah kali tahun sebelumnya, masing-masing dari 16,98 menjadi 28,7 persen
    dan dari 12,51 menjadi 23,15 persen.

    Perbankan sekarang juga menghadapi era kompetisi keras dengan ceruk
    penyerapan kredit yang pertumbuhannya melambat sehingga kendati laba tumbuh,
    fundamental perbankan tidaklah terlalu kokoh karena tidak disokong
    produktivitas sektor riil.

    Statistik Perbankan Indonesia menunjukkan, laba bersih perbankan nasional
    priode Februari 2008 saja telah naik 12 persen menjadi Rp7 triliun dari
    priode sama tahun sebelumnya.

    Ini berkorepondensi dengan perbankan dunia yang pada 2006 menangguk
    pendapatan bersih 1,28 triliun dolar AS dan diperkirakan terus tumbuh hingga
    1,9 triliun dolar AS pada 2017.

    Namun, di bawah ancaman resesi, pelambatan ekonomi dan persaingan keras di
    tingkat regional, perbankan tidak bisa menghindari dari keharusan untuk
    memperbarui strategi menumbuhkan pasar domestik.

    Jika situasi ini terjadi, mengutip Direktur Pelaksana Global Financial
    Service, Bertrand Lavayssiere, bank-bank akan terdorong mengambil empat
    pendekatan guna mempertahankan performa bisnisnya, salah satunya dengan
    mengintegrasikan dan mengoptimalisasi layanan multigerbang Internet.

    Jika dikaitkan dengan kecenderungan bisnis masa kini dan optimalisasi
    penyerapan kredit kosumsi, integrasi dan optimalisasi layanan Internet
    adalah cara paling pas bagi perbankan berorientasi kredit konsumsi
    berlingkungan cenderung melek Internet seperti Indonesia.

    Indonesia mungkin bisa mengambil cerita sukses bank-bank global yang berhasil
    karena mengadopsi pola ini, diantaranya ING dan Boursorama Banque, Prancis
    yang berani memutuskan fokus pada konsumen mapan yang sangat peduli pada
    kesempurnaan layanan Internet.

    Efisien
    Internet dipercaya sebagai wahana terefisien dalam mengelola informasi
    perbankan yang dibutuhkan konsumen karena kemasannya selalu dibuat integral
    dan mempermudah orang memeroleh layanan.

    Internet juga mengesampingkan batas-batas geografi dan waktu sehingga
    memudahkan bank dan nasabah dalam memperkuat jaringan kemitraan usaha lewat
    hubungan elektronis murah namun cepat.

    Insentifnya yang maksimal bagi layanan perbankan telah membantu industri
    perbankan tumbuh cepat dan agresif sembari memperbesar kemampuan menciptakan
    laba (profitabilitas) lebih tinggi dibandingkan bank konvensional, demikian
    Furt, Lang dan Nolle dalam satu makalahnya pada 2000.

    Gerbang distribusi jasa layanan perbankan berbasis Internet memang
    memungkinkan bank-bank mudah memasuki pasar baru tanpa harus membuka kantor
    cabang.

    “Dengan cara begitu, bank-bank berbasis Internet bisa menekan beban
    operasional dan upah karyawan,” Robert DeYoung dalam “Learning by
    Doing,Scale Efficiencies and Financial Performance at Internet-Only Bank,”
    tahun 2001.

    Biaya untuk beban operasional atau gaji karyawan ini kemudian bisa
    dikompensasikan untuk makin menyamakan layanan pada nasabah sehingga
    hubungan bank-nasabah menjadi sangat cair.

    “Internet banking” memang memungkinkan nasabah bisa melangsungkan transaksi,
    seperti mencek saldo atau membayar tagihan, tanpa harus ke bank atau
    menunggu hari kerja mengingat bank jenis ini beroperasi selama 24 jam. Tidak
    heran, layanan perbankan berbasis Internet terus menjamur.

    Di Indonesia saja hampir semua bank memiliki halaman meski fungsinya tidak
    sama. Maksimalisasi Internet dalam bisnis perbankan terjadi karena orang
    terus menuntut Internet dalam semua layanan bisnisnya. Tuntutan ini
    berdampingan dengan kemajuan pesat dalam teknologi informatika dan
    komunikasi.

    Riset Pew Internet & American Life Project (2005) menunjukkan, tumbuhnya
    industri perbankan berbasis Internet berkait erat dengan makin cepatnya
    sistem koneksi internet, selain bertambahnya pengguna Internet.

    Mengutip “internetworldstats.com,” jumlah pengguna Internet di Indonesia
    tumbuh pesat dalam delapan tahun terakhir di bawah China,Jepang, India dan
    Korea Selatan.

    Tahun 2000, pengguna Internet di Indonesia baru dua juta orang, namun sampai
    akhir semester pertama 2008 jumlahnya membengkak menjadi 25 juta orang
    dengan penetrasi 10,5 persen.

    Dalam kurun 2000-2008, pengguna Internet Indonesia tumbuh hingga 1.150
    persen dan jika besaran ini berlaku konstan, maka pada 2016, seluruh
    penduduk Indonesia adalah pengguna Internet.

    Indikator bakal terus meluassnya layanan perbankan berbasis Internet
    terlihat dari pesatnya pertumbuhan penjualan komputer yang mengikuti
    pesatnya penetrasi teknologi Internet sehingga memengaruhi tingkat produksi
    komputer.

    “Sekarang ukuran sukses penjualan komputer tidak lagi didasarkan pada berapa
    banyak keluarga memiliki komputer, namun pada berapa komputer untuk setiap
    orang,” kata Bob O’Donnell, Wakil Presiden IDC, sepertidikutip DPA (15/8).

    Faktanya, menurut survey Gartner pada Oktober 2008, penjualan komputer
    secara global sepanjang Juli-September 2008 tumbuh 15 persen dibanding
    priode sama 2007 di mana sebagian besar dari total volume penjualan (80,6
    juta unit) adalah laptop.

    Peluang
    Itu adalah alasan dan peluang bagi industri perbankan Indonesia untuk
    memanfaatkan kecenderungan “go internet”nya masyarakat untuk membangun
    hubungan yang lebih intim dengan nasabah sehingga merangsang produktivitas
    tanpa memperbanyak kantor cabang.

    Apalagi, mengutip riset ForeSee Results dan Forbes.com awal dekade ini,
    tingkat kepuasaan konsumen terhadap layanan ?internet banking? 5,5 persen
    lebih besar dibandingkan terhadap bank konvensional.

    Indonesia mungkin bisa mempelajari cerita sukses tiga bank dalam
    memaksimalkan manfaat Internet. Ketiga bank itu acap menjadi patokan
    bagaimana bank-bank harusnya mengelola perbankan berbasis internet sehingga
    mencipta untung lebih banyak.

    Ketika bank itu adalah Bank of America yang setengah dari nasabahnya (14,2
    juta orang) adalah nasabah online, Wells Fargo yang juga setengahnya online
    (7,2 juta orang) dan ING yang adalah bank internet terbesar di dunia dengan
    nasabah online 13 juta orang.

    Contoh lainnya adalah Bank ICICI yang didirikan pada 1994 di India dan kini
    mewujud menjadi bank kedua terbesar di India serta termasuk kelompok 150 top
    dunia.

    Hanya dalam waktu sepuluh tahun, ICICI menjadi sebuah bank umum yang kini
    berani menawarkan diversifikasi portofolio jasa keuangan dengan mencengkeram
    asset lebih dari 79 miliar dolar AS, 3.300 ATM dan 3.200 “call center.”

    Sukses ICICI karena bank ini fokus mengeksploitasi Internet untuk menawarkan
    produk-produk inovatif tanpa harus berkantor cabang banyak. Pasarnya juga
    fokus dengan tertuju pada korporasi dan kalangan menengah berpenghasilan
    tinggi, dua kelompok yang menuntut proses niaga harus selaras dengan
    aplikasi canggih Internet.

    Namun, dari semua bank yang ada, Wells Fargo & Co yang mengakuisisi Wachovia
    Bank yang rontok karena krisis global, adalah satu-satunya bank yang
    membangun layanan perbankan online paling terintegrasi di dunia lewat konsep
    portal.

    Portal Wells Fargo memiliki lebih dari 50 aplikasi Internet dan sumber data.

    “Memililiki banyak ‘interface’ dalam layanan perbankan online itu wajib
    mengingat kompetisi tidak lagi antar sesama bank, tetapi juga melibatkan
    kalangan nonbank,” kata George Tubin, analis pada TowerGroup.

    Pokoknya, bank harus memahami bahwa nasabah sekarang umumnya amat memahami
    Internet sehingga mereka menuntut perbankan memiliki fasilitas Internet
    secanggih dan selengkap milik perusahaan non bank, termasuk portal berita.

    Apa yang tergambar dari bank-bank asing itu bisa menjadi referensi penting
    bagi bank-bank Indonesia yang sedang berjuang mengendurkan himpitan beban
    usaha dan menyiasati pasar domestik yang juga semakin menuntut kenyamanan
    dan kemudahan teknologis dari layanan perbankan.(*)

     
  • BSM memperoleh penghargaan dari Global Finance Magazine di Washington DC 

    ghifi 1:26 am on October 15, 2008 Permalink | Balas

    Washington DC – Hari Columbus (hari libur tahunan di AS sebagai peringatan ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus) yang kebetulan jatuh pada hari Senin, 13 Oktober 2008, dimanfaatkan oleh majalah Global Finance untuk menganugerahkan penghargaan kepada Institusi Perbankan Terbaik dari seluruh Penjuru Dunia yang telah mereka pilih dalam kurun waktu setahun.

    Indonesia meraih 3 penghargaan, yang diterima oleh Standard Chartered Bank Indonesia, Mandiri Sekuritas dan Bank Syariah Mandiri (BSM).

    Para Direktur dan Pejabat Bank calon penerima award sudah berkumpul di National Press Club (NPC), Washington DC sejak sebelum pukul 09.00 waktu Washington DC untuk menerima penghargaan dari majalah perbankan tersebut.

    Duduk di dereten terdepan, mengenakan dasi warna kuning, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzie. Sementara duduk di paling ujung kanan ruangan yang sama, adalah Presiden Direktur Mandiri Sekuritas, Harry M. Supoyo yang kebetulan mengenakan dasi dengan warna senada.

    Acara dibuka oleh Joseph D. Giarraputo, Presiden dan Publisher majalah Global Finance, dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada pelaku perbankan dunia dengan kategori Best Trade Finance Providers (38 negara), Best Sub Custodian Banks (36 negara, termasuk Standard Chartered Bank-Indonesia), Best Foreign Exchange Providers (37 negara) dan Best Derivative Providers (7 negara).

    Di sesi kedua, diberikan penghargaan untuk katagori Best Bank-Developed and Emerging Markets, World’s Safest Banks (BNP PARIBAS, LLOYDS TSB dan RABOBANK), Best Islamic Financial Institutions (12 negara, termasuk bank Syariah Mandiri-Indonesia), Best Investment Banks (11 negara termasuk Mandiri Sekuritas-Indonesia), Best Global Banks, Best Central Bankers.

    Presiden Direktur Mandiri Sekuritas, Harry M.Supoyo, sesaat seusai penerimaan penghargaan tersebut mengemukakan kebanggaanya atas prestasi yang diraih Bank Mandiri Sekuritas sebagai Bank Investasi Terbaik selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2005 hingga sekarang.

    “Saya percaya bahwa iklim investasi di manapun selalu mengalami naik dan turun. Kita semua harus bisa melihatnya dari sisi positif. Tidak ada seorangpun yang dapat memperkirakan sampai kapan, namun saya percaya bahwa market pasti akan membaik,” ujarnya optimistis kepada Endang Isnaini Saptorini, wartawan detikcom di Washington DC.

    Harry menyatakan ketidaksenangannya menyebut saat ini sedang krisis. Menurutnya, situasi saat ini lebih merupakan refleksi naik-turunnya pasar saja dan sentimen pasar dunia terhadap pasar kita. Di luar itu, secara lokal, Harry juga menganggap rata-rata performa perusahaan Indonesia sangat baik dan tidak bermasalah.

    Saat ini Bursa kita relatif sudah menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Terutama pada tahun 2007-2008 ini, pemain lokal (investor domestik) sudah mulai banyak dan mengendalikan pasar bursa, sementara pemain asing sebagai pengikut.

    “Apabila kita ingin mendongkrak kembali angka index di bursa, tentunya para investor domestik inilah yang diharapkan memiliki kekuatan untuk memiliki kembali kepercayaan pada bursa kita. Sekali lagi, performa perusahaan-perusahaan lokal kita tidak ada masalah saat ini,” tandas Harry.

    Sementara Yuslam Fauzie, Presdir Bank Syariah Mandiri (BSM), didampingi oleh Staf Ahli Direksi BSM, Eka Bramantya Danuwirana, ketika ditemui secara terpisah juga menyatakan kebanggaannya sebagai penerima penghargaan untuk Islamic Financial Institution di Indonesia.

    Kriteria yang membanggakannya sebagai penerima award adalah penilaian majalah ini lebih menekankan pada rating yang berarti cenderung ke manajemen resiko, kasus kredibilitas, sustainability, serta governance. Sementara unsur profitabilitasnya justru bukan merupakan unsur utama.

    “Profitabilitas BSM mengalami kenaikan yang cukup besar untuk tahun 2007-2008 ini.. Bulan Juli 2008 saja, laba BSM sudah mencapai angka yang sama dengan laba pada akhir tahun 2007. Namun yang paling penting, adalah pada pengelolaan laba. Karena apalah artinya laba yang banyak. Apabila tidak dikelola secara hati-hati, tidak akan ada sustain,” ujar Yulam Fauzie yang menggelar konferensi pers di JW Marriot Hotel, selepas acara penerimaan award di NPC.

    Penghargaan terhadap Islamic Financial Institution yang baru pertama kalinya diadakan oleh Majalah Global Finance ini, dinilai Yuslam sedikit agak terlambat, karena sebenarnya Bank Syariah sudah mulai bergerak dan tumbuh sejak 9 tahun yang lalu.

    Selain dari majalah Global Finance, BSM sudah banyak menerima award sebelumnya. Di antaranya adalah STP Award 2007 (dari Citibank New York), e-Company Award 2007 (majalah Warta Ekonomi), Indonesia Best Brand Award 2007 (majalah Swa dan Mars). dan Islamic Investment Year 2007 (Karim Bussiness Consulting).

     
  • "Something To Learn From The Indonesians" The BPPN Case 

    ghifi 11:47 pm on October 11, 2008 Permalink | Balas

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Tulisan saya sebelumnya berbicara sedikit mengenai tujuan pengelolaan kredit macet dan saya juga bekerja di Bank yang mengelola kredit macet yang tidak mudah karena berbagai kepentingan dari perusahaan-perusahaan raksasa yang memiliki koneksi dengan para penguasa. BPPN di masa aktifnya mendapatkan banyak kritikan maupun dukungan dari berbagai pihak, tingkat keefektifan penyelesaian kredit macet oleh BPPN juga menjadi polemik karena begitu besar biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk meyelesaikan rekstrukturisasi (“penjualan”) utang. Akan tetapi penulis tidak membahas lebih jauh mengenai hal ini. Dalam hal ini tulisan ini sedikit teknis karena memang permasalahan lebih mikro. Mudah-mudahan bermanfaat:

    Strategi Restrukturisasi asset yang diterapkan oleh BPPN adalah :
    - Pengelompokan utang perusahaan berdasarkan besaran utang, prospek usaha dan potensi pengembalian nilai, dan itikad baik debitur (kooperatif atau non kooperatif debitur).
    - Pengelompokan proses restrukturisasi utang berdasarkan konsep one obligor. Dalam hal ini BPPN bekerjasama dengan pemegang saham pengendali masing-masing group dalam merencanakan dan melaksanakan restrukturisasi utang perusahaan2 group tersebut.
    - Restrukturisasi utang perusahaan skala besar
    - Outsourcing utang berskala menengah, kecil, dan ritel. Dalam hal ini BPPN menggunakan jasa pihak ketiga untuk mengelola aset2 ini termasuk dalam penjualan aset2 tersebut.
    - LItigasi diterapkan pada debitur yang tidak kooperatif.
    Dalam menerapkan strategis di atas BPPN menerapkan beberapa klasifikasi dan karakteristik menerangkan strategi tersebut di atas, misalnya:
    Klasifikasi A memiliki karakter Prospek usaha baik dan itikad baik maka solusi yang diambil melakukan:
    - Restrukturisasi utang
    - Penjualan asset oleh debitur
    - Konvensi utang menjadi saham
    Klasifikasi B memiliki karakter Prospek usaha tidak baik tetapi itikad baik maka solusi yang diambil melakukan:
    - Penbambahan Modal
    - Asset Swap
    - Konvensi utang menjadi saham
    Klasifikasi C memiliki karakter Prospek usaha baik tetapi itikad tidak baik maka solusi yang diambil melakukan:
    - Litigasi
    - Penyitaan
    Klasifikasi D memiliki karakter Prospek usaha tidak baik tetapi itikad tidak baik maka solusi yang diambil melakukan:
    - Pailit
    - Likuidasi

    Untuk melaksanakan program restrukturisasi asset, BPPN akan melalui tahapan sebagai berikut:
    - Bila kredit adalah kredit perusahaan milik Negara maka restrukturisasi kredit akan dikoordinasikan dengan Menteri Keuangan dan atau Menteri Negara BUMN
    - Bila kredit tersebut adalah kredit perusahaan dimana BPPN adalah pemegang saham maka penanganannya dilakukan secara win-win solution, hingga tidak ada konfilik atau benturan kepentingan. Restrukturisasi kreditnya dikoordinasikan antara Aset Manajemen Investasi dengan AMK.
    - Bila kredit tersebut adalah kredit perusahaan di bidang multifinance maka BPPN akan melakukan evaluasi lebih jauh terhadap penyelesaian asset termasuk alternatif litigasi
    - Kredit yang tidak termasuk dalam kategori di atas akan dibagi menurut klasifikasi yang ditentukan dan ditangani sesuai dengan ketentuan penylesaian berdasarkan klasifikasi tersebut
    - Kredit yang tersisa di dalam portfolio BPPN akan diujal dalam program penjualan asset atau diserahkan kepada bank.
    - Proses klasifikasi perusahaan yang mempunyai kredit pada BPPN adalah tersebut di atas.
    Alternatif restrukturisasi yang digunakan oleh BPPN adalah:
    - Penyelesaian utang dengan penjadwalan ulang pembayaran (rescheduling) dengan melihat kemampuan cash flow perusahaan
    - Tenggang waktu pembayaran maksimum selama 2 tahun dengan tetap mengacu pada kemampuan cash flow
    - Untuk kasus tertentu bisa dilakukan dengan memberikan penghapusan denda
    - Penghapusan sebagian dari bunga tertunggak, juga dilihat kasus per kasus
    - Pemegang saham dapat diminta untuk menyetorkan tambahan modal guna mengurangi beban perusahaan
    - Penjualan asset korporasi
    - Konversi utang menjadi obligasi atau instrument lainnya (kuasai ekuitas)
    - Pemberian insentif khusus dalam crash program.
    Sedikitnya ada 6 (enam) prinsip restrukturisasi yang dilakukan oleh BPPN.
    1. Memaksimalkan recovery dengan menggunakan perangkat hukum PP 17 tahun 1999, perlakukan yang sama untuk semu obligor, restrukturisasi dilakukan secara komersial dan berdasarkan kemampuan cash flow perusahaan, first loss ditanggung oleh existing shareholders dan konversi utang menjadi kepemilikan saham
    2. Proses yang transparan, independen dan fair dengan menggunakan jasa pihak ketiga, mengimplementasikan good corporate governance (GCG), honour other creditors dan publikasi debtor uncooperative dan minimalisasi moral hazard.
    3. Mempertahankan nilai perusahaan, dengan melakukan restrukturisasi pinjaman, konversi pinjaman terhadap ekuitas, control manajemen, serta merger dan akuisisi
    4. Mempertahankan tenaga kerja, melalui program pemerintah untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) guna menyerap tenaga kerja dan mendukung industry padat karya
    5. Berorientasi ekspor, dengan menyediakan fasilitas pembiayaan dan membangkitkan kembali sector perbankan untuk memperbaiki likuiditas.
    6. Kerjasama dengan prakarsa Jakarta melalui konsep persetujuan satu paying dan penyaluran pembiayaan.
    Berdasarkan prinsip tersebut di atas BPPN melakukan klasifikasi terhadap debitur untuk prospek usaha dan itikadnya.
    Prospek usaha yang baik memenuhi berbagai criteria seperti:
    - Memiliki potensi untuk mendapatkan arus kas yang positif
    - Memiliki efek ganda terhadap industry lain
    - Mendayagunakan sumber daya manusia (SDM)
    - Memiliki produk atau jasa yang prospektif, dan
    - Memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing
    Sedangkan debitur yang memiliki itikad baik adalah:
    - Debitur yang berinisiatif dan secara aktif bernegosiasi dengan kreditur
    - Menganut prinsip keterbukaan
    - Taat dalam mengikuti jadwal yang telah disepakati bersama
    - Berkeinginan untuk menanggung kerugian, dan
    - Menyiapkan proses restrukturisasi
    Dalam kondisi restrukturisasi NPL di AMC-BPPN tidak efektif, penjualan aset-aset kredit macet (NPL) ini menjadi tidak bisa dihindari. Tekanan target APBN memaksa BPPN untuk mempercepat penjualan aset.
    Maka, sejak tahun 2002, dimulailah Program Penjualan Aset Kredit (PPAK) secara besar-besaran. Beda program ini dengan penjualan aset kredit sebelumnya adalah aset kredit dijual dalam keadaan apa adanya dan tidak direstrukturisasi. Program Penjualan Aset Kredit – Program Penjualan Langsung (PPAK-PPL) adalah program penjualan secara langsung terhadap portfolio kredit dengan harga penjualan yang sudah ditetapkan minimum 70% dari nilai nominal portfolio kredit tersebut.
    Dalam pembelian aset PPAK, beberapa bank rekap, seperti Bank Mandiri, membentuk konsorsium dengan beberapa mitra, yang notabene adalah perusahaan sekuritas. Pola konsorsium secara ringkas adalah sebagai berikut :
    1. Menurut Perjanjian Konsorsium, investor haruslah pihak yang tidak terafiliasi dengan debitur asal.
    2. Bank membiayai 99 persen dari pembelian aset PPAK, sedangkan mitranya hanya perlu menyediakan 1 persennya. Pembayarannya dengan tunai dollar AS atau rupiah yang ditransfer ke rekening BPPN di Standard Chartered Bank, bukan dengan obligasi rekap sebagaimana diatur dalam clearing system BPPN.
    3. Aset kredit macet (NPL) kemudian dibagi menjadi dua bagian, yakni porsi sustainable masuk ke bank dan porsi unsustainable masuk ke mitra.
    4. Sustainable loan ini kemudian diubah menjadi hutang baru di bank dengan nilai nominal 99 persen dari harga yang didapat dari PPAK.
    5. Unsustainable kemudian diubah oleh mitra menjadi Obligasi Konversi Wajib dengan debitur asal, yang kemudian harus dijual lagi ke investor yang wajib dibawa oleh mitra. Mitra dan investor juga diharuskan mendapatkan persetujuan pemegang saham debitur asal. Tak jelas bagaimana nilai konversi hutang saat diperhitungkan jadi saham.

     
  • "Something To Learn from The Indonesians" The Year of 1997 Financial Crisis 

    ghifi 12:32 am on October 11, 2008 Permalink | Balas

    Assalamu’alaikum wr wb

    Pada tulisan saya yang lalu saya sempat memaparkan mengenai latar belakang dalam mengelola krisis kredit pengalaman dari negara-negara lain. Berikut adalah kasus yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 dan pada tulisan ini mencoba memfokuskan pada tujuan pengelolaan kredit macet perusahaan-perusahaan serta contoh-contoh kasus di beberapa negara yang mengalami krisis seperti Korea, Malaysia, dan Indonesia. Mudah-mudahan bermanfaat.

    Krisis yang terjadi di asia tahun 1997 memperlihatkan menonjolnya dua kebijakan darurat yang diambil pemerintah Negara-negara yang mengalami krisis untuk menangani masalah kredit macet di sector perbankan.
    1. Pendirian perusahaan pengelola asset (asset management company – AMC)
    2. Pengembangan skema penyelesaian utang perusahaan di luar pengadilan (out of court settlement)

    “Tujuan-tujuan kebijakan pengelolaan aset dapat kontradiktif satu sama lain. Misalnya tingkat pemulihan nilai aset yang tinggi dan resolusi yang cepat hampir tidak mungkin dicapai bersamaan. Demikian pula antara tujuan resolusi yang cepat dan normalisasi pasar aset yang bersangkutan.”

    AMC merupakan unit usaha (public ataupun swasta) yang fungsi utamanya adalah mengambil alih aset-aset tidak lancer dari perbankan. Secara umum, AMC dibentuk dengan tujuan membantu memfasilitasi restrukturisasi financial dan memaksimalkan pemulihan aset tidak lancar.
    Pengelolaan aset didefinisikan sebagai suatu proses di mana aset-aset tidak lancar diidenfitifikasi dan diorganisasikan ke dalam tiga kategori yaitu:
    1. Dijual
    2. Direstrukturisasi
    3. Dihapuskan

    Sesuai dengan karakterisitik masing-masing aset kemudian diambil tindakan resolusi dan atau rehabilitasi yang sesuai. Tujuan terpenting kebijakan pengelolaan aset:
    1. Memfasilitasi restrukturisasi sector keuangan, karena kualitas aset yang menurun dapat merusak kesehatan perbankan. Kebijakan pengelolaan aset dimaksudkan untuk mengembalikan likuidaitas dan kesehatan perbankan, mengembalikan kepercayaan public serta mendorong disiplin pemberian kredit oleh perbankan
    2. Memulihkan nilai aset semaksimal mungkin. Tingkat pemulihan nilai aset yang tinggi memberikan signal yang baik kepada debitor mengenai prospek kredit di masa datang. Tingkat pemulihan nilai yang tinggi menguntungkan para debitor baru karena mengurangi premi resiko yang biasanya direfleksikan oleh tingginya suku bunga pinjaman.
    3. Mencapai resolusi yang cepat.
    4. Normalisasi pasar dari aset yang bersangkutan.

    Tujuan-tujuan kebijakan pengelolaan aset dapat kontradiktif satu sama lain. Misalnya tingkat pemulihan nilai aset yang tinggi dan resolusi yang cepat hampir tidak mungkin dicapai bersamaan. Demikian pula antara tujuan resolusi yang cepat dan normalisasi pasar aset yang bersangkutan. Kebijakan pengelolaan aset yang baik harus dapat menyeimbangkan tujuan2 ini atau membuat prioritas tujuan yang ingin dicapai. Beberapa kondisi prasyarat untuk berhasil tidaknya kebijakan pengelolaaan aset adalah eksistensi dari:
    1. Sistem hukum yang efektif
    2. Kerangka peraturan dan pengawasan keuangan yang memadai
    3. Peraturan pajak yang kondusif
    4. Situasi ekonomi makro yang stabil
    5. Praktik tata kelola yang baik (good corporate governance)
    Pendekatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu desentralistik (dilakukan oleh bank) dan setnralistik dengan adalanya asset management company (AMC). Berdasarkan data kareaterikstik perusahaan pengelola aset di Negara-negara asia yang terkena kirisis seperti contoh di bawah ini:

    Contoh pertama:
    Perusahaan Pengelola Aset: Korea Asset Management Corp. (KAMCO)
    Jenis:Sentralistik
    Membeli/mengambil alih aset dari: Bank dan Bank sentral, lembaga penjaminan simpanan, AMC, badan restrukturisasi lainnya
    Pembiayaan: Kontribusi dari insititusi keuangan, pinjaman dari bank pembangunan korea dan pengeluaran obligasi KAMCO yang dijamin pemerintah
    Kriteria pembelian aset atau transfer:
    Aset tidak lancar biasa adalah kredit yang tidak terbayar selama 3 bulan atau lebih. Aset tidak lancar istimewa: nilai sekarang dari proyeksi arus kas yang telah didiskon. Unsecured loan: 3% nilai nominal
    Harga transfer:Aset tidak lancar biasa: 45% nilai agunan (yang sudah diappraised) dikurangni senior lien amount; aset tidak lancar istimewa: nilai sekarang dari proyeksi arus kas yang telah didiskon. Unsecured loan: 3% nilai nominal
    Dibayarkan dengan:70% obligasi KAMCO dan 30% tunai
    Penjualan aset:Lelang terbatas, penjalan public, outright sale, sekuritisasi kemitraan saham.Tunai, pengeluaran saham perdana

    Contoh kedua:
    Perusahaan Pengelola Aset: Sentralistik
    Membeli/mengambil alih aset dari: Bank, perusahaan keluarga dan merchant banks, sesuai dengan kekuatan relative institusi-institusi tersebut
    Pembiayaan: Kontribusi pemerintah, pinjaman dari khazanah, obligasi danaharta (zero coupon bonds) yang dijamin pemerintah. Untuk kelompok Sime Banking, tersedia dana dari pemerintah yang terpisah
    Kriteria pembelian aset atau transfer:Aset tidak lancer di atas RM 5 juta (nilai pasar). Untuk kelompok Sime banking dan BBMB, asset tidak lancer adalah semua asset di atas 211 juta ringgit
    Harga transfer:Secured loans: nilai agunan; unsecured loansP: 10% nilai pokok; surpulus nilai pemulihan asset dibagi dengan debitur dengan basis 20:80. Adset tidak lancer yang berhasil dipulihkan dari Sime banking bernilai sama dengan nilai bukunya
    Dibayarkan dengan:Obligasi Danaharta tanpa kupon
    Penjualan aset:Lelang swasta, penawaran public dan sekuritasi

    Contoh ketiga:
    Perusahaan Pengelola Aset: Sentralistik Bank-bank rekapitalisasi dan bank yang ditutup. Mengambil alih asset dari pemilik lama bank-bank yang gagal memenuhi kewajibannya
    Membeli/mengambil alih aset dari: Bank, perusahaan keluarga dan merchant banks, sesuai dengan kekuatan relative institusi-institusi tersebut
    Pembiayaan: Sebagian besar dana datang dari likuidasi saham saham yang sebelumnya dipegang
    Kriteria pembelian aset atau transfer:Kerugian kredit dari bank-bank rekapitalisasi dan asset dari bank-bank yang ditutup
    Harga transfer:Dibeli dengan nilai nil
    Dibayarkan dengan:Obligasi Rekap
    Penjualan aset:Tunai, pengeluaran saham perdana

    Permasalahan…bersambung ke bagian III

     
  • "Something To Learn from The Indonesians" The Credit Crunch & The Liquidity Crisis 

    ghifi 1:06 pm on October 9, 2008 Permalink | Balas

    Assalamu’alaikum wr wb

    Seharusnya saya berbangga menjadi orang Indonesia, karena ternyata banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman menjadi orang Indonesia:) salah satunya adalah mengatasi krisis ekonomi seperti saat ini terjadi di seluruh penjuru dunia. Mari kita lihat tulisan saya di bawah ini yang saya sadur dan dianalisa dari beberapa referensi ketika saya melakukan studi kasus BPPN.

    Latar Belakang
    Kredit Macet dan Restrukturisasi Kredit
    Setiap Negara dapat menggunakan pendekatan arus (flow) maupun pendekatan stock(stock) untuk menangani asset tidak lancar.
    Berdasarkan pengalaman Negara-negara lain jika kredit macet yang dimaksud merupakan utang perusahaan dari berbagai macam sector yang sifatnya tidak homogeny, lebih baik jika pengelolaan asset macet tidak dipisahkan dari bank. Jika sebagian besar kredit macet berasal dari satu sector misalnya properti maka kondisi bank-bank dapat diperbaiki dengan segera dibandingkan bila aset-aset tidak lancar ini dikelola di luar bank.
    Pengisolasian asset tidak lancar akan membantu bank memusatkan usahanya pada inti masalahnya. Selain itu pengelola asset tidak lancar juga mampu bekerja memaksimalkan nilai pemulihan kredit tersebut serta membatasi biaya restrukturisasi bank.

    Kemungkinan lain pengelolaan kredit macet adalah melalui pembelian kredit macet oleh institusi pemerintah dengan harga di bawah harga pasar, tetapi bank yang bersangkutan tetap mengelola kredit tersebut. Hasil pemulihan kredit nantinya akan dibagi dua antara pemerintah dan bank. Kesulitannya adalah pengaturan seperti ini biasanya tidak memberikan insentif pada bank untuk menuntut pengembalian kredit maupun pengelolaan agunan yang biasa diperolah secara maksimal. Misalnya sebuah bank yang memiliki kredit macet sedang mempertibangkan banyak sumber-sumber (dana) yang harus dikeluarkannya untuk mengelola kredit tersebut. Nilai kredit macet yang berhasil dipulihkan merupakan fungsi non linear dari pembelanjaan atau jumlah dana yang harus ditanggungnya dalam menghadapi tiga jenis kredit macet yakni yang berasal dari debitor baik, debitor nakal, dan debitor kurang baik. Debitor baik didefinisikan sebagai debitor yang mengalami kesulitan sementara akibat krisis ekonomi yang terjadi sehingga gagal membayar tepat waktu dan atau debitor yang sudah menyerahkan agunan dengan nilai lebih tingggi dari pinjamannya. Debitor nakal didefinisikan sebagai debitor yang tidak dapat mengembalikan pinjamannya serta menyerahkan agunan yang nilainya sangat tidak sebanding dengan nilai pinjamannya atau debitor yang sama sekali tidak mau menyerahkan agunan atas pinjamannya tersebut. Sedangkan debitor yang kurang baik adalah debitor yang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk membayar akan tetapi selalu berusahaa untuk tidak membayar kembasli pinjamannya dan atau debitor yang telah menyerahkan agunan dengan nilai yang sebanding dengan pinjamannya tetapi debitor tersebut masih harus diawasi secara ketat untuk memenuhi kewajibannya termasuk dalam mengelola asset-aset yang ada agar tidak terjadi penyelewangan terhadap penggunaan cash flow dari asset-aset tersebut.

    Bersambung ke bagian ke 2…

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal