Industri Retail Akankah Tergerus oleh Krisis di Tahun 2009?
Assalammu’alakum Wr. Wb.
Menulis mengenai performa industri yang dikaitkan dengan marketing sebenarnya sangat menarik.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa krisis ini benar-benar mengandalkan sektor konsumsi terutama konsumsi dalam negeri. Pada kasus ini industri retail menjadi salah satu sektor penting yang akan mendukung ekonomi Indonesia. Walaupun pada tahun ini industri retail nasional diprediksikan akan tetap bertumbuh namun pertumbuhannya tidak akan siknifikan, menurut Aprindo pertumbuhan industri ini hanya mencapai 5-10% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 20%.
Bagi masyarakat di luar jawa yang mengandalkan industri pertanian dan pertambangan akan mengalami penurunun purchasing power, padahal kontribusi masyarakat di luar pulau jawa terhadap industri retail begitu siknifikan yaitu mencapai 41% dari seluruh pasar. Jakarta sendiri memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar hingga 34% sedangkan sisanya di seluruh wilayah pulau jawa mencapai 25%.
Secara demografi karakter konsumsi masyarakat akan berubah yaitu mereka akan membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari dibandingkan dengan barang-barang bukan primer seperti fashion dan produk-produk elektronik.
Menurut data yang dikeluarkan oleh AC Nielsen pertumbuhan penjualan untuk 54 produk kategori menunjukkan tendensi menurun pada kuartal 4 tahun 2008. Padahal produk grocery ini memberikan kontribusi hingga 65% dari total penjualan pada industri retail modern.
Kompetisi diantara industri retail modern juga menjadi semakin keras sejak beberapa tahun belakangan. Hypermarket dan minimarket bertumbuh cukup siknifikan sejak tahun 2003-2007 sebesar 29,3% dan 16,6% dibandingkan dengan supermarket yang hanya 13% atau pusat perbelanjaan yang hanya 5,7%. Menurut Aprindo penjualan pada supermarket akan cenderung melambat sedangkan hypermarket dan minimarket akan makin berkembang.
Untuk mendukung hipotesa ini berdasarkan data penjualan dari Alfamart (format minimarket) dan Matahari hypermarket (format hypermarket) menunjukkan pertumbuhan tahunan secara compounding (CAGR) pada tahun 2006-2008 mencapai 29,4% dan 35% sedangkan Matahari supermarket malahan -14,8%.
Hypermarket cenderung dipilih oleh para konsumen karena mereka memberikan format “one stop shopping” yang memberikan berbagai macam produk pada harga yang lebih murah, dan ketersediaan stok. Hypermarket sangat strategis dari sisi letak, nyaman, dan memiliki lapangan parkir yang luas, ini mengapa konsumen lebih menykai haypermarket.
Sekarang berkembang model multiformat yaitu hypermarket melakukan ekspansi dengan membeli supermarket sebagai contoh Carrefour Indonesia. Atau seperti Matahari yang memiliki hypermarket, supermarket dan departemen store pada saat yang bersamaan.
Melihat kecenderungan ini, industri ini dikuasai oleh hanya beberapa pengusaha (oligopoly) yang menyebabkan posisi retailer relatif lebih kuat dibandingkan dengan posisi supplier.
Kompetisi pada indutri retail modern juga diwarnai oleh kompetisi oleh retailer asing dan lokal terutama menurut Perpres No. 77/2007 yang memungkinkan asing untuk melakukan investasi langsung pada bisnis supermarket pada area 400-5000m2. Sesuai dengan peraturan pemerintah ini dibolehkan untuk mendapatkan 100% share.
Retailer lokal yang tadinya menguasai pasar di beberapa lokasi akan menambah kompetisi pada industri retail modern. Di Jawa Barat ada Yogya dan Borobudur yang memiliki outlet-outlet di luar jawa. Namun masalah klasik mengenai kompetisi antara retailer tradisional dan modern tetap masih timbul walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan zoning. Kebijakan zoning adalah sebuah system yang membatasi industri retail modern untuk beroperasi sehingga retail tradisional dapat terlindungi dari kompetisi langsung dengan retailer modern. Persyaratan utama pada kebijakan ini adalah melaukan pemetaan mengenai zona yang potensial yang dapat dimasuki oleh industri retail modern.
Dengan kondisi pelemahan mata uang rupiah belakangan ini maka industri retail yang mengandalkan import akan sangat tertekan. Sebagai contoh Mitra Adiperkasa yang memegang lisensi beberapa merek internasional seperti Nine, west, Next, Nautica, Lacoste,Spalding, Kipling, Zara, dll. Namun dengan market targeting dan segmentasi pasar yang baik, serta program-program marketing atau pun promosi yang dilakukan oleh para pemegang lisensi brand ini di beberapa surat kabar sangat efektif untuk meningkatkan penjualan.
Akan kita lihat apakah industri yang sangat penting ini akan tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini, apalagi ajakan untuk pemerintah maupun masyarakat untuk lebih mengkonsumsi produk dalam negeri, walaupun dari sisi kualitas produk-produk dalam negeri ini tidak kalah namun dari sisi program dan promosi sepertinya produk-produk import masih mendominasi industri retail nasional.
wallahu’alam bi showab