Is Twitter Transforming How YOU Communicate?
Posted using ShareThis
Is Twitter Transforming How YOU Communicate?
Posted using ShareThis
Assalammu’alaikum wr. wb.
Seorang eksekutif IT sebuah perbankan memiliki mimpi bahwa layanan e-channel di banknya bisa memiliki kapasitas dan response time seperti perusahaan-perusahaan seperti Google, Facebook, dan Yahoo dimana seluruh pengguna di seluruh dunia dapat mengakses situs-situs tersebut secara lokal dalam bahasa setempat dilengkapi oleh layanan yang prima.
Namun mimpi itu barangkali tidak akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat dikarenakan perbedaan visi antara industri keuangan yang menganggap bahwa IT merupakan cost center, sedangkan perusahaan IT menganggap investasi di IT merupakan asset yang dapat memberikan bisnis. Dunia keuangan mengitung sekecil mungkin uang sen yang mereka keluarkan untuk investasi bahkan mereka menerapkan efisiensi dalam segala hal, sedangkan perusahaan IT menerapkan efisiensi dalam bentuk produk dan revenue yang dihasilkan.
Investasi IT di Indonesia masih dianaktirikan, mungkin karena disamping mahal, Indonesia masih hanya berperan sebagai konsumen bukan inovator, sehingga produk-produk IT masih sebagian besar harus diimpor, walaupun kondisi sekarang sudah jauh lebih baik ketika PC/notebook sudah bisa diproduksi sendiri oleh negara republik ini.
Kembali ke topik, ketika Anda memiliki 5 bisnis unit dan 100 aplikasi (baca: produk), beberapa menginginkan layanan sangat cepat, yang lainnya tidak, maka tim yang tergabung dalam service governance group akan menentukan aplikasi apa mendapatkan sumber daya apa.
Teknologi mengalami evolusi menurut peneliti dari Gartner, Bittman, dan teknologi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk diimplementasikan
Private cloud akan mengambil alih dalam beberapa tahun ke depan, namun kemungkinan hal ini terjadi hanya pada perusahaan IT besar. Bagi perusahaan IT kecil barangkali belum tentu memiliki economies of scale dan belum tentu menguntungkan. Dalam 5 tahun ke depan prosentasi bisnis kecil yang mendapatkan sumber daya komputernya dari provider cloud eksternal cukup besar, menurutnya.
Nantinya setiap perusahaan akan memiliki kapasitas yang sifatnya fix in-house dan memiliki akses ke kapasitas eksternal dari provider ketika mereka membutuhkannya. Seperti overdraft protection di sebuah akun nasabah sebuah bank.
Jika korporasi mengalami permintaan yang mendadak, maka meta operating system dan service governor akan mengatur ekstra kapasitas untuk dialokasikan dari sumber luar. Pemakai tidak akan dapat membedakan layanan mana yang berasal dari dalam dan mana yang dari luar perusahaan. Data center akan membedakan layer layanan yang diberikan sedangkan pengguna hanya melihat interface service based.
Ketika terjadi evolusi pada public cloud, perusahaan akan memiliki banyak pilihan. Hari ini layanan cloud computing memberikan elastisitas yaitu kemampuan untuk menambah sumber daya dan mengurangi sesuai kebutuhan kapanpun.. Sebagai contoh Amazon cloud computing service disebut denagn Elastic Compute Cloud (EC2)
Tetapi elastisitas itu sendiri masih menjadi pertanyaan, karena ketika para pengguna misalnya ingin menambah sedikit kapasitas melalui EC2 maka Amazon akan memberikan charge tambahan untuk masing-masing virtual server, sehingga konsumen harus membeli kapasitas yang besar di depan.
Menurut Bittman vendor cloud harus memberikan layanan kapasitas ketika ada kebutuhan konsumen. Namun demikian hal ini hanya salah satu dari banyak isu yang harus diselesaikan dalam rangka pembangunan private dan public cloud.
Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk cloud mencapai maturitynya di segala area dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Apakah Anda setuju dengan pendapat tersebut?
Assalammu’alaikum wr. wb.
Hari ini Teknologi Informasi benar-benar telah menjadi tulang punggung bisnis dan bukan merupakan sesuatu yang nice to have (baca: life style) tetapi sudah menjadi business enabler (baca: memungkinkan sebuah bisnis bisa berjalan dan bertumbuh). Tanpa TI, bisnis tidak akan bisa berkembang, inovasi juga akan mandek, konsumen yang menginginkan perbaikan kualitas maupun terobosan menjadi kesal karena bisnis tidak memberikan solusi yang diinginkan, yaitu layanan inovatif, prima dan terjangkau serta kaya dengan fitur.
Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook, aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.
Saya sempat berbicara dengan salah satu teman saya mengenai bisnisnya. Dia termasuk dalam kategori bisnis UMKM dan dia ingin sekali agar bisnisnya tersebut bisa maju. Namun karena masih belum memiliki solusi TI yang sesuai maka dari sisi operasional sehari-hari saja sudah kelabakan, bagaimana bisa memikirkan bisnisnya dapat berkembang?
Solusi Information Technology tidaklah harus mahal dan rumit, walaupun bisnis model saat ini adalah ketika kita berbicara mengenai salah satu solusi berbasiskan aplikasi, biasanya user terikat dengan berbagai kontrak semacam End User License Agreement, Software maintenance, ongoing operations, patches, dan lain sebagainya.
Bisnis menginginkan on-demand license yang fleksibel dan terjangkau, daripada TI menjadi fixed cost lebih baik menjadi variable cost (pay as you really grow) dan bisa diminimalisasi terhadap lisensi yang memang dibutuhkan, serta ketika bisnis berkembang dia bisa menambah license yang dibutuhkan atau bahkan ketika aplikasi tidak relevan maka bisa saja kontrak diterminasi sewaktu-waktu
Dari sisi provider (baca: applications service hosting/provider) mereka juga terbantu dari sisi kontrol, pemakaian atau utilisasi melalui multi tenancy, dan distribusi lisensi software, bahkan mereka dapat melakukan deployment software di banyak organisasi tanpa harus melakukan pre-install fisik di organisasi tersebut.
Model di atas sering disebut sebagai SaaS (Software as a Service) atau per-use service-based-model yang merupakan bagian dari Cloud Computing. Namun, solusi cloud computing tidak terbatas pada aplikasi tertentu, bisa saja untuk aplikasi umum seperti corporate email, dimana user tidak lagi harus melakukan investasi infrastruktur email corporate (server, hard disk) dan lisensi secara fisik.
Memang solusi untuk email corporate ini membutuhkan sistem keamanan yang terjamin, dan data confidential tidak bocor kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hak. Namun solusi ini memiliki kekuatannya kekuatannya apalagi sekarang ini konsumer sudah memiliki device-device seperti telepon selular (iphone, android, windows mobile) yang mampu memfasilitasi teknologi ini.
Performa bisnis di dalam korporasi akan menjadi lebih baik dengan aplikasi yang berjalan di cloud, karena mereka tidak lagi memikirkan risiko-risiko seperti return on investment sehingga ROA (baca: return on asset) juga lebih baik, tidak perlu lagi investasi sumber daya manusia yang spesifik, dan dengan mudah membuat kontrak di atas kesepatan akan service level agreement, sehingga mendapatkan layanan ketersediaan dan kehandalan sistem yang terjamin, alhasil bisnis intinya bisa berjalan dengan lebih baik karena biaya TI bisa ditekan menjadi jauh lebih efisien.
Konsep Green Computing sudah menjadi bagian dari cloud computing karena sistem menjadi lebih efisien dan seperti yang sudah diketahui yaitu pemakaian komputer dan infrastruktur pendukungnya memakan sumber daya energi listrik yang sangat besar. Para pengguna juga dapat mengakses sumber daya aplikasi tersebut di mana saja dia berada dan tidak perlu harus duduk dikantor asalkan dia memiliki web browser, yang terinstal misalnya di mobile phone . Contoh cloud computing dalam kehidupan kita sehari-hari seperti aplikasi social networking: facebook, aplikasi peer-to-peer: skype, bittorent, SaaS: Google apps.
Wallahu ‘alam bi showab
ini ada satu referensi dari Gartner
http://thelotusposition.files.wordpress.com/2008/12/gartner-hype-cycle20081.jpg
Assalammu’alakum Wr. Wb.
Menulis mengenai performa industri yang dikaitkan dengan marketing sebenarnya sangat menarik.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa krisis ini benar-benar mengandalkan sektor konsumsi terutama konsumsi dalam negeri. Pada kasus ini industri retail menjadi salah satu sektor penting yang akan mendukung ekonomi Indonesia. Walaupun pada tahun ini industri retail nasional diprediksikan akan tetap bertumbuh namun pertumbuhannya tidak akan siknifikan, menurut Aprindo pertumbuhan industri ini hanya mencapai 5-10% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 20%.
Bagi masyarakat di luar jawa yang mengandalkan industri pertanian dan pertambangan akan mengalami penurunun purchasing power, padahal kontribusi masyarakat di luar pulau jawa terhadap industri retail begitu siknifikan yaitu mencapai 41% dari seluruh pasar. Jakarta sendiri memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar hingga 34% sedangkan sisanya di seluruh wilayah pulau jawa mencapai 25%.
Secara demografi karakter konsumsi masyarakat akan berubah yaitu mereka akan membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari dibandingkan dengan barang-barang bukan primer seperti fashion dan produk-produk elektronik.
Menurut data yang dikeluarkan oleh AC Nielsen pertumbuhan penjualan untuk 54 produk kategori menunjukkan tendensi menurun pada kuartal 4 tahun 2008. Padahal produk grocery ini memberikan kontribusi hingga 65% dari total penjualan pada industri retail modern.
Kompetisi diantara industri retail modern juga menjadi semakin keras sejak beberapa tahun belakangan. Hypermarket dan minimarket bertumbuh cukup siknifikan sejak tahun 2003-2007 sebesar 29,3% dan 16,6% dibandingkan dengan supermarket yang hanya 13% atau pusat perbelanjaan yang hanya 5,7%. Menurut Aprindo penjualan pada supermarket akan cenderung melambat sedangkan hypermarket dan minimarket akan makin berkembang.
Untuk mendukung hipotesa ini berdasarkan data penjualan dari Alfamart (format minimarket) dan Matahari hypermarket (format hypermarket) menunjukkan pertumbuhan tahunan secara compounding (CAGR) pada tahun 2006-2008 mencapai 29,4% dan 35% sedangkan Matahari supermarket malahan -14,8%.
Hypermarket cenderung dipilih oleh para konsumen karena mereka memberikan format “one stop shopping” yang memberikan berbagai macam produk pada harga yang lebih murah, dan ketersediaan stok. Hypermarket sangat strategis dari sisi letak, nyaman, dan memiliki lapangan parkir yang luas, ini mengapa konsumen lebih menykai haypermarket.
Sekarang berkembang model multiformat yaitu hypermarket melakukan ekspansi dengan membeli supermarket sebagai contoh Carrefour Indonesia. Atau seperti Matahari yang memiliki hypermarket, supermarket dan departemen store pada saat yang bersamaan.
Melihat kecenderungan ini, industri ini dikuasai oleh hanya beberapa pengusaha (oligopoly) yang menyebabkan posisi retailer relatif lebih kuat dibandingkan dengan posisi supplier.
Kompetisi pada indutri retail modern juga diwarnai oleh kompetisi oleh retailer asing dan lokal terutama menurut Perpres No. 77/2007 yang memungkinkan asing untuk melakukan investasi langsung pada bisnis supermarket pada area 400-5000m2. Sesuai dengan peraturan pemerintah ini dibolehkan untuk mendapatkan 100% share.
Retailer lokal yang tadinya menguasai pasar di beberapa lokasi akan menambah kompetisi pada industri retail modern. Di Jawa Barat ada Yogya dan Borobudur yang memiliki outlet-outlet di luar jawa. Namun masalah klasik mengenai kompetisi antara retailer tradisional dan modern tetap masih timbul walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan zoning. Kebijakan zoning adalah sebuah system yang membatasi industri retail modern untuk beroperasi sehingga retail tradisional dapat terlindungi dari kompetisi langsung dengan retailer modern. Persyaratan utama pada kebijakan ini adalah melaukan pemetaan mengenai zona yang potensial yang dapat dimasuki oleh industri retail modern.
Dengan kondisi pelemahan mata uang rupiah belakangan ini maka industri retail yang mengandalkan import akan sangat tertekan. Sebagai contoh Mitra Adiperkasa yang memegang lisensi beberapa merek internasional seperti Nine, west, Next, Nautica, Lacoste,Spalding, Kipling, Zara, dll. Namun dengan market targeting dan segmentasi pasar yang baik, serta program-program marketing atau pun promosi yang dilakukan oleh para pemegang lisensi brand ini di beberapa surat kabar sangat efektif untuk meningkatkan penjualan.
Akan kita lihat apakah industri yang sangat penting ini akan tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini, apalagi ajakan untuk pemerintah maupun masyarakat untuk lebih mengkonsumsi produk dalam negeri, walaupun dari sisi kualitas produk-produk dalam negeri ini tidak kalah namun dari sisi program dan promosi sepertinya produk-produk import masih mendominasi industri retail nasional.
wallahu’alam bi showab
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Sudah sering saya menulis, menyadur, menterjemahkan dan menafsirkan berbagai isu ekonomi yang sifatnya makro pada ekonomi konvensional. Sepertinya solusi yang diberikan oleh ekonomi konvensional lebih banyak menitikberatkan pada negara-negara dengan skala ekonomi yang besar seperti Amerika, China, dan Jepang, dan mungkin kurang peduli dengan negara-negara berkembang yang terkena imbas dari krisis yang disebabkan oleh negara-negara kaya.
Rasanya ingin juga membahas mengenai solusi dari Ekonomi Islam kepada ekonomi Indonesia, apalagi sekarang ini neraca perdagangan negara Indonesia mengalami defisit, dan karena risk premium (semacam tambahan return yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan risiko market pada negara tersebut) mengalami kenaikan secara tidak langsung karena risiko sistemik negara-negara maju juga mengalami kenaikan.
Solusi menggunakan pembiayaan surat utang konvensional seperti SUN dan SPBN sudah mulai dikurangi hingga 50% karena kondisi market yang sedang pesimis. Namun apabila melihat negara-negara yang mengalami surplus neraca perdagangan seperti Jepang, China, dan Negara-Negara Timur tengah alternatif pembiayaan yang dapat digunakan adalah melalui sukuk, yang dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai sertifikat pembiyaan dalam Islamic Finance mirip dengan obligasi (bond) dalam dunia konvensional.
Sebelum kita berbicara perbedaan antara pembiayaan melalui Sukuk dengan obligasi, kita bicarakan dahulu mengapa harus Sukuk? Sukuk sendiri merupakan instrumen pada pembiayaan berbasiskan syariah yang tidak menggunakan mekanisme suku bunga seperti obligasi (bond).
Sukuk berbeda dengan obligasi dimana selain tidak menggunakan suku bunga tetapi juga terdapat adanya underlying asset sebagai basis transaksinya. Sukuk juga harus tunduk (mengikuti compliance) pada aturan syariah dan menghindari transaksi yang haram, seperti perusahaan-perusahaan yang memiliki bisnis seperti minuman keras, sex, rokok, dan menghindari perusahaan yang memiliki bisnis maysir seperti judi, dan bisnis ribawi seperti perbankan.
Yang menarik dari instrumen sukuk ini seperti yang sudah disebutkan, adalah adanya underlying asset berarti sukuk juga hanya bisa digunakan untuk membiayai sektor riil dan tidak boleh digunakan untuk spekulasi (gharar) ataupun “gali lubang tutup lubang (membayar utang yang jatuh tempo)”.
Sektor riil yang dapat dibiayai juga termasuk sektor-sektor publik seperti pembangunan rumah sakit yang sebenarnya sudah pernah dilakukan di Qatar dan Malaysia.
Sukuk ini juga sifatnya likuid dan memiliki jatuh tempo. Pemerintah Indonesia berencana untuk mengeluarkan dua macam sukuk yaitu Sukuk Global untuk menarik dana-dana Petrol Dollar dari Timur Tengah terutamanya, dan Sukuk Ritel untuk memberikan alternatif kepada masyarakat yang ingin berinvestasi di pembiayaan syariah melihat pasar yang ada yakni 90% jumlah penduduk Indonesia adalah Muslim.
Peluang dari sukuk ini cukup besar, walaupun kondisi global masih diliputi resesi, akan tetapi negara-negara yang tidak mengalami resesi juga cukup banyak termasuk Negara Timur Tengah dan Negara-Negara Eropa yang memiliki ketertarikan untuk mendervisifikasi portfolio investasinya.
Penulis yakin bahwa Sukuk baik SBSN, Sukuk Global dan Sukuk Ritel memiliki potensi yang sangat besar sebagai alternatif pembiayaan neraca perdagangan pemerintah Indonesia. Ditambah lagi bahwa dengan Sukuk yang mengharuskan terdapat underlying asset, maka pembangunan dan proyek-proyek untuk kepentingan publik dan komersial dapat lebih berkembang yang pada akhirnya dapat membuka lapangan kerja baru karena sektor riil akhirnya dapat bergulir.
wallahu’alam bi showab
ghifi.multiply.com
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Sudah sering saya menulis, menyadur, menterjemahkan dan menafsirkan berbagai isu ekonomi yang sifatnya makro pada ekonomi konvensional. Sepertinya solusi yang diberikan oleh ekonomi konvensional lebih banyak menitikberatkan pada negara-negara dengan skala ekonomi yang besar seperti Amerika, China, dan Jepang, dan mungkin kurang peduli dengan negara-negara berkembang yang terkena imbas dari krisis yang disebabkan oleh negara-negara kaya.
Rasanya ingin juga membahas mengenai solusi dari Ekonomi Islam kepada ekonomi Indonesia, apalagi sekarang ini neraca perdagangan negara Indonesia mengalami defisit, dan karena risk premium (semacam tambahan return yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan risiko market pada negara tersebut) mengalami kenaikan secara tidak langsung karena risiko sistemik negara-negara maju juga mengalami kenaikan.
Solusi menggunakan pembiayaan surat utang konvensional seperti SUN dan SPBN sudah mulai dikurangi hingga 50% karena kondisi market yang sedang pesimis. Namun apabila melihat negara-negara yang mengalami surplus neraca perdagangan seperti Jepang, China, dan Negara-Negara Timur tengah alternatif pembiayaan yang dapat digunakan adalah melalui sukuk, yang dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai sertifikat pembiyaan dalam Islamic Finance mirip dengan obligasi (bond) dalam dunia konvensional.
Sebelum kita berbicara perbedaan antara pembiayaan melalui Sukuk dengan obligasi, kita bicarakan dahulu mengapa harus Sukuk? Sukuk sendiri merupakan instrumen pada pembiayaan berbasiskan syariah yang tidak menggunakan mekanisme suku bunga seperti obligasi (bond).
Sukuk berbeda dengan obligasi dimana selain tidak menggunakan suku bunga tetapi juga terdapat adanya underlying asset sebagai basis transaksinya. Sukuk juga harus tunduk (mengikuti compliance) pada aturan syariah dan menghindari transaksi yang haram, seperti perusahaan-perusahaan yang memiliki bisnis seperti minuman keras, sex, rokok, dan menghindari perusahaan yang memiliki bisnis maysir seperti judi, dan bisnis ribawi seperti perbankan.
Yang menarik dari instrumen sukuk ini seperti yang sudah disebutkan, adalah adanya underlying asset berarti sukuk juga hanya bisa digunakan untuk membiayai sektor riil dan tidak boleh digunakan untuk spekulasi (gharar) ataupun “gali lubang tutup lubang (membayar utang yang jatuh tempo)”.
Sektor riil yang dapat dibiayai juga termasuk sektor-sektor publik seperti pembangunan rumah sakit yang sebenarnya sudah pernah dilakukan di Qatar dan Malaysia.
Sukuk ini juga sifatnya likuid dan memiliki jatuh tempo. Pemerintah Indonesia berencana untuk mengeluarkan dua macam sukuk yaitu Sukuk Global untuk menarik dana-dana Petro Dollar dari Timur Tengah terutamanya, dan Sukuk Ritel untuk memberikan alternatif kepada masyarakat yang ingin berinvestasi di pembiayaan syariah melihat pasar yang ada yakni 90% jumlah penduduk Indonesia adalah Muslim.
Peluang dari sukuk ini cukup besar, walaupun kondisi global masih diliputi resesi, akan tetapi negara-negara yang tidak mengalami resesi juga cukup banyak termasuk Negara Timur Tengah dan Negara-Negara Eropa yang memiliki ketertarikan untuk mendervisifikasi portfolio investasinya.
Penulis yakin bahwa Sukuk baik SBSN, Sukuk Global dan Sukuk Ritel memiliki potensi yang sangat besar sebagai alternatif pembiayaan neraca perdagangan pemerintah Indonesia. Ditambah lagi bahwa dengan Sukuk yang mengharuskan terdapat underlying asset, maka pembangunan dan proyek-proyek untuk kepentingan publik dan komersial dapat lebih berkembang yang pada akhirnya dapat membuka lapangan kerja baru karena sektor riil akhirnya dapat bergulir.
wallahu’alam bi showab
ghifi.multiply.com
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Bicara mengenai kondisi ekonomi global, tidak bisa lepas begitu saja dari peranan negara-negara Asia, khususnya China. China adalah Negara besar dengan tradisi yang luar biasa di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Barangkali dengan kita belajar mengenai China, akan memberikan pelajaran yang sangat penting yang kita tidak akan dapatkan di masyarakat lainnya di dunia.
Dalam usaha pemerintah AS untuk memberikan rencana bailout kepada system finansial Amerika, usaha pemerintahan Bush ini mengingatkan kembali kejadian the Great Depression di tahun 1930an. Akan tetapi untuk masyarakat Asia kehancuran ekonomi masih terdengar belum lama.
Krisis finansial yang terjadi 10 tahun yang lalu membawa perbankan, korporasi dan pemerintahan dalam kehancuran. Krisis yang dimulai oleh kolapsnya mata uang Bath Thailand di pertengahan tahun 1997. Kemudian meluas ke belahan Asia timur lainnya dengan imbas terjadinya devaluasi mata uang Asia hingga mencapai Rusia dan Brazil. Kesinambungan “keajaiban ekonomi” di Korea Selatan dan Hong Kong telah berakhir begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Thailand.
Pelajaran penting yang dapat diambil dari krisis tersebut adalah melakukan penimbungan cadangan devisa. Hal ini menjadi semacam kepercayaan pada pemerintahan di Asia Timur. Di tahun 1990an, pertumbuhan ekonomi Asia yang cepat hanya memiliki cadangan yang kecil, walaupun pada saat itu ekspor dan investasi asing sangat pesat perkembangannya. Ketika krisis datang di tahun 1997, kekurangan cadangan devisa mempersulit kemampuan pemerintah Asia untuk menyelamatkan perbankan, memaksa mereka untuk memohon pertolongan dari institusi internasional.
Akan tetapi bail out dari IMF datang dengan banyak persyaratan termasuk paksaan untuk liberalisasi pasar modal yang pada akhirnya menyebabkan krisis makin memburuk. Bahkan negara-negara barat memberikan sebuah “panggilan” krisis finansial Asia sebagai Krisis IMF, kegagalan pemerintah dan keputusasaan ekonomi bersama IMF secara vital mengkonfirmasi pentingnya mempertahankan cadangan devisa dalam jumlah besar, sebuah masalah tidak hanya menjaga kestabilan mata uang, akan tetapi juga kemerdekaan ekonomi sebuah Negara.
Satu Negara di Asia yang tidak terimbas oleh krisis finansial pada tahun 1997-1998 adalah China. Banyak alasan mengapa hal ini terjadi terutama pada saat itu China sudah memiliki cadangan valuta asing sebesar 100 Miliar US Dollar dan menolak untuk merevaluasi mata uangnya ketika krisis menyerang. Sejak itu China secara agresif mendorong perkembangan ekonomi yang pesat, ekspor, dan model investasi untuk pembangunan ekonomi melalui pematokan mata uangnya dan memproduksi lebih banyak dari pada mengkonsumsi, cadangan devisa China bertumbuh menjadi monster menyentuh angka 1 Triliun US Dollar di tahun 2005. Bahkan ketika China mendapatkan tekanan dari menteri keuangan AS untuk membiarkan mata uang Yuan mengambang terbatas di tahun 2005, cadangan devisa ini tumbuh hingga 200 Miliar US Dollar per tahun. Dan 1.5 tahun belakang ini cadangan devisa China meroket hingga 1.8 Triliun US Dollar dan menjadi yang terbesar di dunia.
Namun menjadi paradox ketika cadangan devisa pada hari ini tidaklah kekayaan nyata yang dikembalikan ke dalam ekonomi dalam negeri, malahan cadangan devisa ini merupakan soft loan kepada pemerintah AS. Bahkan sebelum kehancuran Wall Street, terdapat consensus kuat di China bahwa cadangan devisa telah tumbuh jauh di atas yang dibutuhkan untuk menahan krisis seperti di tahun 1997. Usulan untuk melakukan devesifikasi strategi investasi mulai menguat. Investasi pada US Treasury Bill hanyalah menyebabkan kerugian karena adanya gap antara yield yang didapat dengan apresiasi mata uang Yuan.
Dengan penciptaan SWF sebesar 200 Miliar US Dollar, yang disebut dengan China Investment Corporation, Beijing memposisikan dirinya lebih ke investasi ekuitas (walaupun investasi pada Blackstone Group dan Morgan Stanley mendapatkan kritikan). Andy Xie seorang ekonom dari Morgan Stanly memberikan usulan bahwa pemerintah seharusnya menjual asset US Dollarnya dalam bentuk kepemilikan di perusahaan AS dalam skala besar, menantang AS untuk menyelesaikan masalah keetakutan untuk mencegah bencana kekurangan kapitalisasi
Namun banyak masyarakat di China mulai dari blogger yang nasionalis sampai dengan aktivis keadilan sosial memberikan kritikannya pada cadangan devisa yang sangat besar dari China. Mengapa harus membantu memberikan pembiayaan kepada ekonomi AS yang berbasiskan utang, ketika kebutuhan rumah tangga sendiri masih jauh dari yang diharapkan? China merupakan salah satu masyarakat yang egaliter pada akhir tahun 1985. Hari ini China mengalami permasalahan adanya gap antara si kaya dan si miskin. Hari ini gaya kapitalisme di China mempertontonkan perlawanannya pada ajaran dasar Konfusius yaitu: jangan khawatir terhadap kemiskinan, khawatirlah terhadap ketidakadilan.
Perkembangan pesat infrastruktur fisik di kota-kota di China yang mengalami modernisasi yang luar biasa namun infrastruktur sosial dan lingkungan yang hancur, terutama populasi di pedesaan dan daerah terpencil. Bertahun-tahun pemerintah pusat bicara mengenai keharmonisan sosial melalui system baru yaitu sistem layanan bersama kesehatan di pedesaan, melalui peningkatan anggaran untuk pendidikan menjadi 4% dari GDP dan menghilangkan SPP pendidikan, dan mengimplementasikan program pengembangan yang berkesinambungan. Janji ini begitu besar, tetapi tindakan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi. Dan biaya ekonomi karena keterbatasan akses kepada kesehatan, pendidikan di atas minimnya air bersih & sumber air akan menyebabkan kerusakan dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Tantangan bagi China di masa yang akan datang adalah melepaskan diri untuk pembiayaan utang AS dan memulai investasi pada kesehatan, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tahunan mendekati 10% mejadi sesuatu yang ternyata mudah.
Disadur dari tulisan John Delury – Direktur China Boom Project pada Asia Society di New York
ghifi.multiply.com
mudah-mudahan kehancuran Amerika itu akan segera datang hingga PAlestina dan negeri Islam lainnya terbebaskan
Oleh Jeffrey D. Sachs
Para pemimpin Negara-negara dunia bertemu di Doha akhir minggu ini dalam rangka melakukan review system global untuk pembiayaan/financing pembangunan/development sebagai sarana dimana sumber daya dapat mengalir secara global untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan. Sistem mengalami kerusakan walaupun demikian undangan yang hadir tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.
Sama seperti keharusan untuk melakukan overhaul regulasi pasar finansial kita juga harus melakukan overhaul terhadap pembiayaan development/pembangunan, jika kita akan menyelesaikan masalah kemiskinan, kelaparan dan perubahan iklim.
Pembiayaan untuk pengembangan melibatkan tiga proses utama: Bantuan pengembangan untuk Negara-negara termiskin, dimana mereka tidak bisa menarik perhatian pembiayaan berorientasi pasar untuk mendapatkan investasi yang dibutuhkan. Kemudian investasi langsung maupun melalui portfolio utamanya untuk Negara berkembang dan Negara miskin yang memiliki sumber daya alam yang kaya. Dan pembiayan komoditas public yang sifatnya global seperti mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Bantuan mengalir jauh di bawah level yang dijanjikan dan tidak dapat diprediksi. Aliran pasar sangat terkonsentrasi di beberapa Negara saja dan sangat rentan terhadap reversal yang sifatnya panic; dan komoditas public yang sifatnya global dalam kondisi bahaya karena kurangnya pembiayaan, ada kemauan dari publik akan tetapi tidak tanpa dukungan.
Kemudian tidak ada dukungan akuntabilitas. Ketika bantuan dijanjikan namun tidak direalisasikan, tidak ada seorang pun yang peduli kecuali Negara-negara miskin itu sendiri. Dan seringkali Negara miskin dipersalahkan karena perbuatan mereka atau hal lainnya sebagai alasan mengapa bantuan tidak pernah datang.
Para menteri pengembangan mengklaim bahwa mereka telah memberikan komitmennya seperti memberikan bantuan 2 kali lebih besar kepada Afrika hingga tahun 2010. walaupun para menteri keuangan mengurangi anggaran bantuan hingga separuhnya.
Yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa Negara-negara kaya belum mampu mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan bantuan kepada Afrika sebesar 25 Miliar US Dollar (kurang dari 10 sen per ratusan US Dollar daripada income Negara-negara kaya), walaupun ketika memberikan komitmennya paling sedikit sebesar 2,5 Triliun US Dollar di bulan lalu untuk malakukan bail out kepada sector financial.
Reformasi arsitektur bantuan sebenarnya tidak mendapatkan dukungan secara politis dari Negara-negara kaya. Orang-orang yang menghendaki reformasi bantuan umumnya menekankan pada “bantuan anggaran” kepada departemen keuangan Negara-negara miskin disbanding dengan “bantuan mengikat” dalam bentuk investasi projek yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan konstruksi dan sector industri atau dukungan yang memiliki target yang spesifik melalui dana global spesialisasi untuk pengendalian penyakit, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya.
Sektor industri di AS, Eropa dan Jepang bisa saja menjual pembangkit listrik, konstruksi jalan, fasilitas pelabuhan dan infrastruktur lainnya yang didukung oleh dana bantuan, tidak tertarik dan kehilangan kontak dengan dana pengembangan. Masyarakat Negara-negara kaya tidak mempercayai dukungan anggaran umum, karena mereka tidak mengetahui bagaimana uang mereka dipergunakan.
Bantuan yang paling sukses di tahun-tahun belakangan ini ditargetkan melalui dana global untuk memberikan bantuan imunisasi kepada anak2, atau melawan AIDS, tuberculoses, dan Malaria. Masyarakat kemudian memahami lebih baik bagaimana uangnya dapat membantu menyelamatkan nyawa manusia. Bantuan dapat dihitung dalam bentuk tempat tidur, pengobatan antiretroviral, dan vaksin. Hasil-hasil yang diperoleh melalui pengurangan kematian dari malaria, penyakit menular, polio, dan penyakit lainnya yang mulai menjadi ancaman. Dana2 ini telah memenangkan hati masyarakat sehingga mau menambahkan pembiayaan.
Reformasi pertama dan yang sebenarnya daripada system bantuan harus menghubungkan kembali bantuan dengan input dan output yang dapat diukur, melalui dana global dan program2. Donor bantuan internasional seharusnya mengumpulkan dana mereka melalui dana global untuk pendidikan dasar, produksi makanan (benih dan pupuk kepada para petani miskin), air bersih, dan sanitasi, program perencanaan keluarga dan KB (melalui PBB, dana populasi), nutrisi (melalui UNICEF, dan World Food Programme), serta infrastruktur. Masyarakat akan dapat melihat secara jelas bagaimana uang mereka digunakan. Projek akan dimonitor dan diaudit. Keberhasilan dan Kegagalan akan lebih transparan. Reformasi yang kedua seharusnya mengikatkan kembali bantuan, sebagian, dengan mendorong agen-agen donor Negara untuk mendukung projek yang diberikan oleh perusahaan nasional.
Pemerintah China melakukan hal ini melalui investasi Miliar US Dollar ke seluruh Afrika, hingga manfaat dapat terlihat di penjuru Afrika. Negara Jepang juga memiliki tradisi yang sukses memberikan bantuan di Asia Tenggara. Adanya resesi di Negara-negara maju, investasi langsung dari perusahaan-perusahaan
Untuk membangun jalan yang urgensinya tinggi, pembangkit listrik, fasilitas pelabuhan, dan lainnya di Negara-negara paling miskin akan memberikan hasil yang luar biasa: untuk pengembangan, untuk stimulus ekonomi makro, dan membangun dukungan politik domestik untuk menjaga komitmen bantuan.
Tujuannya, tentunya seharusnya dapat membantu Negara-negara tersebut untuk tidak lagi mendapatkan bantuan dan berorientasi pasar. Akan tetapi pembiayaan melalui pasar bebas kebanyakan hanya berkonsentrasi di emerging market yang terbatas dan Negara miskin dengan sumber daya alam yang kaya.
Untuk memungkinkan ekspansi jangkauan dari pembiayaan berbasiskan pasar, salah satu kuncinya adalah pembangunan infrastruktur di Negara-negara miskin sehingga investasi berbasiskan pasar mendapatkan keuntungan. Kebijakaan keuangan dibutuhkan untuk mencegah pelarian modal dari aliran dana swasta, dimana kita sudah mengalaminya sejak hancurnya Lehman Brothers di bulan September 2008. Barangkali langkah kuncinya adalah fasilitas swap dari bank sentral Negara kaya kepada Negara-negara berkembang, sehingga kepanikan pasar tidak menghabiskan pasar Negara berkembang.
Dana pengembangan secara tradisional (ada reformasi atau tidak) dan pembiayaan berbasiskan pasar tidak akan membiayai global public good, seperti investasi besar untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim atau untuk melindungi kekayaan bio laut. Kita membutuhkan formasi baru pada pembiayaan global untuk kebutuhan riset, pengembangan, demo, pengembangan tekonologi energi yang dapat diperbaharui, seperti carbon capture dan sequestration (menghilangkan karbon), dan teknologi maju pada power generator.
Afrika memiliki potensi tenaga matahari cukup buat dirinya dan seluruh daratan Eropa, akan tetapi ini membutuhkan dukungan penelitian, engineering, dan pembiyaan baik swasta maupun Negara dalam skala regional, akan tetapi pembiayaan tersebut belum tersedia.
Dana kecil seperti Global Environmental Facility telah dibentuk untuk tujuan ini, namun mereka dalam kategori juta US dollar per tahun dibandingkan dengan 10 Miliar US Dollar yang dibutuhkan. Inovasi di bidang pembiayaan adalah penting. Kita harus mengadopsi pengurangan carbon secara global dengan setiap Negara memberikan beberapa dollar per ton pada CO2 yang ditimbulkan untuk membiayai investasi global dalam rangka mitigasi dan adaptasi. Swiss dan Norwegia saat ini telah mengajukan proposal tersebut.
Sebagai analogi pajak kecil untuk transportasi global dan transaksi pembiayaan global dapat menambahkan dana yang dibutuhkan oleh masyarakat internasional. Pajak tiket pesawat terbang sudah berfungsi dan dapat dikomplemen dengan pajak pada pengiriman internasional.
Overhaul pada system pembiayaan internasional sudah seharusnya dilakukan. Krisis financial sudah menyebabkan proses perubahan dimulai. Banyak pembicaraan mengenai Betton Woods II. Dunia seharusnya menyadari bahwa kesepakatan Betton Woods melibatkan begitu banyak hal lebih dari sekedar regulasi financial, dan rekonstruksi pasca perang, pembangunan, dan perdagangan.
Hari ini kita membutuhkan visi yang sama dimana system baru pada system pembiayaan untuk pengembangan harus menyelesaikan tantangan besar pada pengembangan yang berkesinambungan: pengangkatan kemiskinan, penanggulangan penyakit, perubahan cuaca, dan pasar keuangan global yang berfungsi untuk melayani semua Negara-negara, baik kaya maupun miskin.
Jeffrey D. Sachs is the director of the Earth Institute, Quetelet professor of sustainable development, and professor of health policy and management at Columbia University
Paman Sam akhirnya mulai menjual systematic risk insurance melalui surat berharga dengan grade yang high yang ditukar dengan preferred stock. Ini merupakan fungsi yang sangat penting pada pemerintah AS, karena Paman Sam adalah satu-satunya pemain yang memiliki kemampuan melakukan hedging pada systemic risk karena dia adalah satu-satunya pemain yang mampu mengambil tindakan untuk menjaga agar system ekonomi secara keseluruhan pada jalan yang seharusnya
Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah apakah pemrintah AS akan mulai menjual system-risk insurance secara rutin dan membantu likuiditas Triliunan US Dollar sekuritas berbasikan mortgage yang memiliki grade yang tinggi yang dimiliki oleh perbankan dan institusi finansial lainnya yang sangat membutuhkan dana untuk mendukung pembiayaan baru.
Membuat perjanjian asuransi dengan beberapa pemain besar seperti Citigroup tidaklah sama dengan membuat perjanjian asuransi dengan semua pemain yaitu mengeluarkan surat berharga dengan grade yang tinggi sesuai harapan (conforming), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan sekuritisasi pada kewajiban. Kita menekankan pada kata-kata “sesuai harapan” karena sangat penting bagi pemerintah untuk mulai membedakan surat berharga mana yang aman di bawah kondisi normal dan mana yang “toxic” dan kemudian tidak lagi dipegang oleh institusi intermediary
Seperti yang transaksi underwriter asuransi, Paman Sam tidak hanya mengetahui dan menyetujui apa yang dia asuransikan, tetapi Dia juga harus memastikan bahwa adanya deductible dan provisi asuransi secara bersama untuk mengurangi moral hazad kepada nasabah yang diasuransikan. Moral hazard yang dimaksud disini adalah ketika institusi finansial mencoba menjual loan dengan grade rendah sebagai loan dengan grade tinggi.
Kesepakatan akhir minggu dengan Citigroup merupakan instruksi dalam melakukan klasifikas alami asuransi yang pemerintah ingin jual secara rutin . Kesepakatan untuk mendukung sejumlah 306 Miliar dollar MBS yang dimiliki oleh Citigroup menetapkan batas bawah nilai terbaik dari surat berharga tersebut yaitu sebesar 90 cent per dollar. Kesepakatan mewakili penggunaan pertama dalam hal kemampuan memberikan asuransi yang diotorisasi oleh Section 102 pada TARP.
Struktur dari kesepakatan cukup kompleks, sehingga membutuhkan penyidikan untuk melihat secara akurat asuransi apa yang dijual dan pada harga berapa. Kami diberitahu bahwa Citigroup sendiri harus menanggung kerugian sebear 29 Miliar US Dollar (ditambah dengan kerugian cadangan yang ada pada pembukuannya) pada cash flow yang harus dibayar pada 306 Miliar US Dollar pada mortgage. Jumlah ini kasarnya adalah 10% deductible.
Apabila terjadi kerugian di atas 29 Miliar US Dollar maka akan dibagai antara pemerintah (90%) dan Citigroup (10%). Asuransi ini meruapakan asuransi bersama. Asuransi ini akan berjalan selama 10 tahun ke depan, dan Citigroup membayar single premi sebesar 7 Miliar dollar untuknya menggunakan preferred stock. Artikel kami bersama Alistair Milne (Recapitalizing the Bank is not enough) memberikan advokasi deductible, bukan co-pay, akan tetapi co-pay sepertinya dalah ide yang bagus.
Seperti yang sudah diprediksikan kesepakatan asuransi dengan Citigroup telah mencairkan assetnya, dengan harga saham naik sebesar 53 sen segera setelah pengumuman kesepakatan oleh Citigroup yang memungkinkan assetnya yang diasuransikan sebagai collateral (jaminan) untuk meminjam dalam bentuk repo dan pasar commercial paper. Bahkan kesepakatan memungkinkan Citigroup menggunakan 306 Miliar US Dollar dari pada assetnya sebagai collateral untuk meminjam dari bank Sentral pada suku bunga overnight index swap (OIS) ditambah 300 basis poin, suku bunga saat ini dicharge pada ABC paper menggunakan fasilitas dana commercial paper bank sentral. Ini memastikan likuiditas penuh pada asset-asset tersebut.
Pada saat ini, hanya asset-asset yang spesifik pada balance sheet pada salah satu institusi yang mendapatkan dampak, namun struktur kesepakatan ini dapat dengan mudah diterapkan pada class asset yang sama pada balance sheet manapun. Imbasnya akan mengerem nilai dari semua asset class yang ada dan memulai kembali secondary market pada asset2 yang ada. Struktur asuransi yang mirip dapat digunakan untuk mendukung valuasi surat berharga baru yang dikeluarkan pada asset yang sama, sehingga memulai kembali pasar yang baru yang merupakan sumber utama kredit pada order finansial kita.
Kesepakatan Citigroup bukanlah contoh yang pertama dari penjualan system risk default insurance oleh Paman Sam. Model 90/10 risk sharing pertama kali diterapkan pada Fasilitas Money Market Investor Funding. Dibawah platform tersebut MMMF menjal asset pasar uang dengan grade tinggi kepada SPV (Special Purpose Vehicle), namun SPV berbagi 10% loss dan Bank Sentral memberikan cover sisa 90%.
Dibawah kesepakatan Citigroup, risk sharing 90/10 terhadap loss pada asset pasar modal dengan grade tinggi diluar deductible awal 10%. US Treasury menanggung 5 Miliar Dollar berikutnya, FDIC 10 Miliar Dollar berikutnya, dan Bank Sentral seluruhnya setelah 15 Miliar US Dollar.
Struktur yang kompleks ini merefleksikan provisi pada TARP bill, ketiga berubah, terhadap dana 700 Miliar Dollar yang dimiliki Paulson, keseluruhan face value dari polis asuransi telah dijual oleh US Treasury. Jika saja Pemerinatah AS, dan bukan Bank Sentral, yang memberikan asuransi untuk keseluruhan asset Citigroup sebesar 306 Miliar US Dollar, Pemerintah AS harus sudah melakukan charging sebesar 306 Miliar Dollar terhadap sisa dana TARP. Dalam skema ini Pemerintah AS hanya dicharge 5 Miliar Dollar dan mendapatkan 4 Miliar Dollar dari premi pembayaran. FDIC mendapatkan 3 Miliar Dollar untuk mengcover 10 Miliar Dollar berikutnya. Peran The Fed dating dari komitmennya untuk memberikan dana terhadap asset pool yang tersisa dengan loan yang sifatnya non-recourse subjek yang sama yaitu aturan 90/10 risk sharing.
Karena keterlibatan yang dalam dari Citigroup dengan surat berharga dengan underlying mortgage, terutama melalui SIV yang bermasalah, maka adalah pantas pemerintah AS memulai dengan Citigroup. Akan tetapi rencana pemerintah AS akan bekerja ketika hal ini juga diterapkan diluar Citigroup
Kemudian, struktur asuransi harus dibuat lebih jelas sehingga pasar lebih memahami konsekuensi pada valuasi pada underlying securities. Pemerintah harus secara eksplisit melakukan penjualan credit insurance tidak melalui jalan belakang (back door).
Pemerintah seharusnya menawarkan asuransi pada asset dengan kualitas tertinggi tanpa meliaht siapa yang memegang asset tersebut. Tindakan ini seharusnya mendukung pasar bukan institusi. Karena hal ini, maka sangatlah penting untuk memahami bahwa Paman Sam tidak melakukan asuransi hanya pada Citigroup. Melainkan pemerintah memberikan asuransi khususnya pada asset dengan face value senilai 306 Miliar Dollar yang merupakan MBS dengan grade tinggi, surat berharga dimana Citigroup sekarang dapat menjual ke pihak ketiga atau digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang dari pihak ketiga.
Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi Laurence Kotlikoff and Perry Mehrling
Laurence Kotlikoff is a professor of economics at Boston University. Perry Mehrling is a professor of economics at Barnard College, Columbia University
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Melihat kondisi sekarang ini, saya sudah mulai menemui banyak pembicaraan mengenai kondisi Rupiah yang sedang mengalami depresiasi terhadap US Dollar hingga 30% (dari Rp 9.000/US$1 – Rp 12.000/US$1). Memang ini mempengaruhi harga barang-barang impor dan bisnis yang tergantung dengan barang impor akan mengalami kesulitan di samping ada risiko nilai tukar, juga dikarenakan konsumen akan berpikir dua kali untuk membeli barang-barang impor dengan kurs pada saat ini. Tetapi sebenarnya isu melemahnya rupiah tidak menjadi prioritas utama bagi para pengambil kebijakan karena memang tidak efektif (negative externalities), yang seharusnya menjadi prioritas adalah isu likuiditas pada perbankan yang akhir-akhir ini diisukan sedang seret baik melalui rumor maupun pernyataan resmi dari para petinggi bank.
Pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu sebenarnya sumber dana pada bank itu berasal dari mana saja. Yang pertama adalah dari dana pihak ketiga baik tabungan/deposito maupun giro, kemudian obligasi yang dikeluarkan oleh bank baik dalam denominasi Rupiah maupun mata uang asing biasanya US Dollar, dan ketiga dan yang paling penting adalah melalui interbank lending.
Tulisan ini akan sedikit membahas mengenai interbank lending yang merupakan salah satu sumber pembiyaan perbankan yang terpenting di antara sumber pembiayaan yang lain.
“Interbank lending” sering disalah-artikan oleh para ekonom dimana sebenarnya sebagian besar lending yang kita sebut sebagai interbank market (atau pasar uang) adalah sebenarnya merupakan wholesale bank deposit oleh institusi non-bank seperti, investor institusi, Sovereign wealth fund dan reksadana pasar uang.
Pada kondisi pasar yang normal, mayoritas dari pinjaman melalui pasar uang ini dijaminkan ( collateral) 2/3 dari stock pada Euro Zone dan lebih lagi di AS dan UK. Penjaminan pinjaman pasar uang ini yang sebagian besar adalah repo tidak mengandalkan assessment yang akurat pada peminjam, akan tetapi kelayakan dan keberadaan jaminan (collateral).
Sebagian dari marjin pada pasar uang adalah sifatnya didorong oleh likuiditas. Sebagai contoh peningkatan suku bunga margin Libor di akhir Oktober dan awal November sebagian didorong oleh redemption (outflow) yang terjadi di reksadana pasar uang, memaksa reksadana pasar uang memindahkan struktur portfolionya dari 3 bulan menjadi overnight (satu malam) dan satu minggu aset pasar uang sehingga dapat menghadapi tekanan redemption yang terjadi. Marjin sebagian didorong oleh credit risk, yang diilustrasikan dengan kegagalan marjin pada pasar uang tiga bulanan yang mengalami penurunan setelah langkah oleh pemerintah AS untuk melakukan bail-out pada awal bulan Oktober ini.
Alasan yang prinsipil mengenai kegagalan pada pasar uang adalah hilangnya tingkat kepercayaan, dan penurunan nilai dan kenaikan volatilistas harga terhadap penjaminan utama yang tersedia pada bank, seperti senior MBS dan sekuritas struktur kredit lainnya.
Mengembalikan tingkat kepercayaan pada collateral/penjaminan ini akan lebih mudah dibandingkan dengan mengembalikan tingkat kepercayaan pada bank. Hal ini dapat dilakukan menggunakan garansi Government Backed Insurance yang sebenarnya sudah diusulkan oleh para petinggi perbankan kepada pemerintah dalam hal ini pemerintah Indonesia pada jaminan dalam bentuk REPO. Kemudian, karena collateral secara fundamental sangat masuk akal ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk mengambil sedikit keuntungan
Detil dari Government Backed Insurance tidak akan dibicarakan di sini, akan tetapi langkah-langkah yang sudah diusulkan ini memiliki urgensi yang sangat tinggi apabila pemerintah ingin menyelamatkan likuiditas perbankan nasional terutama di saat ketatnaya likuiditas valas US Dollar. Perbankan menjadi urat nadi pembiayaan bagi sektor riil terutama sektor riil yang membutuhkan pembiayaan ekspor dan impor.
Kemungkinan terburuk akan terkurasnya cadangan devisa negara melalui Bank Sentral juga bisa dihindari. Mari kita percayakan kepada pemerintah dan BI karena masukan-masukan di atas sudah pernah disampaikan dalam berbagai forum formal maupun informal.
Tentunya dari sisi ekonomi, isu pada perbankan memiliki trickle down effect, apabila perbankan sehat tentunya kondisi ekonomi secara umum juga akan lebih baik walaupun nilai tukar rupiah mendapat tekanan karena irrational exuberance yang menyebabkan capital flight to safety oleh para investor.
Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi oleh Laurence Kotlikoff, Perry Mehrling, Alistair Milne
wallahu’alam bi showab
ghifi.multiply.com
Corvida 12:38 am on Mei 2, 2009 Permalink
Glad you enjoyed the article enough to share it.