Tagged: corporate culture RSS

  • ghifi 7:59 pm on August 5, 2009 Permalink | Balas
    Tags: bank syariah, banking, corporate culture, creative destruction, islamic banking, , supply chain   

    Strategi Koopetisi Apakah Bisa Menjadi Jawaban Bagi Perkembangan Perbankan Syariah? 

    Assalammu’alaikum wr wb.

    Apa itu Koopetisi?

    coopetitionDefinisi dari coopetition (koopetisi) adalah dua atau lebih perusahaan bekerja bersama dalam hal tertentu dalam bisnis mereka ketika mereka memiliki kepercayaan bahwa mereka tidak memiliki competitive advantage dan mereka percaya dapat berbagi biaya-biaya umum bersama. Konsep ini diusung oleh Brandenburger & Stuart (1996) dan Branderburger & Nalebuff (1996).  Konsep yang sebenarnya ditujukan untuk menggambarkan ‘stakeholder‘ sebuah perusahaan yang terdiri dari suppliernya, konsumennya, kompetitornya, dan pelengkap produknya. Tetapi dalam era globalisasi seperti sekarang ini, semua individu, bahkan perusahaan sudah memasuki era yang interdependence, yaitu saling ketergantungan satu sama lain.

    Membaca kembali beberapa tulisan terdahulu, adalah relevan bagi perbankan syariah untuk mengembangkan strategi koopetisi dalam industri perbankan yang sangat ketat persaingannya.  Ide persaingan memang tidak boleh didefinisikan secara sempit, namun menurut salah satu rekan penulis dalam tulisannya terdahulu, industri bisa menjadi mitra dalam persaingan (kerjasama sekaligus bersaing). Namun kondisi ini tidak akan tercipta apabila antara industri perbankan syariah dalam industri atau   bahkan dengan perbankan konvensional tidak duduk sejajar dan merasa saling membutuhkan.  Bisnis model yang ada sekarang ini biasanya bank syariah adalah menjadi unit bisnis dari perbankan konsvensional atau murni berdiri sendiri.  Apabila industri perbankan syariah ini akan bertumbuh dan memiliki market share yang lebih besar, para pelaku dalam industri perbankan harus memikirkan sebuah konsep yaitu perbankan syariah harus berani spin off (berdiri sendiri) dari induknya yang notabene bank konvensional, dan berani membangun kemitraan dalam bersaing.

    Bank konvensional memiliki infrastruktur teknologi (electronic-channel) dan cabang (channel) yang kuat dan tersebar di seluruh wilayah republik tercinta ini, sedangkan perbankan syariah memiliki produk-produk yang bisa jadi di bisnis model yang sekarang adalah sama sekali baru dan bagus namun kurang bisa dikembangkan. Dengan adanya kemitraan ini akan membuka cakrawala baru perkembangan bank syariah, bisa saja misalnya perbankan syariah menggunakan layanan infrastruktur yang luas dari bank konvensional dan sebaliknya bank konvensional bisa melakukan semacam cross selling produk-produk syariah yang bisa jadi dikembangkan bersama oleh kedua macam perbankan tersebut berbasiskan syariah dan benefit dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.  market share perbankan syariah makin bertumbuh, fee based income perbankan konvensional juga semakin bertumbuh.

    Sehingga produk syariah tidak saja dijual oleh professional muslim tetapi juga oleh professional non-muslim karena pada akhirnya apabila bisnis syariah menguntungkan, maka bisnis ini tidak akan melihat agama apa tetapi keuntungan apa yang bisa kita dapat dari produk dan jasa yang ditawarkan.  90% nasabah adalah nasabah yang realistis bukan emosional, maka strategi yang diterapkan juga harus bisa menaungi keinginan pasar tidak hanya terbatas pada nasabah-nasabah yang emosional, ini berarti bisnis model yang diusung juga haruslah universal.  Sesuai sekali seperti yang termaktub dalam Surat Al-Maidah:2-”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”  Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. Juga di Surat Az-Zukhruf:32- “Apakah mereka yang mebagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

    Supply Chain dan Studi Kasus Blockbuster Rental Video

    supply chainBicara mengenai kemitraan dan kompetisi tidak bisa kita abaikan mengenai konsep supply chain yang merupakan bagian terpenting dalam hubungan kemitraan.  Ada satu opsi supply chain pada kemitraan yang kita sebut dengan revenue sharing contract. Ada dua pihak yaitu yang satu sebagai supplier dan yang lain sebagai retailer dimana keduanya menegosiasikan prosentase profit tergantung dari bergaining poser dari masing-masing pihak.  Konsep ini jauh lebih menguntungkan daripada wholesale price contract.

    Sebagai contoh pada kasus Blockbuster video rental, menggunakan konsep wholesale price contract dimana retailer membeli film dari studio (supplier) dan menyewakan kepada konsumen.  Harga wholesale akan memberikan imbas terhadap berapa banyak video yang bisa disewakan oleh sang retailer.  Pada tahun tersebut yaitu sebelum tahun 1998 ketika harga tape video sekitar US$65 dan disewakan kepada konsumen US$3-4, Blockbuster hanya mampu membeli jumlah tape yang terbatas terutama pada periode release baru dimana demand sangat tinggi (berlangsung selama 10 minggu), 20% dari konsumen tidak bisa menyewa video tersebut.  Sehingga kita bisa lihat imbas dari harga wholesale film yaitu berapa jumlah video yang bisa dibeli dan revenue serta profit yang diperoleh oleh si retailer.

    Di dunia perbankan sendiri juga ada yang disebut wholesale loan, dimana perbankan besar menjual loan tersebut kepada BPR/BPR Syariah dimana pembiayaan dilakukan sebagian atau seluruhnya secara bersama untuk kredit usaha kecil (KUK) atau kredit konsumtif.

    Cerita berlanjut, Blockbuster dan studio melakan revenue sharing contract, dimana Blockbuster hanya membayar US$ 8 per tape pada awalnya, tapi memberikan porsi keuntungan (30-45%) dari revenue yang didapat dari tape kepada supplier.  Kesepakatan kontrak ini mengurangi biaya investasi olehBlockbuster yang harus dilakukan ketika mereka order tape ke studio sehingga dapat memenuhi demand yang lebih besar, revenue tambahan, dan memberikan porsi revenue kepada supplier.  Sesudah tahun 1998 market share dari Blockbuster bertumbuh dari 25% menjadi 31% dan cash flow meningkat sebesar 61% karena kesepatakan tersebut.  Kontrak ini memang memberikan win-win solution kepada kedua belah pihak(1).

    Creative Destruction

    creative destructionKasus di atas adalah cukup sederhana dan mudah dicerna, namun dalam praktisnya membutuhkan banyak modifikasi, tentunya kemitraan tidaklah tanpa biaya  administrasi dan manajemen yang handal.  Pada kasus perbankan fee based income memberikan kemungkinan yang cukup besar untuk konsep revenue sharing.  Saya memang belum banyak melihat pemikiran out of the box dari bank syariah, barangkali pemikiran kreatif atau yang sering disebut creative destructionnya Joseph Schumpeter memang diperlukan. Banyak contoh creative destruction lebih terkait ke perkembangan teknologi misalnya dulu nasabah harus datang ke cabang dan membawa buku untuk mengambil uang, sekarang mesin ATM di mana2 bahkan dengan mesin ATM nasabah bisa membayar tagihan, transfer uang, membeli tiket nonton, atau pesawat terbang tanpa harus mengantri dan bisa dilakukan kapan saja.  Namun konsep creative destruction juga relevan dengan perkembangan bisnis, misalnya penulis melihat salah satu bank konvensional yang bergerak di bidang microbanking sudah banyak mencoba melakukan inovasi yang tidak terpikirkan oleh pemain perbankan lain lain melalui fee based income misalnya membayar biaya perpanjangan STNK lewat bank, hal ini bisa membuka peluang lain seperti membuka akun tabungan bagi kepolisian, payroll kepolisian, kebutuhan asuransi, KPR, kredit konsumtif dan lain sebagainya, atau misalnya  atau bagi anak-anak SD ada tabungan murah tanpa kartu ATM dengan daya tarik merchandise yang ngetrend dan disukai oleh anak-anak, dan hal ini sangat menggoyahkan eksistensi pemain lain karena bisa jadi kreativitas seperti ini tidak terpikirkan untuk diikuti, namun memiliki imbas positif pada perkembangan bisnis fee based income dan menimbulak efek domino terhadap bisnis.  Mari Kita lihat perkembangan ke depan, dan yang menjadi pertanyaan kapan perbankan syariah bisa melakukan inovasi tidak perlu shopisticated namun brilliant seperti contoh di atas.

    Tentu kesetaraan ini tidak akan tercapai apabila perbankan syariah masih menggunakan teknik seperti seringnya saling membajak nasabah-nasabah antar mereka sendiri, menggunakan strategi marketing yang sektarian, dan hanya  berkutat sebagai unit bisnis dan meniru model bisnis dari perbankan konvensional. Market share yang hanya sekitar 2,3% sekarang ini tidak akan banyak berubah dari tahun ke tahun apabila bisnis model seperti ini masih digunakan.

    Sudah waktunya industri perbankan syariah bisa membangun kemitraan dalam berkompetisi paling tidak sesama pelaku dalam industri yang sama.

    Wallahua’lam bishowaab

    (1) CNet news.com October 18, 2000)

    Referensi:

    Tulisan Mirza Gamal,”Membangun Strategi Koopetisi Bank Syariah”

     
  • ghifi 8:40 am on July 12, 2009 Permalink | Balas
    Tags: business ethics, corporate culture, internet   

    Yang Dibutuhkan Selanjutnya: Budaya Kejujuran & Keterbukaan 

    Assalammu’alaikum wr wb

    ‘Kita tidak akan dapat membangun kepercayaan di dalam sebuah organisasi kecuali pemimpin belajar untuk berkomunikasi secara terbuka dan membangun organisasi dimana kejujuran adalah norma dalam berorganisasi’

    organization chart

    Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan lebih dari sekedar Good Corporate Governance, tentunya sebelum kita terbuka kepada pihak luar kita haru terbuka kepada diri kita sendiri.

    Bagi penulis bekerja di organisasi besar dimana bawahan berusaha melaporkan hal-hal yang disukai atasan adalah hal yang sering penulis temui dalam aktivitas sehari-hari.  Kami berusaha melaporkan informasi yang baik dilebih-lebihkan dan yang buruk disembunyikan kalau dalam istilah business ethics sering disebut dengan information hoarding. Bawahan selalu was-was apabila ada suatu permasalahan yang sulit diselesaikan diketahui oleh atasannya, dan atasannya akan sangat marah (menurut persepsi bawahan & mungkin bawahan tersebut juga benar)  ketika kejujuran dan keterbukaan menjadi bagian suara bawahannya.

    Namun demikian hari ini, di era keterbukaan seperti di era information super highway, arus informasi begitu mudah diketahui oleh orang tidak terbendung, sedikit saja terekspos, semua orang akan mengetahui.  Dan ketika “the day of reckoning” tiba maka adalah terlambat untuk melakukan langkah penyelamatan.

    Sebuah Kasus Kecil

    Penulis juga memiliki pengalaman yaitu sebagai contoh mengenai layanan electronic channel (e-channel) perbankan kepada nasabah seluruh nusantara dalam bentuk call center.  Penulis mengetahui bahwa ada dua hal fundamental yang sangat mempengaruhi layanan call center, yaitu yang pertama adalah sistem yang ramah dan handal, ditambah dengan layanan oleh staf call center yang juga ramah serta handal. Bisa jadi layanan ’suara’ manusia menjadi yang terpenting karena walaupun mesin sebenarnya dapat menjawab 90-100% pertanyaan nasabah baik dalam bentuk informasi, transaksi, overbooking (pemindahbukuan), buka rekening deposito, dan lain-lain, namun tetap saja nasabah lebih nyaman dengan layanan staf.

    Turn over (masuk keluar) staf call center yang melayani sangat tinggi (pada layanan tertentu) karena kebanyakan dari staf adalah pegawai outsourcing. Dengan tantangan yang cukup berat (melayani nasabah dengan prima namun dengan penghargaan minimum) ditambah dengan sistem yang tidak banyak membantu menjadi beban tersendiri. Manajer hanya peduli dengan reward-reward melalui acara-acara eksternal yang bersifat superficial yang memberikan nama harum namun tidak menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya di dalam.  Bahkan hal ini tidak banyak diketahui oleh pemimpin di organisasi kami, dan berlangsung cukup lama sehingga akhirnya terekspos ke publik dalam bentuk keluhan layanan yang tentunya mengakibatkan rusaknya citra layanan itu sendiri.  Manifestasi layanan cukup kompleks apabila dikaitkan dengan bisnis, namun keterbukaan dalam segala hal sangat diperlukan apalagi persaingan layanan di industri dimana penulis berada sangat tinggi.

    Dari cerita di atas, bahwa sebenarnya bawahan memiliki informasi penting untuk mencapai kesuksesan sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, namun karena pemimpin bertindak berdasarkan informasi yang terbatas, sedangkan bawahannya tidak mau bicara yang sebenarnya, pada akhirnya informasi tersebut diketahui oleh publik dan  menjadi terlambat untuk bertindak, karena pemimpin mengambil keputusan yang salah dan image organisasi sudah terlanjur buruk.  Suatu pengalaman yang tak terlupakan oleh penulis, dan menjadi satu ajang yang baik untuk pembelajaran penulis sendiri.

    Keterbukaan pada sebuah organisasi adalah masuk akal dan memenuhi kriteria etika dan menjadi prasyarat untuk menjalankan bisnis secara efisien dan efektif. Ketidakrelaan para eksekutif untuk memberikan keterbukaan dan kejujuran terhadap information, malahan cenderung melakukan information hoarding atau kontrol karena mereka melihat hal ini adalah sebagai sumber kekuasaan (source of power).  Manajer percaya bahwa akses kepada informasi adalah prasyarat untuk mendapatkan kekuasaan yang memisahkan kasta dirinya dari masyarakat kebanyakan.  Pemimpin yang demikian merasa mereka lebih pandai dari pengikutnya sehingga yang mereka butuhkan dan mereka tahu cara menggunakannya yaitu informasi yang sensitif dan kompleks. Beberapa lebih menyukai ketidaktransparanan karena mereka bisa menyembunyikan kesalahan dalam pengambilan keputusan yang memalukan.

    Keterbukaan Tidak Bisa Dihindari

    art.uyghur.protests.afp.giKita bisa melihat contoh konkrit  di kota Xinjiang, salah satu wilayah terbarat China, terjadi pertikaian antaran minoritas suku Uyghurs yang beragama Islam dengan suku Han yang merupakan pendatang dan mayoritas penduduk di kota tersebut yang menyebabkan kematian orang lebih dari 184 orang dan lebih dari 1000 orang terluka.  Pertikaian Xinjiang apabila tidak ada tranparency barangkali tidak ada orang yang akan mengetahuinya, namun pertikaian ini sudah terendus oleh media sejak beberapa waktu yang lalu hingga menyebabkan Presiden China Hu Jintao harus meninggalkan KTT G8 di Italia untuk menangani masalah tersebut.  Hal ini dimungkingkan karena adanya teknologi informasi baik melalui situs-situs, social media seperti facebook, twitter, maupun melalui jurnalis.

    Keterbukaan akan muncul ketika semua orang mencoba merahasiakannya, itulah mengapa keterbukaan sudah menjadi keharusan dan tidak bisa dihandiri, dan ketika sebuah organisasi tidak menyadarinya maka keterbukaan akan dipaksakan pada organisasi tersebut mau tidak mau.

    Membangun Budaya Keterbukaan

    Hand_plantBudaya keterbukaan tidak ada dengan sendirinya, budaya information hoarding terlalu kuat dalam sebuah organisasi apa pun, dan pemimpin harus menciptakan dan memberikan nurture budaya keterbukaan, artinya mereka harus bisa menjadi role model bagi budaya keterbukaan.  Pemimpin harus mau berbagi informasi, mencari counterargument dari bawahannya, mengakui kesalahan, dan berusaha berperilaku sesuai dengan norma seorang pemimpin inginkan dari orang lain untuk berperilaku.

    Dua hal yang menjadi inti dari budaya keterbukaan yaitu pertama, pemimpin harus berkata sejujur-jujurnya tanpa mengubah-ubah isi yaitu ketika pemimpin tersebut mengeluarkan pernyataan kepada semua level di organisasi, sehingga pengikut atau bawahannya berusaha mati-matian memberikan yang terbaik kepada organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

    Yang kedua, adalah pemimpin harus mendorong pengikut atau bawahannya untuk berkata yang sebenarnya.  Kebenaran membutuhkan dua hal dalam penyampaiannya yaitu orang yang mau mendengarkan dan orang yang berani mengatakannya. Hal ini terjadi di mana saja, di sebuah organisasi, komunitas, tim,  lembaga negara, sekolah, bahkan keluarga.  Jangan sampai menyampaikan kebenaran mendapatkan teror dari atasan yang menyebabkan bawahan atau pengikut tidak ingin berkata yang sebenarnya kepada dunia atau lebih spesifik kepada kepentingan organisasinya.

    Wallahua’lam bishowaab

    Referensi: Harvard Business Review Juni 2009

     
    • jerzz 11:51 am on Juli 12, 2009 Permalink

      visit my blog
      http://jerzz.wordpress.com/

    • Ronald 9:54 pm on Juli 13, 2009 Permalink

      Nice article mas..aplg mengingat unit dmana mas skg kerja,hehe..sukses slalu deh..

  • ghifi 9:31 am on July 5, 2009 Permalink | Balas
    Tags: corporate culture, , greatness, history   

    Bagaimana Raksasa Dunia Jatuh, dan Bagaimana Dia Menolak untuk Menyerah! 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Melihat, mendengar dan membaca review buku ‘How the Mighty Fall‘ yang ditulis oleh Jim Collins, yang bercerita mengenai perusahaan-perusahaan besar jatuh, mengingatkan penulis bahwa dalam waktu dekat akan ada suksesi kepemimpinan di republik ini, baik pemimpin baru maupun pemimpin lama yang mungkin terpilih dan diangkat kembali. Penulis tidak akan berdebat siapa pemimpin yang akan terpilih, karena hal itu tidak penting, yang lebih penting adalah  bagaimana raksasa tersebut, bisa dalam bentuk perusahaan, industri, masyarakat, institusi, bahkan negara tidak terperosok kedalam siklus kehidupan.

    Paling mudah adalah belajar dari sejarah kehidupan, kejayaan perusahaan dan negara-negara di masa lalu, kenapa mereka bisa besar lalu jatuh dan hilang ditelan waktu! Pelajaran yang sangat berharga karena proses tersebut tidak berlangsung dalam waktu semalam, namun melalui fase-fase, terutama kaitannya dalam hal ini adalah fase-fase kejatuhan.

    Mungkin Allah Swt. memiliki cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi melalui ayat-ayat-Nya, dan penulis menemukannya dalam ayat-ayat-Nyagreatness by jim collins yang begitu mulia.  Penulis sendiri kebetulan sedang membaca Al-Qur’an dan kebetulan berada di ayat-ayat pertengahan di Surat Al-Anfal (Surat ke-8) di sana penulis melihat pada ayat-ayat 47-54, seperti merefleksikan keadaan sebuah masyarakat besar yang angkuh seperti jaman Pharaoh (Mesir kuno) salah satunya dimana di dalam review buku tersebut disebut sebagai “Hubris born of Success” yang berarti adalah kesombongan karena kesuksesan dan menurut Al-Quran ini adalah hasil bisikan setan yang membuat organisasi atau masyarakat tersebut berpendapat,:”Tidak ada yang dapat mengalahkan Kami pada hari ini”

    Menurut buku tersebut ini merupakan fase/stage I (pertama) dari sebuah kejatuhan. Namun dalam hal ini bukanlah jawaban yang sebenarnya kita cari, melainkan pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu,”Apakah kita termasuk dalam fase tersebut?Atau” Ah tidak…, kita adalah orang-orang yang sedang mengejar kebesaran menjadi besar dan terhormat.”  Tentunya akan mudah membedakan sebuah institusi atau masyarakat yang mengejar kebesaran dibandingkan dengan institusi atau masyarakat yang dalam sedang fase kejatuhan.  Insitusi atau organisasi, bahkan negara yang memiliki orang-orang yang tepat, mendiskusikan berbagai masalah dan fakta-fakta yang ada yang kemudian bertindak serius untuk mencari dan memberikan solusi, dan dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang serius.  Semua ini  adalah tanda-tanda institusi atau organisasi tersebut sedang menuju kebesaran (greatness).  Berbeda dengan sebuah institusi, organisasi, dan negara atau generasi yang sedang dalam fase kejatuhan, yaitu ketika memasuki fase berikutnya dikenal dengan “Ketidakdisiplinan untuk Mendapatkan Lebih” atau lebih mudah diartikan sebagai ‘greed‘ atau ketamakan yang merupakan saudara dekat kesombongan.  Kita bisa melihat kejatuhan industri-industri besar seperti Citigroup, Bank of America, AIG, GM, Chrysler, New York Times, atau bahkan negara seperti Dinasti Chou, Athena, Romawi, bahkan kerajaan Inggris Raya dimana 100 tahun lalu menjadi super power , mereka merasa besar dan ingin bertumbuh cepat sehingga mengambil keputusan-keputusan berdasarkan ‘greed‘ (bisikan setan) yang menyebabkan mereka memasuki fase berikutnya yaitu fase yang disebut dengan “pengingkaran akan risiko dan bahaya kegagalan”.

    Ketika perusahaan besar melakukan aktivitas M&A (merger & akuisisi) secara membabi buta hanya untuk mengejar kebesaran yang sifatnya tidak ‘sustainable (bertahan lama)‘, atau memilih seorang pemimpin karismatik sebagai juru selamat dan menganggap pemimpin tersebut dapat menyelesaikan segalanya padahal sebenarnya organisasi atau institusi tersebut sudah memasuki fase kejatuhan atau kemunduran. Hingga mereka memasuki fase keempat yaitu “grasping for salvation” yang memiliki arti “ketidaksabaran akan langkah penyelamatan”

    Dan pada fase ini, institusi, dan organisasi, atau negara bisa diartikan dalam keadaan krisis apabila tidak melakukan langkah-langkah dengan benar maka dia akan terperosok pada fase terakhir yaitu fase penyerahan diri terhadap kematian atau ketidakrelevanan dengan jaman seperti yang terjadi dengan kerajaan Mesir kuno, atau Romawi, atau bahkan kerajaan Inggris Raya.

    Menurut Anda apakah negara republik ini tercinta atau organisasi kita pada scope yang lebih kecil termasuk di dalam satu dari fase di atas? Hmmm… sepertinya jawabannya tidak semudah yang dibayangkan atau barangkali  lebih mudah bagaimana kita memberikan pertanyaan yang bagus seperti “Apakah negara atau organisasi kita ini sedang menuju ke sebuah kebesaran (greatness) atau tanpa kita sadari sedang memasuki sebuah fase kehidupan seperti fase hubris born of success (kesombongan) atau undiciplined pursuit of more (ketamakan)?”

    Wallahua’lam bi showaab

     
    • Oq Siregar 10:18 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Gifi ybh.,
      Thx a lot atas pencerahannya. Yah kehancuran suatu regime memang sesuai sunatullah bahwasanya kejayaan bangsa2 akan selalu dipergilirkan oleh YMK.Bisa jadi suatu saat giliran bangsa kita. It’s a nice article to read, thx yah.Gitu Gif.
      MESir

    • isyaratpena 11:26 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Assalamu’alaikum..

      selama masih ada yang berjuang di jalan-Nya seperti yang saat ini sedang dan akan terus dilakukan oleh saudara2 kita di Tanah air. insya Allah.. saya optimis bangsa ini bisa meraih kejayaan yang hakiki.

      nice artikel,

      salam ukhuwah

    • ghifi 11:18 am on Juli 5, 2009 Permalink

      Dear Bang Mulya,
      Mudah2an demikian suatu saat bangsa ini bisa mencapai kebesarannya dengan segala kebersahajaannya dan keberkahannya, tapi mungkin karena saya lemah sejauh memandang bangsa ini masih harus melalui babak-babak pendahuluan sebelum sampai pada fase yang diidamkan, terima kasih
      ghifi

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal