Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • ghifi 3:55 pm on November 29, 2008 Permalink | Balas
    Tags:   

    Kehancuran Amerika, Kemenangan China? 

    Bicara mengenai kondisi ekonomi global, tidak bisa lepas begitu saja dari peranan negara-negara Asia, khususnya China.  China adalah Negara besar dengan tradisi yang luar biasa di masa lalu maupun di masa yang akan datang.  Barangkali dengan kita belajar mengenai China, akan memberikan pelajaran yang sangat penting yang kita tidak akan dapatkan di masyarakat lainnya di dunia.

    Dalam usaha pemerintah AS untuk memberikan rencana bailout kepada system finansial Amerika, usaha pemerintahan  Bush ini mengingatkan kembali kejadian the Great Depression di tahun 1930an.  Akan tetapi untuk masyarakat Asia kehancuran ekonomi masih terdengar belum lama. Krisis finansial yang terjadi 10 tahun yang lalu membawa perbankan, korporasi dan pemerintahan dalam kehancuran.  Krisis yang dimulai oleh kolapsnya mata uang Bath Thailand di pertengahan tahun 1997.  Kemudian meluas ke belahan Asia timur lainnya dengan imbas terjadinya devaluasi mata uang Asia hingga mencapai Rusia dan Brazil.  Kesinambungan “keajaiban ekonomi” di Korea Selatan dan Hong Kong telah berakhir begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Thailand.

    Pelajaran penting yang dapat diambil dari krisis tersebut adalah melakukan penimbungan cadangan devisa.  Hal ini menjadi semacam kepercayaan pada pemerintahan di Asia Timur.  Di tahun 1990an, pertumbuhan ekonomi Asia yang cepat hanya memiliki cadangan yang kecil, walaupun pada saat itu ekspor dan investasi asing sangat pesat perkembangannya.  Ketika krisis datang di tahun 1997, kekurangan cadangan devisa mempersulit kemampuan pemerintah Asia untuk menyelamatkan perbankan, memaksa mereka untuk memohon pertolongan dari institusi internasional.

    Akan tetapi bailout dari IMF datang dengan banyak persyaratan termasuk paksaan untuk liberalisasi pasar  modal yang pada akhirnya menyebabkan krisis makin memburuk.  Bahkan negara-negara barat memberikan sebuah “panggilan” krisis finansial Asia sebagai Krisis IMF, kegagalan pemerintah dan keputusasaan ekonomi bersama IMF secara vital mengkonfirmasi  pentingnya mempertahankan cadangan devisa dalam jumlah besar, sebuah masalah tidak hanya menjaga kestabilan mata uang, akan tetapi juga kemerdekaan ekonomi sebuah Negara.

    Satu Negara di Asia yang tidak terimbas oleh krisis finansial pada tahun 1997-1998 adalah China.  Banyak alasan mengapa hal ini terjadi terutama pada saat itu China sudah memiliki cadangan valuta asing sebesar 100 Miliar US Dollar dan menolak untuk merevaluasi mata uangnya ketika krisis menyerang.
    Sejak itu China secara agresif mendorong perkembangan ekonomi yang pesat, ekspor, dan model investasi untuk pembangunan ekonomi melalui pematokan mata uangnya dan memproduksi lebih banyak dari pada mengkonsumsi, cadangan devisa China bertumbuh menjadi monster menyentuh angka 1 Triliun US Dollar di tahun 2005.  Bahkan ketika China mendapatkan tekanan dari menteri keuangan AS untuk membiarkan mata uang Yuan mengambang terbatas di tahun 2005, cadangan devisa ini tumbuh hingga 200 Miliar US Dollar per tahun.  Dan 1.5 tahun belakang ini cadangan devisa China meroket hingga 1.8 Triliun US Dollar dan menjadi yang terbesar di dunia.

    Namun menjadi paradox ketika cadangan devisa pada hari ini tidaklah kekayaan nyata yang dikembalikan ke dalam ekonomi dalam negeri, malahan cadangan devisa ini merupakan soft loan kepada pemerintah AS.
    Bahkan sebelum kehancuran Wall Street, terdapat consensus kuat di China bahwa cadangan devisa telah tumbuh jauh di atas yang dibutuhkan untuk menahan krisis seperti di tahun 1997.  Usulan untuk melakukan devesifikasi strategi investasi mulai menguat.  Investasi pada US Treasury Bill hanyalah menyebabkan kerugian karena adanya gap antara yield yang didapat dengan apresiasi mata uang Yuan.
    Dengan penciptaan SWF sebesar 200 Miliar US Dollar, yang disebut dengan China Investment Corporation, Beijing memposisikan dirinya lebih ke investasi ekuitas (walaupun investasi pada Blackstone Group dan Morgan Stanley mendapatkan kritikan).  Andy Xie seorang ekonom dari Morgan Stanly memberikan usulan bahwa pemerintah seharusnya menjual asset US Dollarnya dalam  bentuk kepemilikan di perusahaan AS dalam skala besar, menantang AS untuk menyelesaikan masalah keetakutan untuk mencegah bencana kekurangan kapitalisasi

    Namun banyak masyarakat di China mulai dari blogger yang nasionalis sampai dengan aktivis keadilan sosial memberikan kritikannya pada cadangan devisa yang sangat besar dari China.  Mengapa harus membantu memberikan pembiayaan kepada ekonomi AS yang berbasiskan utang, ketika kebutuhan rumah tangga sendiri masih jauh dari yang diharapkan?  China merupakan salah satu masyarakat yang egaliter pada akhir tahun 1985.  Hari ini China mengalami permasalahan adanya gap antara si kaya dan si miskin.  Hari ini gaya kapitalisme di China mempertontonkan perlawanannya pada ajaran dasar Konfusius yaitu: jangan khawatir terhadap kemiskinan, khawatirlah terhadap ketidakadilan.

    Perkembangan pesat infrastruktur fisik di kota-kota di China yang mengalami modernisasi yang luar biasa namun infrastruktur sosial dan lingkungan yang hancur, terutama populasi di pedesaan dan daerah terpencil.  Bertahun-tahun pemerintah pusat bicara mengenai keharmonisan sosial melalui system baru yaitu sistem layanan bersama kesehatan di pedesaan, melalui peningkatan anggaran untuk pendidikan menjadi 4% dari GDP dan menghilangkan SPP pendidikan, dan mengimplementasikan program pengembangan yang berkesinambungan. Janji ini begitu besar, tetapi tindakan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi.  Dan biaya ekonomi karena keterbatasan akses kepada kesehatan, pendidikan di atas minimnya air bersih & sumber air akan menyebabkan kerusakan dalam jangka menengah dan jangka panjang.
    Tantangan bagi China di masa yang akan datang adalah melepaskan diri untuk pembiayaan utang AS dan memulai investasi pada kesehatan, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tahunan mendekati 10% mejadi hal yang mudah.

    Disadur dari tulisan John Delury – Direktur China Boom Project pada Asia Society di New York

     
  • ghifi 10:36 am on November 29, 2008 Permalink | Balas  

    Kehancuran Amerika, Kemenangan Cina? 

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Bicara mengenai kondisi ekonomi global, tidak bisa lepas begitu saja dari peranan negara-negara Asia, khususnya China. China adalah Negara besar dengan tradisi yang luar biasa di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Barangkali dengan kita belajar mengenai China, akan memberikan pelajaran yang sangat penting yang kita tidak akan dapatkan di masyarakat lainnya di dunia.
    Dalam usaha pemerintah AS untuk memberikan rencana bailout kepada system finansial Amerika, usaha pemerintahan Bush ini mengingatkan kembali kejadian the Great Depression di tahun 1930an. Akan tetapi untuk masyarakat Asia kehancuran ekonomi masih terdengar belum lama.

    Krisis finansial yang terjadi 10 tahun yang lalu membawa perbankan, korporasi dan pemerintahan dalam kehancuran. Krisis yang dimulai oleh kolapsnya mata uang Bath Thailand di pertengahan tahun 1997. Kemudian meluas ke belahan Asia timur lainnya dengan imbas terjadinya devaluasi mata uang Asia hingga mencapai Rusia dan Brazil. Kesinambungan “keajaiban ekonomi” di Korea Selatan dan Hong Kong telah berakhir begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Thailand.

    Pelajaran penting yang dapat diambil dari krisis tersebut adalah melakukan penimbungan cadangan devisa. Hal ini menjadi semacam kepercayaan pada pemerintahan di Asia Timur. Di tahun 1990an, pertumbuhan ekonomi Asia yang cepat hanya memiliki cadangan yang kecil, walaupun pada saat itu ekspor dan investasi asing sangat pesat perkembangannya. Ketika krisis datang di tahun 1997, kekurangan cadangan devisa mempersulit kemampuan pemerintah Asia untuk menyelamatkan perbankan, memaksa mereka untuk memohon pertolongan dari institusi internasional.

    Akan tetapi bail out dari IMF datang dengan banyak persyaratan termasuk paksaan untuk liberalisasi pasar modal yang pada akhirnya menyebabkan krisis makin memburuk. Bahkan negara-negara barat memberikan sebuah “panggilan” krisis finansial Asia sebagai Krisis IMF, kegagalan pemerintah dan keputusasaan ekonomi bersama IMF secara vital mengkonfirmasi pentingnya mempertahankan cadangan devisa dalam jumlah besar, sebuah masalah tidak hanya menjaga kestabilan mata uang, akan tetapi juga kemerdekaan ekonomi sebuah Negara.

    Satu Negara di Asia yang tidak terimbas oleh krisis finansial pada tahun 1997-1998 adalah China. Banyak alasan mengapa hal ini terjadi terutama pada saat itu China sudah memiliki cadangan valuta asing sebesar 100 Miliar US Dollar dan menolak untuk merevaluasi mata uangnya ketika krisis menyerang. Sejak itu China secara agresif mendorong perkembangan ekonomi yang pesat, ekspor, dan model investasi untuk pembangunan ekonomi melalui pematokan mata uangnya dan memproduksi lebih banyak dari pada mengkonsumsi, cadangan devisa China bertumbuh menjadi monster menyentuh angka 1 Triliun US Dollar di tahun 2005. Bahkan ketika China mendapatkan tekanan dari menteri keuangan AS untuk membiarkan mata uang Yuan mengambang terbatas di tahun 2005, cadangan devisa ini tumbuh hingga 200 Miliar US Dollar per tahun. Dan 1.5 tahun belakang ini cadangan devisa China meroket hingga 1.8 Triliun US Dollar dan menjadi yang terbesar di dunia.

    Namun menjadi paradox ketika cadangan devisa pada hari ini tidaklah kekayaan nyata yang dikembalikan ke dalam ekonomi dalam negeri, malahan cadangan devisa ini merupakan soft loan kepada pemerintah AS. Bahkan sebelum kehancuran Wall Street, terdapat consensus kuat di China bahwa cadangan devisa telah tumbuh jauh di atas yang dibutuhkan untuk menahan krisis seperti di tahun 1997. Usulan untuk melakukan devesifikasi strategi investasi mulai menguat. Investasi pada US Treasury Bill hanyalah menyebabkan kerugian karena adanya gap antara yield yang didapat dengan apresiasi mata uang Yuan.

    Dengan penciptaan SWF sebesar 200 Miliar US Dollar, yang disebut dengan China Investment Corporation, Beijing memposisikan dirinya lebih ke investasi ekuitas (walaupun investasi pada Blackstone Group dan Morgan Stanley mendapatkan kritikan). Andy Xie seorang ekonom dari Morgan Stanly memberikan usulan bahwa pemerintah seharusnya menjual asset US Dollarnya dalam bentuk kepemilikan di perusahaan AS dalam skala besar, menantang AS untuk menyelesaikan masalah keetakutan untuk mencegah bencana kekurangan kapitalisasi

    Namun banyak masyarakat di China mulai dari blogger yang nasionalis sampai dengan aktivis keadilan sosial memberikan kritikannya pada cadangan devisa yang sangat besar dari China. Mengapa harus membantu memberikan pembiayaan kepada ekonomi AS yang berbasiskan utang, ketika kebutuhan rumah tangga sendiri masih jauh dari yang diharapkan? China merupakan salah satu masyarakat yang egaliter pada akhir tahun 1985. Hari ini China mengalami permasalahan adanya gap antara si kaya dan si miskin. Hari ini gaya kapitalisme di China mempertontonkan perlawanannya pada ajaran dasar Konfusius yaitu: jangan khawatir terhadap kemiskinan, khawatirlah terhadap ketidakadilan.

    Perkembangan pesat infrastruktur fisik di kota-kota di China yang mengalami modernisasi yang luar biasa namun infrastruktur sosial dan lingkungan yang hancur, terutama populasi di pedesaan dan daerah terpencil. Bertahun-tahun pemerintah pusat bicara mengenai keharmonisan sosial melalui system baru yaitu sistem layanan bersama kesehatan di pedesaan, melalui peningkatan anggaran untuk pendidikan menjadi 4% dari GDP dan menghilangkan SPP pendidikan, dan mengimplementasikan program pengembangan yang berkesinambungan. Janji ini begitu besar, tetapi tindakan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi. Dan biaya ekonomi karena keterbatasan akses kepada kesehatan, pendidikan di atas minimnya air bersih & sumber air akan menyebabkan kerusakan dalam jangka menengah dan jangka panjang.

    Tantangan bagi China di masa yang akan datang adalah melepaskan diri untuk pembiayaan utang AS dan memulai investasi pada kesehatan, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tahunan mendekati 10% mejadi sesuatu yang ternyata mudah.

    Disadur dari tulisan John Delury – Direktur China Boom Project pada Asia Society di New York
    ghifi.multiply.com

     
    • forlan 4:01 am on Januari 15, 2009 Permalink

      mudah-mudahan kehancuran Amerika itu akan segera datang hingga PAlestina dan negeri Islam lainnya terbebaskan

  • ghifi 3:07 am on November 28, 2008 Permalink | Balas  

    Sebuah Sistem baru yang dibutuhkan untuk Bantuan Pembiayaan Development Negara-Negara Miskin 

    Oleh Jeffrey D. Sachs

    Para pemimpin Negara-negara dunia bertemu di Doha akhir minggu ini dalam rangka melakukan review system global untuk pembiayaan/financing pembangunan/development sebagai sarana dimana sumber daya dapat mengalir secara global untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan. Sistem mengalami kerusakan walaupun demikian undangan yang hadir tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.

    Sama seperti keharusan untuk melakukan overhaul regulasi pasar finansial kita juga harus melakukan overhaul terhadap pembiayaan development/pembangunan, jika kita akan menyelesaikan masalah kemiskinan, kelaparan dan perubahan iklim.

    Pembiayaan untuk pengembangan melibatkan tiga proses utama: Bantuan pengembangan untuk Negara-negara termiskin, dimana mereka tidak bisa menarik perhatian pembiayaan berorientasi pasar untuk mendapatkan investasi yang dibutuhkan. Kemudian investasi langsung maupun melalui portfolio utamanya untuk Negara berkembang dan Negara miskin yang memiliki sumber daya alam yang kaya. Dan pembiayan komoditas public yang sifatnya global seperti mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Bantuan mengalir jauh di bawah level yang dijanjikan dan tidak dapat diprediksi. Aliran pasar sangat terkonsentrasi di beberapa Negara saja dan sangat rentan terhadap reversal yang sifatnya panic; dan komoditas public yang sifatnya global dalam kondisi bahaya karena kurangnya pembiayaan, ada kemauan dari publik akan tetapi tidak tanpa dukungan.

    Kemudian tidak ada dukungan akuntabilitas. Ketika bantuan dijanjikan namun tidak direalisasikan, tidak ada seorang pun yang peduli kecuali Negara-negara miskin itu sendiri. Dan seringkali Negara miskin dipersalahkan karena perbuatan mereka atau hal lainnya sebagai alasan mengapa bantuan tidak pernah datang.

    Para menteri pengembangan mengklaim bahwa mereka telah memberikan komitmennya seperti memberikan bantuan 2 kali lebih besar kepada Afrika hingga tahun 2010. walaupun para menteri keuangan mengurangi anggaran bantuan hingga separuhnya.

    Yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa Negara-negara kaya belum mampu mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan bantuan kepada Afrika sebesar 25 Miliar US Dollar (kurang dari 10 sen per ratusan US Dollar daripada income Negara-negara kaya), walaupun ketika memberikan komitmennya paling sedikit sebesar 2,5 Triliun US Dollar di bulan lalu untuk malakukan bail out kepada sector financial.

    Reformasi arsitektur bantuan sebenarnya tidak mendapatkan dukungan secara politis dari Negara-negara kaya. Orang-orang yang menghendaki reformasi bantuan umumnya menekankan pada “bantuan anggaran” kepada departemen keuangan Negara-negara miskin disbanding dengan “bantuan mengikat” dalam bentuk investasi projek yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan konstruksi dan sector industri atau dukungan yang memiliki target yang spesifik melalui dana global spesialisasi untuk pengendalian penyakit, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya.

    Sektor industri di AS, Eropa dan Jepang bisa saja menjual pembangkit listrik, konstruksi jalan, fasilitas pelabuhan dan infrastruktur lainnya yang didukung oleh dana bantuan, tidak tertarik dan kehilangan kontak dengan dana pengembangan. Masyarakat Negara-negara kaya tidak mempercayai dukungan anggaran umum, karena mereka tidak mengetahui bagaimana uang mereka dipergunakan.

    Bantuan yang paling sukses di tahun-tahun belakangan ini ditargetkan melalui dana global untuk memberikan bantuan imunisasi kepada anak2, atau melawan AIDS, tuberculoses, dan Malaria. Masyarakat kemudian memahami lebih baik bagaimana uangnya dapat membantu menyelamatkan nyawa manusia. Bantuan dapat dihitung dalam bentuk tempat tidur, pengobatan antiretroviral, dan vaksin. Hasil-hasil yang diperoleh melalui pengurangan kematian dari malaria, penyakit menular, polio, dan penyakit lainnya yang mulai menjadi ancaman. Dana2 ini telah memenangkan hati masyarakat sehingga mau menambahkan pembiayaan.

    Reformasi pertama dan yang sebenarnya daripada system bantuan harus menghubungkan kembali bantuan dengan input dan output yang dapat diukur, melalui dana global dan program2. Donor bantuan internasional seharusnya mengumpulkan dana mereka melalui dana global untuk pendidikan dasar, produksi makanan (benih dan pupuk kepada para petani miskin), air bersih, dan sanitasi, program perencanaan keluarga dan KB (melalui PBB, dana populasi), nutrisi (melalui UNICEF, dan World Food Programme), serta infrastruktur. Masyarakat akan dapat melihat secara jelas bagaimana uang mereka digunakan. Projek akan dimonitor dan diaudit. Keberhasilan dan Kegagalan akan lebih transparan. Reformasi yang kedua seharusnya mengikatkan kembali bantuan, sebagian, dengan mendorong agen-agen donor Negara untuk mendukung projek yang diberikan oleh perusahaan nasional.

    Pemerintah China melakukan hal ini melalui investasi Miliar US Dollar ke seluruh Afrika, hingga manfaat dapat terlihat di penjuru Afrika. Negara Jepang juga memiliki tradisi yang sukses memberikan bantuan di Asia Tenggara. Adanya resesi di Negara-negara maju, investasi langsung dari perusahaan-perusahaan

    Untuk membangun jalan yang urgensinya tinggi, pembangkit listrik, fasilitas pelabuhan, dan lainnya di Negara-negara paling miskin akan memberikan hasil yang luar biasa: untuk pengembangan, untuk stimulus ekonomi makro, dan membangun dukungan politik domestik untuk menjaga komitmen bantuan.

    Tujuannya, tentunya seharusnya dapat membantu Negara-negara tersebut untuk tidak lagi mendapatkan bantuan dan berorientasi pasar. Akan tetapi pembiayaan melalui pasar bebas kebanyakan hanya berkonsentrasi di emerging market yang terbatas dan Negara miskin dengan sumber daya alam yang kaya.

    Untuk memungkinkan ekspansi jangkauan dari pembiayaan berbasiskan pasar, salah satu kuncinya adalah pembangunan infrastruktur di Negara-negara miskin sehingga investasi berbasiskan pasar mendapatkan keuntungan. Kebijakaan keuangan dibutuhkan untuk mencegah pelarian modal dari aliran dana swasta, dimana kita sudah mengalaminya sejak hancurnya Lehman Brothers di bulan September 2008. Barangkali langkah kuncinya adalah fasilitas swap dari bank sentral Negara kaya kepada Negara-negara berkembang, sehingga kepanikan pasar tidak menghabiskan pasar Negara berkembang.

    Dana pengembangan secara tradisional (ada reformasi atau tidak) dan pembiayaan berbasiskan pasar tidak akan membiayai global public good, seperti investasi besar untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim atau untuk melindungi kekayaan bio laut. Kita membutuhkan formasi baru pada pembiayaan global untuk kebutuhan riset, pengembangan, demo, pengembangan tekonologi energi yang dapat diperbaharui, seperti carbon capture dan sequestration (menghilangkan karbon), dan teknologi maju pada power generator.

    Afrika memiliki potensi tenaga matahari cukup buat dirinya dan seluruh daratan Eropa, akan tetapi ini membutuhkan dukungan penelitian, engineering, dan pembiyaan baik swasta maupun Negara dalam skala regional, akan tetapi pembiayaan tersebut belum tersedia.

    Dana kecil seperti Global Environmental Facility telah dibentuk untuk tujuan ini, namun mereka dalam kategori juta US dollar per tahun dibandingkan dengan 10 Miliar US Dollar yang dibutuhkan. Inovasi di bidang pembiayaan adalah penting. Kita harus mengadopsi pengurangan carbon secara global dengan setiap Negara memberikan beberapa dollar per ton pada CO2 yang ditimbulkan untuk membiayai investasi global dalam rangka mitigasi dan adaptasi. Swiss dan Norwegia saat ini telah mengajukan proposal tersebut.

    Sebagai analogi pajak kecil untuk transportasi global dan transaksi pembiayaan global dapat menambahkan dana yang dibutuhkan oleh masyarakat internasional. Pajak tiket pesawat terbang sudah berfungsi dan dapat dikomplemen dengan pajak pada pengiriman internasional.

    Overhaul pada system pembiayaan internasional sudah seharusnya dilakukan. Krisis financial sudah menyebabkan proses perubahan dimulai. Banyak pembicaraan mengenai Betton Woods II. Dunia seharusnya menyadari bahwa kesepakatan Betton Woods melibatkan begitu banyak hal lebih dari sekedar regulasi financial, dan rekonstruksi pasca perang, pembangunan, dan perdagangan.

    Hari ini kita membutuhkan visi yang sama dimana system baru pada system pembiayaan untuk pengembangan harus menyelesaikan tantangan besar pada pengembangan yang berkesinambungan: pengangkatan kemiskinan, penanggulangan penyakit, perubahan cuaca, dan pasar keuangan global yang berfungsi untuk melayani semua Negara-negara, baik kaya maupun miskin.

    Jeffrey D. Sachs is the director of the Earth Institute, Quetelet professor of sustainable development, and professor of health policy and management at Columbia University

     
  • ghifi 4:09 am on November 27, 2008 Permalink | Balas
    Tags: Add new tag, finance, insurance, , risk management   

    Akhirnya Apakah Pemerintah AS Menyelamatkan Pasar…? Atau Hanya Citigroup…? 

    Paman Sam akhirnya mulai menjual systematic risk insurance melalui surat berharga dengan grade yang high yang ditukar dengan preferred stock. Ini merupakan fungsi yang sangat penting pada pemerintah AS, karena Paman Sam adalah satu-satunya pemain yang memiliki kemampuan melakukan hedging pada systemic risk karena dia adalah satu-satunya pemain yang mampu mengambil tindakan untuk menjaga agar system ekonomi secara keseluruhan pada jalan yang seharusnya

    Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah apakah pemrintah AS akan mulai menjual system-risk insurance secara rutin dan membantu likuiditas Triliunan US Dollar sekuritas berbasikan mortgage yang memiliki grade yang tinggi yang dimiliki oleh perbankan dan institusi finansial lainnya yang sangat membutuhkan dana untuk mendukung pembiayaan baru.

    Membuat perjanjian asuransi dengan beberapa pemain besar seperti Citigroup tidaklah sama dengan membuat perjanjian asuransi dengan semua pemain yaitu mengeluarkan surat berharga dengan grade yang tinggi sesuai harapan (conforming), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan sekuritisasi pada kewajiban. Kita menekankan pada kata-kata “sesuai harapan” karena sangat penting bagi pemerintah untuk mulai membedakan surat berharga mana yang aman di bawah kondisi normal dan mana yang “toxic” dan kemudian tidak lagi dipegang oleh institusi intermediary

    Seperti yang transaksi underwriter asuransi, Paman Sam tidak hanya mengetahui dan menyetujui apa yang dia asuransikan, tetapi Dia juga harus memastikan bahwa adanya deductible dan provisi asuransi secara bersama untuk mengurangi moral hazad kepada nasabah yang diasuransikan. Moral hazard yang dimaksud disini adalah ketika institusi finansial mencoba menjual loan dengan grade rendah sebagai loan dengan grade tinggi.

    Kesepakatan akhir minggu dengan Citigroup merupakan instruksi dalam melakukan klasifikas alami asuransi yang pemerintah ingin jual secara rutin . Kesepakatan untuk mendukung sejumlah 306 Miliar dollar MBS yang dimiliki oleh Citigroup menetapkan batas bawah nilai terbaik dari surat berharga tersebut yaitu sebesar 90 cent per dollar. Kesepakatan mewakili penggunaan pertama dalam hal kemampuan memberikan asuransi yang diotorisasi oleh Section 102 pada TARP.

    Struktur dari kesepakatan cukup kompleks, sehingga membutuhkan penyidikan untuk melihat secara akurat asuransi apa yang dijual dan pada harga berapa. Kami diberitahu bahwa Citigroup sendiri harus menanggung kerugian sebear 29 Miliar US Dollar (ditambah dengan kerugian cadangan yang ada pada pembukuannya) pada cash flow yang harus dibayar pada 306 Miliar US Dollar pada mortgage. Jumlah ini kasarnya adalah 10% deductible.

    Apabila terjadi kerugian di atas 29 Miliar US Dollar maka akan dibagai antara pemerintah (90%) dan Citigroup (10%). Asuransi ini meruapakan asuransi bersama. Asuransi ini akan berjalan selama 10 tahun ke depan, dan Citigroup membayar single premi sebesar 7 Miliar dollar untuknya menggunakan preferred stock. Artikel kami bersama Alistair Milne (Recapitalizing the Bank is not enough) memberikan advokasi deductible, bukan co-pay, akan tetapi co-pay sepertinya dalah ide yang bagus.

    Seperti yang sudah diprediksikan kesepakatan asuransi dengan Citigroup telah mencairkan assetnya, dengan harga saham naik sebesar 53 sen segera setelah pengumuman kesepakatan oleh Citigroup yang memungkinkan assetnya yang diasuransikan sebagai collateral (jaminan) untuk meminjam dalam bentuk repo dan pasar commercial paper. Bahkan kesepakatan memungkinkan Citigroup menggunakan 306 Miliar US Dollar dari pada assetnya sebagai collateral untuk meminjam dari bank Sentral pada suku bunga overnight index swap (OIS) ditambah 300 basis poin, suku bunga saat ini dicharge pada ABC paper menggunakan fasilitas dana commercial paper bank sentral. Ini memastikan likuiditas penuh pada asset-asset tersebut.

    Pada saat ini, hanya asset-asset yang spesifik pada balance sheet pada salah satu institusi yang mendapatkan dampak, namun struktur kesepakatan ini dapat dengan mudah diterapkan pada class asset yang sama pada balance sheet manapun. Imbasnya akan mengerem nilai dari semua asset class yang ada dan memulai kembali secondary market pada asset2 yang ada. Struktur asuransi yang mirip dapat digunakan untuk mendukung valuasi surat berharga baru yang dikeluarkan pada asset yang sama, sehingga memulai kembali pasar yang baru yang merupakan sumber utama kredit pada order finansial kita.

    Kesepakatan Citigroup bukanlah contoh yang pertama dari penjualan system risk default insurance oleh Paman Sam. Model 90/10 risk sharing pertama kali diterapkan pada Fasilitas Money Market Investor Funding. Dibawah platform tersebut MMMF menjal asset pasar uang dengan grade tinggi kepada SPV (Special Purpose Vehicle), namun SPV berbagi 10% loss dan Bank Sentral memberikan cover sisa 90%.

    Dibawah kesepakatan Citigroup, risk sharing 90/10 terhadap loss pada asset pasar modal dengan grade tinggi diluar deductible awal 10%. US Treasury menanggung 5 Miliar Dollar berikutnya, FDIC 10 Miliar Dollar berikutnya, dan Bank Sentral seluruhnya setelah 15 Miliar US Dollar.

    Struktur yang kompleks ini merefleksikan provisi pada TARP bill, ketiga berubah, terhadap dana 700 Miliar Dollar yang dimiliki Paulson, keseluruhan face value dari polis asuransi telah dijual oleh US Treasury. Jika saja Pemerinatah AS, dan bukan Bank Sentral, yang memberikan asuransi untuk keseluruhan asset Citigroup sebesar 306 Miliar US Dollar, Pemerintah AS harus sudah melakukan charging sebesar 306 Miliar Dollar terhadap sisa dana TARP. Dalam skema ini Pemerintah AS hanya dicharge 5 Miliar Dollar dan mendapatkan 4 Miliar Dollar dari premi pembayaran. FDIC mendapatkan 3 Miliar Dollar untuk mengcover 10 Miliar Dollar berikutnya. Peran The Fed dating dari komitmennya untuk memberikan dana terhadap asset pool yang tersisa dengan loan yang sifatnya non-recourse subjek yang sama yaitu aturan 90/10 risk sharing.

    Karena keterlibatan yang dalam dari Citigroup dengan surat berharga dengan underlying mortgage, terutama melalui SIV yang bermasalah, maka adalah pantas pemerintah AS memulai dengan Citigroup. Akan tetapi rencana pemerintah AS akan bekerja ketika hal ini juga diterapkan diluar Citigroup

    Kemudian, struktur asuransi harus dibuat lebih jelas sehingga pasar lebih memahami konsekuensi pada valuasi pada underlying securities. Pemerintah harus secara eksplisit melakukan penjualan credit insurance tidak melalui jalan belakang (back door).

    Pemerintah seharusnya menawarkan asuransi pada asset dengan kualitas tertinggi tanpa meliaht siapa yang memegang asset tersebut. Tindakan ini seharusnya mendukung pasar bukan institusi. Karena hal ini, maka sangatlah penting untuk memahami bahwa Paman Sam tidak melakukan asuransi hanya pada Citigroup. Melainkan pemerintah memberikan asuransi khususnya pada asset dengan face value senilai 306 Miliar Dollar yang merupakan MBS dengan grade tinggi, surat berharga dimana Citigroup sekarang dapat menjual ke pihak ketiga atau digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang dari pihak ketiga.

    Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi Laurence Kotlikoff and Perry Mehrling

    Laurence Kotlikoff is a professor of economics at Boston University. Perry Mehrling is a professor of economics at Barnard College, Columbia University

     
  • ghifi 1:54 am on November 26, 2008 Permalink | Balas  

    Akhirnya Apakah Pemerintah AS Menyelamatkan Pasar…? Atau Hanya Citigroup…? 

    Paman Sam akhirnya mulai menjual systematic risk insurance melalui surat berharga dengan grade yang high yang ditukar dengan preferred stock. Ini merupakan fungsi yang sangat penting pada pemerintah AS, karena Paman Sam adalah satu-satunya pemain yang memiliki kemampuan melakukan hedging pada systemic risk karena dia adalah satu-satunya pemain yang mampu mengambil tindakan untuk menjaga agar system ekonomi secara keseluruhan pada jalan yang seharusnya

    Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah apakah pemrintah AS akan mulai menjual system-risk insurance secara rutin dan membantu likuiditas Triliunan US Dollar sekuritas berbasikan mortgage yang memiliki grade yang tinggi yang dimiliki oleh perbankan dan institusi finansial lainnya yang sangat membutuhkan dana untuk mendukung pembiayaan baru.

    Membuat perjanjian asuransi dengan beberapa pemain besar seperti Citigroup tidaklah sama dengan membuat perjanjian asuransi dengan semua pemain yaitu mengeluarkan surat berharga dengan grade yang tinggi sesuai harapan (conforming), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan sekuritisasi pada kewajiban. Kita menekankan pada kata-kata “sesuai harapan” karena sangat penting bagi pemerintah untuk mulai membedakan surat berharga mana yang aman di bawah kondisi normal dan mana yang “toxic” dan kemudian tidak lagi dipegang oleh institusi intermediary

    Seperti yang transaksi underwriter asuransi, Paman Sam tidak hanya mengetahui dan menyetujui apa yang dia asuransikan, tetapi Dia juga harus memastikan bahwa adanya deductible dan provisi asuransi secara bersama untuk mengurangi moral hazad kepada nasabah yang diasuransikan. Moral hazard yang dimaksud disini adalah ketika institusi finansial mencoba menjual loan dengan grade rendah sebagai loan dengan grade tinggi.

    Kesepakatan akhir minggu dengan Citigroup merupakan instruksi dalam melakukan klasifikas alami asuransi yang pemerintah ingin jual secara rutin . Kesepakatan untuk mendukung sejumlah 306 Miliar dollar MBS yang dimiliki oleh Citigroup menetapkan batas bawah nilai terbaik dari surat berharga tersebut yaitu sebesar 90 cent per dollar. Kesepakatan mewakili penggunaan pertama dalam hal kemampuan memberikan asuransi yang diotorisasi oleh Section 102 pada TARP.

    Struktur dari kesepakatan cukup kompleks, sehingga membutuhkan penyidikan untuk melihat secara akurat asuransi apa yang dijual dan pada harga berapa. Kami diberitahu bahwa Citigroup sendiri harus menanggung kerugian sebear 29 Miliar US Dollar (ditambah dengan kerugian cadangan yang ada pada pembukuannya) pada cash flow yang harus dibayar pada 306 Miliar US Dollar pada mortgage. Jumlah ini kasarnya adalah 10% deductible.

    Apabila terjadi kerugian di atas 29 Miliar US Dollar maka akan dibagai antara pemerintah (90%) dan Citigroup (10%). Asuransi ini meruapakan asuransi bersama. Asuransi ini akan berjalan selama 10 tahun ke depan, dan Citigroup membayar single premi sebesar 7 Miliar dollar untuknya menggunakan preferred stock. Artikel kami bersama Alistair Milne (Recapitalizing the Bank is not enough) memberikan advokasi deductible, bukan co-pay, akan tetapi co-pay sepertinya dalah ide yang bagus.

    Seperti yang sudah diprediksikan kesepakatan asuransi dengan Citigroup telah mencairkan assetnya, dengan harga saham naik sebesar 53 sen segera setelah pengumuman kesepakatan oleh Citigroup yang memungkinkan assetnya yang diasuransikan sebagai collateral (jaminan) untuk meminjam dalam bentuk repo dan pasar commercial paper. Bahkan kesepakatan memungkinkan Citigroup menggunakan 306 Miliar US Dollar dari pada assetnya sebagai collateral untuk meminjam dari bank Sentral pada suku bunga overnight index swap (OIS) ditambah 300 basis poin, suku bunga saat ini dicharge pada ABC paper menggunakan fasilitas dana commercial paper bank sentral. Ini memastikan likuiditas penuh pada asset-asset tersebut.

    Pada saat ini, hanya asset-asset yang spesifik pada balance sheet pada salah satu institusi yang mendapatkan dampak, namun struktur kesepakatan ini dapat dengan mudah diterapkan pada class asset yang sama pada balance sheet manapun. Imbasnya akan mengerem nilai dari semua asset class yang ada dan memulai kembali secondary market pada asset2 yang ada. Struktur asuransi yang mirip dapat digunakan untuk mendukung valuasi surat berharga baru yang dikeluarkan pada asset yang sama, sehingga memulai kembali pasar yang baru yang merupakan sumber utama kredit pada order finansial kita.

    Kesepakatan Citigroup bukanlah contoh yang pertama dari penjualan system risk default insurance oleh Paman Sam. Model 90/10 risk sharing pertama kali diterapkan pada Fasilitas Money Market Investor Funding. Dibawah platform tersebut MMMF menjal asset pasar uang dengan grade tinggi kepada SPV (Special Purpose Vehicle), namun SPV berbagi 10% loss dan Bank Sentral memberikan cover sisa 90%.

    Dibawah kesepakatan Citigroup, risk sharing 90/10 terhadap loss pada asset pasar modal dengan grade tinggi diluar deductible awal 10%. US Treasury menanggung 5 Miliar Dollar berikutnya, FDIC 10 Miliar Dollar berikutnya, dan Bank Sentral seluruhnya setelah 15 Miliar US Dollar.

    Struktur yang kompleks ini merefleksikan provisi pada TARP bill, ketiga berubah, terhadap dana 700 Miliar Dollar yang dimiliki Paulson, keseluruhan face value dari polis asuransi telah dijual oleh US Treasury. Jika saja Pemerinatah AS, dan bukan Bank Sentral, yang memberikan asuransi untuk keseluruhan asset Citigroup sebesar 306 Miliar US Dollar, Pemerintah AS harus sudah melakukan charging sebesar 306 Miliar Dollar terhadap sisa dana TARP. Dalam skema ini Pemerintah AS hanya dicharge 5 Miliar Dollar dan mendapatkan 4 Miliar Dollar dari premi pembayaran. FDIC mendapatkan 3 Miliar Dollar untuk mengcover 10 Miliar Dollar berikutnya. Peran The Fed dating dari komitmennya untuk memberikan dana terhadap asset pool yang tersisa dengan loan yang sifatnya non-recourse subjek yang sama yaitu aturan 90/10 risk sharing.

    Karena keterlibatan yang dalam dari Citigroup dengan surat berharga dengan underlying mortgage, terutama melalui SIV yang bermasalah, maka adalah pantas pemerintah AS memulai dengan Citigroup. Akan tetapi rencana pemerintah AS akan bekerja ketika hal ini juga diterapkan diluar Citigroup

    Kemudian, struktur asuransi harus dibuat lebih jelas sehingga pasar lebih memahami konsekuensi pada valuasi pada underlying securities. Pemerintah harus secara eksplisit melakukan penjualan credit insurance tidak melalui jalan belakang (back door).

    Pemerintah seharusnya menawarkan asuransi pada asset dengan kualitas tertinggi tanpa meliaht siapa yang memegang asset tersebut. Tindakan ini seharusnya mendukung pasar bukan institusi. Karena hal ini, maka sangatlah penting untuk memahami bahwa Paman Sam tidak melakukan asuransi hanya pada Citigroup. Melainkan pemerintah memberikan asuransi khususnya pada asset dengan face value senilai 306 Miliar Dollar yang merupakan MBS dengan grade tinggi, surat berharga dimana Citigroup sekarang dapat menjual ke pihak ketiga atau digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang dari pihak ketiga.

    Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi Laurence Kotlikoff and Perry Mehrling

    Laurence Kotlikoff is a professor of economics at Boston University. Perry Mehrling is a professor of economics at Barnard College, Columbia University

     
  • ghifi 3:30 am on November 20, 2008 Permalink | Balas  

    Oh Rupiah…! Rupiah Disayang Dollar Dibenci…!!! 

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Melihat kondisi sekarang ini, saya sudah mulai menemui banyak pembicaraan mengenai kondisi Rupiah yang sedang mengalami depresiasi terhadap US Dollar hingga 30% (dari Rp 9.000/US$1 – Rp 12.000/US$1). Memang ini mempengaruhi harga barang-barang impor dan bisnis yang tergantung dengan barang impor akan mengalami kesulitan di samping ada risiko nilai tukar, juga dikarenakan konsumen akan berpikir dua kali untuk membeli barang-barang impor dengan kurs pada saat ini. Tetapi sebenarnya isu melemahnya rupiah tidak menjadi prioritas utama bagi para pengambil kebijakan karena memang tidak efektif (negative externalities), yang seharusnya menjadi prioritas adalah isu likuiditas pada perbankan yang akhir-akhir ini diisukan sedang seret baik melalui rumor maupun pernyataan resmi dari para petinggi bank.

    Pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu sebenarnya sumber dana pada bank itu berasal dari mana saja. Yang pertama adalah dari dana pihak ketiga baik tabungan/deposito maupun giro, kemudian obligasi yang dikeluarkan oleh bank baik dalam denominasi Rupiah maupun mata uang asing biasanya US Dollar, dan ketiga dan yang paling penting adalah melalui interbank lending.

    Tulisan ini akan sedikit membahas mengenai interbank lending yang merupakan salah satu sumber pembiyaan perbankan yang terpenting di antara sumber pembiayaan yang lain.

    Interbank lending” sering disalah-artikan oleh para ekonom dimana sebenarnya sebagian besar lending yang kita sebut sebagai interbank market (atau pasar uang) adalah sebenarnya merupakan wholesale bank deposit oleh institusi non-bank seperti, investor institusi, Sovereign wealth fund dan reksadana pasar uang.

    Pada kondisi pasar yang normal, mayoritas dari pinjaman melalui pasar uang ini dijaminkan ( collateral) 2/3 dari stock pada Euro Zone dan lebih lagi di AS dan UK. Penjaminan pinjaman pasar uang ini yang sebagian besar adalah repo tidak mengandalkan assessment yang akurat pada peminjam, akan tetapi kelayakan dan keberadaan jaminan (collateral).

    Sebagian dari marjin pada pasar uang adalah sifatnya didorong oleh likuiditas. Sebagai contoh peningkatan suku bunga margin Libor di akhir Oktober dan awal November sebagian didorong oleh redemption (outflow) yang terjadi di reksadana pasar uang, memaksa reksadana pasar uang memindahkan struktur portfolionya dari 3 bulan menjadi overnight (satu malam) dan satu minggu aset pasar uang sehingga dapat menghadapi tekanan redemption yang terjadi. Marjin sebagian didorong oleh credit risk, yang diilustrasikan dengan kegagalan marjin pada pasar uang tiga bulanan yang mengalami penurunan setelah langkah oleh pemerintah AS untuk melakukan bail-out pada awal bulan Oktober ini.

    Alasan yang prinsipil mengenai kegagalan pada pasar uang adalah hilangnya tingkat kepercayaan, dan penurunan nilai dan kenaikan volatilistas harga terhadap penjaminan utama yang tersedia pada bank, seperti senior MBS dan sekuritas struktur kredit lainnya.

    Mengembalikan tingkat kepercayaan pada collateral/penjaminan ini akan lebih mudah dibandingkan dengan mengembalikan tingkat kepercayaan pada bank. Hal ini dapat dilakukan menggunakan garansi Government Backed Insurance yang sebenarnya sudah diusulkan oleh para petinggi perbankan kepada pemerintah dalam hal ini pemerintah Indonesia pada jaminan dalam bentuk REPO. Kemudian, karena collateral secara fundamental sangat masuk akal ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk mengambil sedikit keuntungan

    Detil dari Government Backed Insurance tidak akan dibicarakan di sini, akan tetapi langkah-langkah yang sudah diusulkan ini memiliki urgensi yang sangat tinggi apabila pemerintah ingin menyelamatkan likuiditas perbankan nasional terutama di saat ketatnaya likuiditas valas US Dollar. Perbankan menjadi urat nadi pembiayaan bagi sektor riil terutama sektor riil yang membutuhkan pembiayaan ekspor dan impor.

    Kemungkinan terburuk akan terkurasnya cadangan devisa negara melalui Bank Sentral juga bisa dihindari. Mari kita percayakan kepada pemerintah dan BI karena masukan-masukan di atas sudah pernah disampaikan dalam berbagai forum formal maupun informal.

    Tentunya dari sisi ekonomi, isu pada perbankan memiliki trickle down effect, apabila perbankan sehat tentunya kondisi ekonomi secara umum juga akan lebih baik walaupun nilai tukar rupiah mendapat tekanan karena irrational exuberance yang menyebabkan capital flight to safety oleh para investor.

    Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi oleh Laurence Kotlikoff, Perry Mehrling, Alistair Milne

    wallahu’alam bi showab

    ghifi.multiply.com

     
  • ghifi 1:18 am on November 18, 2008 Permalink | Balas  

    Karakter Orang Indonesia Sedang Diuji oleh Krisis Finansial Global! Mampukah Kita Menunjukkan Karakter yang Hebat? 

    Assalammu’alaikum wr wb

    Akhir-akhir ini saya berusaha untuk tidak menggubris berita-berita di surat kabar maupun televisi mengenai krisis. Akan tetapi ketika saya mulai tidak menggubrisnya semakin nyata dampak krisis ini di depan pintu rumah saya. Sudah banyak teman-teman pengusahan UMKM atau pun UKM yang sudah merasakan seretnya likuiditas keuangan Mereka.

    Saya juga sempat berbicara dengan teman-teman di bidang operasional terutama yang berkaitan dengan contact center perbankan. Jumlah panggilan kepada para agen yang berkaitan dengan layanan perbankan juga semakin meningkat. Mereka mungkin kesal atau pun lelah menunggu antrean sehingga banyak kata-kata yang tidak sepantasnya dikeluarkan kepada para agen contact center tersebut. Yang lebih mencengangkan lagi adalah, ternyata orang-orang yang menghubungi contact center tersebut kebanyakan adalah nasabah premium dan gold yang secara teori pendapatan mereka jauh di atas rata-rata karena untuk mendapatkan kartu gold apalagi premium pendapatan mereka harus jauh di atas line credit yang diberikan oleh bank pada kartu.

    Fenomena di atas merupakan sesuatu yang umum yang menggambarkan bahwa krisis finansial ini tidak hanya dirasakan oleh orang miskin yang barangkali sudah terbiasa dengan krisis, tetapi orang kaya pun (yang biasa bermain saham, valas, maupun surat berharga lainnya) juga sudah merasakannya dengan berkurangnya kekayaan mereka walaupun mereka masih dalam kategori kaya.

    Beberapa teman masih menghibur dirinya masing-masing bahwa keadaan ekonomi sekarang adalah masih baik dengan fundamental yang sangat baik. Memang saya tidak menafikkan bahwa kondisi sekarang ini jauh berbeda dari krisis finansial di tahun 1997-1998 di mana pada waktu itu kondisi perbankan dan utang luar negeri Indonesia memang buruk.

    Di tulisan saya sebelumnya saya pernah bercerita bahwa kondisi krisis ini adalah sifatnya Negative Externalities karena imbas dari kondisi di Amerika Serikat dan Eropa ditambah dengan perilaku dari negara berkembang yang cenderung untuk mengakumulasi cadangan devisa US Dollar dan Euro yang mencapai 20% dari GDP per tahunnya dibandingkan dengan negara-negara maju yang hanya 4% dari GDP per tahunnya. Disparitas ini menyebabkan ketidakseimbangan finansial dimana akumuluasi ini juga didorong oleh pembiayaan soft loan dalam bentuk T-Bills oleh negara berkembang kepada Amerika Serikat untuk membiayai neraca perdagangannya yang defisit yang hampir mencapai setengah Triliun Dollar di tahun ini.

    Negative Externalities ini tidak bisa disembuhkan dengan tindakan sendiri-sendiri sebuah negara, namun harus dilawan bersama karena interdependensi antar negara (beggar thy-neighbor). Apabila sebuah negara terkana resesi maka dia akan mencoba mengambil kebijakan proteksionisme dengan mengurangi volume Import atau export mereka sehingga negara yang menjadi tetangganya juga akan terkena dampak resesi (contagion).

    Langkah koordinasi ini bukanlah hal yang mudah karena masing-masing negara sudah terbiasa mengambil kebijakan makro sendiri-sendiri untuk kepentingannya sendiri-sendiri pula. Namun ketidakstabilan makro ekonomi sekarang ini sudah ditimbulkan oleh negara yang seharusnya terbebas dari resesi seperti Amerika Serikat karena Amerika Serikat bisa dibilang sebagai the last resort.

    Hasil dari G20 Summit minggu lalu yang memiliki kesepakatan untuk memberikan regulasi yang lebih ketat kepada industri finansial juga masih jauh dari harapan para pakar ekonomi non-konvensional yang menginginkan perubahan radikal pada sistem, peran institusi internasional serta peran pemerintah dalam waktu yang cepat. Barangkali sisa-sisa kepemimpinan George W. Bush yang masih ingin mempertahankan Free Market yang menyebabkan masalah irrational exuberance dan pessimism di market. Tanpa peran Amerika Serikat, Negara-negara Asia dan Eropa harus mencari solusi yang lebih komprehensif tentu saja apabila pemerintahnya menyadari.

    Indonesia sendiri cukup menyadari adanya peran Global Expenditure System atau yang sering disebut oleh Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz sebagai Global Reserve System walaupun dalam G20 Summit juga tidak dibicarakan lebih mendalam, sekali lagi Amerika Serikat tidak mau kehilangan perannya sebagai pemegang otoritas global reserve system berbasiskan US Dollar.

    Sebenarnya Global Reserve System yang diinginkan sama dengan SDR (Special Drawing Rights) yang dimiliki oleh IMF, hanya saja SDR ini mendapatkan banyak veto dari Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara yang memiliki hak veto terhadap IMF.

    Terlalu banyak skenario hebat yang bisa muncul dan diimplementasikan pasca G20 Summit, sayangnya banyak kepentingan incumbent yang enggan mendiskusikan apalagi mengimplementasikannya. Namun demikian hari akhir itu (the day of reckoning) akan segera datang dimana ketidakstabilan ini bisa jadi tidak dapat dikembalikan pada porosnya yaitu poros kestabilan. Hingga hari akhir itu tiba, adalah kesempatan bagi negara-negara untuk bekerja sama memperbaiki system untuk lebih stabil melalui berbagai mekanisme yang sudah pernah dipaparkan oleh para ahli ekonomi.

    Tulisan saya ini memang sedikit keluar dari jalur topik yang saya sebut di atas, namun bagi kita orang Indonesia hal-hal terbaik yang bisa lakukan adalah mengikuti saja kebijakan dari pemerintah baik secara fiskal maupun moneter, dan sambil memberikan masukan sebagai bagian dari mekanisme kontrol kebijakan baik malalui media massa maupun melalui media blog seperti ini.

    wallahu’alam bi showab
    ghifi.blogspot.com

     
  • ghifi 3:42 am on November 14, 2008 Permalink | Balas  

    Pertemuan Tingkat Tinggi G20: Negara-Negara Asia Lebih Kompak Dalam Menghadapi Dampak Krisis Ekonomi Global 

    Towards a co-ordinated macroeconomic expansion among Asian economies
    Oeh Anggota Panel Ekonomi Asia

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya bersyukur ternyata negara-negara Asia masih memiliki kebersamaan (paling tidak dari para akedemisi dan praktisi) untuk menyambut G20 sebagai momen untuk menyampaikan semacam Kerangka Kerja dalam menghadapi dan melalui krisis finasial global yang berkepanjangan.

    Kita sudah mengetahui bahwa resesi di US dan sebagian Eropa kemungkinan besar makin parah dan berkepanjangan, sehingga para ekonom Asia harus mengambil langkah-langkah yang cepat dan melakukan koordinasi untuk melindungi pertumbuhan ekonominya di masa kondisi resesi di Amerika Serikat dan Eropa.

    Kebijakan untuk mengimbangi siklus ini harus melibatkan kebijakan moneter, fiskal, dan nilai tukar. Dengan mengambil kebijakan secara bekoordinasi dan berkolaborasi, ekonomi Asia akan dapat mencapai hasil yang lebih besar dan lebih tahan dibandingkan dengan apabila mereka mengambil kebijakan secara sendirian. Kepemimpinan di Asia timur berada pada negara dengan skala ekonomi terbesar yaitu China, Jepang, Korea, dan ASEAN. Negara-negara lain di Asia Timur, Asia Selatan dan Oceania kemungkinan akan bergabung dalam mengambil kebijakan bersama ini.

    Probabilitas keadaan yang lebih buruk yang terjadi pada resesi di Amerika Serikat harus menjadi perhatian. Kondisi rumah tangga di Amerika Serikat mengalami masalah hutang setelah beberapa tahun tidak memiliki tabungan. Kondisi kredit pada rumah tangga menjadi sangat seret secara dramatis, penurunan konsumsi menjadi nyata. Penurunan nilai rumah dan harga ekuitas barangkali telah mencapai US$ 15 Triliun dari puncaknya. PHK meningkat.

    Semua ini akan mengakibatkan kejatuhan yang dalam pada belanja konsumsi dan investasi. Amerika dengan demikian mengalami resesi yang sangat dramatis yang akan mengakibatkan penularan ke bagian lain di dunia. Penularan ini termasuk turunnya nilai ekspor dari Asia ke Amerika Serikat, nilai US Dollar yang melemah, dan Pemberhentian penyaluran kredit dari bank-bank dan Investor di Amerika Serikat di Asia.

    Negara-negara yang terkabung pada G20 akan bertemu di Washington DC. pada tanggal 15 November. Kami merekomendasikan Para Pemimpin Ekonomi Asia hadir pada meeting tersebut dengan kerangka kebijakan Makro Ekonomi Asia yang sudah disiapkan.

    Ekspansi Makro Ekonomi di Asia tidak hanya akan membantu untuk mempertahankan pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Pekerjaan di Asia namun, juga akan membantu untuk membatasi penurunan pertumbuhan Global.

    Pertumbuhan yang lebih besar di Asia berarti membantu penjualan barang-barang di Amerika Serikat pada pasar di Asia, sehingga membantu untuk memoderasi resesi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Karena alasan ini Koordinasi ekspansi makro ekonomi di antara negara-negara seperti China, Jepang dan Korea mendapatkan penghargaan yang tinggi dari semua negara-negara di dunia.

    Berikut adalah langkah-langkah yang akan diambil seseger mungkin:

    1. Mengumumkan bahwa China, Jepang dan Korea akan bekerja sama termasuk dengan negara-negara di regionalnya untuk memastikan bahwa pertumbuhan Asia tetap kuat walaupun diterpa badai resesi di Amerika Serikat dan Eropa.

    2. Memberikan Kapasitas Swap di antara tiga bank sentral, untuk memperbesar kapasitas Swap yang diberikan oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang diberikan kepada Korea dan beberapa negara lainnya.

    3. Menghindari berbagai peranan IMF pada operasional Kapasitas Swap ini

    4. Mengumumkan kerja sama ekspansi fiskal yang cocok untuk masing-masing negara. China sebagai contoh, akan fokus pada peningkatan infrastruktur Kota, Perumahan Umum, dan Pengurangan pajak. Jepang dan Korea akan mengidentifikasi project-project yang bertujuan memberikan tingkat pengembalian tinggi terutama untuk kepentingan publik atau melakukan pengurangan pajak. Pemerintah Jepang juga kemungkinan akan membeli ekuitas untuk membatasi penurunan harga ekuitas (saham).

    5. Mengumumkan kerja sama ekspansi moneter, sebagai contoh penurunan suku bunga yang dikoordinasikan.

    6. Mengumumkan bahwa ketiga negara akan menghindari penyesuaian nilai tukar sehingga tidak menyebabkan beggar-thy-neighbour (permasalahan terhadap negara-negara tetangganya, baca: Globalization and its Discontent, Joseph E. Stiglitz), dan berusaha untuk menjaga nilai tukar masing-masing sestabil mungkin terhadap nilai US Dollar dan Euro. Terutama, Bank Central Jepang akan melawan apresiasi nilai tukar yang berlebihan dan menghimbau Bank Sentral Amerika Serikat dan Eropa untuk mendukung Jepang untuk melakukan intervensi nilai tukar jika diperlukan untuk menjaga agar nilai tukar Yen di atas 100 Yen per US Dollar.

    7. Membangun sebuah komite yang beranggotakan menteri luar negeri senior dan pejabat bank sentral dari China, Jepang dan Korea untuk membuat semacam paket koordinasi yang diambil dalam menjawab krisis yang sedang berlangsung, serta memonitor krisis yang sekarang terjadi lebih sering lagi, dan lebih mendetil.

    Tertanda,
    Anggota Panel Ekonomi Asia

    Jeffrey Sachs, Columbia University, USA
    Wing Thye Woo, Brookings Institution, USA
    Naoyuki Yoshino, Keio University, Japan
    Yung Chul Park, Korea University, Korea
    Bhanupong Nidhiprabha, Thammasat University, Thailand
    Kang Chen, Nanyang Technological University
    Geng Xiao, Brookings-Tsinghua Center, China
    Yeongseop Rhee, Sook Myung University, Korea
    Khee Giap Tan, Nanyang Technological University
    Mahani Zainal Abidin, Institute of Strategic and International Studies, Malaysia
    Donald Hanna, Citigroup, USA
    Kaliappa Kalirajan, National Graduate Research Institute for Policy Studies, Japan
    Maria Socorro Bautista, University of the Philippines
    Ryuhei Wakasugi, Kyoto University, Japan
    Sulayman Al-Qudsi, Arab Bank Group, Jordan
    Keun Lee, Seoul National University
    See-Yan Lin, former Deputy Governor, Bank Negara Malaysia
    Ji Chou, Shih Hsin University, Taiwan
    Fredrik Sjöholm, Research Institute of Industrial Economics, Sweden
    Xiaolan Fu, Oxford University, UK
    Kanhaiya Singh, National Center for Applied Economic Research, India
    Liqing Zhang, Central University of Finance and Economics, China
    Shigeyuki Abe, Doshisha University, Japan
    Shuanglin Lin, Peking University
    Kwanho Shin, Korea University, Korea
    Yunjong Wang, S.K. Telecom, Korea
    Wei Zhang, Cambridge University, UK

     
  • ghifi 1:33 pm on November 12, 2008 Permalink | Balas  

    Konferensi Tingkat Tinggi G20 "Persimpangan Jalan Globalisasi, Peranan Negara Berkembang & Kerjasama Multilateral"? 

    Disadur dari Tulisan Para Penulis Kolom Ekonomi: Martin Wolf, Ben Hall, Jean Eaglesham, dan Jonathan Wheatly

    Beberapa pemimpin dari Uni Eropa (seperti Gordon Brown dan Nicolas Sarkozy) dan Bank Dunia (Robert Zoellick) menginginkan adanya kesepakatan baru yang dikenal dengan “New Bretton Woods”. Tentu sangatlah mudah untuk mengungkapkan keinginan tersebut akan tetapi, juga sepertinya mudah mengapa krisis ini membuat orang-orang berpikir seperti itu.
    Seperti yang terjadi pada tahun tahun 1944 untuk membuat kesepakatan mengenai hubungan perdagangan dan finansial antara negara-negara industri dan merupakan momen kelahiran IMF dan Bank Dunia ketika itu (IBRD) dan negara-negara anggota wajib untuk mengadopsi sebuah kebijakan moneter dan menggunakan fixed exchange rate yang di back up dengan emas. Walaupun kesepakatan ini berakhir pada tahun 1971 ketika pemerintah US meninggalkan sistem konversi US dollar ke emas yang kemudian US Dollar dijadikan semacam reserve currency

    Melihat sejarah The Great Depression pada tahun 1930 dikuatkan oleh disintregrasi kesepakatan ekonomi dan menguaknya nasionalisasi. Akan tetapi juga pada masa ini timbul revolusi dalam pemikiran di bidang ekonomi yaitu “never again” merupakan kesepakatan para negosiator di pertemuan Bretton Wood, New Hampshire. Dan karena kebersamaan dalam krisis finansial kita memiliki motivasi untuk mengatakan yang sama
    Kemudian, tidak perlu menunggu waktu tenang untuk berpikir cemerlang. Jika ketika itu mereka mengalami peperangan. Konferensi Bretton Woods berpuncak di bulan Juli 1944 dan perang dunia belum lagi selesai. Jika pada saat itu mereka bisa berperang dan mendesain ulang ekonomi global pada saat yang bersamaan artinya kita bisa melawan krisis dan melakukan desain ulang institusi global secara berasamaan.

    Isu berikutnya adalah sistem finansial global tidak lagi berfungsi. Yang paling terancam pada arus reformasi sekarang ini adalah pemeliharaan ekonomi dunia yang terbuka atau globalisasi yang menawarkan kesempatan kepada banyak orang. Kemudian yang terancam juga hubungan multilateral atau kerjasama di antara negara-negara. Tidak ada yang lebih baik dari kerjasama yang efektif diantara negara-negara yang mengutamakan proteksi terhadap negaranya karena masyarakatnya mengalami rasa takut dan phobia berlebihan.

    Akhirnya yang terjadi saat ini adalah pertemuan antara macro economi global yaitu membicarakan megenai uang, nilai tukar uang, dan neraca perdagangan serta finansial global seperti arus capital, kerapuhan finansial dan penularan guncangan (contagion). Hubungan kerjasama sangat penting untuk dijaga akan tetapi seperti yang dikatakan oleh Robert Zoellick presiden Bank Dunia pada tanggal 6 Oktober lalu “Kita harus melakukan modernisasi hubungan multilateral dan pasar karena perubangan ekonomi dunia.”

    Lalu bagaimana ini dapat dilakukan? kita harus mulai dengan tantangan sebenarnya.

    Pertama-tama adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan pembelian dari kebijakan negara-negara yang mengalami neraca pembayaran yang surplus. Ini merupakan keprihatinan John Maynard Keynes di tahun 1944. Ironisnya problem pada waktu itu adalah neraca surplus pada negara Amerika Serikat. Hari ini, kejatuhan dan ketidakmampuan rumah tangga di US dan beberapa negara maju untuk menanggulangi surplus yang sangat besar pada negara-negara seperti China, Jerman, Jepang, dan negara-negara pengekspor minyak. Negara-negara ini selalu mengkritisi negara-negara lain yang membelanjakan uang yang akan dipinjam. Ternyata negara yang dulunya mengalami surplus, pada hari ini tidak dapat melakukan apa-apa tanpa belas kasihan negara yang kini mengalami surplus neraca.

    Tantangan kedua
    adalah negara yang memberikan pembiayaan sangat mudah yang memberhentikan pembiayaan dapat terlihat dari capital inflow yang sudah sering kita lihat dimana bank dan peminjam mata uang asing lainnya memberhentikan pembiayaan kepada para debitur terutama negara-negara berkembang. Banyak negara-negara tersebut berusaha menumpuk cadangan devisa mata uang asing yang sangat mahal. Hingga bulan Agustus tahun ini saja total cadangan mata uang asing telah mencapai US$ 5,500 Miliar, dan US$ 260 Miliar tersedia malalui IMF. Akan tetapi instrumen ini tidak efisien karena dari tahun ke tahun terus meningkat sekitar 17% per tahun. Cadangan Devisa Mata Uang asing ini digunakan oleh negara-negara tersebut untuk mempertahankan diri dari krisis, walaupun cadangan devisa tersebut membutuhkan biaya mahal untuk mempertahankan dan seharusnya cadangan tersebut dapat digunakan untuk hal lain seperti memberikan subsidi bahan pangan dan layanan kepada masyarakat miskin.

    Tantangan ketiga adalah bagaimana membuat sistem finansial menjadi lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh perubahan atau minat risiko dari berbagai pembiayaan, yang tidak masuk akal dibandingkan dengan tidak ada pembiyaan sama sekali, walaupun sebenarnya hal ini masuk akal. Menurut Stephen King di forum ekonomi Financial Times, usaha keras pemerintah untuk memaksakan penyelamatan bank agar dapat membiayai pada debitur domestik walaupun harus mengorbankan pinjaman mereka kepada negara berkembang

    Tantangan terakhir adalah membuat arsitektur institusi global yang lebih terlegitimasi dibandingkan yang ada hari ini. Bretton Woods Institution seperti IMF dan Bank Dunia telah didominasi oleh negara barat dalam soal dana, yaitu Amerika Serikat sebear 17,1% daripada quota dan Uni Eropa sebesar 32,4% pada bulan Mei 2007. Dilain pihak China hanya memiliki 3,7% dan India hanya 1,9%. Hal ini memang sama sekali tidak sepadan. Dan persistensi group 7 negara sebagai grup koordinator ekonomi dunia, terutama 3 diantara mereka yaitu Jerman, Perancis, dan Itali yang tidak memiliki mata uang yang independen. Group 20 negara yang konferensi tingkat tingginya akan digelar di Washington pada tanggal 15 November terlihat terlalu besar, Mr. Zoellick menyarankan G14 yang akan menambahkan negara-negara seperti Brazil, China, India, Mexico, Rusia, Saudi Arabia, dan Afrika Selatan.

    Pertemuan di Sao Paulo Brazil yang diadakan untuk menyiapkan proposal untuk pertemuan tingkat tinggi di Washington hari Sabtu ini tanggal 15 November 2008 dengan hadirnya pemimpin dari negara-negara G20, negara-negara baik berkembang maupun maju yang terbesar. Akan tetapi komunike setelah pertemuan di ibukota Brazil tidak memberikan kesepakatan tentang bagaimana untuk mendesain ulang institusi finansial dunia untuk meningkatkan peranan negara berkembang.

    Guido Mantega, menteri luar negeri Brazil dan ketua G20 tahun ini, mengatakan bahwa anggota grup seharusnya menjadi badan yang dapat mengambil keputusan untuk negara dan pemerintah.

    Mantega juga mengeluhkan bahwa negara-negara berkembang yang diundang pada meeting G7 hanya pada sesi rehat saja.

    Robert Zoellick mengatakan bahwa terdapat ketidaksepakatan mengenai peranan dari perekonomian negara berkembang untuk dapat bermain menyelesaikan permasalahan krisis finansial dan ekonomi saat ini, sampai pada kemampuan dimana mereka seharusnya menggunakan peranan anggaran belanja pemerintah untuk menstimulasi pertumbuhan, membantu untuk mengkompensasi resesi di negara-negara kaya.

    Yang menarik dari agenda G14 ini adalah terlihat sangat familiar dibandingkan dengan para partisipan di Bretton Woods dengan satu pengecualian. Keynes akan ketakutan mengetahui bahwa dunia telah membiarkan jin kapitalis liberal keluar dari botolnya. Karena hal inilah maka pembiayaan eksternal sangat dibutuhkan dibandingkan sebelumnya, Mengapa jumlah cadangan devisa mata uang asing begitu besar yang diakumulasikan dan mengapa krisis finansial sekali lagi terjadi secara global dibandingkan lokal. Dia akan menambahkan bahwa seorang bankir yang hebat bukanlah orang yang dapat memprediksikan bahaya dan memiliki kemampuan untuk menghindarinya, namun ternyata bankir hanyalah seorang pengrusak yang terperosok di dalam jalan yang konvensional dan orthodox bersama teman-temannya sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat menyalahkan bankir tersebut. Dan kita memiliki banyak bankir seperti itu. Dia akan menambahkan bahwa insititusi yang tidak memiliki kapitalisasi yang cukup atau yang tidak likuid tidak akan mengalami guncangan besar secara finansial.

    Dan apakah ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut? Tentulah ada banyak kemungkinan dan sangatlah penting untuk merubah arsitektur global paling tidak merespon perubahan prioritas ekonomi. Sama pentingnya yaitu dengan memberikan sumber finansial kepada IMF untuk mendukung fasilitas pembiayaan jangka pendek. Tetapi tentunya terlalu optimistik untuk mempercayai institusi tersebut akan dapat memberikan peringatan dini akan timbulnya krisis. Walaupun institusi tersebut dapat memberikan peringatan namun negara-negara yang terpengaruh tidak akan bayak melakukan respon terhadap peringatan tersebut.

    Penulis juga pesimis terhadap perbankan sebagai perangkat yang ketinggalan jaman yang sepatutnya memberikan layanan yang penting kepada ekonomi daripada menjadi mesin judi yang memberikan kesempatan untuk melakukan perjudian. bankir diberikan lisensi untuk melakukan kegiatan judi menggunakan uang rakyat. Bisnis yang menguntungkan sekaligus bisnis yang tidak dapat dibuat mengikuti aturan yang dibuat.

    Mudah-mudahan penulis salah dan berharap bahwa pertemuan tingkat tinggi G20 akan membuat agenda untuk melakukan reformasi yang serius dengan cara membuat working group yang dapat memberikan proposal yang radikal serta efektif. Pada hal-hal yang terjadi saat ini adalah merupakan kesempatan terakhir bagi ekonomi dunia yang terbuka dan dinamis. Pertama-tama kita harus dapat melalui krisis hari ini. Kemudian kita harus mencegah kehancuran finansial tidak akan terjadi. Jika bukan kita lalu siapa lagi? Jika bukan sekarang lalu kapan lagi?

     
  • ghifi 6:08 am on November 6, 2008 Permalink | Balas  

    Kegagalan Bank Sentral? – Sebuah Indikasi Untuk Melakukan Perubahan 

    Assalamu’alaikum wr wb

    Disadur dari Tulisan Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz

    Kadang saya merenung mengapa Bank Indonesia tidak banyak memberikan kontribusi kepada perekonomian terutama sektor riil di Indonesia walaupun notabene fungsi dari Bank Indonesia adalah menjaga rupiah dan mencapai target inflasi tertentu sehingga sektor riil dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak para pengusaha yang mengeluh akan tingginya cost of fund kredit perbankan. Dari waktu ke waktu suku bunga selalu naik. Tahun 2007 suku bunga mengalami penurunan karena kita sudah mengalami suku bunga yang tinggi tahun-tahun sebelumnya, dan itu pun karena dibantu oleh harga minyak dan komoditas pangan yang relatif stabil.

    Di tahun 80-an, Sepertinya bank-bank sentral di seluruh dunia terpengaruh oleh konsep monetarism, teori ekonomi yang relatif sederhana, yang dipromosikan oleh Milton Friedman. Kemudian monetarism telah didiskreditkan oleh biaya yang sangat mahal yang ditanggung terutama di negara-negara yang menggunakan mantra monetarism, walaupun kemudian negara-negara tersebut berusaha untuk menemukan sebuah mantra baru.

    Perekonomian yang lemah dengan jumlah pengangguran yang lebih besar yang disebabkan oleh inflation targeting tidak banyak memberikan pengaruh terhadap inflasi

    Mantra yang selama ini digunakan adalah “inflation targeting” yang mengatakan ketika pertumbuhan harga melebihi target yang suda ditentukan, suku bunga harus dinaikkan. Resep ini didasarkan pada teori ekonomi atau bukti empiris yang menyatakan apapun sumber dari inflasi, jawaban terbaik adalah menaikkan suku bunga. Orang berhadap bahwa kebanyakan negara akan memiliki panca indera yang baik untuk tidak menerapkan inflation targeting, dan Joseph E. Stiglitz memberikan simpatinya kepada orang-orang yang ingin menerapkan konsep tersebut.

    Negara-negara yang menerapkan inflation targeting adalah Israel, Republik Czech, Polandia, Brazil, Chile, Colombia, Afrika Selatan, Thailand, Korea, Mexico, Hungaria, Peru, Filipina, Slovakia, Indonesia, Rumania, New Zealand, Canada, Inggris, Swedia, Australia, Iceland, dan Norwegia.

    Hari ini inflation targeting sedang menghadapi cobaan, dan sudah hampir pasti akan gagal. Negara-negara berkembang saat ini menghadapi kenaikan inflasi yang tinggi bukan karena manajemen makroekonomi yang buruk tetapi karena kenaikan harga minyak dan bahan pangan; dan komoditas ini mengabilsebagian besar anggaran rumah tangga dibandingkan dengan rumah tangga di negara-negara maju. Menurut data, di China inflasi sudah mendekati 8%, di Indonesia 12% atau lebih. Di Vietnam bahkan lebih tinggi lagi mendekati 18,2% tahun ini, di India mencapai 5,8%. Berbeda dengan di Amerika Serikat inflasi hanya mencapai 3%. Apakah ini berarti bahwa negara-negara berkembang harus menaikkan suku bunganya lebih dari yang di Amerika Serikat?

    Inflasi di negara-negara ini sebagian besar merupakan hasil inflasi yang diimport. Menaikkan suku bunga tidak akan memberikan pengaruh pada harga-harga internasional seperti tepung terigu atau minyak. Bahkan bila melihat ukuran ekonomi di Amerika Serikat, melambatnya perekonomian memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan melambatnya ekonomi di negara berkembang yang mengindikasikan bahwa suku bunga di Amerika Serikat, bukan suku bunga di negara berkembang, yang seharusnya dinaikkan.

    Selama negara berkembang masih terintegrasi ke dalam ekonomi global atau globalisasi dan tidak melakukan usaha untuk membatasi pengaruh harga internasional terhadap harga domestik, maka harga domestik komoditas seperti beras dan tepung terigu akan meningkat mengikuti harga pasar dimana harga internasional terus meningkat. Pada negara-negara berkembang harga minyak dan bahan pangan yang tinggi melambangkan 3 ancaman yaitu tidak hanya negara pengimport harus membayar lebih untuk mendapatkan tepung trigu mereka harus membayar lebih untuk membawanya ke negara masing-masing dan harus mengirimkan/mendistribusikan kepada konsumen yang boleh jadi tinggal jauh dari pelabuhan.

    Menaikkan suku bunga dapat mengurangi aggregate demand, yang akan memperlambat perekonomian dan menjinakkan harga-harga barang dan jasa, terutama sekali barang dan jasa yang tidak diperdagangkan. Namun, kecuali peningkatan suku bunga pada dilakukan pada level yang sangat tinggi, maka tindakan ini tidak akan dapat membuat inflasi turun pada level yang menjadi target. Sebagai contoh walaupun harga energi dan bahan pangan meningkat pada level moderate dibandingkan sekarang, sebagai contoh 20% per tahun, dan direfleksikan pada harga domestik, akan membawa inflasi hingga katakanlah 3% maka dibutuhkan penurunan harga di komoditas yang lainnya. Hal ini tentunya akan menghasilkan kelambatan pertumbuhan perekonomian dan pengangguran yang tinggi. Obat yang diberikan lebih buruk daripada penyakit itu sendiri.

    Lalu apa yang dapat diperbuat? Tentunya pemerintah dan bank sentral tidak boleh disalahkan terhadap inflasi yang diimpor, sama saja ketika inflasi mencapai angka yang rendah ketika lingkungan bisnis dalam kondisi baik pemerintah dan bank sentral tidak mendapatkan applause.

    Kedua kita harus mengenali bahwa harga yang tinggi dapat menyebabkan perasaan stres terutama sekali pada individu dengan pendapatan rendah. Demo dan protes di negara-negara berkembang merupakan manifestasi dari pada hal tersebut.

    Liberalisasi perdagangan telah dianggap sebagai sebuah kelebihan, namun mereka tidak sepenuhnya jujur terhadap risiko yang mungkin ditimbulkan. Risiko dimana market gagal memberikan jaminan yang cukup. Sekitar 25 tahun yang lalu, Joseph E. Stiglitz menunjukkan pada kondisi yang dapat diterima liberalisasi perdagangan dapat membuat kondisi lebih buruk. Beliau tidak beragumentasi mengenai proteksi pasar, namun lebih menyuarakan suara hati-hati yang harus kita pahami terutama risiko buruk dan kita harus siap untuk menghadapinya.

    Ketika kita berbicara mengenai pertanian, negara maju seperti US dan Uni eropa, berhasil memisahkan baik konsumen maupun petani dari risiko-risiko tersebut. Akan tetapi kebanyakan negara berkembang tidak memiliki institusi yang terstruktur atau sumber daya untuk melakukan hal yang sama. Kebanyakan negara mengambil tindakan emergency seperti mengenakan tarif pajak ekspor atau larangan ekspor yang barangkali dapat membantu warga negaranya, akan tetapi menyebabkan permasalahan di negara lain.

    jika kita ingin menghindari perseteruan yang lebih keras terhadap globalisasi, negara-negara barat harus melakukan tindakan nyata lebih cepat dan lebih serius. Subsidi bio-fuel yang memotivasi petani untuk memindahkan produksinya dari bahan pangan kepada sumber energi harus dibatalkan. Uang Miliar dollar yang digunakan untuk memberikan subsidi kepada para petani di negara barat harus digunakan untuk membantu negara-negara berkembang yang lebih miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar akan makanan dan energi.

    Lebih penting lagi bahwa negara berkembang maupun negara maju harus meninggalkan inflation targeting. Permasalahan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pangan dan energi yang harganya terus meningkat cukup menyita waktu dan sangat berat. Perekonomian yang lemah dengan jumlah pengangguran yang lebih besar yang disebabkan oleh inflation targeting tidak banyak memberikan pengaruh terhadap inflasi; hal ini hanya akan membuat tugas untuk bertahan pada kondisi seperti ini menjadi semakin sulit.

    Wallahu’alam bishowab…

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal