Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • ghifi 9:46 am on July 25, 2009 Permalink | Balas
    Tags: downshifting, , , marketing   

    Marketing Therapy di Masa Krisis 

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    slow down downshiftingDengan persaingan bisnis yang sangat sengit seperti ini, adalah sangat berat apabila dalam berbisnis kita hanya mengandalkan strategi menjual produk-produk komoditas, misalnya kalau di perbankan ada produk tabungan, deposito, rekening giro, asuransi, kredit korporasi/komersial, maupun jasa-jasa yang seperti jasa pembayaran maupun transaksi/transfer antar bank terutama sekali menghadapi pasar yang secara terpaksa mengalami downshifter.

    Definisi downshifter sendiri ada dua, yaitu yang secara voluntary(sukarela) dimana nasabah ini memiliki perilaku untuk mengurangi konsumsi dan untuk hidup lebih sederhana. Kehidupan yang menurut riset di negara-negara maju seperti di Australia dan Amerika Serikat di mana nasabah seperti ini mengurangi jam kerja atau memilih pekerjaan dengan bayaran lebih rendah atau bahkan berhenti bekerja dan memilih berbisnis sendiri dengan tujuan untuk  memiliki waktu lebih bersama keluarga (35%), memiliki gaya hidup yang lebih sehat (27%), mencari keseimbangan dalam hidup (komunitas)  (16%). Nasabah seperti ini terbiasa bekerja keras di masa lalu ketika ekonomi bertumbuh, namun dia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, atau melakukan sesuatu yang dia sukai, atau  bahkan mulai dari  pertengkaran-pertengkaran kecil di dalam keluarga sehingga mengalami perceraian, atau kehilangan anggota keluarga dekat, mendapatkan penyakit serius, atau ketika usahanya mengalami kebangkrutan.   Yang apabila ditimbang-timbang sebenarnya antara biaya yang dikeluarkan (kuantitatif & kualitatif) dibandingkan dengan keuntungan yang didapat tidak setimpal. Downshifting tipe ini bertujuan untuk ‘upshift‘ area kehidupan selain dari pekerjaan orang tersebut.  Di negara maju terutamanya, downshifting sudah menjadi core belief dan kita akan bicara banyak mengenai hal ini.

    Downshifting tipe yang kedua adalah merupakan kondisi yang memaksa, terutama pada saat krisis, banyak orang kehilangan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih kecil, sehingga mereka dengan terpaksa mengurangi konsumsi.  Untuk tipe ini barangkali sangat relevan di negara-negara berkembang atau yang terimbas krisis seperti di republik ini ketika banyak perusahaan yang berorentasi ekspor mengalami downsizing bahkan kebangkrutan, sehingga harus mengurangi jumlah pekerjanya.

    Penulis melihat bahwa downshifting tidak berarti konsumsi masyarakat menjadi berkurang, ini hanya menandakan bahwa mereka memindahkan alokasi konsumsi mereka dan ini juga berarti bahwa sektor UMKM makin berkembang pesat karena banyaknya orang-orang yang tadinya berstatus pegawai, kemudian mereka banting stir mencoba untuk membuka usaha kecil-kecilan lewat sektor informal, dan tentunya  kesempatan untuk berbisnis ini muncul ketika krisis karena bisa jadi adanya downshifting, ditambah mereka mencari alternatif pendapatan serta biaya untuk memulai bisnis biasanya juga lebih murah.

    Para downshifter biasanya akan mengkonsumsi lebih sedikit dan pindah ke rumah yang lebih sederhana untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih bahagia.  Penulis pernah menulis bahwa materialisme tidak membawa kebahagiaan, dan begitu banyak downshifter tipe satu dan tipe dua yang ada di republik ini.  Ini adalah kesempatan emas bagi pelaku bisnis untuk memberikan solusi, jemput bola kebutuhan para nasabah downshifter ini.Downshifting to enjoy life revised

    Hal ini harus disikapi dengan dewasa oleh pelaku bisnis, karena bisa jadi sumber daya manusia tidak siap menghadapi hal-hal seperti ini, mereka bisa jadi demotivasi karena beranggapan bahwa bisnis masih suka saling membajak sumber daya manusia dari pesaingnya dan fokus pada produk-produk yang dimiliki bahkan masih banyak cemooh bahwa pelaku bisnis hanya mencari keuntungan jangka pendek saja tidak peduli akan live and soul dari organisasinya.

    Namun dalam visi untuk membentuk ke depan, perilaku konsumen dan perubahan lingkungan harus terus menerus menjadi perhatian, sebenarnya solusi apa yang paling sesuai dengan pasar dan kemampuan bisnis itu sendiri.

    Marketing therapy sebenarnya adalah suatu metode untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) suatu organisasi untuk menghadapi perubahan perilaku nasabah yang berlangsung terus menerus.  Self assessment (melalui psichology/cognitive questionnaire yang dapat diadopsi dari beberapa sumber(1) ) kepada tim sales/marketing harus dilakukan bukan untuk menguji personaliti kita tetapi lebih seperti semacam coaching atau pun focus discussion group untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan tim, dan bagaimana untuk menterapi agar ghiroh dalam berjuang menjadi lebih tinggi sesuai dengan core belief, visi dan misi organisasi.

    Core Belief

    Sebagai contoh semakin banyak orang minta fotonya diulang! Dalam era digital dewasa ini, orang-orang kita punya kebiasaan baru, yaitu senang berfoto. Perhatikanlah isi tas teman-teman kita.  Umumnya mreka punya kamera digital, baik berupa mini camera atau kamera yang ada di ponsel mereka. Lantas perhatikanlah, mengambil gambar sama yang sama berkali-kali. Sekali gambar diambil mereka melihatnya di layar monitor. Mengapa mereka mengambil foto diulang-ulang?  Benar, karena gambarnya kurang bagus. Kelebihan cahaya, kurang sinar, terlalu gelap, atau mereka minta diulang karena tidak puas melihat wajahnya tidak bagus di dalam layar monitor.  Entah terlihat murung, kurang senyum, mata merem, kurang gagah, tidak cantik, terkesan galak, pokoknya mereka tidak menyukainya. Penulis sering bertanya, wajah siapa yang pertama-tama Anda lihat begitu foto bersama bisa dilihat hasilnya? Jelas sekali, tentu wajah kita sendiri bukan? Manusia mengatakan sebuah foto itu bagus atau jelek, minta diulang atau tidak, bukan karena wajah teman-temannya, melainkan karena wajahnya sendiri yang terlihat kurang bagus.

    Diri kita adalah kepribadian kita.  Demikian pulalah dengan belief (prinsip) kita.  Ia merupakan potret bagi diri kita.  Kalau foto itu bagus, Anda ingin melihatnya berulang-ulang dan ingin kita berikan kepada teman-teman, kita tampilkan ke dalam blog, facebook, flickr, picasa, dan situs-situs lain di dunia maya. Kita berpikir mereka semua menerima kita karena potret kita bagus dan menarik.  Kita ingin semua orang bilang kita cantik/ganteng, smart, ceria, dan seterusnya.  Kita punya rasa percaya diri dan Kita merasa diterima.  Kita punya ekspektasi positif dari belief yang positif.  Sebaliknya kalau potret itu tidak begitu bagus, wajah kita terlihat melotot, tidak simetris, judes, bodoh, arogan, dan sebagainya dapat membuat kita khawatir orang akan menjauh dan tak menginginkan kita.  Kita sudah memproyeksikan bahwa orang akan mengejek, menghina, menjauhi, dan meyulitkan kita.

    marketing psychotherapyPotret diri itu adalah identitas kita.  Demikian pula belief kita. Ia adalah identitas kita. Belief mencerminkan diri kita yang sebenarnya.  Kalau ia bagus dan menarik, ama kita percaya bahwa kita akan disenangi.  Sebaliknya kalau ia tidak simetris, banyak masalah dan ketakutan, ancaman dan kesulitan-kesulitan, ia mengingatkan kita akan kemungkinan penolakan, ketersinggungan, kebencian, penyingkiran, kegagalan, dan sebagainya.

    Kalau belief kita cerah dan bersemgangat, kita akan menyatakan sebaliknya.  Kita mebayangkan dunia yang indah-indah.  Penjualan yang naik terus, orang-orang bisa mendapatkan pekerjaan, keluarga mereka bahagia, anak-anak mereka dan anak-anak kita bisa bersekolah tinggi, dapat membiayai pemeliharaan kesehatan, semua orang mendapat bonus, kita bisa mencicil rumah dengan tenang, orangtua naik haji dengan nyaman, memperoleh tanda penghargaan, diterima baik oleh tetangga dan teman-teman.

    Dengan gambaran yang demikian, kita akan menurunkan aturan: Jangan menyerah, maju terus, dunia bisa lebih indah kalau saya mengubahnya, krisis tidak terjadi di sini karena saya ada. Jadi belief itu akan mengantarkan kita ke mana hidup kita kendalikan.  Ia akan menarik orang-orang yang sepaham dan bergerak berirama menuju satu tujuan, apakah membuka pintu surga atau menutupnya, ke surga atau ke neraka, ke arah bahagia atau penderitaan.

    Bagi para manajer, ini adalah kesempatan untuk menata kembali tim sales dan marketingnya untuk melakukan assessment menggunakan metode ini untuk mencocokkan core value para pegawai dengan core value perusahaan dan apabila ada mismatch maka harus ada perbaikan (dalam bentuk therapy psikis) bisa dalam bentuk aktivitas untuk menguatkan kinerja tim atau komitmen antara atasan dan bawahan atau antara perusahaan dengan pegawai, atau penugasan dan lain sebagainya yang semuanya bertujuan  melakukan matching dengan core value perusahaan, namun apabila langkah-langkah ini gagal dilakukan tentunya manajer dapat mengambil cara-cara lain seperti rotasi dan rolling di dalam organisasi sesuai dengan kompetensi dan ghiroh para pegawai untuk memastikan keefektifan sebuah organisasi.

    Tak dapat dipungkiri bahwa dunia ini terus berubah, dibentuk dan dipertajam oleh seluruh makhluk yang mendiami bumi ini.  Maka, tak ada kata kunci lain selain ikut berubah, menyesuaikan diri, atau beradaptasi. Bila tidak, bersiaplah untuk dilindas oleh perubahan, seperti halnya dinosaurus yang telah punah. Kita sudah menyaksikan sendiri betapa berbahayanya menahan perubahan.  Itulah yang dialami bangsa ini beberapa kali berturut-turut dalam 40 tahun terakhir ini. Ini dialami oleh para penguasa politik, presiden, pemilik perusahaan, pemilik merek-merek, dan tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang selalu menyuarakan perlawanan daripada ikut bergulat dalam perubahan.  Saat alam berubah demikian pula hukum-hukumnya. Maka kita tidak bisa memakai hukum yang sama untuk menghadapi medan yang sudah berubah.

    Barangkali untuk menghadapi krisis ini dibutuhkan play book (buku pedoman bermain) atau text book yang baru yang berasal dari hati dan pikiran yang benar-benar murni.  Kita memulai melalui marketing therapyyaitu mengajak kita untuk melakukan therapy pada pasukan pemasaran kita agar lebih siap menghadapi krisis dengan keyakinan teguh untuk menang.

    Wallahua’lam bishowaab

    Referensi: Marketing in Crisis oleh Rhenald Kasali

    (1) Comprehensive handbook of personality and psycopathology

     
  • ghifi 7:36 am on July 18, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , Hadist, , , prayer, Religious Thought, sholat   

    Khusyu’ dalam Kehidupan 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    khusyukMenyambut isra’ Mi’raj penulis mendapatkan nasihat yang sangat luar biasa yaitu mengenai “Khusyuk dalam Kehidupan” yang diberikan oleh teman tercinta penulis Uztad Arifin Jayadiningrat.  Uztad Arifin merupakan teman lama penulis ketika sama-sama belajar di Cairo, Mesir.  Kebetulan waktu itu penulis berada dalam satu kost dengan sang uztad.  Beliau memang sangat energik dan merupakan seorang aktivis, begitu berbeda dibandingkan kebanyakan pelajar di Cairo pada waktu itu.

    Beliau membedakan dua pemahaman khusyuk, pemahaman di masa lampau (textual) dan pemahaman pada hari ini (textual dan contextual).  Pemahaman di masa lalu adalah agama yang dipahami melalui pendekatan budaya, sedangkan pemahaman hari ini adalah pendekatan berdasarkan desain Al-Qur’an dan Hadist, sehingga lahirlah khusyuk yang kita lama kenal yaitu khusyuk di dalam sholat karena memang kata-kata khusyuk ada di dalam sholat.  Berbeda dengan pemahaman berdasarkan desain Al-Qur’an dan Hadist bahwa pemahaman khusyuk harus secara menyeluruh.

    Khusyuk menurut Al-Qur’an dan Hadist dapat memiliki makna seperti ‘tunduk merasa hina atau tunduk rasa takut’, ‘lembut hati /tunduk’, ‘merendahkan’, ’sifat ideal dalam hidup’, ’sholat’, ‘doa’, atau ‘rendah hati’ (1).  Pada intinya khusyuk tidak hanya dalam sholat tapi dalam total kehidupan.

    Khusyuk itu Mudah

    Untuk mencapai tingkat kekhusyukan sesuai desain Al-Qur’an dan Hadist tidaklah susah seperti yang dibayangkan karena Allah Swt. menghendaki agar dalam beribadah itu haruslah mudah.  Sebagai contoh seorang anak yang belum bisa naik sepeda melihat temannya yang sudah bisa naik sepeda atau bahkan sepeda motor dengan baik menjadi bertanya-tanya,” Gimana sih kamu bisa naik sepeda dengan lancar?” sedangkan anak yang sudah lancar bersepeda dengan ringan menjawab,”Ya yang penting latihan aja!” Coba sekarang bayangkan pertanyaan itu dilontarkan oleh orang yang sudah dewasa kepada anak yang sudah bisa bersepeda, maka Anak tersebut akan menjawab,”Sudah sebesar ini belum bisa bersepeda?” dengan pertanyaan yang penuh keheranan.

    Hal ini juga berlaku kepada kita yang sudah dewasa tetapi untuk sholat khusyuk aja susah! Menurut hadist riwayat Muslim, pernah Rasulullah Saw. meminta salah seorang sahabatnya untuk melakukan sholat dengan khusyuk, dan setelah 3 (tiga) kali mencoba sahabat tersebut masih diminta Rasulullah Saw untuk mengulang, maka Sahabat tersebut menyerah dan meminta petunjuk Rasul.  Rasul mengajarkan bahwa dalam melakukan sholat harus sabar tidak boleh terburu-buru sepertinya terkena bisikan setan untuk mengejar rutinitas duniawi, dan  tidak memungkinkan orang tersebut untuk melaksanakan sholat dengan khusyuk. Coba bayangkan kalau Rasulullah Saw. masih hidup dan melihat kita sholat kemudian Beliau memanggil kita dengan lembut, serta berkata,”Wahai Saudaraku yang Aku cintai, sepertinya  sholat Akhi/Ukhti masih belum khusyuk, mohon untuk bisa diulang kembali.”  Berarti selama bertahun-tahun sholat kita tidak pernah benar!!!  Sungguh memprihatinkan mudah-mudahan kita semua bukan salah satu diantaranya.

    Pendekatan Holistik (Menyeluruh)

    sholat-khusyukPendekatan kepada khusyuk harus secara holistik, bahwa khusyuk dalam sholat tidak hanya bisa dicapai dengan pelatihan sholat khusyuk yang pelatihannya itu sendiri cukup mahal karena harus membayar Rp 2,5 juta misalnya. kekhusyukan seharusnya mudah dan bisa menjadi bagian dari perilaku kita di dalam kehidupan ini. Menurut Uztad Arifin kita harus lebih sering dan barangkali sesering mungkin untuk membiasakan diri melakukan ‘deep thinking’ dalam melihat apapun, ketika kita makan atau minum, ketika kita mempelajari tumbuh-tumbuhan, bergaul dengan lingkungan di sekitar, dan lain sebagainya. Sebagai contoh Allah Swt. menundukkan malam untuk kita agar kita dapat beristirahat, dan waktu ini tidak bisa digantikan dengan tidur di siang hari.  Tidur di siang hari malah membuat kita pusing, dan kalau kita bisa melihat kebesaran-Nya, maka kita memahami tanda-tanda (kekuasaan) Allah Swt.  Begitu banyak tanda kebesaran-Nya (2).

    Kemudian tambahnya lagi, pikirkan kebesaran keagungan Allah Swt. Yang Maha Hebat!!! dan Melihat diri kita sebenarnya tak punya daya apa-apa.  Gunung saja yang merupakan ciptaan Allah Swt. sebagai makhluk paling besar di bumi ini hancur berkeping-keping karena khusyuk kepada Allah ketika menerima ayat-ayat Al-Qur’an Al Karim.  Namun, hati manusia yang bisa jadi lebih keras daripada gunung-gunung batu ciptaan Allah Swt. dengan deep thinking akan menjadi lembut dan akhirnya dapat mencapai khusyuk dalam kehidupan.

    Yang kedua menurut Uztad, biasakanlah untuk melihat kehidupan kita selama di dunia hanya sementara dan sebentar, hanya ujian untuk menuju kehidupan yang abadi.  kehidupan ini hanyalah pembekalan untuk menuju ‘kehidupan baru’ setelah kematian.  Jangan seperti yang disebut di QS 57:16 bahwa hati manusia menjadi keras karena ingin hidup panjang di dunia tidak pernah memikirkan kebesaran Allah Swt. atau ciptaan-Nya, rutinitas menjadi Tuhannya.  Tapi jadilah seperti Yahya di QS Al-Anbiya’:90 dimana beliau berdoa kepada Allah Swt. dengan penuh harap dan cemas untuk selalu mengarapkan-Nya setiap saat dan merasakan bersama-Nya. Khusyuk adalah merasakan betapa kita membutuhkan pertolongan Allah Swt. setiap saat dalam kehidupan, sehingga dengan membiasakan hal ini maka akan dapat memahami konsep dzikir dalam kehidupan.  Maka setiap saat kita akan mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui dzikir, ketika keluar dari kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah bangun tidur, dalam perjalanan, pekerjaan, bahkan ketika hubungan suami dan istri!  Sehingga otomatis hati kita (yang lembut) akan bergetar kita disebut nama Allah Swt.

    Rasulullah Saw. juga berdoa yang isinya:”Ya Allah Kumohon kepada-Mu, iman yang tetap, keyakinan yang membenarkan (jujur), ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, lisan yang selalu berdzikir. Dan Kumohon ampunan, kesehatan, keselamatan yang tetap baik di dunia dan di akhirat.”

    Kalau kita mencoba membaca ayat-ayat di Al-Qur’an Surat Al Imron 3: 189 – 191 Ingat Allah (Dzikir) dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring adalah melakukan dzikir dalam hidup kita secara total karena manusia hanya salah satu diantara tiga yaitu berdiri, duduk atau berbaring.  Dengan kata lain dzikir berkaitan dengan  khusyuk aktif yang dilakukan setiap saat.

    Satu kesimpulan besar bahwa khusyuk terdiri dua perilaku yang sangat penting mendukung kesuksesannya yaitu mengenal (Iqro’ atau deep thinking) yang merupakan bagian dari rukun Iman  yang diikuti dengan dzikir (pasrah dan mengingat) bagian dari rukun Islam.

    Khusyuk Selama Hidup di Dunia dan dalam Sholat

    “Negeri akhirat itu (sorga) Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri (khusyuk) dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik (surga) bagi orang-orang yang bertaqwa”(3)

    sabar dan sholat“Minta tolong (kepada) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ ” ,kemudian di akhir ayat, “(yaitu) Orang-orang yang meyakini bahwa mereka menemui Tuhannya (Robb) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”(4) Kalau kita ingat musibah yang menimpa republik ini kita merasa butuh kepada Allah Swt. melalui deep thinking dan berbuat kesabaran (sholat dan sabar yang menjadi kesatuan).  Kemudian kita berdialog/bertemu dengan Allah Swt. seperti Mi’roj (di Sidratul Muntaha yang merupakan bagian dari Tauhid Rububiyah dan kemudian memahami bacaan sholat).  Lalu kembali ingat kematian ketika sholat berakhir.  Semua rangkaian ini menyebabkan kita kembali ke titik nol (kehambaan) yang menyebabkan tunduk/merendahkan/merasa hina tidak berdaya karena merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

    Sebagai kesimpulan ada tiga step dalam mencapai kekhusyukan dalam sholat:

    1. Deep Thinking (Tauhid Rububiyah)
    2. Kemudian mengagungkan asma Allah Swt. (tauhid Uluhiya) bahwa Allah Swt. pencipta alam semesta (robbul ‘aalamiin)
    3. Mengingat diri sendiri (penghambaan) dan merendahkan serendah-rendahnya sampai titik nol (0) → khusyu’ yang merupakan pembangunan karakter / akhlak

    Wallahua’lam bishowaab

    Referensi: Materi Khusyu’ dalam Kehidupan oleh Arifin Jayadiningrat

    Wallahua’lam bishowaab

    Footnotes: (1)  QS 20:108, QS 57:16,QS 17:109,QS 59:21,QS 23:2, QS 2:45, QS 21:90, QS 3:199, QS 33:35, QS 42:45,QS 54:7,QS 41:39, QS 68:43, QS 70:44,QS 79:9,QS 88:2

    (2) QS 16: 10-19

    (3) QS 28: 83

    (4) QS 2: 45-46

     
  • ghifi 8:40 am on July 12, 2009 Permalink | Balas
    Tags: business ethics, , internet   

    Yang Dibutuhkan Selanjutnya: Budaya Kejujuran & Keterbukaan 

    Assalammu’alaikum wr wb

    ‘Kita tidak akan dapat membangun kepercayaan di dalam sebuah organisasi kecuali pemimpin belajar untuk berkomunikasi secara terbuka dan membangun organisasi dimana kejujuran adalah norma dalam berorganisasi’

    organization chart

    Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan lebih dari sekedar Good Corporate Governance, tentunya sebelum kita terbuka kepada pihak luar kita haru terbuka kepada diri kita sendiri.

    Bagi penulis bekerja di organisasi besar dimana bawahan berusaha melaporkan hal-hal yang disukai atasan adalah hal yang sering penulis temui dalam aktivitas sehari-hari.  Kami berusaha melaporkan informasi yang baik dilebih-lebihkan dan yang buruk disembunyikan kalau dalam istilah business ethics sering disebut dengan information hoarding. Bawahan selalu was-was apabila ada suatu permasalahan yang sulit diselesaikan diketahui oleh atasannya, dan atasannya akan sangat marah (menurut persepsi bawahan & mungkin bawahan tersebut juga benar)  ketika kejujuran dan keterbukaan menjadi bagian suara bawahannya.

    Namun demikian hari ini, di era keterbukaan seperti di era information super highway, arus informasi begitu mudah diketahui oleh orang tidak terbendung, sedikit saja terekspos, semua orang akan mengetahui.  Dan ketika “the day of reckoning” tiba maka adalah terlambat untuk melakukan langkah penyelamatan.

    Sebuah Kasus Kecil

    Penulis juga memiliki pengalaman yaitu sebagai contoh mengenai layanan electronic channel (e-channel) perbankan kepada nasabah seluruh nusantara dalam bentuk call center.  Penulis mengetahui bahwa ada dua hal fundamental yang sangat mempengaruhi layanan call center, yaitu yang pertama adalah sistem yang ramah dan handal, ditambah dengan layanan oleh staf call center yang juga ramah serta handal. Bisa jadi layanan ’suara’ manusia menjadi yang terpenting karena walaupun mesin sebenarnya dapat menjawab 90-100% pertanyaan nasabah baik dalam bentuk informasi, transaksi, overbooking (pemindahbukuan), buka rekening deposito, dan lain-lain, namun tetap saja nasabah lebih nyaman dengan layanan staf.

    Turn over (masuk keluar) staf call center yang melayani sangat tinggi (pada layanan tertentu) karena kebanyakan dari staf adalah pegawai outsourcing. Dengan tantangan yang cukup berat (melayani nasabah dengan prima namun dengan penghargaan minimum) ditambah dengan sistem yang tidak banyak membantu menjadi beban tersendiri. Manajer hanya peduli dengan reward-reward melalui acara-acara eksternal yang bersifat superficial yang memberikan nama harum namun tidak menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya di dalam.  Bahkan hal ini tidak banyak diketahui oleh pemimpin di organisasi kami, dan berlangsung cukup lama sehingga akhirnya terekspos ke publik dalam bentuk keluhan layanan yang tentunya mengakibatkan rusaknya citra layanan itu sendiri.  Manifestasi layanan cukup kompleks apabila dikaitkan dengan bisnis, namun keterbukaan dalam segala hal sangat diperlukan apalagi persaingan layanan di industri dimana penulis berada sangat tinggi.

    Dari cerita di atas, bahwa sebenarnya bawahan memiliki informasi penting untuk mencapai kesuksesan sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, namun karena pemimpin bertindak berdasarkan informasi yang terbatas, sedangkan bawahannya tidak mau bicara yang sebenarnya, pada akhirnya informasi tersebut diketahui oleh publik dan  menjadi terlambat untuk bertindak, karena pemimpin mengambil keputusan yang salah dan image organisasi sudah terlanjur buruk.  Suatu pengalaman yang tak terlupakan oleh penulis, dan menjadi satu ajang yang baik untuk pembelajaran penulis sendiri.

    Keterbukaan pada sebuah organisasi adalah masuk akal dan memenuhi kriteria etika dan menjadi prasyarat untuk menjalankan bisnis secara efisien dan efektif. Ketidakrelaan para eksekutif untuk memberikan keterbukaan dan kejujuran terhadap information, malahan cenderung melakukan information hoarding atau kontrol karena mereka melihat hal ini adalah sebagai sumber kekuasaan (source of power).  Manajer percaya bahwa akses kepada informasi adalah prasyarat untuk mendapatkan kekuasaan yang memisahkan kasta dirinya dari masyarakat kebanyakan.  Pemimpin yang demikian merasa mereka lebih pandai dari pengikutnya sehingga yang mereka butuhkan dan mereka tahu cara menggunakannya yaitu informasi yang sensitif dan kompleks. Beberapa lebih menyukai ketidaktransparanan karena mereka bisa menyembunyikan kesalahan dalam pengambilan keputusan yang memalukan.

    Keterbukaan Tidak Bisa Dihindari

    art.uyghur.protests.afp.giKita bisa melihat contoh konkrit  di kota Xinjiang, salah satu wilayah terbarat China, terjadi pertikaian antaran minoritas suku Uyghurs yang beragama Islam dengan suku Han yang merupakan pendatang dan mayoritas penduduk di kota tersebut yang menyebabkan kematian orang lebih dari 184 orang dan lebih dari 1000 orang terluka.  Pertikaian Xinjiang apabila tidak ada tranparency barangkali tidak ada orang yang akan mengetahuinya, namun pertikaian ini sudah terendus oleh media sejak beberapa waktu yang lalu hingga menyebabkan Presiden China Hu Jintao harus meninggalkan KTT G8 di Italia untuk menangani masalah tersebut.  Hal ini dimungkingkan karena adanya teknologi informasi baik melalui situs-situs, social media seperti facebook, twitter, maupun melalui jurnalis.

    Keterbukaan akan muncul ketika semua orang mencoba merahasiakannya, itulah mengapa keterbukaan sudah menjadi keharusan dan tidak bisa dihandiri, dan ketika sebuah organisasi tidak menyadarinya maka keterbukaan akan dipaksakan pada organisasi tersebut mau tidak mau.

    Membangun Budaya Keterbukaan

    Hand_plantBudaya keterbukaan tidak ada dengan sendirinya, budaya information hoarding terlalu kuat dalam sebuah organisasi apa pun, dan pemimpin harus menciptakan dan memberikan nurture budaya keterbukaan, artinya mereka harus bisa menjadi role model bagi budaya keterbukaan.  Pemimpin harus mau berbagi informasi, mencari counterargument dari bawahannya, mengakui kesalahan, dan berusaha berperilaku sesuai dengan norma seorang pemimpin inginkan dari orang lain untuk berperilaku.

    Dua hal yang menjadi inti dari budaya keterbukaan yaitu pertama, pemimpin harus berkata sejujur-jujurnya tanpa mengubah-ubah isi yaitu ketika pemimpin tersebut mengeluarkan pernyataan kepada semua level di organisasi, sehingga pengikut atau bawahannya berusaha mati-matian memberikan yang terbaik kepada organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

    Yang kedua, adalah pemimpin harus mendorong pengikut atau bawahannya untuk berkata yang sebenarnya.  Kebenaran membutuhkan dua hal dalam penyampaiannya yaitu orang yang mau mendengarkan dan orang yang berani mengatakannya. Hal ini terjadi di mana saja, di sebuah organisasi, komunitas, tim,  lembaga negara, sekolah, bahkan keluarga.  Jangan sampai menyampaikan kebenaran mendapatkan teror dari atasan yang menyebabkan bawahan atau pengikut tidak ingin berkata yang sebenarnya kepada dunia atau lebih spesifik kepada kepentingan organisasinya.

    Wallahua’lam bishowaab

    Referensi: Harvard Business Review Juni 2009

     
    • jerzz 11:51 am on Juli 12, 2009 Permalink

      visit my blog
      http://jerzz.wordpress.com/

    • Ronald 9:54 pm on Juli 13, 2009 Permalink

      Nice article mas..aplg mengingat unit dmana mas skg kerja,hehe..sukses slalu deh..

  • ghifi 9:31 am on July 5, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , greatness, history   

    Bagaimana Raksasa Dunia Jatuh, dan Bagaimana Dia Menolak untuk Menyerah! 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Melihat, mendengar dan membaca review buku ‘How the Mighty Fall‘ yang ditulis oleh Jim Collins, yang bercerita mengenai perusahaan-perusahaan besar jatuh, mengingatkan penulis bahwa dalam waktu dekat akan ada suksesi kepemimpinan di republik ini, baik pemimpin baru maupun pemimpin lama yang mungkin terpilih dan diangkat kembali. Penulis tidak akan berdebat siapa pemimpin yang akan terpilih, karena hal itu tidak penting, yang lebih penting adalah  bagaimana raksasa tersebut, bisa dalam bentuk perusahaan, industri, masyarakat, institusi, bahkan negara tidak terperosok kedalam siklus kehidupan.

    Paling mudah adalah belajar dari sejarah kehidupan, kejayaan perusahaan dan negara-negara di masa lalu, kenapa mereka bisa besar lalu jatuh dan hilang ditelan waktu! Pelajaran yang sangat berharga karena proses tersebut tidak berlangsung dalam waktu semalam, namun melalui fase-fase, terutama kaitannya dalam hal ini adalah fase-fase kejatuhan.

    Mungkin Allah Swt. memiliki cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi melalui ayat-ayat-Nya, dan penulis menemukannya dalam ayat-ayat-Nyagreatness by jim collins yang begitu mulia.  Penulis sendiri kebetulan sedang membaca Al-Qur’an dan kebetulan berada di ayat-ayat pertengahan di Surat Al-Anfal (Surat ke-8) di sana penulis melihat pada ayat-ayat 47-54, seperti merefleksikan keadaan sebuah masyarakat besar yang angkuh seperti jaman Pharaoh (Mesir kuno) salah satunya dimana di dalam review buku tersebut disebut sebagai “Hubris born of Success” yang berarti adalah kesombongan karena kesuksesan dan menurut Al-Quran ini adalah hasil bisikan setan yang membuat organisasi atau masyarakat tersebut berpendapat,:”Tidak ada yang dapat mengalahkan Kami pada hari ini”

    Menurut buku tersebut ini merupakan fase/stage I (pertama) dari sebuah kejatuhan. Namun dalam hal ini bukanlah jawaban yang sebenarnya kita cari, melainkan pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu,”Apakah kita termasuk dalam fase tersebut?Atau” Ah tidak…, kita adalah orang-orang yang sedang mengejar kebesaran menjadi besar dan terhormat.”  Tentunya akan mudah membedakan sebuah institusi atau masyarakat yang mengejar kebesaran dibandingkan dengan institusi atau masyarakat yang dalam sedang fase kejatuhan.  Insitusi atau organisasi, bahkan negara yang memiliki orang-orang yang tepat, mendiskusikan berbagai masalah dan fakta-fakta yang ada yang kemudian bertindak serius untuk mencari dan memberikan solusi, dan dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang serius.  Semua ini  adalah tanda-tanda institusi atau organisasi tersebut sedang menuju kebesaran (greatness).  Berbeda dengan sebuah institusi, organisasi, dan negara atau generasi yang sedang dalam fase kejatuhan, yaitu ketika memasuki fase berikutnya dikenal dengan “Ketidakdisiplinan untuk Mendapatkan Lebih” atau lebih mudah diartikan sebagai ‘greed‘ atau ketamakan yang merupakan saudara dekat kesombongan.  Kita bisa melihat kejatuhan industri-industri besar seperti Citigroup, Bank of America, AIG, GM, Chrysler, New York Times, atau bahkan negara seperti Dinasti Chou, Athena, Romawi, bahkan kerajaan Inggris Raya dimana 100 tahun lalu menjadi super power , mereka merasa besar dan ingin bertumbuh cepat sehingga mengambil keputusan-keputusan berdasarkan ‘greed‘ (bisikan setan) yang menyebabkan mereka memasuki fase berikutnya yaitu fase yang disebut dengan “pengingkaran akan risiko dan bahaya kegagalan”.

    Ketika perusahaan besar melakukan aktivitas M&A (merger & akuisisi) secara membabi buta hanya untuk mengejar kebesaran yang sifatnya tidak ‘sustainable (bertahan lama)‘, atau memilih seorang pemimpin karismatik sebagai juru selamat dan menganggap pemimpin tersebut dapat menyelesaikan segalanya padahal sebenarnya organisasi atau institusi tersebut sudah memasuki fase kejatuhan atau kemunduran. Hingga mereka memasuki fase keempat yaitu “grasping for salvation” yang memiliki arti “ketidaksabaran akan langkah penyelamatan”

    Dan pada fase ini, institusi, dan organisasi, atau negara bisa diartikan dalam keadaan krisis apabila tidak melakukan langkah-langkah dengan benar maka dia akan terperosok pada fase terakhir yaitu fase penyerahan diri terhadap kematian atau ketidakrelevanan dengan jaman seperti yang terjadi dengan kerajaan Mesir kuno, atau Romawi, atau bahkan kerajaan Inggris Raya.

    Menurut Anda apakah negara republik ini tercinta atau organisasi kita pada scope yang lebih kecil termasuk di dalam satu dari fase di atas? Hmmm… sepertinya jawabannya tidak semudah yang dibayangkan atau barangkali  lebih mudah bagaimana kita memberikan pertanyaan yang bagus seperti “Apakah negara atau organisasi kita ini sedang menuju ke sebuah kebesaran (greatness) atau tanpa kita sadari sedang memasuki sebuah fase kehidupan seperti fase hubris born of success (kesombongan) atau undiciplined pursuit of more (ketamakan)?”

    Wallahua’lam bi showaab

     
    • Oq Siregar 10:18 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Gifi ybh.,
      Thx a lot atas pencerahannya. Yah kehancuran suatu regime memang sesuai sunatullah bahwasanya kejayaan bangsa2 akan selalu dipergilirkan oleh YMK.Bisa jadi suatu saat giliran bangsa kita. It’s a nice article to read, thx yah.Gitu Gif.
      MESir

    • isyaratpena 11:26 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Assalamu’alaikum..

      selama masih ada yang berjuang di jalan-Nya seperti yang saat ini sedang dan akan terus dilakukan oleh saudara2 kita di Tanah air. insya Allah.. saya optimis bangsa ini bisa meraih kejayaan yang hakiki.

      nice artikel,

      salam ukhuwah

    • ghifi 11:18 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Dear Bang Mulya,
      Mudah2an demikian suatu saat bangsa ini bisa mencapai kebesarannya dengan segala kebersahajaannya dan keberkahannya, tapi mungkin karena saya lemah sejauh memandang bangsa ini masih harus melalui babak-babak pendahuluan sebelum sampai pada fase yang diidamkan, terima kasih
      ghifi

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal