Waktunya Untuk Kembali ke Fitrah
Assalammu’alaikum wr. wb.
Barusan penulis mendengarkan ceramah ba’da dzuhur yang diberikan oleh Uztad Valentino Dinsi (yang pd. tgl 27 Agustus akan berulang tahun “happy milad uzrad”). Uztad yang satu ini memang banyak sekali menginspirasi mulai dari semangat enterpreneurshipnya, tulisan-tulisan yang menggelitik, dan ceramah yang mudah dicerna, mudah2an di negara republik ini akan memiliki uztad-uztad seperti akhi Valentino akan semakin banyak dan berasal dari kalangan professional dan terpelajar.
Uztad memulai ceramahnya dengan sebuah cerita, yaitu ada seorang saudagar yang kaya Triliuner di kala itu di negeri arab yang bertemu dengan Malaikat pencabut nyawa Izrail, dan pada saat itu sang malaikat tampangnya entah itu penuh dengan kengerian atau kelembutan dengan tegas memberitahukan kepada sang Saudagar bahwa Dia hanya punya waktu 1 (satu) hari sebelum nyawanya dijemput pulang ke Rahmatullah Swt.. Sang Saudagar berkata bahwa Dia akan meminta ijin terlebih dahulu kepada 4 (empat) istri yang dimilikinya. Keempat istri yang dimiliki oleh Sang Saudagar memang menjadi kebanggaannya.
Tentunya Dia menemui istri no# 4 istri yang paling muda paling Dia sayang, dan paling banyak mendapatkan bagian dari hartanya, Dia berkata,”Wahai Istriku, besok aku akan menemui ajalku karena barusan Malaikat pencabut nyawa menemuiku, maukah Engkau menemaniku (pada intinya kemanapun Aku pergi)?” Kemudian istrinya berkata dengan nada sinis,”Tidak sudi aku menemanimu, kalau mau mati matilah sendiri!”, tentulah Sang Saudagar terkejut bukan kepalang, bahwa selama ini hidup dan cintanya yang ia curahkan kepada sang istri no#4 bagaikan memberi madu hanya dibalas dengan air racun.
Kemudian Sang Saudagar segera menemui istri #3, dibandingkan istri no#4 yang ini lebih dewasa dan tentunya perangainya lebih baik dibanding istri no#4. Dia berkata dengan nada yang lebih sopan,”Wahai Kakanda permintaanmu tentunya akan Aku turuti sayangnya hanya sampai di sini saja hubungan Kita!” Suara lembut penuh kasih tetapi pada akhirnya sangat menyakitkan, karena Istri ketiganya ternyata memutuskan untuk menceraikan Dirinya.
Selanjutnya Sang Saudagar menemui istri no#2, dibanding kedua istrinya yang tadi tentu lebih tua dan lebih tulus karena Dia merawat suaminya dengan sangat baik, ketika Sand Saudagar bertanya Sang Istri menjawab dengan sangat halus,”Tentu aku akan mengantarmu ke kuburanmu dan mendoakanmu, tapi setelah itu aku dan anak-anakku akan pulang ke rumah.” Sedih tersayat-sayat rasanya Sang Saudagar mendengar jawaban istri tercintanya.
Akhirnya ia melihat istrinya yang paling tua #1, terlihat lusuh, rambutnya terlihat kusut, wajahnya terlihat keriput nampak dari kejauhan, giginya sudah tidak lengkap dan sinar matanya memelas hati yang melihatnya. Sang Saudagar bertanya pertanyaan yang sama kepada istri #1 ini, dan dengan lemah lembut Sang Istri menjawab”Aku akan dengan senang hati mengikuti kemana saja Engkau pergi”
Melihat cerita di atas sebenarnya cerita di atas adalah sebuah perumpamaan, yaitu istri keempat itu seperti perumpaan dunia material harta, tahta, dan wanita, siapa yang tidak suka kepada ketiganya, kejayaan dunia sudah melupakan kita, bisa jadi ketika kita di akhir hayat, harta, tahta, dan wanita yang kita banggakan akhirnya meninggalkan kita dan lebih buruk lagi menjadi rebutan para ahli waris, sayang betul hidup kita apa-apa yang selama ini kita kejar ternyata malah meninggalkan kita dan memberikan masalah kepada yang ditinggal maka berhati-hatilah meninggalkan banyak harta kepada sang ahli waris.
Istri ketiga seperti jasad fisik kita yang setiap saat kita rawat supaya tetap cantik dan menarik serta awet muda. Namun setelah meninggal jasad fisik kita hanyalah akan dimakan oleh rayap. Istri kedua melambangkan anak dan kerabat kita, ketika kita meninggal maka mereka akan mengantar sampai pemakaman lantas mendoakan dan tentunya setelah itu pulang ke rumah masing-masing melanjutkan kehidupan masing-masing.
Sedangkan istri pertama kita adalah jiwa kita (the soul) yang akan menghadap kembali ke Allah Swt. “Wahai Jiwa yang tenang bersegeralah kepada ampunan-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku” apakah kita siap? Jiwa memiliki karakterisik “Like attracts like” yang memiliki makna ketika kita bersama orang-orang yang sholeh kita merasa tenang dan sejuk karena jiwa kita juga bersih begitu pula sebaliknya, bulan Ramadhan memberikan santapan yang utuh bagi jiwa ini untuk kembali ke fitrah yang suci, ketika pintu surga dibukakan oleh Allah Swt., pintu neraka ditutup rapat-rapat, syaitan-syaitan dari golongan jin dipenjara, kesempatan bagi Sang Jiwa untuk kembali kepada kesucian melalui ibadah-ibadah sholat wajib, tarawih, tahajjud, hajad, membaca & mempelajari Al-Qur’an dan untuk membersihkan jiwa melalui shodaqoh dan zakat. Ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri, bulan ini adalah bulan ibadah yang membedakan dari bulan-bulan yang lain. Tujuan utama dari puasa ramadhan adalah menjadi insan yang bertaqwa, memiliki soul yang bersih. Melakukan detoxifikasi dan melalui taddarus serta memahami Al Qur’an jiwa memancarkan cahaya illahiyah, dan kita harus sadar maut dapat menjemput kapan saja, kita belum tau apakah di bulan suci ini kita masih diberikan panjang umur, namun selama hayat masih dikandung badan tidak ada kata terlambat.
Kita juga tidak boleh beriman sendirian, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengajak istri/suami, anak dan keluarga kita untuk beriman bersama-sama, menjadi nasab dalam imanan ketika kita kembali menghadap Allah Swt. dan Insya Allah masuk ke jannah-Nya maka nasab keimanan akan mengumpulkan keluarga kita kembali.
Barangsiapa bertaqwa tanpa keraguan sedikitpun kepada Allah Swt. maka Allah Swt. akan memberikan jalan keluar terhadap semua masalah yang kita hadapi. Tidak hanya itu Allah Swt akan memberikan rezeki kepada kita melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Semoga Bermanfaat
wallahua’lam bishowaab
Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Waktunya Untuk Kembali ke Fitrah 5:28 pm on September 14, 2009 Permalink
[...] Posting juga dapat diakses di blog penuls di ghifi.wordpress.com [...]