Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • ghifi 4:50 pm on June 29, 2009 Permalink | Balas
    Tags: active learning, constructive learning, discovery learning, ,   

    Inquiry Based-Learning (Pengembangan Active Learning) 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya & istri saya sangat berbahagia ketika anak kami satu-satunya lulus dari kelas TK B dan sudah diterima di SD yang sama.  Walaupun umur Anak saya ini masih tergolong kurang, yaitu  5 tahun 10 bulan, untuk dapat diterima di sekolah SD terutama SD negeri, namun Alhamdulillah menurut hasil assessment dan rapor dari guru TKnya perkembangan anak saya cukup memuaskan.

    SD anak saya ini termasuk baru sehingga baru memiliki 2 kelas untuk Kelas 1. Masing-masing kelas terdiri dari 20 murid. Sekolah ini memiliki 2 lantai, di lantai 1 terdapat dua kelas, kolam renang tidak terlalu luas namun mencukupi, dan sedikit halaman untuk bermain anak-anak (mirip sebuah rumah).  Lantai 2 terdapat ruang gamelan, komputer, dan perpustakaan.  Sekolah SD ini adalah menggunakan sistem bilingual & menitikberatkan pada pelajaran akhlak berbasikan agama Islam.

    Satu hal yang pernah dipresentasikan oleh Ibu Kepala sekolah bahwa SD anak saya akan menggunakan metoda pembelajaran yang disebut dengan Inquiry Based-Learning dimana sistem pembelajaran harus didasarkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid, dan guru pada sistem ini memiliki tugas tidak memberikan pengetahuan namun dia memfasilitasi anak untuk dapat menemukan pengetahuan itu sendiri.  Sehingga guru menjadi seorang fasilitator dibandingkan sebagai sumber pengetahuan.

    Metoda ini dikembangkan sejak tahun 1960, dan dikembangkan karena adanya kegagalan metode lama dimana seorang murid harus banyak menghafal materi-materi yang diberikan.  Inquiry based-learning merupakan metode belajar aktif dan murid akan diassess seberapa kemajuan yang dicapai oleh seorang murid dalam hal kemampuan eksperimen dan analisisnya dibandingkan daripada seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki.

    Salah satu komponen yang penting pada inquiry based-learning adalah open learning, yaitu tidak ada target atau pencapaian tertentu yang harus dicapai oleh seorang murid.  Seorang murid tidak diberitahukan hasil dari sebuah eksperimen dan murid melakukan eksperimen untuk melakukan konfirmasi, namun seorang murid dibiarkan untuk melakukan penemuan oleh mereka sendiri mengenai eksperimen yang dilakukan, atau bisa saja guru memberikan semacam petunjuk untuk mendapatkan hasil yang diinginkan tanpa harus secara eksplisit memberitahukannya kepada anak didik.  Open learning sangat penting akan tetapi skill open learning cukup sulit untuk dipelajari oleh seorang pendidik.

    Beberapa keuntungan open learning, yang berarti bahwa murid-murid tidak melakukan eksperimen yang sifatnya rutin, namun ada ruang untuk melakukan analisa hasil yang mereka dapatkan dan maksud apa yang mereka dapat.  Pada proses pembelajaran tradisional murid-murid memiliki tendensi bahwa eksperimen ’salah’ ketika memberikan hasil yang berbeda dengan hasil yang diinginkan oleh si pendidik.  Dalam open learning tidak ada hasil yang salah, murid akan melakukan evaluasi kekuatan dan kelemahan hasil yang mereka dapat dan mempertimbangkan nilainya kepada mereka.  Dalam hal ini rute yang ditempuh oleh open learning tidak pasti, dan lebih menarik dan tidak mudah diprediksi dibandingkan metoda pembelajaran tradisional.

    Kesimpulan

    • IBL menekankan ide-ide konstruktif dalam belajar, ilmu pengetahuan dibangun dalam bentuk step-step, sangat cocok untuk pembelajaran dalam bentuk grup.
    • Pendidik (guru) tidak memberikan ilmu pengetahuan, namun berfungsi sebagai fasilitator untuk membantu murid-murid belajar sendiri.
    • Topik, permasalahan untuk pembelajaran, dan solusi terhadap permasalahan ditentukan oleh para murid bukan oleh pendidik.

    Wallahua’lam bisshowaab

    Sumber: wikipedia

     
    • rollerfebaybe 4:29 am on Juli 18, 2009 Permalink

      Hey

      I like Your site. It is interesting. Do You have RSS I want to add to my favorites.
      Let me know when it will be ready. Kee it UP.
      See You O Szczecin Hotele

  • ghifi 12:42 am on June 26, 2009 Permalink | Balas
    Tags: happy birthday, , Life Relfection,   

    Life as I Know it (Aspiration, Pray, Work, and Love) 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    End of this month I am gonna celebrate my 3,5 decades of life & the journey of living. It’s been historical (to me), about which unfortunately I didn’t write  so much in the past (and perhaps just a glimpse today),  so my recollection of the past event remained hidden in the treasury of my life.  I really believe that I &  my generation are facing a very challenging time today,  so much going on that you can hardly name,  yeah you know what I’m talking about, but even worse that  every now and then money (and the derivation of it) is growing to become a much  higher stake  in life (Some said, “money is not everything in life but you need money to live — what an irony!) and I wish I could get away from it.  People everywhere are feeling the pinch of the situation to a degree I have never seen before. Happiness is a rare word, Idealism is far too complex to understand.  But in fact these 2 (two) concepts can be built upon true aspirations.  But somehow  we can and will  work our ways up to close in the gap between the reality and the true aspirations.  And for that, I am thankful and  the next best thing there is for me  is to moving forward, and  realizing that  my family is the (not  the ’only’) reason I could think of that I’m here.

    birthday-wishes-from-mickey-mouseHowever, it’s always a different story of the new ‘G’,  speaking of which when I talk about my child, she is so bright and smooth especially on exploring a new world of living, well…starting with my gadgets, with which she can play a music (I meant music instrument), video, games, and make a quick call to me, though her writing is  still limited. She developed 3 (three) languages (not counting my mother tongue) and I was so pleased that her aspirations were musics, arts, and  books.  For me personally, books are like my best friend, cause thru it I can have insights, without any coercion, or any indoctrination  I was also  so glad that my only child already entered her 1st year of the elementary school,  which  means her golden years of early development is coming to a more mature phase.  I can’t wait to see her embracing the future, and I will be on her side making sure that she can deal with new things.

    Honestly, for me career in the office is important but  is not so important as my family, seeing  my child  growing up with her full potential and watching her development makes my life rich. Seeing other children also touch my heart deeply, perhaps in the future I would involve more on child development and education cause I think this is the field that will decide the future of a generation.  Witnessing my child’s life has become the reflection on my life, and I wish I could be this way when I was a child.  But like I said, it’s all about moving forward that really matters, looking my life back was just a mere mirror reflection & learning to improve my life through the life of my child is also the other reason I’m here.

    Work is everything that you do for life, but it’s not the only thing.  I believe my work should benefit to the world no matter how small it is, it is not about life recognition, it is not about pride of life, but it is about what I have done for my own life.  The good things about routines are teaching me about discipline and habit of persistence, but it can only go so far,  also  when I was caught with routines, it was quite hard to look work in different perspective, it was like I had to do it for not so obvious reasons. As a person, I want to look back and be proud of what I have done. From there,  I created the culture of my own, a good fundamental to move on and not being trapped by the cycle of life, if you know what I mean.

    Allah Swt. comes to me thru His creation and His Words of prayer, and when I saw God in action I felt amazed, an indescribable feeling, even going beyond my comprehension. I thought I had to elaborate those actions so I can understand better and I could spend each and every moment of my life just to comprehend them more.  However, I’m still puzzled sometimes  (perhaps in a democratic way)  that for some people of having difficulty to understand the simple idea of His existence. Aside from that the God is like an abstract idea, lots of other gods manifest themselves, for instance the  god of  materialism (you can name like work ‘in some respect’, money ‘an easy scapegoat’,  and human lust ’in many forms’) and  logical thinking, they  have presented a greater challenge to the idea of God (to make the matter more complex when religions have become sources of conflicts among us).  These gods have reached a whole new sophistication, even I have avoided talking in regards, when everybody else doesn’t give a damn to it.

    In addition, I believe a good marriage is built upon a good communication with my spouse. Trying to share on ideas, story oflove12 other success, concern, sometimes frustration,  or merely just be a good listener are the things that we communicate each and everyday. I’m thankful that I have a luxury of time being together, unlike others whom I saw are  separated either by their works or duties they can’t avoid not to. Some say what important in marriage intimacy  is a quality time, but I think a quality without a quantity is nonsense. I believe that my partner is helping me to understand the world better, it’s like sailing onto one’s ship, without understanding one another it’s highly unlikely that we can survive the storm and the ship could sink anytime.  For me it is still long journey to come, anything can happen, but I learn each and everyday that it is us who decide our destiny not the external condition that we are all experiencing.  It needs a good character, a really good one, a character built on trust and integrity that help us overcome problems we face our whole lives.

    The universe of my spouse is to see others being happy.  She always try to find a way to make other people surrounding her change for the better and I always encourage her to write her aspirations no matter how little it is.  It is really not an easy task doing service improving other people quality of lives.  But in the business of services, I guess helping people around us  is part of the  job description.

    Speaking of a material world, not everyone care on the idea of helping others,  but for me nowadays I learn to see whenever people are sincere  enough, especially by  the looking of their eyes, as if I dived deeply into the center of their hearts (since eyes are the windows of the heart), so I can distinguish between a meaningful eyes and empty one, perhaps the empty one is the only way to know whether people like or dislike, agree or disagree, care or not with you,  no more and no less –it’s that simple.  Sometimes, I did not believe on my ability to see through people’s hearts, but from time to time I embrace this development  through my life.  Perhaps the reason for this, is that I always try to remind myself for the good and positive things, the more positive I am the more I can see negativity around others, it is not a magic, it’s just a reflection of something you adore so much.

    Life conflict is something I try to circumvent from others, when I sense it I know that I have to retreat or if not possible, try to go around with what I call it ‘a zero sum game’, so the fire will never go out of hand easily.  Even worse, sometimes I was between conflicts of two different sides. What I did is to agree on whatever they were trying to do, but what was different is how I handle on doing the job, making sure that this conflict didn’t go anywhere but to themselves.  Well, I believe being a good leader must have a sense of a conflict within his/her people, and work around to try resolving subtle matters. It is fascinating to learn what people really care and agree on anything in this ordinary life.

    My life story are still going on, and I hope that my aspirations grow up next year so I can still talk about my life, and the story book of my life surely will not come to an end, until then…

    Happy Birthday…birthday_candles

     
  • ghifi 12:04 am on June 23, 2009 Permalink | Balas
    Tags: Development, , environment,   

    Titik Balik 

    Assalammu’alaikum wr wb

    Kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati-matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya

    Dalam dapur kayu penuh warna dan dekorasi, diantara foto-foto keluarga dan teman-teman yang menempel pada dinding samping meja makan, aku bertanya tentang beberapa tindakan tak logis.

    “Tunggu, jadi maksudmu, kamu akan menolak beli baju GAP walaupun itu yang termurah di pasar? Kamu akan menolak masuk perusahaan Shell walau mereka memberimu gaji paling tinggi? Kamu lebih memilih menaiki kereta DB yang 100 euro daripada pesawat Ryan Air yang 28 Euro? Dan kamu lebih mendukung negaramu yang berinvestasi pada kincir-kincir angin daripada sumber energi lain yang dapat lebih menghasilkan bagi negaramu?”

    “Ya,” jawab Sara singkat sambil menikmati memotong-motong roti sarapan dengan pisau besar, yang juga adalah roti organik, jauh lebih mahal dari roti biasa.

    “Bantu aku memahami semua keputusan yang tampak kontra pembangunan atau hukum ekonomi itu…”

    Sara mengantar piring besar berisi roti-roti itu ke meja makan, “Kami tidak harus membangun lagi, we are developed…Bagi kami kini saatnya menghentikan dan membereskan segala asap polusi yang sudah kami keluarkan dari segala kegiatan dulu.”

    Aku memotong beberapa apel, “Kasihan saja rasanya mengingat bangsaku yang mati-matian mencapai kejayaan kalian, hanya untuk menemukan bahwa kalian berhenti, berbalik begitu saja setelah mencapainya. Haruskah kita menghalangi perusahaan minyak sumber jutaan dolar bagi negara kami, hanya karena ia mengeksploitasi lingkungan? Haruskah aku lebih memilih kereta DB yang mahal itu hanya karena semua jaringannya menggunakan listrik? Haruskah kita tidak membeli GAP yang paling murah di pasar, hanya karena ia hasil eksploitasi buruh murah negara dunia ketiga? Bagi yang masih developing, prinsip ‘terbesar untuk pengeluaran terkecil’ masih berlaku.”

    Sara, mahasiswa tingkat dua teknik lingungan itu, hanya bisa tersenyum dari balik kacamata beningnya,”Kami tidak berbalik, atau berhenti. kami hanya menyadari bahwa pertumbuhan hanya dapat berlanjut jika kita memperhitungkan segala sisi. Tentunya terserah masing-masing jika ingin memikirkan keuntungan sendiri, hanya saja nasib buruknya, kita semua saling berkaitan. Dan tidak ada pertumbuhan sesungguhnya sebelum kita menyadari bahwa kita semua berhubungan.”

    Ia duduk mempersiapkan piring-piring,”Tinggal tunggu kerusuhan-kerusuhan di negara dunia ketiga jika kita, negara-negara kaya, terus mengeksploitasi mereka. Tinggal tunggu beberapa pulau tenggelam jika kita terus menggunakan BBM tanpa perhitungan. Tinggal tunggu  kota-kota banjir jika hutan-nutan tropis terus ditebangi tanpa perasaan.  Seberapa banyakpun jutaan dolar yang mereka hasilkan bagi kita pada awalnya…”

    Aku tidak dapat “menerima” bagaimana mahasiswa yang tiga tahun lebih muda dariku, dapat berpikir sejauh itu.

    What goes around comes around,” lanjutnya, “Dan sebagaimana kata para hippies tahun 60-an dulu, yang sedikit banyak memulai titik balik ini, ‘Mess with Mother Earth, you just mess with yourself.’” 923424239_ded7548204

    Wallahua’lam bi showaab

    Disadur dari jurnal  “Titik Balik” Berlin 10 Juni 2006 oleh Mrina Silvia K. dalam bukunya “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar!”

     
  • ghifi 9:17 pm on June 17, 2009 Permalink | Balas
    Tags: polling   

    Polling Minggu Ini 

    Polling Mingu ke-3 Juni 2009

     
  • ghifi 9:20 pm on June 16, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II) 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Kemenangan Adalah Pada Pendapatan

    ‘Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!’

    Bureaucracy_CartoonDalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral.  Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis.  Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita.  Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
    Dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya Amerika Serikat telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dalam hal pendapatan, atau Anda mungkin mengasumsi jika Anda fokus secara eksklusif pada GDP.  Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!
    Tidak ada seorangpun yang melihat hanya omset penjualan sebuah perusahaan untuk melihat seberapa bagus perusahaan bekerja.  Jauh lebih relevan adalah melihat buku besarnya (balance sheet) yaitu bagaimana antara asset dan kewajibannya.  Hal ini juga berlaku terhadap sebuah Negara.  Argentina telah bertumbuh sangat cepat di awal tahun 1990 yang utamanya merupakan hasil dari konsumsi berlebihan yang didanai oleh pinjaman luar negeri.  Akan tetapi pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berkesinambungan  atau dapat dibuat menjadi berkesinambungan.  Mirip dengan Amerika serikat yang meminjam berlebihan dari luar negeri pada rasio USD 2 Miliar per hari.  Akan menjadi lain apabila pinjaman ini dipergunakan untuk investasi yang memiliki produktif tinggi.  Pada kenyataannya, pinjaman ini digunakan untuk menandai peningkatan konsumsi dan pengurangan pajak kepada warga amerika yang kaya.
    Pertimbangkan contoh berikut:  Ketika anda dapat memilih Negara mana Anda dapat hidup tapi akan diberikan pendapatan yang sifatnya acak dari distribusi pendapatan Negara tersebut, apakah anda akan memilih Negara dengan GDP per kapita paling tinggi? Jawabannya adalah tidak.  Yang lebih relevan terhadap pengambilan keputusan adalah median pendapatan ( level pendapatan dimana 50% dari populasi di bawah dan 50% di atas).  Ketika distribusi pendapatan menjadi lebih terdistorsi (skew), dimana median menjadi bertambah turun di bawah mean.  Inilah mengapa walaupuan GDP per kapita meningkat di Amerika Serikat tetapi median pendapatan rumah tangga sebenarnya menurun.
    Ada alasan lain mengapa seseorang belum tentu ingin melihat hanya kepada GDP per kapita.  Seseorang mungkin khawatir terhadap rasa amannya.  Bagaimana kalau dia sakit? Atau kehilangan pekerjaannya?  Bagaimana ketika dia harus pensiun? Mungkin dia juga khawatir terhadap tindak kejahatan.  Dia juga khawatir terhadap kualitas sekolah anak2nya.  Bagaimana anak2nya berkompetisi dengan yang lain yang dapat membayar sekolah terbaik atau dengan negara2 seperti S’pore yang memberikan fasilitas publik terbaik untuk pendidikan? Dia mungkin juga khawatir terhadap lingkungan.  Apakah regulasi pemerintah melarang kadar arsenik dalam air?
    Ketika kita melihat melalui lensa-lensa ini maka Amerika Serikat tidak terlihat lebih baik.  Beberapa dimensi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang lain sebagai contoh Amerika Serikat memiliki 5 s/d 10 kali populasi penjara per kapita dibandingkan dengan Negara-negara industri lainnya dan bekerja lebih lama dalam seminggu.  Amerika serikat juga memiliki keamanan pekerjaan lebih jelek, asuransi pengangguran yang lebih buruk dan lebih sedikit orang yang dapat dilindungi asuransi kesehatan.
    Pastinya mimpi-mimpi orang amerika masih menarik bagi jutaan orang di seluruh dunia.  Namun mimpi-mimpi itu bisa saja hanya berdasarkan pada mitos  pada kenaikan status di Amerika Serika dan pernghargaan yang minimal terhadap kesulitan yang dialami oleh orang miskin.  Walaupun tidak ada standar yang dapat membandingkan antara standar kehidupan di Amerika Serikat dengan negara-negara miskin, dan hal ini memang bukan pijakan yang dapat dijadikan sandaran.

    Langkah Separo-Separo dan Salah Langkah

    ‘Rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan’

    robin hoodDalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan.  Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global.  Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya.  Yang pertama adalah definisi kemiskinan.  Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan.  Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
    Kritikan kedua ada terkait dengan poin dengan yang penting adalah bukanlah globalisasi per se namun leibh kepda kebijakan yang spesifik yang terkait dengan globalisasi.  Liberalisasi pasar modal, sebagai contoh mendukung integrasi yang lebih dekat dengan pasar modal pada khususnya yaitu modal masuk dalam jangka waktu pendek.  Teori ekonomi modern dan analisa empiris menunjukkan bahwa adanya ketidaksempurnaan pasar modal bahwa integrasi seperti ini akan menyebabkan ketidakstabilan kepada ekonomi. Sebuah kesimpullan bahwa bahkan IMF sudah mendukungnya, dan tidak memiliki imbas yang siknifikan pada pertumbuhan.  Ada bukti lain bahwa si miskin harus menerima imbas dan beban terburuk dari naiknya ketidakstabilan ini.  Pendeknya, aspek pada integrasi ekonomi seperti ini sebenarnya meningkatkan kemikinan tanpa memberikan imbas pada pertumbuhan.

    Yang ketiga adalah bahwa Friedman terlalu mengandalkan hasil karya Xavier Sala-i-Martin (The Disturbing “Rise” of Global Income Inequality) dan Surjit Bhalla (Imagine There’s No Country: Poverty, Inequality, and Growth in the Era of globalization) yang menjadi subjek kritikan besar, tanpa mengingatkan kepada pembaca mengenai perdebatan mengenai angka-angka tersebut.  Dapat dikatanan bahwa memiliki artikel yang dipublikasikan dalam jurnal yang mendapatkan review dari rekannya dan memiliki kesimpulan yang diimitasi di dalam media tidak sacara otomatis secara implicit memiliki validitas).  Masalah adalah mudah untuk dibeberkan namun susah untuk diperbaiki, penelitian mengenai ketidakadilan dan kemiskinan adalah berdasarkan dari survey pendapatan dan pengeluraran rumah tanga, namun angka-angka itu dapat dikumpulkan dari penelitian-penelitian itu menjadi tidak konsisten dengan akun pendapatan nasional, sebuah outcome yang melansir adanya kurangnya laporan pada survey rumah tangga.  Satu solusi yan gmudah kepada discrepancy (ketidaksamaan ) ini  adalah pendekatan yang dgunakan oleh Sala-i-Martin dan bhalla, yang membesar-besarkan angka dari survey rumah tangga.  Ketika rata-rata pendapatan dilaporkan adalah USD 3000 dan akun pendapatan nasional menunjukkan rata2 pendapatan rumah tangga sebesar USD4000, adanya peningkatan laporan pendapatan individu sebesar 1/3.  Hal ini secara langsung berdampak mengurangi angka jumlah orang yang hidup di dalam kemiskinan.
    Namun pendekatan yang lebih canggih mengobservasi bahwa individu dengan pendapatan tinggi lebih takut dan khawatir kepada petugas pajak dibandingkan dengan si miskin.  Dalam sudut pandang ini, ketidakbenaran pada laporan ini dihitung oleh orang-orang dengan pendapatan besar, dan jumlah orang2 yang dilaporakan hidup dalam kemiskinan sesuai dengan survey rumah tangga sepertinya cukup akurat.  Penilikan pada kesalahan di laporan mendukung pandangan ini, sebuah  pandangan yang mengatakan bahwa dunia masih jauh dalam mencapai tujuan mengurangi kemiskinan menjadi 50% sebelum tahun 2015 (Untuk melihat perdebatan kedua belah pihak mengenai isukemiskinan, lihatlah perdebatan pada pengukuran kemiskinan, sebuah buku yang diproduksi oleh initiative for Policy Dialogue, dimana saya melakukan edit bersama dengan Paul Segal dan Sudhir Ananda).
    Kemudian pendapat Friedman mengenai pertumbuhan dapat membawa sebuah kesempurnaan moral mengenai keterbukan yang lebih besar dan toleransi mengundang pertanyaan yaitu apakah Amerika Serikat, ketika menjadi lebih kaya, menjadi lebih terbuka den toleran? Apakah keterbukan dan toleransi memastikan titik berat yang sama di ilmu sains modern dibandingkan dengan pandangan masa kegelapan (pre-enlightment)?
    Namun demikian Friedman juga benar dengan argumentasinya yaitu demokrasi relatif lemah untuk bertahan di Negara-negara miskin.  Sehingga jika Bush serius mengenai komitmenya untuk memperluas demokrasi, Dia akan melakukan investasi lebih di Negara-negara ini sebagai bagian dari development,  melaksanakan kesepakatan yang sudah disetujui oleh negara2 maju untuk memberikan komitmennya sebesar 0,7 % dari GDPnya untuk memberikan batuan kepada Negara-negara miskin.  Uang tesebut akan memberikan perbedaan yang besar baik untuk kualitas Negara-negara berkembang dan prospek demokrasi di sana.  Tentunya hal yang lebih besar dari uang juga dibutuhkan, tidak ada yang lebih meyakinkan sebagai contoh yang sukses dari pada masyarakat yang lebih terbuka dan lebih toleransi yang mampu membawa buah dari pertumbuhan dan demokrasi kepada masyarakatnya.  Bagaimana amerika serikat dapat mengklaim dapat memberikan fasilitas seperti contoh di atas apabila dia sendiri tidak peduli dengan dirinya sendiri?

    Mitos Invisible Hand

    ‘Alasan bahwa Invisible Handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya Invisible Hand tidak pernah ada’

    Para ekonom amerika memiliki tendensi yang kuat untuk tidak melibatkan pemerintah dalam invisible-hand-wmmelakukan intervensi terhadap ekonomi.  Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
    Fondasi intelektual untuk mendukung asumsi ini sangatlah lemah.  Pada ekonomi pasar dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksimetrisan informasi dan pasar yang tidak penuh, yaitu ingin dikatakan bahwa setiap ekonomi pasar, alasan bahwa Invisible handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya tidak ada. Para ekonomi yang tidak efisien pada dirinya sendiri.  Pemikiran seperti ini memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya adanya peranan pemerintah yang lebih siknifikan.
    Friedman memulai diskusinya dengan memperhatikan kepada pembatasan umum, mengidentifikasikan externality yang menggaransi interfensi pemerintah. Dia menandaskan pentingnya investasi, baik fisikal dan sumber daya manusia, dan memperhatikan bahwa defisit APBN (tidak menabung) akan melukai investasi-investasi itu.  Ekonom pasar sempurna akan tidak menganggap hal ini: private saving pada akhirnya bertambah untuk mengimbangi saving pemerintah yang negatif, dan jika warga negaranya ingin mengkonsumsi lebih dan menyimpan sedikit, tidak berarti bahwa mereka dibolehkan untuk memaksakan keinginannya pada kita.  Ekonom seperti itu akan berkata bahwa saving domestik lebih penting di dalam dunia globalisasi, bukan keseimbangan global supply dan demand untuk dana.
    Adalah penting untuk dapat mengetahui alasan mengapa prediksi model market sempurna mengalami kegagalan, kegagalan market terjadi jauh diluar externality.  Memahami keterbatasan ini pasar menyebabkan pentingnya peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan dan memastikan bahwa peranan tersebut adalah peranan yang tepat.
    Ada sebuah contoh ketika peranan yang lebih besar dari pemerintah dalam mempromosikan ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dari Friedman yang rekomendasikan.  Sebuah laporan oleh Council Advisor Ekonomi (ketika saya menjadi ketuanya) menemukan bahwa tingkat pengembalian dari investasi publik pada ilmu dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan investasi di bidang swasta pada area ini dibandingkan dengan investasi konvensional dalam pabrik dan peralatan.  Dengan pendidikan terutama pada waktu dimana kualitas sekolah Amerika dan terutama pendidikan keluarga dengan pendapatan rendah. Voucher, sejumlah tertentu diberikan kepada privatisasi parsial pada sekolah dasar dan menengah pada sistem pendidikan telah dikedepankan sebagai bagian dari solusi pasar bebas menyebabkan kualitas pendidikan yang menurun.  Namun advokasi voucher tidak pernah memberikan kasus yang kuat bahwa mereka didesain untuk mempromosikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan integrasi rasial yang lebih besar pada system pendidikan dibandingkan dengan mereka yang menerima voucher.
    Buku Friedman merupakan vaksin yang penting terutama bagi pandangan popular gerakan anti pertumbuhan, dan kepada para ekonom pasar bebas yang mengatakan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya yang kita butuhkan.  Adanya seruan bersama untuk melakukan perubahan arak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkesinambungan.  Apakah anda setuju atau tidak dengan saran kebijakan yang diberikan oleh Friedman, ini adalah analisa yang sangat beralasan yang sangat dibutuhkan oleh Amerika serikat untuk kembali ke track yang benar.

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. Stiglitz

    Moral Consequences

     
    • Dian Milani Hakim 8:45 am on Juni 17, 2009 Permalink

      Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.

    • ghifi 1:32 pm on Juni 17, 2009 Permalink

      Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.

      Demikian dari saya
      cheers,

    • ivenxadytia 6:18 pm on Juli 17, 2009 Permalink

      wah… serujuga baca blog nya…
      success yah….

  • ghifi 5:03 pm on June 15, 2009 Permalink | Balas
    Tags: book review, ,   

    Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian I) 

    Pertumbuhan mungkin segalanya namun tidak hanya satu-satunya

    economic growth cartoonPara ekonom sejak lama memiliki konstituen untuk mendukung pertumbuhan. Karena walaupun sebuah Negara terkaya memiliki sumber daya yang terbatas, pusat permasalahan pada ekonomi adalah pilihan: Apakah kita mendanai pemotongan pajak kepada yang kaya atau melakukan investasi pada infrastruktur dan R&D, atau perang di Iraq atau bantuan kepada kaum miskin di Negara-negara berkembang atau diri kita sendiri?  Dengan memfasilitasi keseluruhan sumber daya, pertumbuhan dalam teori seharusnya membuat pilihan-pilihan ini sedikit lebih mudah.

    Amerika Serikat di pihak lain mendemonstrasikan ketika pertumbuhan meningkatkan supply, juga menumbuhkan aspirasi.  Pilihan Negara-negara kaya yang harus diambil tidak terlihat lebih mudah dibandingkan Negara-negara miskin, sebagai contoh, harus memilih apakah menggunakan budget kesehatan yang terbatas untuk membayar biaya sepenuhnya perawatan penyakit akibat merokok, beberapa penderita penyakit akibat merokok akan hidup sebagai hasilnya, tetapi orang lain yang membutuhkan layanan kesehatan akan meninggal, karena uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu tidak tersedia.  Untuk sumber daya yang bergantung dengan pertumbuhan hal ini adalah yang membedakan antara hidup dan mati.

    Tetap saja pertumbuhan memiliki banyak pengkritik. Ada literatur yang dikembangkan sangat baik oleh para anti-pertumbuhan yang populis yang prihatin dengan imbas pertumbuhan pada lingkungan dan kemiskinan. Hasil karya, The Moral Consequences of Economic Growth oleh Benjamin Friedman menerima kritik seperti itu, memposisikan pertumbuhan tidak hanya memberikan keuntukan ekonomi namun juga keuntungan moral. Dia berargumentasi pertumbuhan memiliki potensi untuk meningkatkan lingkungan, mengurangi kemiskinan, mempromosikan demokrasi, dan membangun lingkungan sosial yang lebih terbuka dan lebih bertoleransi.

    Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa Friedman, Professor ekonomi di Harvard University, seorang yang naïf pendukung ekonomi pasar. Pesannya memberikan perbedaan halus ( walaupun untuk beberapa hal tidak sehalus yang Saya inginkan) dan Dia menyadari bahwa pertumbuhan tidak selalu membawa keuntungan yang dijanjikan. Ekonomi pasar tidak secara otomatis memberikan garansi pada pertumbuhan, keadilan sosial, atau ekonomi yang efisiensi; untuk mencapai tujuan ini mensyaratkan pemerintah memberikan peranannya.

    Biarlah Bertumbuh

    Dalam sejarah, para ekonom mempertanyakan paling tidak pada fase awal dari perkembangan, GGN.wuerker-paradepertumbuhan akan didukung oleh kondisi sosial seperti keadilan yang lebih besar dan lingkungan yang lebih baik. Peraih nobel ekonomi Simon Kuznet memberikan argumentasinya berdasarkan pengalamannya sebelum perang dunia kedua bahwa adanya peningkatan ketidak adilan pada fase-fase awal perkembangan. Arthur Lewis pemenang Nobel ekonomi lainnya menelaah lebih lanjut, adanya ketidaksamaan yang lebih besar adalah penting untuk dapat memberikan saving/tabungan yang dibutuhkan oleh pertumbuhan. Generasi ekonom berikutnya memposisikan keberadaan kurva lingkungan Kuznet: fase awal pada pertumbuhan menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi bukan kesehatan pada lingkungan.

    Kuznet dan pengikutnya mempertahankan bahwa pada akhirnya pertumbuhan akan membawa keadilan sosial (equality yang lebih besar, kemiskinan yang berkurang) dan lingkungan yang lebih baik. Namun hal ini tidak ada satu pun yang terealisasi yang berarti bahwa walaupun hal ini benar di masa lalu, namun mungkin belum tentu di masa yang akan datang. Ketidakadilan (inequality) yang terlihat menurun di Amerika Serikat setelah Great Depression, namun dalam 30 tahun terakhir hal ini ternyata meningkat sangat pesat. Berbagai macam bentuk polusi telah banyak menurun ketika negara-negara kaya memperhatikan isu-isu kualitas udara, Namun emisi rumah kaca dengan segala aspek berbahaya yang mereka timbulkan terkait masalah pemanasan global telah berlanjut meningkat dengan pertumbuhan ekonomi, khususnya di Amerika Serikat.

    cartoon_carbon_gas_elevatorFriedman menekankan khususnya akan pentingnya pengaruh externality (efek transaksi ekonomi), Dalam banyak contoh dimana perbuatan pelaku ekonomi memiliki konsekuensi-konsekuensi bagi pihak-pihak lain dimana pelaku ekonomi tersebut tidak harus membayar (negative externalities) atau dimana pihak tersebut tidak dikompensasi (positive externalities).

    Hampir setiap orang mengenali “kegagalan pasar” ini yaitu ketika pasar itu sendiri tidak dapat memproduksi hasil yang efisien serta implikasinya, yang dapat dicatat yaitu kerusakan terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat mengakibatkan biaya yang besar kepada yang lain terutama pulau-pulau yang letaknya tidak terlalu tinggi dari laut yang bisa terimbas kenaikan permukaan laut di masa yang tidak terlalu lama di masa depan, namun perusahaan-perusahaan Amerika dan konsumen tidak membayar biaya-biaya ini.

    Mengkoreksi kegagalan pasar seperti ini tidak membutuhkan subsidi kepada perusahaan-perusahaan minyak untuk meningkatkan produksi minyak karena tidak ada kegagalan pasar pada arah ini, hal ini lebih membutuhkan pencegahan. Namun externality ini memberikan implikasi argumentasi yang lebih umum yaitu ketika pertumbuhan memiliki keuntungan sosial melebihi apa yang didapat oleh setiap individu atau perusahaan, kemudian pasti ada peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan.

    32SellingDemocracyWalaupun salah satu dari keuntungan sosial yang lebih luas adalah lebih terbuka dan toleran dalam sebuah komunitas, Friedman menjelaskan secara berhati-hati bahwa hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan adalah 2 (dua) arah; pertumbuhan mempengaruhi demokrasi, demokrasi mempengaruhi pertumbuhan. Kedua aspek hubungan ini sangat kompleks dan seringkali tidak jelas. Bangsa Cina tidak secara khusus adalah Negara yang mengusung demokrasi atau secara politik terbuka namun memiliki pertumbuhan yang paling cepat dan paling berkesinambungan dibandingkan negara lain karena mereka lebih diterima oleh khalayak ramai, lebih memperhatikan kepada si miskin. Namun Cina telah melakukan lebih banyak pengurangan kemiskinan dibandingkan negara-negara lainnya. Pada periode trakhir, Amerika Serikat melihat median real income menurun di rumah tanga dan si kaya mendapatkan potongan pajak yang besar walaupun si miskin bertumbuh.

    Tidak seperti ekonom yang pro pertumbuhan, Friedman menyadari bahwa isunya bukan hanya tumbuh atau tidak, namun kebijakan yang menyebabkan pertumbuhan. Hasil karyanya memberikan kritik penting kepada karya-karya (salah satunya adalah karya Paul Collier dan David Dollar dari World Bank) yang mengkorelasikan pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan atau pertumbuhan dan integrasi ke dalam global ekonomi. Sesungguhnya keputusan dalam menerapkan kebijakan tidak terfokus pada pertumbuhan atau tidak bertumbuh atau berintegrasi atau tidak berintegarasi dan mengkerucutkan masalah pada masalah tersebut.

    Pertanyaannya akan lebih spesifik, apakah ada pengurangan tarif atau tidak, ada liberalisasi pasar modal atau tidak, ada  investasi pada penelitian dan pengembangan (R&D) atau tidak, atau memperbesar akses kepada pendidikan atau tidak. Dan jawabannya akan jauh lebih kurang jelas. Beberapa kebijakan ini beberapa akan mempromosikan pertumbuhan yang meningkatkan kemiskinan, atau dapat juga mempromosikan pertumbuhan dengan jalan mengurangi kemiskinan. Beberapa startegi pertumbuhan mungkin baik bagi lingkungan mungkin tidak.

    Pendeknya debat seharusya tidak dipusatkan pada apakah seseorang mendukung pertumbuhan polyp_cartoon_free_tradeatau tidak. Pertanyaan seharusnya apakah ada kebijakan yang dapat mempromosikan apa yang disebut dengan pertumbuhan yang bermoral, yaitu pertumbuhan yang berkesinambungan yang meningkatkan standar kehidupan tidak hanya hari ini tapi untuk generasi mendatang dan membangun masyrakat yang lebih bertoleransi, sebuah mayarakat yang terbuka? Dan apakah ada yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa keuntungan dari petumbuhan dapat dibagi secara merata, membangun masyarakat degan keadilan sosial dan penuh solidaritas dibandingkan dengan pemisahan atau pembuatan gap yang sangat terlihat jelas di New Orleans ketika ada bencana alam badai Katrina?

    Masalahnya adalah hampir semua bukti empiris yang tersedia yang datang dari analisa antar Negara, tidak terlalu memberikan informasi. Karya Friedman memfasilitasi kembali seruan Bank Dunia untuk melakukan penelitian lebih ke level mikro atau kasus per kasus untuk melihat adanya trade off (pertukaran) antara pertumbuhan dengan pengurangan kemiskinan dan penurunan kualitas lingkungan.

    Bersambung…

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. StiglitzMoral Consequences

     
  • ghifi 8:23 pm on June 10, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , freedom, micro finance,   

    Pengentasan Kemiskinan? Atau Merubah Sebuah Kebudayaan Kemiskinan? 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya sudah bekerja pada isu-isu terkait kemiskinan lebih dari 20 tahun, dan sangat ironis bahwa masalah dan pertanyaan bagaimana anda mendefiniskan kemiskinan.  Apakah yang dimaksud dengan kemiskinan? Seringkali kita melihat dalam terminologi rupiah atau dollar, orang-orang yang mendapat penghasilan kurang dari $1 atau Rp 10.000 – 30.000 dalam 1 hari.  Walaupun demikian kompleksitas pada kemiskinan harus benar-benar melihat pada pendapatan hanya menjadi sebagai salah satu variabel.  Karena sebenarnya kemiskinan adalah sebuah kondisi mengenai sebuah pilihan dan keterbatasan akan kebebasan.
    sight on mathareSaya memiliki pengalaman dengan memperdalam dan mengklarifikasi diri Saya dalam memahami yang Saya miliki.  Ketika Saya di Kenya, dan Saya ingin sedikit berbagi dengan Anda.  Saya dengan teman Saya Susan Meiselas, seorang fotografer, di kawasan kumuh di bukit Mathare.  Sekarang ini,    bukit Mathare merupakan salah satu kawasan kumuh tertua di Afrika.  Jaraknya sekitar 5 km dari Nairobi, dan dengan panjang sekitar 1,5 km dan lebar sekitar 300 Meter di mana lebih dari 1 juta orang tinggal di  kawasan rumah kumuh yang terbuat dari seng (mirip seperti di kawasan kumuh Jakarta), dari generasi ke generasi, menyewakan rumah kumuh tersebut, seringkal ada 8 – 10 orang yang tinggal dalam 1 kamar.  Dan dikenal sebagai tempat prostitusi, kekerasan, narkoba.  Tempat yang mengenaskan untuk dapat tumbuh sebagai seorang manusia.  Dan Ketika kita berjalan melalui  gang sempit, secara logika sangat tidak mungkin tidak menginjak pipa-pipa dan sampah-sampah disamping rumah2 yang kecil.  Namun pada saat yang bersamaan juga tidak mungkin tidak dapat melihat  kehidupan manusia, aspirasi dan ambisi yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di sana.  Wanita mencuci bayinya, bajunya, dan menggantungnya supaya kering.  Saya bertemu dengan wanita ini, Mama Rose, yang menyewa rumah seng yang kecil selama 32 tahun, dimana dia tinggal dengan anak2nya 7 orang.  4 anaknya tidur di satu ranjang ukuran twin, dan 3 lainnya tidur di lantai yang dilambari dan berlumpur; Dan dia menyekolahkan anaknya dengan menjual air dari kiosnya dan dari menjual sabun dan roti dari toko kecil di bagian dalam. street_in_mathare_kenya
    Waktu itu juga menjadi hari setelah hari kemerdekaan, dan saya diingatkan bagaimana Mathare masih terkoneksi dengan dunia.  Dan saya melihat anak-anak di pojok-pojok jalan, dan mereka berkata,”Obama dia adalah Saudara Kami!” dan saya berkata “Wah Obama itu saudara saya maka kamu juga pasti saudara saya juga.”  Mereka terlihat bertanya-tanya dan langsung “high five!”
    Dan saya berada di sini untuk menemui Jane.  Saya tersentak oleh kebaikan dan kehalusannya terlihat di wajahnya, dan saya bertanya kepadanya untuk bercerita kehidupannya. Dia memulai dengan menceritakan saya mimpi-mimpinya.  Dia berkata,”saya punya dua mimpi. Yang pertama adalah menjadi seorang dokter, dan yang kedua adalah menikah dengan laki-laki yang baik yang mau tinggal bersama saya dan keluarga saya.  Karena ibu saya adalah single mom, dan tidak mampu untuk membayar biaya sekolah saya sehingga saya harus meninggalkan mimpi saya yang pertama dan saya fokus pada mimpi saya yang kedua.” Kemudian dia menikah ketika dia berumur 18 tahun dan memiliki bayi tidak lama kemudian.  Dan ketika dia berumur 20 tahun, dia menemukan dirinya hamil dengan anak kedua, ibunya meninggal dan suaminya meninggalkan dia, menikahi wanita lain. Dia tinggal di Mathare tanpa pendapatan tetap dan keahlihan dan tidak ada uang lalu Dia terpaksa menjadi pekerja seks komersial.  PSK di sini tidak terorganisasi seperti yang kita pikir. Dia pergi ke kota di malam hari dengan sejumlah teman perempuan sekitar 20 orang, mencari pekerjaan, kadang-kadang pulang dengan membawa beberapa shilling atau tanpa uang sama sekali.  Dia berkata,”Anda tahu kemiskinan sebenarnya tidak buruk-buruk sekali.  Yang lebih buruk adalah perasaan rendah diri dan perasaan malu dibandingkan segalanya.”eomrn mathare
    Di tahun 2001 hidupnya berubah.  Dia mendapatkan teman perempuan yang mendengar sebuah organisasi, Jamii Bora (institusi peminjaman mikro di Kenya), yang akan memberi pinjaman sejumlah uang kepada orang-orang yang semiskin apapun, namun kalau orang tersebut memenuhi prasyarat yaitu bersedia agar menyisakan uangnya untuk ditabung.  Kemudian Dia menabung sejumlah USD 50 dalam 1 tahun dan mulai meminjam, dan dalam periode waktu tertentu Dia dapat membeli mesin jahit.  Dia mulai menjahit dan ternyata hal ini yang dia lakukan sampai saat ini, kemudian jahitannya dijual di pasar pakaian bekas dan dengan uang sebesar USD 3,25 dia bias membeli sebuah  gaun bekas.  Barangkali beberapa dari pakaian bekas tersebut adalah pemberian dari Anda.  Dia menjahitnya kembali dengan menambahkan ornamen, pita dan membuat  konveksi yang lebih lucu dan menarik yang kemudian dia jual kepada nasabah perempuan misalnya untuk hari ulang tahun ke 16 anak perempuannya atau kegiatan pada hari keagamaan. – pencapaian itu di dalam sebuah kehidupan dimana manusia merayakannya di dalam spektrum perekonomian.  Dan Dia menjalankan bisnisnya dengan sangat baik, bahkan Saya memperhatian Dia berjalan di Jalan penuh percaya diri.  Dan sebelum Anda sadari ada kerumunan wanita yang mengerubungi dirinya untuk membeli baju-baju pesta jahitannya. jamii_bora_7
    Dan Saya merefleksi ketika Saya melihat dia menjual baju-bajunya dan perhiasan yang dia buat.  Sekarang, Jane mendapatkan penghasilan USD 4 setiap harinya.  Dan berdasarkan definisi kemiskinan umum, Dia sudah tidak lagi miskin.  Tapi dia masih tinggal di Bukit Mathare.  Dan Dia tidak bias keluar dari lingkungan tersebut.  Dia tinggal di sana dengan segala ketidakamanan. Bahkan di bulan Januari ketika terjadi huru-hara rasial, Dia dikejar-kejar keluar dari rumahnya dan harus menemukan rumah seng baru di mana Dia bias tinggal di dalamnya.

    Jamii Bora (Institusi Pembiyaan Mikro di Kenya) memahami situasi tersebut dan memahami ketika kita berbicara mengenai kemiskinan kita harus melihat kepada manusia dalam berbagai aspek ekonomi. Sama seperti dengan pasien modal dari Acumen dan organisasi lainnya, pinjaman, dan investasi yang akan diberikan untuk jangka waktu yang panjang untuk mereka, mereka membangun rumah dengan biaya rendah sekitar 1 jam di luar di luar Nairobi tengah.  Mereka mendesainnya dari prespektif nasabah seperti Jane,  memastikan adanya tanggung jawab dan kepercayaan.  Akhirnya dia harus memberikan 10% dari nilai total KPRnya atau sekitar USD 400 di tabungannya.  Dan Mereka melakukan matching KPRnya dengan jumlah uang yang Dia bayarkan untuk menyewa rumah sengnya.kaputeipointing

    Ketika saya bertanya kepadanya apakah dia tahu terhadap segala sesuatu atau apakah dia akan merindukan sesuatu dari Mathare, Dia berkata,”Apakaha yang akan saya takutkan yang di dalam hidup saya belum pernah saya alami? Saya pengidap positif HIV.  Saya sudah mengalami semuanya.” Dan Dia berkata,”Apa yang saya lewatkan? Kamu kira saya akan merindukan kekerasan atau narkoba? Kehilangan privasi saya? Anda kira saya akan kehilangan ketidaktahuan saya apakah anak-anak saya akan pulang ke rumah di akhir hari?” Dan Dia berkata” jika Anda berikan saya waktu 10 menit, saya akan mengepak tas saya.” Saya berkata,”Well bagaimana dengan mimpi-mimpimu?” dan Dia berkata,”Well Anda tahu mimpi-mimpi saya tidak terlihat sama dengan yang saya bayangkan sebelumnya ketika Saya masih kecil. Tetapi jika Saya mengenangnya, Saya berpikir Saya ingin seorang suami, tetapi yang benar-benar Saya inginkan adalah sebuah keluarga yang saling mencintai.  Dan Saya begitu mencintai anak-anak Saya, dan mereka mencintai Saya juga.”  Dia berkata,” Saya piker saya ingin menjadi dokter, namun apa yang benar-benar Saya inginkan adalah menjadi seseorang yang dapat melayani dan menyembuhkan serta disembuhkan.  Dan kemudian saya merasa mendapat keberkahan dengan segala sesuatu yang saya miliki, dimana 2 hari dalam 1 minggu  saya pergi dan memberikan konseling kepada pasien HIV, lihatlah Saya Anda belum meninggal.  Anda masih hidup. Jika Anda masih hidup Anda harus melayani.” Dan Dia berkata, “ Saya bukan seorang dokter yang akan memberikan pil.  Tapi kemungkinan saya memberikan lebih baik karena Saya memberikan mereka harapan.”

    Dan di tengah-tengah krisis ekonomi seperti sekarang ini, dimana begitu banyak dari kita cenderung untuk menghadapinya dengan rasa takut, Saya rasa kita bisa belajar dari Jane dan maju ke depan, melakukan pengenalan sendiri bahwa menjadi miskin bukan berarti menjadi sama dengan nasib kebanyakan orang.  Karena ketika sistem-sistem yang ada hancur, seperti yang kita lihat di seluruh dunia, ini adalah sebuah kesempatan untuk membuat terobosan baru dan inovasi.  Ini adalah sebuah kesempatan untuk benar-benar membangun dunia dimana kita dapat melebarkan sayap dengan produk dan layanan kepada semua umat manusia, sehingga mereka dapat memiliki kesempatan untuk membuat keputusan dan pilihan bagi diri mereka sendiri.  Saya sangat percaya pada hal tesebut dimana rasa percaya diri dimulai.  Kita berhutang kepada Jane dan dunianya.  Dan sama pentingnya kita berhutang pada diri kita sendiri.

    Terima Kasih

    Wallahu’alam bi showaab

    Disadur dari pidato Jacqueline Novogratz- on escaping poverty & pengarang buku “The Blue Sweater – Bridging the Gap Between Rich and Poor in an Interconnected World”

     
  • ghifi 10:09 am on June 7, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    My Life’s Inspiration 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    5-my-lifeI always ask to myself, what is my purpose in life? This is a life of an ordinary person, a life that is far from glamour, a life that no one ever imagine. Well I have a quite lists of those now, but perhaps only a few seem within my grasp.

    When I work on my computer, I saw status updates from various people in the social networks (say twitter or facebook), some are meaningful others are not, some are talking about having difficulty of sleeping, some talk about small things (sometimes angry stuff), some say words of prayer,  it’s like a beautiful noise. But even if it’s far from a purpose of this life, I guess what important is that it matters.  The virtual world makes me able to see what people really care about.

    Reflection is a big word for me.  I try to look at a mirror of me and see myself through, but sometimes I just can’t see easily, and I have a blurry kind of dream.  A dream I would never have when I was small.  It is very uneasy when you need to turn back around looking, I never know until people start helping me remember.  It is a good thing to have a little perspective from others; since on the virtual world we never felt intimidated by others, it is far distant from real face to face contact.  I guess having face to face contact is becoming rather tedious today, when I don’t wanna say the truth, I just put a seal on my mouth (though my heart telling me to be honest), suppressing the unpleasant facts. In virtual world, you aren’t afraid to criticize or scold or praise others easily, I envision the virtual world will turn into the real things somehow, but it has to be in a better way.

    inspirationMy reflection so far is my flesh & blood, called family. My daily life today has moved tremendously fast, and I can’t somehow deny this.  Once in a blue sky, I prefer going back to the basic, that’s when you are disconnected from the virtual world. Disconnected makes me able to think fresh, to see the world as is, even though sometimes I felt a little bit old fashion.

    It was like last night when I accompanied my friend, a mature confident profile I would say, she is not even close to my average age, but she still has a dream doing things with her own creation that may help making people life to improve, so inspiring.

    Though, I have mine, but it’s really far from perfect.  I just got the impression that by helping someone else on doing whatever she/he does best, it’s like I am helping myself (through unconscious mind ).

    wallahua’lam bi showaab

    Insya Allah my life still goes on…

     
    • Dian Milani Hakim 12:55 am on Juni 10, 2009 Permalink

      Ghifi…the writings is sooo nice. When I read it, I know that it’s from ur heart. May ur inspiration filled with Allah bless, and inspire others to share their inspiration too to their world… Nite…and thank u to share…

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal