Khusyu’ dalam Kehidupan
Assalammu’alaikum wr. wb.
Menyambut isra’ Mi’raj penulis mendapatkan nasihat yang sangat luar biasa yaitu mengenai “Khusyuk dalam Kehidupan” yang diberikan oleh teman tercinta penulis Uztad Arifin Jayadiningrat. Uztad Arifin merupakan teman lama penulis ketika sama-sama belajar di Cairo, Mesir. Kebetulan waktu itu penulis berada dalam satu kost dengan sang uztad. Beliau memang sangat energik dan merupakan seorang aktivis, begitu berbeda dibandingkan kebanyakan pelajar di Cairo pada waktu itu.
Beliau membedakan dua pemahaman khusyuk, pemahaman di masa lampau (textual) dan pemahaman pada hari ini (textual dan contextual). Pemahaman di masa lalu adalah agama yang dipahami melalui pendekatan budaya, sedangkan pemahaman hari ini adalah pendekatan berdasarkan desain Al-Qur’an dan Hadist, sehingga lahirlah khusyuk yang kita lama kenal yaitu khusyuk di dalam sholat karena memang kata-kata khusyuk ada di dalam sholat. Berbeda dengan pemahaman berdasarkan desain Al-Qur’an dan Hadist bahwa pemahaman khusyuk harus secara menyeluruh.
Khusyuk menurut Al-Qur’an dan Hadist dapat memiliki makna seperti ‘tunduk merasa hina atau tunduk rasa takut’, ‘lembut hati /tunduk’, ‘merendahkan’, ’sifat ideal dalam hidup’, ’sholat’, ‘doa’, atau ‘rendah hati’ (1). Pada intinya khusyuk tidak hanya dalam sholat tapi dalam total kehidupan.
Khusyuk itu Mudah
Untuk mencapai tingkat kekhusyukan sesuai desain Al-Qur’an dan Hadist tidaklah susah seperti yang dibayangkan karena Allah Swt. menghendaki agar dalam beribadah itu haruslah mudah. Sebagai contoh seorang anak yang belum bisa naik sepeda melihat temannya yang sudah bisa naik sepeda atau bahkan sepeda motor dengan baik menjadi bertanya-tanya,” Gimana sih kamu bisa naik sepeda dengan lancar?” sedangkan anak yang sudah lancar bersepeda dengan ringan menjawab,”Ya yang penting latihan aja!” Coba sekarang bayangkan pertanyaan itu dilontarkan oleh orang yang sudah dewasa kepada anak yang sudah bisa bersepeda, maka Anak tersebut akan menjawab,”Sudah sebesar ini belum bisa bersepeda?” dengan pertanyaan yang penuh keheranan.
Hal ini juga berlaku kepada kita yang sudah dewasa tetapi untuk sholat khusyuk aja susah! Menurut hadist riwayat Muslim, pernah Rasulullah Saw. meminta salah seorang sahabatnya untuk melakukan sholat dengan khusyuk, dan setelah 3 (tiga) kali mencoba sahabat tersebut masih diminta Rasulullah Saw untuk mengulang, maka Sahabat tersebut menyerah dan meminta petunjuk Rasul. Rasul mengajarkan bahwa dalam melakukan sholat harus sabar tidak boleh terburu-buru sepertinya terkena bisikan setan untuk mengejar rutinitas duniawi, dan tidak memungkinkan orang tersebut untuk melaksanakan sholat dengan khusyuk. Coba bayangkan kalau Rasulullah Saw. masih hidup dan melihat kita sholat kemudian Beliau memanggil kita dengan lembut, serta berkata,”Wahai Saudaraku yang Aku cintai, sepertinya sholat Akhi/Ukhti masih belum khusyuk, mohon untuk bisa diulang kembali.” Berarti selama bertahun-tahun sholat kita tidak pernah benar!!! Sungguh memprihatinkan mudah-mudahan kita semua bukan salah satu diantaranya.
Pendekatan Holistik (Menyeluruh)
Pendekatan kepada khusyuk harus secara holistik, bahwa khusyuk dalam sholat tidak hanya bisa dicapai dengan pelatihan sholat khusyuk yang pelatihannya itu sendiri cukup mahal karena harus membayar Rp 2,5 juta misalnya. kekhusyukan seharusnya mudah dan bisa menjadi bagian dari perilaku kita di dalam kehidupan ini. Menurut Uztad Arifin kita harus lebih sering dan barangkali sesering mungkin untuk membiasakan diri melakukan ‘deep thinking’ dalam melihat apapun, ketika kita makan atau minum, ketika kita mempelajari tumbuh-tumbuhan, bergaul dengan lingkungan di sekitar, dan lain sebagainya. Sebagai contoh Allah Swt. menundukkan malam untuk kita agar kita dapat beristirahat, dan waktu ini tidak bisa digantikan dengan tidur di siang hari. Tidur di siang hari malah membuat kita pusing, dan kalau kita bisa melihat kebesaran-Nya, maka kita memahami tanda-tanda (kekuasaan) Allah Swt. Begitu banyak tanda kebesaran-Nya (2).
Kemudian tambahnya lagi, pikirkan kebesaran keagungan Allah Swt. Yang Maha Hebat!!! dan Melihat diri kita sebenarnya tak punya daya apa-apa. Gunung saja yang merupakan ciptaan Allah Swt. sebagai makhluk paling besar di bumi ini hancur berkeping-keping karena khusyuk kepada Allah ketika menerima ayat-ayat Al-Qur’an Al Karim. Namun, hati manusia yang bisa jadi lebih keras daripada gunung-gunung batu ciptaan Allah Swt. dengan deep thinking akan menjadi lembut dan akhirnya dapat mencapai khusyuk dalam kehidupan.
Yang kedua menurut Uztad, biasakanlah untuk melihat kehidupan kita selama di dunia hanya sementara dan sebentar, hanya ujian untuk menuju kehidupan yang abadi. kehidupan ini hanyalah pembekalan untuk menuju ‘kehidupan baru’ setelah kematian. Jangan seperti yang disebut di QS 57:16 bahwa hati manusia menjadi keras karena ingin hidup panjang di dunia tidak pernah memikirkan kebesaran Allah Swt. atau ciptaan-Nya, rutinitas menjadi Tuhannya. Tapi jadilah seperti Yahya di QS Al-Anbiya’:90 dimana beliau berdoa kepada Allah Swt. dengan penuh harap dan cemas untuk selalu mengarapkan-Nya setiap saat dan merasakan bersama-Nya. Khusyuk adalah merasakan betapa kita membutuhkan pertolongan Allah Swt. setiap saat dalam kehidupan, sehingga dengan membiasakan hal ini maka akan dapat memahami konsep dzikir dalam kehidupan. Maka setiap saat kita akan mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui dzikir, ketika keluar dari kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah bangun tidur, dalam perjalanan, pekerjaan, bahkan ketika hubungan suami dan istri! Sehingga otomatis hati kita (yang lembut) akan bergetar kita disebut nama Allah Swt.
Rasulullah Saw. juga berdoa yang isinya:”Ya Allah Kumohon kepada-Mu, iman yang tetap, keyakinan yang membenarkan (jujur), ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, lisan yang selalu berdzikir. Dan Kumohon ampunan, kesehatan, keselamatan yang tetap baik di dunia dan di akhirat.”
Kalau kita mencoba membaca ayat-ayat di Al-Qur’an Surat Al Imron 3: 189 – 191 Ingat Allah (Dzikir) dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring adalah melakukan dzikir dalam hidup kita secara total karena manusia hanya salah satu diantara tiga yaitu berdiri, duduk atau berbaring. Dengan kata lain dzikir berkaitan dengan khusyuk aktif yang dilakukan setiap saat.
Satu kesimpulan besar bahwa khusyuk terdiri dua perilaku yang sangat penting mendukung kesuksesannya yaitu mengenal (Iqro’ atau deep thinking) yang merupakan bagian dari rukun Iman yang diikuti dengan dzikir (pasrah dan mengingat) bagian dari rukun Islam.
Khusyuk Selama Hidup di Dunia dan dalam Sholat
“Negeri akhirat itu (sorga) Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri (khusyuk) dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik (surga) bagi orang-orang yang bertaqwa”(3)
“Minta tolong (kepada) Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ ” ,kemudian di akhir ayat, “(yaitu) Orang-orang yang meyakini bahwa mereka menemui Tuhannya (Robb) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”(4) Kalau kita ingat musibah yang menimpa republik ini kita merasa butuh kepada Allah Swt. melalui deep thinking dan berbuat kesabaran (sholat dan sabar yang menjadi kesatuan). Kemudian kita berdialog/bertemu dengan Allah Swt. seperti Mi’roj (di Sidratul Muntaha yang merupakan bagian dari Tauhid Rububiyah dan kemudian memahami bacaan sholat). Lalu kembali ingat kematian ketika sholat berakhir. Semua rangkaian ini menyebabkan kita kembali ke titik nol (kehambaan) yang menyebabkan tunduk/merendahkan/merasa hina tidak berdaya karena merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.
Sebagai kesimpulan ada tiga step dalam mencapai kekhusyukan dalam sholat:
- Deep Thinking (Tauhid Rububiyah)
- Kemudian mengagungkan asma Allah Swt. (tauhid Uluhiya) bahwa Allah Swt. pencipta alam semesta (robbul ‘aalamiin)
- Mengingat diri sendiri (penghambaan) dan merendahkan serendah-rendahnya sampai titik nol (0) → khusyu’ yang merupakan pembangunan karakter / akhlak
Wallahua’lam bishowaab
Referensi: Materi Khusyu’ dalam Kehidupan oleh Arifin Jayadiningrat
Wallahua’lam bishowaab
Footnotes: (1) QS 20:108, QS 57:16,QS 17:109,QS 59:21,QS 23:2, QS 2:45, QS 21:90, QS 3:199, QS 33:35, QS 42:45,QS 54:7,QS 41:39, QS 68:43, QS 70:44,QS 79:9,QS 88:2
(2) QS 16: 10-19
(3) QS 28: 83
(4) QS 2: 45-46
Puasa Mencapai Ketaqwaan (Taqwa Way) « iGhifi Blog 8:20 am on September 6, 2009 Permalink
[...] Teratas Khusyu' dalam KehidupanPuasa Mencapai Ketaqwaan (Taqwa Way)Kebiasaan Merokok Menyebabkan Pengentasan Kemiskinan Dapat [...]