Oleh Jeffrey D. Sachs

Para pemimpin Negara-negara dunia bertemu di Doha akhir minggu ini dalam rangka melakukan review system global untuk pembiayaan/financing pembangunan/development sebagai sarana dimana sumber daya dapat mengalir secara global untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan. Sistem mengalami kerusakan walaupun demikian undangan yang hadir tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.

Sama seperti keharusan untuk melakukan overhaul regulasi pasar finansial kita juga harus melakukan overhaul terhadap pembiayaan development/pembangunan, jika kita akan menyelesaikan masalah kemiskinan, kelaparan dan perubahan iklim.

Pembiayaan untuk pengembangan melibatkan tiga proses utama: Bantuan pengembangan untuk Negara-negara termiskin, dimana mereka tidak bisa menarik perhatian pembiayaan berorientasi pasar untuk mendapatkan investasi yang dibutuhkan. Kemudian investasi langsung maupun melalui portfolio utamanya untuk Negara berkembang dan Negara miskin yang memiliki sumber daya alam yang kaya. Dan pembiayan komoditas public yang sifatnya global seperti mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Bantuan mengalir jauh di bawah level yang dijanjikan dan tidak dapat diprediksi. Aliran pasar sangat terkonsentrasi di beberapa Negara saja dan sangat rentan terhadap reversal yang sifatnya panic; dan komoditas public yang sifatnya global dalam kondisi bahaya karena kurangnya pembiayaan, ada kemauan dari publik akan tetapi tidak tanpa dukungan.

Kemudian tidak ada dukungan akuntabilitas. Ketika bantuan dijanjikan namun tidak direalisasikan, tidak ada seorang pun yang peduli kecuali Negara-negara miskin itu sendiri. Dan seringkali Negara miskin dipersalahkan karena perbuatan mereka atau hal lainnya sebagai alasan mengapa bantuan tidak pernah datang.

Para menteri pengembangan mengklaim bahwa mereka telah memberikan komitmennya seperti memberikan bantuan 2 kali lebih besar kepada Afrika hingga tahun 2010. walaupun para menteri keuangan mengurangi anggaran bantuan hingga separuhnya.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa Negara-negara kaya belum mampu mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan bantuan kepada Afrika sebesar 25 Miliar US Dollar (kurang dari 10 sen per ratusan US Dollar daripada income Negara-negara kaya), walaupun ketika memberikan komitmennya paling sedikit sebesar 2,5 Triliun US Dollar di bulan lalu untuk malakukan bail out kepada sector financial.

Reformasi arsitektur bantuan sebenarnya tidak mendapatkan dukungan secara politis dari Negara-negara kaya. Orang-orang yang menghendaki reformasi bantuan umumnya menekankan pada “bantuan anggaran” kepada departemen keuangan Negara-negara miskin disbanding dengan “bantuan mengikat” dalam bentuk investasi projek yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan konstruksi dan sector industri atau dukungan yang memiliki target yang spesifik melalui dana global spesialisasi untuk pengendalian penyakit, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya.

Sektor industri di AS, Eropa dan Jepang bisa saja menjual pembangkit listrik, konstruksi jalan, fasilitas pelabuhan dan infrastruktur lainnya yang didukung oleh dana bantuan, tidak tertarik dan kehilangan kontak dengan dana pengembangan. Masyarakat Negara-negara kaya tidak mempercayai dukungan anggaran umum, karena mereka tidak mengetahui bagaimana uang mereka dipergunakan.

Bantuan yang paling sukses di tahun-tahun belakangan ini ditargetkan melalui dana global untuk memberikan bantuan imunisasi kepada anak2, atau melawan AIDS, tuberculoses, dan Malaria. Masyarakat kemudian memahami lebih baik bagaimana uangnya dapat membantu menyelamatkan nyawa manusia. Bantuan dapat dihitung dalam bentuk tempat tidur, pengobatan antiretroviral, dan vaksin. Hasil-hasil yang diperoleh melalui pengurangan kematian dari malaria, penyakit menular, polio, dan penyakit lainnya yang mulai menjadi ancaman. Dana2 ini telah memenangkan hati masyarakat sehingga mau menambahkan pembiayaan.

Reformasi pertama dan yang sebenarnya daripada system bantuan harus menghubungkan kembali bantuan dengan input dan output yang dapat diukur, melalui dana global dan program2. Donor bantuan internasional seharusnya mengumpulkan dana mereka melalui dana global untuk pendidikan dasar, produksi makanan (benih dan pupuk kepada para petani miskin), air bersih, dan sanitasi, program perencanaan keluarga dan KB (melalui PBB, dana populasi), nutrisi (melalui UNICEF, dan World Food Programme), serta infrastruktur. Masyarakat akan dapat melihat secara jelas bagaimana uang mereka digunakan. Projek akan dimonitor dan diaudit. Keberhasilan dan Kegagalan akan lebih transparan. Reformasi yang kedua seharusnya mengikatkan kembali bantuan, sebagian, dengan mendorong agen-agen donor Negara untuk mendukung projek yang diberikan oleh perusahaan nasional.

Pemerintah China melakukan hal ini melalui investasi Miliar US Dollar ke seluruh Afrika, hingga manfaat dapat terlihat di penjuru Afrika. Negara Jepang juga memiliki tradisi yang sukses memberikan bantuan di Asia Tenggara. Adanya resesi di Negara-negara maju, investasi langsung dari perusahaan-perusahaan

Untuk membangun jalan yang urgensinya tinggi, pembangkit listrik, fasilitas pelabuhan, dan lainnya di Negara-negara paling miskin akan memberikan hasil yang luar biasa: untuk pengembangan, untuk stimulus ekonomi makro, dan membangun dukungan politik domestik untuk menjaga komitmen bantuan.

Tujuannya, tentunya seharusnya dapat membantu Negara-negara tersebut untuk tidak lagi mendapatkan bantuan dan berorientasi pasar. Akan tetapi pembiayaan melalui pasar bebas kebanyakan hanya berkonsentrasi di emerging market yang terbatas dan Negara miskin dengan sumber daya alam yang kaya.

Untuk memungkinkan ekspansi jangkauan dari pembiayaan berbasiskan pasar, salah satu kuncinya adalah pembangunan infrastruktur di Negara-negara miskin sehingga investasi berbasiskan pasar mendapatkan keuntungan. Kebijakaan keuangan dibutuhkan untuk mencegah pelarian modal dari aliran dana swasta, dimana kita sudah mengalaminya sejak hancurnya Lehman Brothers di bulan September 2008. Barangkali langkah kuncinya adalah fasilitas swap dari bank sentral Negara kaya kepada Negara-negara berkembang, sehingga kepanikan pasar tidak menghabiskan pasar Negara berkembang.

Dana pengembangan secara tradisional (ada reformasi atau tidak) dan pembiayaan berbasiskan pasar tidak akan membiayai global public good, seperti investasi besar untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim atau untuk melindungi kekayaan bio laut. Kita membutuhkan formasi baru pada pembiayaan global untuk kebutuhan riset, pengembangan, demo, pengembangan tekonologi energi yang dapat diperbaharui, seperti carbon capture dan sequestration (menghilangkan karbon), dan teknologi maju pada power generator.

Afrika memiliki potensi tenaga matahari cukup buat dirinya dan seluruh daratan Eropa, akan tetapi ini membutuhkan dukungan penelitian, engineering, dan pembiyaan baik swasta maupun Negara dalam skala regional, akan tetapi pembiayaan tersebut belum tersedia.

Dana kecil seperti Global Environmental Facility telah dibentuk untuk tujuan ini, namun mereka dalam kategori juta US dollar per tahun dibandingkan dengan 10 Miliar US Dollar yang dibutuhkan. Inovasi di bidang pembiayaan adalah penting. Kita harus mengadopsi pengurangan carbon secara global dengan setiap Negara memberikan beberapa dollar per ton pada CO2 yang ditimbulkan untuk membiayai investasi global dalam rangka mitigasi dan adaptasi. Swiss dan Norwegia saat ini telah mengajukan proposal tersebut.

Sebagai analogi pajak kecil untuk transportasi global dan transaksi pembiayaan global dapat menambahkan dana yang dibutuhkan oleh masyarakat internasional. Pajak tiket pesawat terbang sudah berfungsi dan dapat dikomplemen dengan pajak pada pengiriman internasional.

Overhaul pada system pembiayaan internasional sudah seharusnya dilakukan. Krisis financial sudah menyebabkan proses perubahan dimulai. Banyak pembicaraan mengenai Betton Woods II. Dunia seharusnya menyadari bahwa kesepakatan Betton Woods melibatkan begitu banyak hal lebih dari sekedar regulasi financial, dan rekonstruksi pasca perang, pembangunan, dan perdagangan.

Hari ini kita membutuhkan visi yang sama dimana system baru pada system pembiayaan untuk pengembangan harus menyelesaikan tantangan besar pada pengembangan yang berkesinambungan: pengangkatan kemiskinan, penanggulangan penyakit, perubahan cuaca, dan pasar keuangan global yang berfungsi untuk melayani semua Negara-negara, baik kaya maupun miskin.

Jeffrey D. Sachs is the director of the Earth Institute, Quetelet professor of sustainable development, and professor of health policy and management at Columbia University