Assalammu’alaikum wr. wb.
Ketika sholat jum’at penulis mendengarkan khatib yang kebetulan pada waktu itu adalah Uztad Ahmad Satori Ismail, walaupun ceramah cukup singkat namun maknanya sangat dalam dan membekas di dalam diri penulis. Barangkali ceramah seperti ini seharusnya sangat menginspirasi pemimpin dan rakyat negara tercinta ini untuk keluar dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar dan terhormat.
Beliau memaparkan sejarah (sirah) kerasulan Muhammad Saw. dan mengatakan bahwa kemerdakaan adalah seharusnya dalam segala aspek, termasuk aspek politik dan ekonomi. Bahkan ketika itu Rasulullah Saw. melihat masyarakat muslim pergi ke pasar yang ketika itu dikuasai oleh kaum Yahudi, kemudian Beliau memerintahkan untuk membangun pasarnya sendiri.
Pada suatu waktu ketika musim kemarau datang, air biasanya sulit untuk didapat dan ketika itu ada satu sumur di kota Madinah yang kebetulan juga milik kaum yahudi yang tidak pernah kering, sehingga masyarakat harus rela mengantre seperti mengantre BLT setiap hari dan harus membayar sejumlah uang kepada si pemilik. Melihat kondisi seperti ini Rasulullah saw., prihatin dan beliau bersabda,”Wahai Saudara-Saudaraku barangsiapa yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu dan disumbangkan kepada umat maka akan mendapatkan surganya Allah Swt!”
Ketika para sahabat mendengar sabda itu yang pertama kali terhentak untuk bisa merebut sumur tersebut adalah sahabat Utsman bin Affan r.a. yang memang beliau adalah saudagar yang kaya dan cerdik. Beliau langsung mendatangi orang yahudi tersebut dan karena yang ada dalam pikiran Utsman r.a. bahwa yang didapat adalah Surga maka beliau berniat membayar berapapun yang diminta oleh si pemilik dan akan memberikan kepada umat secara ‘gratis‘ karena seyogyanya air memang gratis.
Singkat cerita, sang pemilik tidak mau menyerahkan propertinya karena sumur air tersebut merupakan sumber pendapatan hariannya. Bahkan ketika Utsman r.a. menawar harga hingga 3(tiga) kali dari harga pasar, sama sekali hal tersebut tidak digubris oleh sang pemilik. Terpaksalah pada hari itu sahabat Utsman r.a. pulang dengan tangan hampa. Tetapi Sahabat yang cerdik ini hari berikutnya kembali lagi tentunya membawa proposal lainnya. Beliau berkata kepada sang pemilik “Bagaimana kalau Saya membeli separo sumur Anda? Dengan begitu Engkau masih memiliki sumber pendapatan dan mendapatkan uang yang banyak!” Sang pemilik berkata, “Bagaimana caranya membagi menjadi separo?” Sahabat mengatakan,”Yang saya maksud dengan saparo adalah hari ini sumur ini milik Saya besok sumur ini milik Anda dan begitu seterusnya!” Sang pemilik berpikir sebentar dan akhirnya setuju atas proposal Utsman r.a.
Begitu sudah sepakat dan kontrak pembelian ditandatangani segera saja sahabat Utsman r.a. mengumumkan kepada umat muslim bahwa Beliau sudah membeli separo dari sumur, dan masyarakat bisa mengambil air gratis tetapi karena baru separo, sahabat Utsman r.a. mengatakan bahwa kalau bisa pada saat sumur tersebut menjadi menjadi miliknya sebisa mungkin mengambil air untuk persediaan dua hari sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk hari berikutnya. Sehingga begitulah akhirnya, masyarakat mengambil air untuk persediaan dua hari. Dan ketika giliran pemilik yang separo lagi, orang yahudi tersebut langsung bingung mengapa orang Muslim yang biasanya mengantre, hari tersebut tidak terlihat ada yang mengambil air, dan setelah berlangsung selama sebulan maka kembali datanglah Ustman bin Affan r.a. untuk menawarkan pembelian separuh properti orang Yahudi tersebut dari pada dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Dan akhir cerita sahabat Ustman berhasil membebaskan ketergantungan umat dari air.
Sejarah tersebut seharusnya juga menginspirasi kita untuk mendapatkan kebebasan umat secara ekonomi, politik dan sosial. Negara ini masih sangat tergantung dari pihak-pihak luar padahal sumber daya begitu kaya dan jumlah penduduk begitu potensial. Tentunya hal ini tidak bisa disalahkan pada pemimpin di masa lalu saja, bisa jadi pemimpin kita juga memiliki keterbatasan, namun di luar itu semua dari kita harus berpikiran bahwa keuntungan jangka panjang dapat diraih bersama ketika “keuntungan” ini adalah kemasalahatan jangka panjang, dan bukan keuntungan jangka pendek (baca: bottom line).
Bangsa ini memerankan peranan yang luar biasa penting, beberapa kali Presiden Barack Obama menyatakan ingin berkunjung ke Indonesia di bulan November 2009 ini karena Beliau membaca bahwa Indonesia yang memiliki jumlah populasi muslim terbesar di dunia dan terkenal dengan Muslim yang moderat serta dapat menghargai serta sangat toleran dengan agama lain, bisa menjadi contoh bagi dunia terutama karena dunia ini sedang dilanda oleh konflik civilization yang besar khususnya dunia Muslim dan barat, terutama di bidang sosial, politik dan ekonomi. Presiden Barack Obama melihat bahwa kekayaan seni budaya baik yang tradisional maupun kontemporer bisa membawa kedekatan antara dua budaya yang sedang berkonflik (sumber: project syndicate)
Mudah-mudahan kemerdekaan bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. dan rakyatnya terbuka matanya untuk memahami makna hakiki dari kemerdekaan yaitu kemerdakaan dalam segala hal, dan pada akhirnya diri Kita sendirilah yang menentukan arah kemana bangsa ini akan pergi dan posisi bangsa ini ketika berdiri dan bersanding sejajar serta mendapatkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain karena budaya toleran dan saling menghargai yang merupakan fondasi utama karakter bangsa ini, dan bisa jadi salah satu modal kekuatan untuk mandiri dan memberikan kontribusinya kepada dunia.
Merdeka!!!
Wallahua’lam bishowaab
Dengan persaingan bisnis yang sangat sengit seperti ini, adalah sangat berat apabila dalam berbisnis kita hanya mengandalkan strategi menjual produk-produk komoditas, misalnya kalau di perbankan ada produk tabungan, deposito, rekening giro, asuransi, kredit korporasi/komersial, maupun jasa-jasa yang seperti jasa pembayaran maupun transaksi/transfer antar bank terutama sekali menghadapi pasar yang secara terpaksa mengalami downshifter.
Potret diri itu adalah identitas kita. Demikian pula belief kita. Ia adalah identitas kita. Belief mencerminkan diri kita yang sebenarnya. Kalau ia bagus dan menarik, ama kita percaya bahwa kita akan disenangi. Sebaliknya kalau ia tidak simetris, banyak masalah dan ketakutan, ancaman dan kesulitan-kesulitan, ia mengingatkan kita akan kemungkinan penolakan, ketersinggungan, kebencian, penyingkiran, kegagalan, dan sebagainya.
Dalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral. Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis. Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita. Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
Dalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan. Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global. Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya. Yang pertama adalah definisi kemiskinan. Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan. Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
melakukan intervensi terhadap ekonomi. Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
Para ekonom sejak lama memiliki konstituen untuk mendukung pertumbuhan. Karena walaupun sebuah Negara terkaya memiliki sumber daya yang terbatas, pusat permasalahan pada ekonomi adalah pilihan: Apakah kita mendanai pemotongan pajak kepada yang kaya atau melakukan investasi pada infrastruktur dan R&D, atau perang di Iraq atau bantuan kepada kaum miskin di Negara-negara berkembang atau diri kita sendiri? Dengan memfasilitasi keseluruhan sumber daya, pertumbuhan dalam teori seharusnya membuat pilihan-pilihan ini sedikit lebih mudah.
pertumbuhan akan didukung oleh kondisi sosial seperti keadilan yang lebih besar dan lingkungan yang lebih baik. Peraih nobel ekonomi Simon Kuznet memberikan argumentasinya berdasarkan pengalamannya sebelum perang dunia kedua bahwa adanya peningkatan ketidak adilan pada fase-fase awal perkembangan. Arthur Lewis pemenang Nobel ekonomi lainnya menelaah lebih lanjut, adanya ketidaksamaan yang lebih besar adalah penting untuk dapat memberikan saving/tabungan yang dibutuhkan oleh pertumbuhan. Generasi ekonom berikutnya memposisikan keberadaan kurva lingkungan Kuznet: fase awal pada pertumbuhan menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi bukan kesehatan pada lingkungan.
Friedman menekankan khususnya akan pentingnya pengaruh externality (efek transaksi ekonomi), Dalam banyak contoh dimana perbuatan pelaku ekonomi memiliki konsekuensi-konsekuensi bagi pihak-pihak lain dimana pelaku ekonomi tersebut tidak harus membayar (negative externalities) atau dimana pihak tersebut tidak dikompensasi (positive externalities).
Walaupun salah satu dari keuntungan sosial yang lebih luas adalah lebih terbuka dan toleran dalam sebuah komunitas, Friedman menjelaskan secara berhati-hati bahwa hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan adalah 2 (dua) arah; pertumbuhan mempengaruhi demokrasi, demokrasi mempengaruhi pertumbuhan. Kedua aspek hubungan ini sangat kompleks dan seringkali tidak jelas. Bangsa Cina tidak secara khusus adalah Negara yang mengusung demokrasi atau secara politik terbuka namun memiliki pertumbuhan yang paling cepat dan paling berkesinambungan dibandingkan negara lain karena mereka lebih diterima oleh khalayak ramai, lebih memperhatikan kepada si miskin. Namun Cina telah melakukan lebih banyak pengurangan kemiskinan dibandingkan negara-negara lainnya. Pada periode trakhir, Amerika Serikat melihat median real income menurun di rumah tanga dan si kaya mendapatkan potongan pajak yang besar walaupun si miskin bertumbuh.
atau tidak. Pertanyaan seharusnya apakah ada kebijakan yang dapat mempromosikan apa yang disebut dengan pertumbuhan yang bermoral, yaitu pertumbuhan yang berkesinambungan yang meningkatkan standar kehidupan tidak hanya hari ini tapi untuk generasi mendatang dan membangun masyrakat yang lebih bertoleransi, sebuah mayarakat yang terbuka? Dan apakah ada yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa keuntungan dari petumbuhan dapat dibagi secara merata, membangun masyarakat degan keadilan sosial dan penuh solidaritas dibandingkan dengan pemisahan atau pembuatan gap yang sangat terlihat jelas di New Orleans ketika ada bencana alam badai Katrina?
Saya memiliki pengalaman dengan memperdalam dan mengklarifikasi diri Saya dalam memahami yang Saya miliki. Ketika Saya di Kenya, dan Saya ingin sedikit berbagi dengan Anda. Saya dengan teman Saya Susan Meiselas, seorang fotografer, di kawasan kumuh di bukit Mathare. Sekarang ini, bukit Mathare merupakan salah satu kawasan kumuh tertua di Afrika. Jaraknya sekitar 5 km dari Nairobi, dan dengan panjang sekitar 1,5 km dan lebar sekitar 300 Meter di mana lebih dari 1 juta orang tinggal di kawasan rumah kumuh yang terbuat dari seng (mirip seperti di kawasan kumuh Jakarta), dari generasi ke generasi, menyewakan rumah kumuh tersebut, seringkal ada 8 – 10 orang yang tinggal dalam 1 kamar. Dan dikenal sebagai tempat prostitusi, kekerasan, narkoba. Tempat yang mengenaskan untuk dapat tumbuh sebagai seorang manusia. Dan Ketika kita berjalan melalui gang sempit, secara logika sangat tidak mungkin tidak menginjak pipa-pipa dan sampah-sampah disamping rumah2 yang kecil. Namun pada saat yang bersamaan juga tidak mungkin tidak dapat melihat kehidupan manusia, aspirasi dan ambisi yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di sana. Wanita mencuci bayinya, bajunya, dan menggantungnya supaya kering. Saya bertemu dengan wanita ini, Mama Rose, yang menyewa rumah seng yang kecil selama 32 tahun, dimana dia tinggal dengan anak2nya 7 orang. 4 anaknya tidur di satu ranjang ukuran twin, dan 3 lainnya tidur di lantai yang dilambari dan berlumpur; Dan dia menyekolahkan anaknya dengan menjual air dari kiosnya dan dari menjual sabun dan roti dari toko kecil di bagian dalam. 



Kembali pada topic diskusi diatas, walaupun begitu, saat ini kritisi kelemahan system keuangan tidak hanya focus pada paradigma pasar bebas (privatisasi) yang dominan dimiliki oleh Klasik, tetapi juga pada pondasi Kapitalisme, yaitu credit system dan prilaku serakah yang ter-legal-kan oleh Kapitalisme (misalnya perusahaan sekuritas hanya mengandalkan assessment dari perbankan terhadap credit risk dalam menerbitkan surat-surat berharganya). Dengan credit system dan ciri prilaku spekulatif-nya, system keuangan konvensional modern dikritisi secara alami memiliki fragility. Prilaku serakah pada gilirannya membuat kecenderungan-kecenderungan dimana fenomena dan kebijakan ekonomi kehilangan esensinya sebagai alat pengentasan masalah perekonomian. Dalihnya ekonomi semakin maju, tetapi masalah esensi ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran atau bahkan kriminalitas ternyata semakin meningkat disekitar kita.
seperti dengan mudah membentuk buruk sangka pada ekonom-ekonom Indonesia yang saya tahu sudah bekerja begitu keras menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global. Indikator-indikator seperti inflasi, valas, pengangguran, melepaskan diri dari jeratan IMF & pendiktean negara maju, kemudian berusaha vokal di forum global, termasuk menghindari kebijakan proteksionisme, serta selalu berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan regional ekonomi bersama negara-negara tetangga dijalankan dengan sangat baik, bahkan nilai Rupiah menjadi terjaga tidak terjerembab lebih jauh.
Tetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depression, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.

Dian Milani Hakim 8:45 am on Juni 17, 2009 Permalink
Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.
ghifi 1:32 pm on Juni 17, 2009 Permalink
Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.
Demikian dari saya
cheers,
ivenxadytia 6:18 pm on Juli 17, 2009 Permalink
wah… serujuga baca blog nya…
success yah….