Marketing Therapy di Masa Krisis
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Dengan persaingan bisnis yang sangat sengit seperti ini, adalah sangat berat apabila dalam berbisnis kita hanya mengandalkan strategi menjual produk-produk komoditas, misalnya kalau di perbankan ada produk tabungan, deposito, rekening giro, asuransi, kredit korporasi/komersial, maupun jasa-jasa yang seperti jasa pembayaran maupun transaksi/transfer antar bank terutama sekali menghadapi pasar yang secara terpaksa mengalami downshifter.
Definisi downshifter sendiri ada dua, yaitu yang secara voluntary(sukarela) dimana nasabah ini memiliki perilaku untuk mengurangi konsumsi dan untuk hidup lebih sederhana. Kehidupan yang menurut riset di negara-negara maju seperti di Australia dan Amerika Serikat di mana nasabah seperti ini mengurangi jam kerja atau memilih pekerjaan dengan bayaran lebih rendah atau bahkan berhenti bekerja dan memilih berbisnis sendiri dengan tujuan untuk memiliki waktu lebih bersama keluarga (35%), memiliki gaya hidup yang lebih sehat (27%), mencari keseimbangan dalam hidup (komunitas) (16%). Nasabah seperti ini terbiasa bekerja keras di masa lalu ketika ekonomi bertumbuh, namun dia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, atau melakukan sesuatu yang dia sukai, atau bahkan mulai dari pertengkaran-pertengkaran kecil di dalam keluarga sehingga mengalami perceraian, atau kehilangan anggota keluarga dekat, mendapatkan penyakit serius, atau ketika usahanya mengalami kebangkrutan. Yang apabila ditimbang-timbang sebenarnya antara biaya yang dikeluarkan (kuantitatif & kualitatif) dibandingkan dengan keuntungan yang didapat tidak setimpal. Downshifting tipe ini bertujuan untuk ‘upshift‘ area kehidupan selain dari pekerjaan orang tersebut. Di negara maju terutamanya, downshifting sudah menjadi core belief dan kita akan bicara banyak mengenai hal ini.
Downshifting tipe yang kedua adalah merupakan kondisi yang memaksa, terutama pada saat krisis, banyak orang kehilangan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih kecil, sehingga mereka dengan terpaksa mengurangi konsumsi. Untuk tipe ini barangkali sangat relevan di negara-negara berkembang atau yang terimbas krisis seperti di republik ini ketika banyak perusahaan yang berorentasi ekspor mengalami downsizing bahkan kebangkrutan, sehingga harus mengurangi jumlah pekerjanya.
Penulis melihat bahwa downshifting tidak berarti konsumsi masyarakat menjadi berkurang, ini hanya menandakan bahwa mereka memindahkan alokasi konsumsi mereka dan ini juga berarti bahwa sektor UMKM makin berkembang pesat karena banyaknya orang-orang yang tadinya berstatus pegawai, kemudian mereka banting stir mencoba untuk membuka usaha kecil-kecilan lewat sektor informal, dan tentunya kesempatan untuk berbisnis ini muncul ketika krisis karena bisa jadi adanya downshifting, ditambah mereka mencari alternatif pendapatan serta biaya untuk memulai bisnis biasanya juga lebih murah.
Para downshifter biasanya akan mengkonsumsi lebih sedikit dan pindah ke rumah yang lebih sederhana untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih bahagia. Penulis pernah menulis bahwa materialisme tidak membawa kebahagiaan, dan begitu banyak downshifter tipe satu dan tipe dua yang ada di republik ini. Ini adalah kesempatan emas bagi pelaku bisnis untuk memberikan solusi, jemput bola kebutuhan para nasabah downshifter ini.
Hal ini harus disikapi dengan dewasa oleh pelaku bisnis, karena bisa jadi sumber daya manusia tidak siap menghadapi hal-hal seperti ini, mereka bisa jadi demotivasi karena beranggapan bahwa bisnis masih suka saling membajak sumber daya manusia dari pesaingnya dan fokus pada produk-produk yang dimiliki bahkan masih banyak cemooh bahwa pelaku bisnis hanya mencari keuntungan jangka pendek saja tidak peduli akan live and soul dari organisasinya.
Namun dalam visi untuk membentuk ke depan, perilaku konsumen dan perubahan lingkungan harus terus menerus menjadi perhatian, sebenarnya solusi apa yang paling sesuai dengan pasar dan kemampuan bisnis itu sendiri.
Marketing therapy sebenarnya adalah suatu metode untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) suatu organisasi untuk menghadapi perubahan perilaku nasabah yang berlangsung terus menerus. Self assessment (melalui psichology/cognitive questionnaire yang dapat diadopsi dari beberapa sumber(1) ) kepada tim sales/marketing harus dilakukan bukan untuk menguji personaliti kita tetapi lebih seperti semacam coaching atau pun focus discussion group untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan tim, dan bagaimana untuk menterapi agar ghiroh dalam berjuang menjadi lebih tinggi sesuai dengan core belief, visi dan misi organisasi.
Core Belief
Sebagai contoh semakin banyak orang minta fotonya diulang! Dalam era digital dewasa ini, orang-orang kita punya kebiasaan baru, yaitu senang berfoto. Perhatikanlah isi tas teman-teman kita. Umumnya mreka punya kamera digital, baik berupa mini camera atau kamera yang ada di ponsel mereka. Lantas perhatikanlah, mengambil gambar sama yang sama berkali-kali. Sekali gambar diambil mereka melihatnya di layar monitor. Mengapa mereka mengambil foto diulang-ulang? Benar, karena gambarnya kurang bagus. Kelebihan cahaya, kurang sinar, terlalu gelap, atau mereka minta diulang karena tidak puas melihat wajahnya tidak bagus di dalam layar monitor. Entah terlihat murung, kurang senyum, mata merem, kurang gagah, tidak cantik, terkesan galak, pokoknya mereka tidak menyukainya. Penulis sering bertanya, wajah siapa yang pertama-tama Anda lihat begitu foto bersama bisa dilihat hasilnya? Jelas sekali, tentu wajah kita sendiri bukan? Manusia mengatakan sebuah foto itu bagus atau jelek, minta diulang atau tidak, bukan karena wajah teman-temannya, melainkan karena wajahnya sendiri yang terlihat kurang bagus.
Diri kita adalah kepribadian kita. Demikian pulalah dengan belief (prinsip) kita. Ia merupakan potret bagi diri kita. Kalau foto itu bagus, Anda ingin melihatnya berulang-ulang dan ingin kita berikan kepada teman-teman, kita tampilkan ke dalam blog, facebook, flickr, picasa, dan situs-situs lain di dunia maya. Kita berpikir mereka semua menerima kita karena potret kita bagus dan menarik. Kita ingin semua orang bilang kita cantik/ganteng, smart, ceria, dan seterusnya. Kita punya rasa percaya diri dan Kita merasa diterima. Kita punya ekspektasi positif dari belief yang positif. Sebaliknya kalau potret itu tidak begitu bagus, wajah kita terlihat melotot, tidak simetris, judes, bodoh, arogan, dan sebagainya dapat membuat kita khawatir orang akan menjauh dan tak menginginkan kita. Kita sudah memproyeksikan bahwa orang akan mengejek, menghina, menjauhi, dan meyulitkan kita.
Potret diri itu adalah identitas kita. Demikian pula belief kita. Ia adalah identitas kita. Belief mencerminkan diri kita yang sebenarnya. Kalau ia bagus dan menarik, ama kita percaya bahwa kita akan disenangi. Sebaliknya kalau ia tidak simetris, banyak masalah dan ketakutan, ancaman dan kesulitan-kesulitan, ia mengingatkan kita akan kemungkinan penolakan, ketersinggungan, kebencian, penyingkiran, kegagalan, dan sebagainya.
Kalau belief kita cerah dan bersemgangat, kita akan menyatakan sebaliknya. Kita mebayangkan dunia yang indah-indah. Penjualan yang naik terus, orang-orang bisa mendapatkan pekerjaan, keluarga mereka bahagia, anak-anak mereka dan anak-anak kita bisa bersekolah tinggi, dapat membiayai pemeliharaan kesehatan, semua orang mendapat bonus, kita bisa mencicil rumah dengan tenang, orangtua naik haji dengan nyaman, memperoleh tanda penghargaan, diterima baik oleh tetangga dan teman-teman.
Dengan gambaran yang demikian, kita akan menurunkan aturan: Jangan menyerah, maju terus, dunia bisa lebih indah kalau saya mengubahnya, krisis tidak terjadi di sini karena saya ada. Jadi belief itu akan mengantarkan kita ke mana hidup kita kendalikan. Ia akan menarik orang-orang yang sepaham dan bergerak berirama menuju satu tujuan, apakah membuka pintu surga atau menutupnya, ke surga atau ke neraka, ke arah bahagia atau penderitaan.
Bagi para manajer, ini adalah kesempatan untuk menata kembali tim sales dan marketingnya untuk melakukan assessment menggunakan metode ini untuk mencocokkan core value para pegawai dengan core value perusahaan dan apabila ada mismatch maka harus ada perbaikan (dalam bentuk therapy psikis) bisa dalam bentuk aktivitas untuk menguatkan kinerja tim atau komitmen antara atasan dan bawahan atau antara perusahaan dengan pegawai, atau penugasan dan lain sebagainya yang semuanya bertujuan melakukan matching dengan core value perusahaan, namun apabila langkah-langkah ini gagal dilakukan tentunya manajer dapat mengambil cara-cara lain seperti rotasi dan rolling di dalam organisasi sesuai dengan kompetensi dan ghiroh para pegawai untuk memastikan keefektifan sebuah organisasi.
Tak dapat dipungkiri bahwa dunia ini terus berubah, dibentuk dan dipertajam oleh seluruh makhluk yang mendiami bumi ini. Maka, tak ada kata kunci lain selain ikut berubah, menyesuaikan diri, atau beradaptasi. Bila tidak, bersiaplah untuk dilindas oleh perubahan, seperti halnya dinosaurus yang telah punah. Kita sudah menyaksikan sendiri betapa berbahayanya menahan perubahan. Itulah yang dialami bangsa ini beberapa kali berturut-turut dalam 40 tahun terakhir ini. Ini dialami oleh para penguasa politik, presiden, pemilik perusahaan, pemilik merek-merek, dan tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang selalu menyuarakan perlawanan daripada ikut bergulat dalam perubahan. Saat alam berubah demikian pula hukum-hukumnya. Maka kita tidak bisa memakai hukum yang sama untuk menghadapi medan yang sudah berubah.
Barangkali untuk menghadapi krisis ini dibutuhkan play book (buku pedoman bermain) atau text book yang baru yang berasal dari hati dan pikiran yang benar-benar murni. Kita memulai melalui marketing therapyyaitu mengajak kita untuk melakukan therapy pada pasukan pemasaran kita agar lebih siap menghadapi krisis dengan keyakinan teguh untuk menang.
Wallahua’lam bishowaab
Referensi: Marketing in Crisis oleh Rhenald Kasali
(1) Comprehensive handbook of personality and psycopathology
Menyambut isra’ Mi’raj penulis mendapatkan nasihat yang sangat luar biasa yaitu mengenai “Khusyuk dalam Kehidupan” yang diberikan oleh teman tercinta penulis Uztad Arifin Jayadiningrat. Uztad Arifin merupakan teman lama penulis ketika sama-sama belajar di Cairo, Mesir. Kebetulan waktu itu penulis berada dalam satu kost dengan sang uztad. Beliau memang sangat energik dan merupakan seorang aktivis, begitu berbeda dibandingkan kebanyakan pelajar di Cairo pada waktu itu.
Pendekatan kepada khusyuk harus secara holistik, bahwa khusyuk dalam sholat tidak hanya bisa dicapai dengan pelatihan sholat khusyuk yang pelatihannya itu sendiri cukup mahal karena harus membayar Rp 2,5 juta misalnya. kekhusyukan seharusnya mudah dan bisa menjadi bagian dari perilaku kita di dalam kehidupan ini. Menurut Uztad Arifin kita harus lebih sering dan barangkali sesering mungkin untuk membiasakan diri melakukan ‘deep thinking’ dalam melihat apapun, ketika kita makan atau minum, ketika kita mempelajari tumbuh-tumbuhan, bergaul dengan lingkungan di sekitar, dan lain sebagainya. Sebagai contoh Allah Swt. menundukkan malam untuk kita agar kita dapat beristirahat, dan waktu ini tidak bisa digantikan dengan tidur di siang hari. Tidur di siang hari malah membuat kita pusing, dan kalau kita bisa melihat kebesaran-Nya, maka kita memahami tanda-tanda (kekuasaan) Allah Swt. Begitu banyak tanda kebesaran-Nya (2).
“Minta tolong (kepada) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ ” ,kemudian di akhir ayat, “(yaitu) Orang-orang yang meyakini bahwa mereka menemui Tuhannya (Robb) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”(4) Kalau kita ingat musibah yang menimpa republik ini kita merasa butuh kepada Allah Swt. melalui deep thinking dan berbuat kesabaran (sholat dan sabar yang menjadi kesatuan). Kemudian kita berdialog/bertemu dengan Allah Swt. seperti Mi’roj (di Sidratul Muntaha yang merupakan bagian dari Tauhid Rububiyah dan kemudian memahami bacaan sholat). Lalu kembali ingat kematian ketika sholat berakhir. Semua rangkaian ini menyebabkan kita kembali ke titik nol (kehambaan) yang menyebabkan tunduk/merendahkan/merasa hina tidak berdaya karena merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.
Kita bisa melihat contoh konkrit di kota Xinjiang, salah satu wilayah terbarat China, terjadi pertikaian antaran minoritas suku Uyghurs yang beragama Islam dengan suku Han yang merupakan pendatang dan mayoritas penduduk di kota tersebut yang menyebabkan kematian orang lebih dari 184 orang dan lebih dari 1000 orang terluka. Pertikaian Xinjiang apabila tidak ada tranparency barangkali tidak ada orang yang akan mengetahuinya, namun pertikaian ini sudah terendus oleh media sejak beberapa waktu yang lalu hingga menyebabkan Presiden China Hu Jintao harus meninggalkan KTT G8 di Italia untuk menangani masalah tersebut. Hal ini dimungkingkan karena adanya teknologi informasi baik melalui situs-situs, social media seperti facebook, twitter, maupun melalui jurnalis.
Budaya keterbukaan tidak ada dengan sendirinya, budaya information hoarding terlalu kuat dalam sebuah organisasi apa pun, dan pemimpin harus menciptakan dan memberikan nurture budaya keterbukaan, artinya mereka harus bisa menjadi role model bagi budaya keterbukaan. Pemimpin harus mau berbagi informasi, mencari counterargument dari bawahannya, mengakui kesalahan, dan berusaha berperilaku sesuai dengan norma seorang pemimpin inginkan dari orang lain untuk berperilaku.
yang begitu mulia. Penulis sendiri kebetulan sedang membaca Al-Qur’an dan kebetulan berada di ayat-ayat pertengahan di Surat Al-Anfal (Surat ke-8) di sana penulis melihat pada ayat-ayat 47-54, seperti merefleksikan keadaan sebuah masyarakat besar yang angkuh seperti jaman Pharaoh (Mesir kuno) salah satunya dimana di dalam review buku tersebut disebut sebagai “Hubris born of Success” yang berarti adalah kesombongan karena kesuksesan dan menurut Al-Quran ini adalah hasil bisikan setan yang membuat organisasi atau masyarakat tersebut berpendapat,:”Tidak ada yang dapat mengalahkan Kami pada hari ini”
visit my blog
http://jerzz.wordpress.com/