Latest Updates: ekonomi RSS

  • Makna Kemerdekaan 

    ghifi 8:04 am on August 9, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , , ekonomi, independence day,

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Ketika sholat jum’at penulis mendengarkan khatib yang kebetulan pada waktu itu adalah Uztad Ahmad Satori Ismail, walaupun ceramah cukup singkat namun maknanya sangat dalam dan membekas di dalam diri penulis.  Barangkali ceramah seperti ini seharusnya sangat menginspirasi pemimpin dan rakyat negara tercinta ini untuk keluar dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar dan terhormat.

    benderaBeliau memaparkan sejarah (sirah)  kerasulan Muhammad Saw. dan mengatakan bahwa kemerdakaan adalah seharusnya dalam segala aspek, termasuk aspek politik dan ekonomi.  Bahkan ketika itu Rasulullah Saw. melihat masyarakat muslim pergi ke pasar yang ketika itu dikuasai oleh kaum Yahudi, kemudian Beliau memerintahkan untuk membangun pasarnya sendiri.

    Pada suatu waktu ketika musim kemarau datang, air biasanya sulit untuk didapat dan ketika itu ada satu sumur di kota Madinah yang kebetulan juga milik kaum yahudi yang tidak pernah kering, sehingga masyarakat harus rela mengantre seperti mengantre BLT setiap hari dan harus membayar sejumlah uang kepada si pemilik.  Melihat kondisi seperti ini Rasulullah saw., prihatin dan beliau bersabda,”Wahai Saudara-Saudaraku barangsiapa yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu dan disumbangkan kepada umat maka akan mendapatkan surganya Allah Swt!”

    Ketika para sahabat mendengar sabda itu yang pertama kali terhentak untuk bisa merebut sumur tersebut adalah sahabat Utsman bin Affan r.a. yang memang beliau adalah saudagar yang kaya dan cerdik.  Beliau langsung mendatangi orang yahudi tersebut dan karena yang ada dalam pikiran Utsman r.a. bahwa yang didapat adalah Surga maka beliau berniat membayar berapapun yang diminta oleh si pemilik dan akan memberikan kepada umat secara ‘gratis‘ karena seyogyanya air  memang gratis.

    Singkat cerita, sang pemilik tidak mau menyerahkan propertinya karena sumur air tersebut merupakan sumber pendapatan hariannya.  Bahkan ketika Utsman r.a. menawar harga hingga 3(tiga) kali dari harga pasar, sama sekali hal tersebut tidak digubris oleh sang pemilik.  Terpaksalah pada hari itu sahabat Utsman r.a. pulang dengan tangan hampa.  Tetapi Sahabat yang cerdik ini hari berikutnya kembali lagi tentunya membawa proposal lainnya. Beliau berkata kepada sang pemilik “Bagaimana kalau Saya membeli separo sumur Anda? Dengan begitu Engkau masih memiliki sumber pendapatan dan mendapatkan uang yang banyak!” Sang pemilik berkata, “Bagaimana caranya membagi menjadi separo?”  Sahabat mengatakan,”Yang saya maksud dengan saparo adalah hari ini sumur ini milik Saya besok sumur ini milik Anda dan begitu seterusnya!” Sang pemilik berpikir sebentar dan akhirnya setuju atas proposal Utsman r.a.

    Begitu sudah sepakat dan kontrak pembelian ditandatangani segera saja sahabat Utsman r.a. mengumumkan kepada umat muslim bahwa Beliau sudah membeli separo dari sumur, dan masyarakat bisa mengambil air gratis tetapi karena baru separo, sahabat Utsman r.a. mengatakan bahwa kalau bisa pada saat sumur tersebut menjadi menjadi miliknya sebisa mungkin mengambil air untuk persediaan dua hari sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk hari berikutnya.  Sehingga begitulah akhirnya, masyarakat mengambil air untuk persediaan dua hari.  Dan ketika giliran pemilik yang separo lagi, orang yahudi tersebut langsung bingung mengapa orang Muslim yang biasanya mengantre, hari tersebut tidak terlihat ada yang mengambil air, dan setelah berlangsung selama sebulan maka kembali datanglah Ustman bin Affan r.a. untuk menawarkan pembelian separuh properti orang Yahudi tersebut dari pada dia tidak mendapatkan uang sama sekali.  Dan akhir cerita sahabat Ustman berhasil membebaskan ketergantungan umat dari air.

    Sejarah tersebut seharusnya juga menginspirasi kita untuk mendapatkan kebebasan umat secara ekonomi, politik dan sosial.  Negara ini masih sangat tergantung dari pihak-pihak luar padahal sumber daya begitu kaya dan jumlah penduduk begitu potensial.  Tentunya hal ini tidak bisa disalahkan pada pemimpin di masa lalu saja, bisa jadi pemimpin kita juga memiliki keterbatasan, namun di luar itu semua dari kita harus berpikiran bahwa keuntungan jangka panjang dapat diraih bersama ketika “keuntungan” ini adalah kemasalahatan jangka panjang, dan bukan keuntungan jangka pendek (baca: bottom line).

    Bangsa ini memerankan peranan yang luar biasa penting, beberapa kali Presiden Barack Obama menyatakan ingin berkunjung ke Indonesia di bulan November 2009 ini karena Beliau membaca bahwa Indonesia yang memiliki jumlah populasi muslim terbesar di dunia dan terkenal dengan Muslim yang moderat serta dapat menghargai serta sangat toleran dengan agama lain, bisa menjadi contoh bagi dunia terutama karena dunia ini sedang dilanda oleh konflik civilization yang besar khususnya dunia Muslim dan barat, terutama di bidang sosial, politik dan ekonomi.  Presiden Barack Obama melihat bahwa kekayaan seni budaya baik yang tradisional maupun kontemporer bisa membawa kedekatan antara dua budaya yang sedang berkonflik (sumber: project syndicate)

    Mudah-mudahan kemerdekaan bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. dan rakyatnya terbuka matanya untuk memahami makna hakiki dari kemerdekaan yaitu kemerdakaan dalam segala hal, dan pada akhirnya diri Kita sendirilah yang menentukan arah kemana bangsa ini akan pergi dan posisi bangsa ini ketika berdiri dan bersanding sejajar serta mendapatkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain karena budaya toleran dan saling menghargai yang merupakan  fondasi utama karakter bangsa ini, dan bisa jadi salah satu modal kekuatan untuk mandiri dan memberikan kontribusinya kepada dunia.

    Merdeka!!!

    Wallahua’lam bishowaab

     
  • Marketing Therapy di Masa Krisis 

    ghifi 9:46 am on July 25, 2009 Permalink | Balas
    Tag: downshifting, ekonomi, , marketing

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    slow down downshiftingDengan persaingan bisnis yang sangat sengit seperti ini, adalah sangat berat apabila dalam berbisnis kita hanya mengandalkan strategi menjual produk-produk komoditas, misalnya kalau di perbankan ada produk tabungan, deposito, rekening giro, asuransi, kredit korporasi/komersial, maupun jasa-jasa yang seperti jasa pembayaran maupun transaksi/transfer antar bank terutama sekali menghadapi pasar yang secara terpaksa mengalami downshifter.

    Definisi downshifter sendiri ada dua, yaitu yang secara voluntary(sukarela) dimana nasabah ini memiliki perilaku untuk mengurangi konsumsi dan untuk hidup lebih sederhana. Kehidupan yang menurut riset di negara-negara maju seperti di Australia dan Amerika Serikat di mana nasabah seperti ini mengurangi jam kerja atau memilih pekerjaan dengan bayaran lebih rendah atau bahkan berhenti bekerja dan memilih berbisnis sendiri dengan tujuan untuk  memiliki waktu lebih bersama keluarga (35%), memiliki gaya hidup yang lebih sehat (27%), mencari keseimbangan dalam hidup (komunitas)  (16%). Nasabah seperti ini terbiasa bekerja keras di masa lalu ketika ekonomi bertumbuh, namun dia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, atau melakukan sesuatu yang dia sukai, atau  bahkan mulai dari  pertengkaran-pertengkaran kecil di dalam keluarga sehingga mengalami perceraian, atau kehilangan anggota keluarga dekat, mendapatkan penyakit serius, atau ketika usahanya mengalami kebangkrutan.   Yang apabila ditimbang-timbang sebenarnya antara biaya yang dikeluarkan (kuantitatif & kualitatif) dibandingkan dengan keuntungan yang didapat tidak setimpal. Downshifting tipe ini bertujuan untuk ‘upshift‘ area kehidupan selain dari pekerjaan orang tersebut.  Di negara maju terutamanya, downshifting sudah menjadi core belief dan kita akan bicara banyak mengenai hal ini.

    Downshifting tipe yang kedua adalah merupakan kondisi yang memaksa, terutama pada saat krisis, banyak orang kehilangan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih kecil, sehingga mereka dengan terpaksa mengurangi konsumsi.  Untuk tipe ini barangkali sangat relevan di negara-negara berkembang atau yang terimbas krisis seperti di republik ini ketika banyak perusahaan yang berorentasi ekspor mengalami downsizing bahkan kebangkrutan, sehingga harus mengurangi jumlah pekerjanya.

    Penulis melihat bahwa downshifting tidak berarti konsumsi masyarakat menjadi berkurang, ini hanya menandakan bahwa mereka memindahkan alokasi konsumsi mereka dan ini juga berarti bahwa sektor UMKM makin berkembang pesat karena banyaknya orang-orang yang tadinya berstatus pegawai, kemudian mereka banting stir mencoba untuk membuka usaha kecil-kecilan lewat sektor informal, dan tentunya  kesempatan untuk berbisnis ini muncul ketika krisis karena bisa jadi adanya downshifting, ditambah mereka mencari alternatif pendapatan serta biaya untuk memulai bisnis biasanya juga lebih murah.

    Para downshifter biasanya akan mengkonsumsi lebih sedikit dan pindah ke rumah yang lebih sederhana untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih bahagia.  Penulis pernah menulis bahwa materialisme tidak membawa kebahagiaan, dan begitu banyak downshifter tipe satu dan tipe dua yang ada di republik ini.  Ini adalah kesempatan emas bagi pelaku bisnis untuk memberikan solusi, jemput bola kebutuhan para nasabah downshifter ini.Downshifting to enjoy life revised

    Hal ini harus disikapi dengan dewasa oleh pelaku bisnis, karena bisa jadi sumber daya manusia tidak siap menghadapi hal-hal seperti ini, mereka bisa jadi demotivasi karena beranggapan bahwa bisnis masih suka saling membajak sumber daya manusia dari pesaingnya dan fokus pada produk-produk yang dimiliki bahkan masih banyak cemooh bahwa pelaku bisnis hanya mencari keuntungan jangka pendek saja tidak peduli akan live and soul dari organisasinya.

    Namun dalam visi untuk membentuk ke depan, perilaku konsumen dan perubahan lingkungan harus terus menerus menjadi perhatian, sebenarnya solusi apa yang paling sesuai dengan pasar dan kemampuan bisnis itu sendiri.

    Marketing therapy sebenarnya adalah suatu metode untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) suatu organisasi untuk menghadapi perubahan perilaku nasabah yang berlangsung terus menerus.  Self assessment (melalui psichology/cognitive questionnaire yang dapat diadopsi dari beberapa sumber(1) ) kepada tim sales/marketing harus dilakukan bukan untuk menguji personaliti kita tetapi lebih seperti semacam coaching atau pun focus discussion group untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan tim, dan bagaimana untuk menterapi agar ghiroh dalam berjuang menjadi lebih tinggi sesuai dengan core belief, visi dan misi organisasi.

    Core Belief

    Sebagai contoh semakin banyak orang minta fotonya diulang! Dalam era digital dewasa ini, orang-orang kita punya kebiasaan baru, yaitu senang berfoto. Perhatikanlah isi tas teman-teman kita.  Umumnya mreka punya kamera digital, baik berupa mini camera atau kamera yang ada di ponsel mereka. Lantas perhatikanlah, mengambil gambar sama yang sama berkali-kali. Sekali gambar diambil mereka melihatnya di layar monitor. Mengapa mereka mengambil foto diulang-ulang?  Benar, karena gambarnya kurang bagus. Kelebihan cahaya, kurang sinar, terlalu gelap, atau mereka minta diulang karena tidak puas melihat wajahnya tidak bagus di dalam layar monitor.  Entah terlihat murung, kurang senyum, mata merem, kurang gagah, tidak cantik, terkesan galak, pokoknya mereka tidak menyukainya. Penulis sering bertanya, wajah siapa yang pertama-tama Anda lihat begitu foto bersama bisa dilihat hasilnya? Jelas sekali, tentu wajah kita sendiri bukan? Manusia mengatakan sebuah foto itu bagus atau jelek, minta diulang atau tidak, bukan karena wajah teman-temannya, melainkan karena wajahnya sendiri yang terlihat kurang bagus.

    Diri kita adalah kepribadian kita.  Demikian pulalah dengan belief (prinsip) kita.  Ia merupakan potret bagi diri kita.  Kalau foto itu bagus, Anda ingin melihatnya berulang-ulang dan ingin kita berikan kepada teman-teman, kita tampilkan ke dalam blog, facebook, flickr, picasa, dan situs-situs lain di dunia maya. Kita berpikir mereka semua menerima kita karena potret kita bagus dan menarik.  Kita ingin semua orang bilang kita cantik/ganteng, smart, ceria, dan seterusnya.  Kita punya rasa percaya diri dan Kita merasa diterima.  Kita punya ekspektasi positif dari belief yang positif.  Sebaliknya kalau potret itu tidak begitu bagus, wajah kita terlihat melotot, tidak simetris, judes, bodoh, arogan, dan sebagainya dapat membuat kita khawatir orang akan menjauh dan tak menginginkan kita.  Kita sudah memproyeksikan bahwa orang akan mengejek, menghina, menjauhi, dan meyulitkan kita.

    marketing psychotherapyPotret diri itu adalah identitas kita.  Demikian pula belief kita. Ia adalah identitas kita. Belief mencerminkan diri kita yang sebenarnya.  Kalau ia bagus dan menarik, ama kita percaya bahwa kita akan disenangi.  Sebaliknya kalau ia tidak simetris, banyak masalah dan ketakutan, ancaman dan kesulitan-kesulitan, ia mengingatkan kita akan kemungkinan penolakan, ketersinggungan, kebencian, penyingkiran, kegagalan, dan sebagainya.

    Kalau belief kita cerah dan bersemgangat, kita akan menyatakan sebaliknya.  Kita mebayangkan dunia yang indah-indah.  Penjualan yang naik terus, orang-orang bisa mendapatkan pekerjaan, keluarga mereka bahagia, anak-anak mereka dan anak-anak kita bisa bersekolah tinggi, dapat membiayai pemeliharaan kesehatan, semua orang mendapat bonus, kita bisa mencicil rumah dengan tenang, orangtua naik haji dengan nyaman, memperoleh tanda penghargaan, diterima baik oleh tetangga dan teman-teman.

    Dengan gambaran yang demikian, kita akan menurunkan aturan: Jangan menyerah, maju terus, dunia bisa lebih indah kalau saya mengubahnya, krisis tidak terjadi di sini karena saya ada. Jadi belief itu akan mengantarkan kita ke mana hidup kita kendalikan.  Ia akan menarik orang-orang yang sepaham dan bergerak berirama menuju satu tujuan, apakah membuka pintu surga atau menutupnya, ke surga atau ke neraka, ke arah bahagia atau penderitaan.

    Bagi para manajer, ini adalah kesempatan untuk menata kembali tim sales dan marketingnya untuk melakukan assessment menggunakan metode ini untuk mencocokkan core value para pegawai dengan core value perusahaan dan apabila ada mismatch maka harus ada perbaikan (dalam bentuk therapy psikis) bisa dalam bentuk aktivitas untuk menguatkan kinerja tim atau komitmen antara atasan dan bawahan atau antara perusahaan dengan pegawai, atau penugasan dan lain sebagainya yang semuanya bertujuan  melakukan matching dengan core value perusahaan, namun apabila langkah-langkah ini gagal dilakukan tentunya manajer dapat mengambil cara-cara lain seperti rotasi dan rolling di dalam organisasi sesuai dengan kompetensi dan ghiroh para pegawai untuk memastikan keefektifan sebuah organisasi.

    Tak dapat dipungkiri bahwa dunia ini terus berubah, dibentuk dan dipertajam oleh seluruh makhluk yang mendiami bumi ini.  Maka, tak ada kata kunci lain selain ikut berubah, menyesuaikan diri, atau beradaptasi. Bila tidak, bersiaplah untuk dilindas oleh perubahan, seperti halnya dinosaurus yang telah punah. Kita sudah menyaksikan sendiri betapa berbahayanya menahan perubahan.  Itulah yang dialami bangsa ini beberapa kali berturut-turut dalam 40 tahun terakhir ini. Ini dialami oleh para penguasa politik, presiden, pemilik perusahaan, pemilik merek-merek, dan tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang selalu menyuarakan perlawanan daripada ikut bergulat dalam perubahan.  Saat alam berubah demikian pula hukum-hukumnya. Maka kita tidak bisa memakai hukum yang sama untuk menghadapi medan yang sudah berubah.

    Barangkali untuk menghadapi krisis ini dibutuhkan play book (buku pedoman bermain) atau text book yang baru yang berasal dari hati dan pikiran yang benar-benar murni.  Kita memulai melalui marketing therapyyaitu mengajak kita untuk melakukan therapy pada pasukan pemasaran kita agar lebih siap menghadapi krisis dengan keyakinan teguh untuk menang.

    Wallahua’lam bishowaab

    Referensi: Marketing in Crisis oleh Rhenald Kasali

    (1) Comprehensive handbook of personality and psycopathology

     
  • Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II) 

    ghifi 9:20 pm on June 16, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, , ,

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Kemenangan Adalah Pada Pendapatan

    ‘Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!’

    Bureaucracy_CartoonDalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral.  Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis.  Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita.  Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
    Dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya Amerika Serikat telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dalam hal pendapatan, atau Anda mungkin mengasumsi jika Anda fokus secara eksklusif pada GDP.  Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!
    Tidak ada seorangpun yang melihat hanya omset penjualan sebuah perusahaan untuk melihat seberapa bagus perusahaan bekerja.  Jauh lebih relevan adalah melihat buku besarnya (balance sheet) yaitu bagaimana antara asset dan kewajibannya.  Hal ini juga berlaku terhadap sebuah Negara.  Argentina telah bertumbuh sangat cepat di awal tahun 1990 yang utamanya merupakan hasil dari konsumsi berlebihan yang didanai oleh pinjaman luar negeri.  Akan tetapi pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berkesinambungan  atau dapat dibuat menjadi berkesinambungan.  Mirip dengan Amerika serikat yang meminjam berlebihan dari luar negeri pada rasio USD 2 Miliar per hari.  Akan menjadi lain apabila pinjaman ini dipergunakan untuk investasi yang memiliki produktif tinggi.  Pada kenyataannya, pinjaman ini digunakan untuk menandai peningkatan konsumsi dan pengurangan pajak kepada warga amerika yang kaya.
    Pertimbangkan contoh berikut:  Ketika anda dapat memilih Negara mana Anda dapat hidup tapi akan diberikan pendapatan yang sifatnya acak dari distribusi pendapatan Negara tersebut, apakah anda akan memilih Negara dengan GDP per kapita paling tinggi? Jawabannya adalah tidak.  Yang lebih relevan terhadap pengambilan keputusan adalah median pendapatan ( level pendapatan dimana 50% dari populasi di bawah dan 50% di atas).  Ketika distribusi pendapatan menjadi lebih terdistorsi (skew), dimana median menjadi bertambah turun di bawah mean.  Inilah mengapa walaupuan GDP per kapita meningkat di Amerika Serikat tetapi median pendapatan rumah tangga sebenarnya menurun.
    Ada alasan lain mengapa seseorang belum tentu ingin melihat hanya kepada GDP per kapita.  Seseorang mungkin khawatir terhadap rasa amannya.  Bagaimana kalau dia sakit? Atau kehilangan pekerjaannya?  Bagaimana ketika dia harus pensiun? Mungkin dia juga khawatir terhadap tindak kejahatan.  Dia juga khawatir terhadap kualitas sekolah anak2nya.  Bagaimana anak2nya berkompetisi dengan yang lain yang dapat membayar sekolah terbaik atau dengan negara2 seperti S’pore yang memberikan fasilitas publik terbaik untuk pendidikan? Dia mungkin juga khawatir terhadap lingkungan.  Apakah regulasi pemerintah melarang kadar arsenik dalam air?
    Ketika kita melihat melalui lensa-lensa ini maka Amerika Serikat tidak terlihat lebih baik.  Beberapa dimensi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang lain sebagai contoh Amerika Serikat memiliki 5 s/d 10 kali populasi penjara per kapita dibandingkan dengan Negara-negara industri lainnya dan bekerja lebih lama dalam seminggu.  Amerika serikat juga memiliki keamanan pekerjaan lebih jelek, asuransi pengangguran yang lebih buruk dan lebih sedikit orang yang dapat dilindungi asuransi kesehatan.
    Pastinya mimpi-mimpi orang amerika masih menarik bagi jutaan orang di seluruh dunia.  Namun mimpi-mimpi itu bisa saja hanya berdasarkan pada mitos  pada kenaikan status di Amerika Serika dan pernghargaan yang minimal terhadap kesulitan yang dialami oleh orang miskin.  Walaupun tidak ada standar yang dapat membandingkan antara standar kehidupan di Amerika Serikat dengan negara-negara miskin, dan hal ini memang bukan pijakan yang dapat dijadikan sandaran.

    Langkah Separo-Separo dan Salah Langkah

    ‘Rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan’

    robin hoodDalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan.  Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global.  Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya.  Yang pertama adalah definisi kemiskinan.  Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan.  Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
    Kritikan kedua ada terkait dengan poin dengan yang penting adalah bukanlah globalisasi per se namun leibh kepda kebijakan yang spesifik yang terkait dengan globalisasi.  Liberalisasi pasar modal, sebagai contoh mendukung integrasi yang lebih dekat dengan pasar modal pada khususnya yaitu modal masuk dalam jangka waktu pendek.  Teori ekonomi modern dan analisa empiris menunjukkan bahwa adanya ketidaksempurnaan pasar modal bahwa integrasi seperti ini akan menyebabkan ketidakstabilan kepada ekonomi. Sebuah kesimpullan bahwa bahkan IMF sudah mendukungnya, dan tidak memiliki imbas yang siknifikan pada pertumbuhan.  Ada bukti lain bahwa si miskin harus menerima imbas dan beban terburuk dari naiknya ketidakstabilan ini.  Pendeknya, aspek pada integrasi ekonomi seperti ini sebenarnya meningkatkan kemikinan tanpa memberikan imbas pada pertumbuhan.

    Yang ketiga adalah bahwa Friedman terlalu mengandalkan hasil karya Xavier Sala-i-Martin (The Disturbing “Rise” of Global Income Inequality) dan Surjit Bhalla (Imagine There’s No Country: Poverty, Inequality, and Growth in the Era of globalization) yang menjadi subjek kritikan besar, tanpa mengingatkan kepada pembaca mengenai perdebatan mengenai angka-angka tersebut.  Dapat dikatanan bahwa memiliki artikel yang dipublikasikan dalam jurnal yang mendapatkan review dari rekannya dan memiliki kesimpulan yang diimitasi di dalam media tidak sacara otomatis secara implicit memiliki validitas).  Masalah adalah mudah untuk dibeberkan namun susah untuk diperbaiki, penelitian mengenai ketidakadilan dan kemiskinan adalah berdasarkan dari survey pendapatan dan pengeluraran rumah tanga, namun angka-angka itu dapat dikumpulkan dari penelitian-penelitian itu menjadi tidak konsisten dengan akun pendapatan nasional, sebuah outcome yang melansir adanya kurangnya laporan pada survey rumah tangga.  Satu solusi yan gmudah kepada discrepancy (ketidaksamaan ) ini  adalah pendekatan yang dgunakan oleh Sala-i-Martin dan bhalla, yang membesar-besarkan angka dari survey rumah tangga.  Ketika rata-rata pendapatan dilaporkan adalah USD 3000 dan akun pendapatan nasional menunjukkan rata2 pendapatan rumah tangga sebesar USD4000, adanya peningkatan laporan pendapatan individu sebesar 1/3.  Hal ini secara langsung berdampak mengurangi angka jumlah orang yang hidup di dalam kemiskinan.
    Namun pendekatan yang lebih canggih mengobservasi bahwa individu dengan pendapatan tinggi lebih takut dan khawatir kepada petugas pajak dibandingkan dengan si miskin.  Dalam sudut pandang ini, ketidakbenaran pada laporan ini dihitung oleh orang-orang dengan pendapatan besar, dan jumlah orang2 yang dilaporakan hidup dalam kemiskinan sesuai dengan survey rumah tangga sepertinya cukup akurat.  Penilikan pada kesalahan di laporan mendukung pandangan ini, sebuah  pandangan yang mengatakan bahwa dunia masih jauh dalam mencapai tujuan mengurangi kemiskinan menjadi 50% sebelum tahun 2015 (Untuk melihat perdebatan kedua belah pihak mengenai isukemiskinan, lihatlah perdebatan pada pengukuran kemiskinan, sebuah buku yang diproduksi oleh initiative for Policy Dialogue, dimana saya melakukan edit bersama dengan Paul Segal dan Sudhir Ananda).
    Kemudian pendapat Friedman mengenai pertumbuhan dapat membawa sebuah kesempurnaan moral mengenai keterbukan yang lebih besar dan toleransi mengundang pertanyaan yaitu apakah Amerika Serikat, ketika menjadi lebih kaya, menjadi lebih terbuka den toleran? Apakah keterbukan dan toleransi memastikan titik berat yang sama di ilmu sains modern dibandingkan dengan pandangan masa kegelapan (pre-enlightment)?
    Namun demikian Friedman juga benar dengan argumentasinya yaitu demokrasi relatif lemah untuk bertahan di Negara-negara miskin.  Sehingga jika Bush serius mengenai komitmenya untuk memperluas demokrasi, Dia akan melakukan investasi lebih di Negara-negara ini sebagai bagian dari development,  melaksanakan kesepakatan yang sudah disetujui oleh negara2 maju untuk memberikan komitmennya sebesar 0,7 % dari GDPnya untuk memberikan batuan kepada Negara-negara miskin.  Uang tesebut akan memberikan perbedaan yang besar baik untuk kualitas Negara-negara berkembang dan prospek demokrasi di sana.  Tentunya hal yang lebih besar dari uang juga dibutuhkan, tidak ada yang lebih meyakinkan sebagai contoh yang sukses dari pada masyarakat yang lebih terbuka dan lebih toleransi yang mampu membawa buah dari pertumbuhan dan demokrasi kepada masyarakatnya.  Bagaimana amerika serikat dapat mengklaim dapat memberikan fasilitas seperti contoh di atas apabila dia sendiri tidak peduli dengan dirinya sendiri?

    Mitos Invisible Hand

    ‘Alasan bahwa Invisible Handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya Invisible Hand tidak pernah ada’

    Para ekonom amerika memiliki tendensi yang kuat untuk tidak melibatkan pemerintah dalam invisible-hand-wmmelakukan intervensi terhadap ekonomi.  Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
    Fondasi intelektual untuk mendukung asumsi ini sangatlah lemah.  Pada ekonomi pasar dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksimetrisan informasi dan pasar yang tidak penuh, yaitu ingin dikatakan bahwa setiap ekonomi pasar, alasan bahwa Invisible handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya tidak ada. Para ekonomi yang tidak efisien pada dirinya sendiri.  Pemikiran seperti ini memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya adanya peranan pemerintah yang lebih siknifikan.
    Friedman memulai diskusinya dengan memperhatikan kepada pembatasan umum, mengidentifikasikan externality yang menggaransi interfensi pemerintah. Dia menandaskan pentingnya investasi, baik fisikal dan sumber daya manusia, dan memperhatikan bahwa defisit APBN (tidak menabung) akan melukai investasi-investasi itu.  Ekonom pasar sempurna akan tidak menganggap hal ini: private saving pada akhirnya bertambah untuk mengimbangi saving pemerintah yang negatif, dan jika warga negaranya ingin mengkonsumsi lebih dan menyimpan sedikit, tidak berarti bahwa mereka dibolehkan untuk memaksakan keinginannya pada kita.  Ekonom seperti itu akan berkata bahwa saving domestik lebih penting di dalam dunia globalisasi, bukan keseimbangan global supply dan demand untuk dana.
    Adalah penting untuk dapat mengetahui alasan mengapa prediksi model market sempurna mengalami kegagalan, kegagalan market terjadi jauh diluar externality.  Memahami keterbatasan ini pasar menyebabkan pentingnya peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan dan memastikan bahwa peranan tersebut adalah peranan yang tepat.
    Ada sebuah contoh ketika peranan yang lebih besar dari pemerintah dalam mempromosikan ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dari Friedman yang rekomendasikan.  Sebuah laporan oleh Council Advisor Ekonomi (ketika saya menjadi ketuanya) menemukan bahwa tingkat pengembalian dari investasi publik pada ilmu dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan investasi di bidang swasta pada area ini dibandingkan dengan investasi konvensional dalam pabrik dan peralatan.  Dengan pendidikan terutama pada waktu dimana kualitas sekolah Amerika dan terutama pendidikan keluarga dengan pendapatan rendah. Voucher, sejumlah tertentu diberikan kepada privatisasi parsial pada sekolah dasar dan menengah pada sistem pendidikan telah dikedepankan sebagai bagian dari solusi pasar bebas menyebabkan kualitas pendidikan yang menurun.  Namun advokasi voucher tidak pernah memberikan kasus yang kuat bahwa mereka didesain untuk mempromosikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan integrasi rasial yang lebih besar pada system pendidikan dibandingkan dengan mereka yang menerima voucher.
    Buku Friedman merupakan vaksin yang penting terutama bagi pandangan popular gerakan anti pertumbuhan, dan kepada para ekonom pasar bebas yang mengatakan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya yang kita butuhkan.  Adanya seruan bersama untuk melakukan perubahan arak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkesinambungan.  Apakah anda setuju atau tidak dengan saran kebijakan yang diberikan oleh Friedman, ini adalah analisa yang sangat beralasan yang sangat dibutuhkan oleh Amerika serikat untuk kembali ke track yang benar.

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. Stiglitz

    Moral Consequences

     
    • Dian Milani Hakim 8:45 am on Juni 17, 2009 Permalink

      Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.

    • ghifi 1:32 pm on Juni 17, 2009 Permalink

      Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.

      Demikian dari saya
      cheers,

    • ivenxadytia 6:18 pm on Juli 17, 2009 Permalink

      wah… serujuga baca blog nya…
      success yah….

  • Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian I) 

    ghifi 5:03 pm on June 15, 2009 Permalink | Balas
    Tag: book review, ekonomi,

    Pertumbuhan mungkin segalanya namun tidak hanya satu-satunya

    economic growth cartoonPara ekonom sejak lama memiliki konstituen untuk mendukung pertumbuhan. Karena walaupun sebuah Negara terkaya memiliki sumber daya yang terbatas, pusat permasalahan pada ekonomi adalah pilihan: Apakah kita mendanai pemotongan pajak kepada yang kaya atau melakukan investasi pada infrastruktur dan R&D, atau perang di Iraq atau bantuan kepada kaum miskin di Negara-negara berkembang atau diri kita sendiri?  Dengan memfasilitasi keseluruhan sumber daya, pertumbuhan dalam teori seharusnya membuat pilihan-pilihan ini sedikit lebih mudah.

    Amerika Serikat di pihak lain mendemonstrasikan ketika pertumbuhan meningkatkan supply, juga menumbuhkan aspirasi.  Pilihan Negara-negara kaya yang harus diambil tidak terlihat lebih mudah dibandingkan Negara-negara miskin, sebagai contoh, harus memilih apakah menggunakan budget kesehatan yang terbatas untuk membayar biaya sepenuhnya perawatan penyakit akibat merokok, beberapa penderita penyakit akibat merokok akan hidup sebagai hasilnya, tetapi orang lain yang membutuhkan layanan kesehatan akan meninggal, karena uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu tidak tersedia.  Untuk sumber daya yang bergantung dengan pertumbuhan hal ini adalah yang membedakan antara hidup dan mati.

    Tetap saja pertumbuhan memiliki banyak pengkritik. Ada literatur yang dikembangkan sangat baik oleh para anti-pertumbuhan yang populis yang prihatin dengan imbas pertumbuhan pada lingkungan dan kemiskinan. Hasil karya, The Moral Consequences of Economic Growth oleh Benjamin Friedman menerima kritik seperti itu, memposisikan pertumbuhan tidak hanya memberikan keuntukan ekonomi namun juga keuntungan moral. Dia berargumentasi pertumbuhan memiliki potensi untuk meningkatkan lingkungan, mengurangi kemiskinan, mempromosikan demokrasi, dan membangun lingkungan sosial yang lebih terbuka dan lebih bertoleransi.

    Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa Friedman, Professor ekonomi di Harvard University, seorang yang naïf pendukung ekonomi pasar. Pesannya memberikan perbedaan halus ( walaupun untuk beberapa hal tidak sehalus yang Saya inginkan) dan Dia menyadari bahwa pertumbuhan tidak selalu membawa keuntungan yang dijanjikan. Ekonomi pasar tidak secara otomatis memberikan garansi pada pertumbuhan, keadilan sosial, atau ekonomi yang efisiensi; untuk mencapai tujuan ini mensyaratkan pemerintah memberikan peranannya.

    Biarlah Bertumbuh

    Dalam sejarah, para ekonom mempertanyakan paling tidak pada fase awal dari perkembangan, GGN.wuerker-paradepertumbuhan akan didukung oleh kondisi sosial seperti keadilan yang lebih besar dan lingkungan yang lebih baik. Peraih nobel ekonomi Simon Kuznet memberikan argumentasinya berdasarkan pengalamannya sebelum perang dunia kedua bahwa adanya peningkatan ketidak adilan pada fase-fase awal perkembangan. Arthur Lewis pemenang Nobel ekonomi lainnya menelaah lebih lanjut, adanya ketidaksamaan yang lebih besar adalah penting untuk dapat memberikan saving/tabungan yang dibutuhkan oleh pertumbuhan. Generasi ekonom berikutnya memposisikan keberadaan kurva lingkungan Kuznet: fase awal pada pertumbuhan menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi bukan kesehatan pada lingkungan.

    Kuznet dan pengikutnya mempertahankan bahwa pada akhirnya pertumbuhan akan membawa keadilan sosial (equality yang lebih besar, kemiskinan yang berkurang) dan lingkungan yang lebih baik. Namun hal ini tidak ada satu pun yang terealisasi yang berarti bahwa walaupun hal ini benar di masa lalu, namun mungkin belum tentu di masa yang akan datang. Ketidakadilan (inequality) yang terlihat menurun di Amerika Serikat setelah Great Depression, namun dalam 30 tahun terakhir hal ini ternyata meningkat sangat pesat. Berbagai macam bentuk polusi telah banyak menurun ketika negara-negara kaya memperhatikan isu-isu kualitas udara, Namun emisi rumah kaca dengan segala aspek berbahaya yang mereka timbulkan terkait masalah pemanasan global telah berlanjut meningkat dengan pertumbuhan ekonomi, khususnya di Amerika Serikat.

    cartoon_carbon_gas_elevatorFriedman menekankan khususnya akan pentingnya pengaruh externality (efek transaksi ekonomi), Dalam banyak contoh dimana perbuatan pelaku ekonomi memiliki konsekuensi-konsekuensi bagi pihak-pihak lain dimana pelaku ekonomi tersebut tidak harus membayar (negative externalities) atau dimana pihak tersebut tidak dikompensasi (positive externalities).

    Hampir setiap orang mengenali “kegagalan pasar” ini yaitu ketika pasar itu sendiri tidak dapat memproduksi hasil yang efisien serta implikasinya, yang dapat dicatat yaitu kerusakan terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat mengakibatkan biaya yang besar kepada yang lain terutama pulau-pulau yang letaknya tidak terlalu tinggi dari laut yang bisa terimbas kenaikan permukaan laut di masa yang tidak terlalu lama di masa depan, namun perusahaan-perusahaan Amerika dan konsumen tidak membayar biaya-biaya ini.

    Mengkoreksi kegagalan pasar seperti ini tidak membutuhkan subsidi kepada perusahaan-perusahaan minyak untuk meningkatkan produksi minyak karena tidak ada kegagalan pasar pada arah ini, hal ini lebih membutuhkan pencegahan. Namun externality ini memberikan implikasi argumentasi yang lebih umum yaitu ketika pertumbuhan memiliki keuntungan sosial melebihi apa yang didapat oleh setiap individu atau perusahaan, kemudian pasti ada peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan.

    32SellingDemocracyWalaupun salah satu dari keuntungan sosial yang lebih luas adalah lebih terbuka dan toleran dalam sebuah komunitas, Friedman menjelaskan secara berhati-hati bahwa hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan adalah 2 (dua) arah; pertumbuhan mempengaruhi demokrasi, demokrasi mempengaruhi pertumbuhan. Kedua aspek hubungan ini sangat kompleks dan seringkali tidak jelas. Bangsa Cina tidak secara khusus adalah Negara yang mengusung demokrasi atau secara politik terbuka namun memiliki pertumbuhan yang paling cepat dan paling berkesinambungan dibandingkan negara lain karena mereka lebih diterima oleh khalayak ramai, lebih memperhatikan kepada si miskin. Namun Cina telah melakukan lebih banyak pengurangan kemiskinan dibandingkan negara-negara lainnya. Pada periode trakhir, Amerika Serikat melihat median real income menurun di rumah tanga dan si kaya mendapatkan potongan pajak yang besar walaupun si miskin bertumbuh.

    Tidak seperti ekonom yang pro pertumbuhan, Friedman menyadari bahwa isunya bukan hanya tumbuh atau tidak, namun kebijakan yang menyebabkan pertumbuhan. Hasil karyanya memberikan kritik penting kepada karya-karya (salah satunya adalah karya Paul Collier dan David Dollar dari World Bank) yang mengkorelasikan pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan atau pertumbuhan dan integrasi ke dalam global ekonomi. Sesungguhnya keputusan dalam menerapkan kebijakan tidak terfokus pada pertumbuhan atau tidak bertumbuh atau berintegrasi atau tidak berintegarasi dan mengkerucutkan masalah pada masalah tersebut.

    Pertanyaannya akan lebih spesifik, apakah ada pengurangan tarif atau tidak, ada liberalisasi pasar modal atau tidak, ada  investasi pada penelitian dan pengembangan (R&D) atau tidak, atau memperbesar akses kepada pendidikan atau tidak. Dan jawabannya akan jauh lebih kurang jelas. Beberapa kebijakan ini beberapa akan mempromosikan pertumbuhan yang meningkatkan kemiskinan, atau dapat juga mempromosikan pertumbuhan dengan jalan mengurangi kemiskinan. Beberapa startegi pertumbuhan mungkin baik bagi lingkungan mungkin tidak.

    Pendeknya debat seharusya tidak dipusatkan pada apakah seseorang mendukung pertumbuhan polyp_cartoon_free_tradeatau tidak. Pertanyaan seharusnya apakah ada kebijakan yang dapat mempromosikan apa yang disebut dengan pertumbuhan yang bermoral, yaitu pertumbuhan yang berkesinambungan yang meningkatkan standar kehidupan tidak hanya hari ini tapi untuk generasi mendatang dan membangun masyrakat yang lebih bertoleransi, sebuah mayarakat yang terbuka? Dan apakah ada yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa keuntungan dari petumbuhan dapat dibagi secara merata, membangun masyarakat degan keadilan sosial dan penuh solidaritas dibandingkan dengan pemisahan atau pembuatan gap yang sangat terlihat jelas di New Orleans ketika ada bencana alam badai Katrina?

    Masalahnya adalah hampir semua bukti empiris yang tersedia yang datang dari analisa antar Negara, tidak terlalu memberikan informasi. Karya Friedman memfasilitasi kembali seruan Bank Dunia untuk melakukan penelitian lebih ke level mikro atau kasus per kasus untuk melihat adanya trade off (pertukaran) antara pertumbuhan dengan pengurangan kemiskinan dan penurunan kualitas lingkungan.

    Bersambung…

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. StiglitzMoral Consequences

     
  • Pengentasan Kemiskinan? Atau Merubah Sebuah Kebudayaan Kemiskinan? 

    ghifi 8:23 pm on June 10, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, freedom, micro finance,

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya sudah bekerja pada isu-isu terkait kemiskinan lebih dari 20 tahun, dan sangat ironis bahwa masalah dan pertanyaan bagaimana anda mendefiniskan kemiskinan.  Apakah yang dimaksud dengan kemiskinan? Seringkali kita melihat dalam terminologi rupiah atau dollar, orang-orang yang mendapat penghasilan kurang dari $1 atau Rp 10.000 – 30.000 dalam 1 hari.  Walaupun demikian kompleksitas pada kemiskinan harus benar-benar melihat pada pendapatan hanya menjadi sebagai salah satu variabel.  Karena sebenarnya kemiskinan adalah sebuah kondisi mengenai sebuah pilihan dan keterbatasan akan kebebasan.
    sight on mathareSaya memiliki pengalaman dengan memperdalam dan mengklarifikasi diri Saya dalam memahami yang Saya miliki.  Ketika Saya di Kenya, dan Saya ingin sedikit berbagi dengan Anda.  Saya dengan teman Saya Susan Meiselas, seorang fotografer, di kawasan kumuh di bukit Mathare.  Sekarang ini,    bukit Mathare merupakan salah satu kawasan kumuh tertua di Afrika.  Jaraknya sekitar 5 km dari Nairobi, dan dengan panjang sekitar 1,5 km dan lebar sekitar 300 Meter di mana lebih dari 1 juta orang tinggal di  kawasan rumah kumuh yang terbuat dari seng (mirip seperti di kawasan kumuh Jakarta), dari generasi ke generasi, menyewakan rumah kumuh tersebut, seringkal ada 8 – 10 orang yang tinggal dalam 1 kamar.  Dan dikenal sebagai tempat prostitusi, kekerasan, narkoba.  Tempat yang mengenaskan untuk dapat tumbuh sebagai seorang manusia.  Dan Ketika kita berjalan melalui  gang sempit, secara logika sangat tidak mungkin tidak menginjak pipa-pipa dan sampah-sampah disamping rumah2 yang kecil.  Namun pada saat yang bersamaan juga tidak mungkin tidak dapat melihat  kehidupan manusia, aspirasi dan ambisi yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di sana.  Wanita mencuci bayinya, bajunya, dan menggantungnya supaya kering.  Saya bertemu dengan wanita ini, Mama Rose, yang menyewa rumah seng yang kecil selama 32 tahun, dimana dia tinggal dengan anak2nya 7 orang.  4 anaknya tidur di satu ranjang ukuran twin, dan 3 lainnya tidur di lantai yang dilambari dan berlumpur; Dan dia menyekolahkan anaknya dengan menjual air dari kiosnya dan dari menjual sabun dan roti dari toko kecil di bagian dalam. street_in_mathare_kenya
    Waktu itu juga menjadi hari setelah hari kemerdekaan, dan saya diingatkan bagaimana Mathare masih terkoneksi dengan dunia.  Dan saya melihat anak-anak di pojok-pojok jalan, dan mereka berkata,”Obama dia adalah Saudara Kami!” dan saya berkata “Wah Obama itu saudara saya maka kamu juga pasti saudara saya juga.”  Mereka terlihat bertanya-tanya dan langsung “high five!”
    Dan saya berada di sini untuk menemui Jane.  Saya tersentak oleh kebaikan dan kehalusannya terlihat di wajahnya, dan saya bertanya kepadanya untuk bercerita kehidupannya. Dia memulai dengan menceritakan saya mimpi-mimpinya.  Dia berkata,”saya punya dua mimpi. Yang pertama adalah menjadi seorang dokter, dan yang kedua adalah menikah dengan laki-laki yang baik yang mau tinggal bersama saya dan keluarga saya.  Karena ibu saya adalah single mom, dan tidak mampu untuk membayar biaya sekolah saya sehingga saya harus meninggalkan mimpi saya yang pertama dan saya fokus pada mimpi saya yang kedua.” Kemudian dia menikah ketika dia berumur 18 tahun dan memiliki bayi tidak lama kemudian.  Dan ketika dia berumur 20 tahun, dia menemukan dirinya hamil dengan anak kedua, ibunya meninggal dan suaminya meninggalkan dia, menikahi wanita lain. Dia tinggal di Mathare tanpa pendapatan tetap dan keahlihan dan tidak ada uang lalu Dia terpaksa menjadi pekerja seks komersial.  PSK di sini tidak terorganisasi seperti yang kita pikir. Dia pergi ke kota di malam hari dengan sejumlah teman perempuan sekitar 20 orang, mencari pekerjaan, kadang-kadang pulang dengan membawa beberapa shilling atau tanpa uang sama sekali.  Dia berkata,”Anda tahu kemiskinan sebenarnya tidak buruk-buruk sekali.  Yang lebih buruk adalah perasaan rendah diri dan perasaan malu dibandingkan segalanya.”eomrn mathare
    Di tahun 2001 hidupnya berubah.  Dia mendapatkan teman perempuan yang mendengar sebuah organisasi, Jamii Bora (institusi peminjaman mikro di Kenya), yang akan memberi pinjaman sejumlah uang kepada orang-orang yang semiskin apapun, namun kalau orang tersebut memenuhi prasyarat yaitu bersedia agar menyisakan uangnya untuk ditabung.  Kemudian Dia menabung sejumlah USD 50 dalam 1 tahun dan mulai meminjam, dan dalam periode waktu tertentu Dia dapat membeli mesin jahit.  Dia mulai menjahit dan ternyata hal ini yang dia lakukan sampai saat ini, kemudian jahitannya dijual di pasar pakaian bekas dan dengan uang sebesar USD 3,25 dia bias membeli sebuah  gaun bekas.  Barangkali beberapa dari pakaian bekas tersebut adalah pemberian dari Anda.  Dia menjahitnya kembali dengan menambahkan ornamen, pita dan membuat  konveksi yang lebih lucu dan menarik yang kemudian dia jual kepada nasabah perempuan misalnya untuk hari ulang tahun ke 16 anak perempuannya atau kegiatan pada hari keagamaan. – pencapaian itu di dalam sebuah kehidupan dimana manusia merayakannya di dalam spektrum perekonomian.  Dan Dia menjalankan bisnisnya dengan sangat baik, bahkan Saya memperhatian Dia berjalan di Jalan penuh percaya diri.  Dan sebelum Anda sadari ada kerumunan wanita yang mengerubungi dirinya untuk membeli baju-baju pesta jahitannya. jamii_bora_7
    Dan Saya merefleksi ketika Saya melihat dia menjual baju-bajunya dan perhiasan yang dia buat.  Sekarang, Jane mendapatkan penghasilan USD 4 setiap harinya.  Dan berdasarkan definisi kemiskinan umum, Dia sudah tidak lagi miskin.  Tapi dia masih tinggal di Bukit Mathare.  Dan Dia tidak bias keluar dari lingkungan tersebut.  Dia tinggal di sana dengan segala ketidakamanan. Bahkan di bulan Januari ketika terjadi huru-hara rasial, Dia dikejar-kejar keluar dari rumahnya dan harus menemukan rumah seng baru di mana Dia bias tinggal di dalamnya.

    Jamii Bora (Institusi Pembiyaan Mikro di Kenya) memahami situasi tersebut dan memahami ketika kita berbicara mengenai kemiskinan kita harus melihat kepada manusia dalam berbagai aspek ekonomi. Sama seperti dengan pasien modal dari Acumen dan organisasi lainnya, pinjaman, dan investasi yang akan diberikan untuk jangka waktu yang panjang untuk mereka, mereka membangun rumah dengan biaya rendah sekitar 1 jam di luar di luar Nairobi tengah.  Mereka mendesainnya dari prespektif nasabah seperti Jane,  memastikan adanya tanggung jawab dan kepercayaan.  Akhirnya dia harus memberikan 10% dari nilai total KPRnya atau sekitar USD 400 di tabungannya.  Dan Mereka melakukan matching KPRnya dengan jumlah uang yang Dia bayarkan untuk menyewa rumah sengnya.kaputeipointing

    Ketika saya bertanya kepadanya apakah dia tahu terhadap segala sesuatu atau apakah dia akan merindukan sesuatu dari Mathare, Dia berkata,”Apakaha yang akan saya takutkan yang di dalam hidup saya belum pernah saya alami? Saya pengidap positif HIV.  Saya sudah mengalami semuanya.” Dan Dia berkata,”Apa yang saya lewatkan? Kamu kira saya akan merindukan kekerasan atau narkoba? Kehilangan privasi saya? Anda kira saya akan kehilangan ketidaktahuan saya apakah anak-anak saya akan pulang ke rumah di akhir hari?” Dan Dia berkata” jika Anda berikan saya waktu 10 menit, saya akan mengepak tas saya.” Saya berkata,”Well bagaimana dengan mimpi-mimpimu?” dan Dia berkata,”Well Anda tahu mimpi-mimpi saya tidak terlihat sama dengan yang saya bayangkan sebelumnya ketika Saya masih kecil. Tetapi jika Saya mengenangnya, Saya berpikir Saya ingin seorang suami, tetapi yang benar-benar Saya inginkan adalah sebuah keluarga yang saling mencintai.  Dan Saya begitu mencintai anak-anak Saya, dan mereka mencintai Saya juga.”  Dia berkata,” Saya piker saya ingin menjadi dokter, namun apa yang benar-benar Saya inginkan adalah menjadi seseorang yang dapat melayani dan menyembuhkan serta disembuhkan.  Dan kemudian saya merasa mendapat keberkahan dengan segala sesuatu yang saya miliki, dimana 2 hari dalam 1 minggu  saya pergi dan memberikan konseling kepada pasien HIV, lihatlah Saya Anda belum meninggal.  Anda masih hidup. Jika Anda masih hidup Anda harus melayani.” Dan Dia berkata, “ Saya bukan seorang dokter yang akan memberikan pil.  Tapi kemungkinan saya memberikan lebih baik karena Saya memberikan mereka harapan.”

    Dan di tengah-tengah krisis ekonomi seperti sekarang ini, dimana begitu banyak dari kita cenderung untuk menghadapinya dengan rasa takut, Saya rasa kita bisa belajar dari Jane dan maju ke depan, melakukan pengenalan sendiri bahwa menjadi miskin bukan berarti menjadi sama dengan nasib kebanyakan orang.  Karena ketika sistem-sistem yang ada hancur, seperti yang kita lihat di seluruh dunia, ini adalah sebuah kesempatan untuk membuat terobosan baru dan inovasi.  Ini adalah sebuah kesempatan untuk benar-benar membangun dunia dimana kita dapat melebarkan sayap dengan produk dan layanan kepada semua umat manusia, sehingga mereka dapat memiliki kesempatan untuk membuat keputusan dan pilihan bagi diri mereka sendiri.  Saya sangat percaya pada hal tesebut dimana rasa percaya diri dimulai.  Kita berhutang kepada Jane dan dunianya.  Dan sama pentingnya kita berhutang pada diri kita sendiri.

    Terima Kasih

    Wallahu’alam bi showaab

    Disadur dari pidato Jacqueline Novogratz- on escaping poverty & pengarang buku “The Blue Sweater – Bridging the Gap Between Rich and Poor in an Interconnected World”

     
  • Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman? Bagian II 

    ghifi 10:46 am on May 22, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, kapitalisme, keynesian, , neo-classic

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    capitalismKembali pada topic diskusi diatas, walaupun begitu, saat ini kritisi kelemahan system keuangan tidak hanya focus pada paradigma pasar bebas (privatisasi) yang dominan dimiliki oleh Klasik, tetapi juga pada pondasi Kapitalisme, yaitu credit system dan prilaku serakah yang ter-legal-kan oleh Kapitalisme (misalnya perusahaan sekuritas hanya mengandalkan assessment dari perbankan terhadap credit risk dalam menerbitkan surat-surat berharganya). Dengan credit system dan ciri prilaku spekulatif-nya, system keuangan konvensional modern dikritisi secara alami memiliki fragility. Prilaku serakah pada gilirannya membuat kecenderungan-kecenderungan dimana fenomena dan kebijakan ekonomi kehilangan esensinya sebagai alat pengentasan masalah perekonomian. Dalihnya ekonomi semakin maju, tetapi masalah esensi ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran atau bahkan kriminalitas ternyata semakin meningkat disekitar kita.

    Sejauh ini suara para akademisi yang meneriakkan something wrong with the system!, semakin menguat dan nyaring terdengar. Tidak heran semakin inovatif solusi yang coba ditawarkan oleh mereka. Jurnal-jurnal ilmiah mulai diwarnai dengan isu ini, setelah sekian lama media-media tersebut lebih banyak berdiskusi di ranah microeconomics. Mari kita perhatikan perkembangan-perkembangan selanjutnya, sembari juga terus berupaya, merenung, berdiskusi dan mencoba mewujudkan sesuatu untuk ekonomi yang lebih baik.

    Harapannya madzhab baru yang muncul dan mulai dilirik konsepsinya, walaupun tak penting namanya untuk saat ini,  dalam jangka pendek diharapkan ekonom barat terinspirasi oleh mekanisme ekonomi yang digerakkan oleh produktifitas real dengan prilaku ekonomi yang lebih bermoral.  Arah itu sudah terlihat kok, didahului oleh artikel Rational Fool-nya Amartya Sen tahun 70-an, dan kini ada angin segar yang diusung oleh Joseph E Stiglitz (bahkan sudah ada yang menisbahkan madzhab tersendiri bagi pemikiran beliau, Stiglitzian!!). Silakan baca buku beliau “towards a new paradigm of monetary system”, “Roaring Nineties” atau yang paling fenomenon “Globalization and its discontents”Pyramid_of_Capitalist_System

    Rational Fool menawarkan paradigma baru prilaku ekonomi yang mengedepankan simpati dan empati, meskipun pemikiran Sen ini “mandeg” karena tak ada tools yang practicable yang tersedia di ranah kapitalisme ingat memang Moral sudah ditendang jauh-jauh hari sebelum bangunan ekonomi kapitalisme sudah sangat kompleks seperti sekarang ini – lihat Principles of Economics-nya Marshall atau Ulasan Herbert Spencer terhadap tulisannya Adam Smith di Theory of Moral Sentiment.

    Sementara itu Stiglitzian mengusung isu kerancuan peradigma keseimbangan umum ekonomi, bubble economics, greedy behavior dan inkonsistensi dalam penerapan teori-teori ekonomi. (meskipun ini (isu stiglitz) menjadi sangat usang kalo kita lihat tulisan-tulisan yang sudah dikeluarkan oleh ekonom Muslim seperti Umer Chapra).

    Akan muncul mekanisme-mekanisme ekonomi (dan memang harus kita upayakan untuk muncul) yang inspirasinya dari Islam. akan muncul mekanisme keuangan/perbankan yang mengedepankan risk sharing instead of risk transfer (interest rate concept), akan muncul pajak yang berkarakteristik zakat yang definitif penggunannya untuk apa (meskipun namanya tetap pajak). akan muncul teori-teori filantropis yang mengedepankan isu ramah lingkungan dan sosial dengan nilai-nilai ukhuwah dan tausiyah (meskipun menggunakan nama CSR dan Humanity).

    Tapi semua ini tergantung kesiapan jumlah manusia-manusia beriman (berilmu) dan sabar bukan?! Jadi mari kita wujudkan manusia-manusia itu dulu , di kelas-kelas yang kita pegang, di tempat kita bekerja, di forum-forum informal seperti taklim-taklim yang kita ada didalamnya, di keluarga-keluarga yang memang menjadi amanah kita. kita wujudkan manusia yang cerdas secara akal, ruhiyah dan fisiknya, meskipun boleh jadi kita bukanlah termasuk pasukan yang akan merasakan kemenangan yang kita dambakan nanti.

    Wallahua’lam bi showaab

    Disadur dari Berbagai Sumber

     
  • Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman? 

    ghifi 9:13 pm on May 20, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, great depression,

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya mendengar istilah neo liberal economist menjadi sangat santer baru-baru ini.  Opini publik polyp_cartoon_rich_poor_neoliberalseperti dengan mudah membentuk buruk sangka pada ekonom-ekonom Indonesia yang saya tahu sudah bekerja begitu keras menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global. Indikator-indikator seperti inflasi, valas, pengangguran, melepaskan diri dari jeratan IMF & pendiktean negara maju, kemudian berusaha vokal di forum global, termasuk menghindari kebijakan proteksionisme, serta selalu berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan regional ekonomi bersama negara-negara tetangga dijalankan dengan sangat baik, bahkan nilai Rupiah menjadi terjaga tidak terjerembab lebih jauh.

    Instrumen baru keuangan seperti sukuk, perbankan syariah, instrumen fiskal untuk mengawal penurunan kinerja ekonomi, pengurangan pajak, regulasi yang cukup ketat dan peran pemerintah dijalankan dengan serius. Di mana masa-masa sebelumnya ekonomi Indonesia sudah terlanjur liberal melalui deregulasi perbankan, privatisasi (penjualan perusahaan-perusahaan BUMN contohnya), pasar modal dan pasar valas sehingga eksposure global juga mengenai pasar modal, valas, dan perbankan kita.  Namun imbasnya lebih banyak mengenai spekulan-spekulan ditambah perusahaan atau pun perbankan yang menggunakan instrumen derivative (intrumen hasil rekayasa keuangan) misalnya untuk membiayai investasi jangka panjang dengan instrumen finansial jangka pendek yang sangat berisiko.

    Sedikit melihat ke belakang dan membuka-buka sejarah ekonomi di masa lalu, kita dapat mengambil pelajaran dari Great Depression sebagai turbulensi dahsyat ekonomi di awal abad 20 telah membelah pemikiran ekonomi konvensional modern menjadi 2 madzhab besar, yaitu Klasik dan Keynesian. Meskipun pada perkembangannya kedua pemikiran ini menelurkan sekte-sekte yang mencampurkan dua pemikiran besar tersebut. Akan tetapi kedua gerbong pemikiran ini memiliki warna unik yang menjadi panduan para pengikut dan pengusungnya. Madzhab Klasik relative dikenali melalui keyakinannya pada kekuatan kompetisi pasar yang mampu menyeimbangkan perekonomian dalam jangka panjang. Jean Babtist Say terkenal dengan kalimatnya yang menggambarkan mekanisme ekonomi Klasik, yaitu “supply creates its own demand” (Say Law). Kebijakan ekonomi dari madzhab ini kental sekali dengan nuansa market mechanism.

    Sementara itu, madzhab Keynesian memiliki kecenderungan yang sedikit berlawanan, dimana madzhab ini percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangannya (negara tidak dapat berlepas-tangan) . Keynesian tidak mempercayai waktu “jangka panjang” akan menentralisir setiap ekses dan anomaly ekonomi. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”. Kebijakan Keynesian lebih terlihat pada kebijakan diskresi negara dalam perekonomian. Namun begitu, kedua madzhab besar ini “menari” berdasarkan irama yang sama, yaitu irama Kapitalisme.Dalam beberapa decade, setelah Breton Woods Agreement runtuh perekonomian dunia dalam pengembangannya terkesan lebih berpedoman pada madzhab Klasik (Neo-Klasik) . Hal ini terlihat dari kecenderungan perekonomian modern yang mengusung Globalisasi dengan program-program seperti WTO, freetrade zone, kebijakan liberalisasi dan privatisasi. Pengusung Klasik boleh berbangga dengan capaian itu semua, karena memang inspirasi utama dari fenomena itu adalah mereka.

    cartoonTetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depression, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.

    Wallahua’lam bi showaab

    Insya Allah Bersambung

    Disadur dari berbagai sumber

     
    • Yuda 9:22 am on Mei 22, 2009 Permalink

      Paham Neoliberalisme intinya adalah pasar bebas dan perdagangan bebas. Masalahnya belum ada satu negarapun yang memberlakukan neoliberalisme murni, bahkan Amerika, yang baru-baru ini memproteksi rokok lokalnya dengan larangan impor rokok.

      “Salahkaprah”-nya kan mengaitkan orang atau pemerintah dengan paham neoliberalisme. Karena kenyataannya sebagai negara berkembang Indonesia tidak akan bisa serta merta, terlepas dari negara lain, ataupun membiarkan rakyatnya tidak terlindungi.

    • ghifi 10:14 am on Mei 22, 2009 Permalink

      Dear Yuda, tentunya tidak ada yang murni namun kebijakan utama negara AS adalah memang mengusung ekonomi neo klasik dan meminimalisasi peran pemerintah (ini ciri khas neo klasik), mereka masih punya safety net (untuk asuransi kesehatan, dan pengangguran) seperti pelajaran finance/ekonomi yang sudah pernah kita pelajari, bahwa ekses ekonomi akan normal dalam jangka panjang (isu sentral neo klasik).
      Indonesia juga tidak murni kapitalis misalnya subsidi minyak, beras & listrik untuk keperluan public safety net.
      Demokrasi sendiri juga merupakan resep yang sangat penting pada sistem kapitalisme kalau sistem tersebut diharapkan langgeng.
      wallahua’lam bi showaab

  • Ekonomi Kerakyatan? Sebuah Ide Mulia atau Gimmick Semata? 

    ghifi 7:13 pm on May 18, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, good governance, micro loans, mikro ekonomi, pengentasan kemiskinan

    Assalammu’alaikum wr. wb. (Peace be upon thou all)

    Sekarang ini istilah ekonomi kerakyatan tiba-tiba menjadi berita-berita di surat kabar dan televisi terutama ketika calon pemimpin baru akan dipilih oleh rakyat.  Rakyat disuguhi dengan konsep-konsep yang barangkali rakyat sendiri tidak begitu paham dan mengerti.  Calon pemimpin sepertinya menjual konsep yang akan membuat rakyat termagnet untuk memberikan suaranya pada pemilu mendatang.

    Harus mulai dari mana?732_image_sewing_verticalB

    Kecuali incumbent, pemimpin baru harus mulai dari mana, karena konsep pengentasan kemiskinan, atau sustainable development bukanlah hal yang mudah.  Banyak hal yang musti dipikirkan apakah pendekatan pertumbuhan ekonomi, atau Good Governance (tata kelola yang baik), penghapusan sebagian hutang, substitusi impor dengan produksi dalam negeri dan membangun industri ekspor, micro loan (pinjaman mikro), kepemilikan lahan, pemberdayaan wanita (terutama keluarga miskin), skema perdagangan yang tidak memihak (fair trade), bantuan untuk pengembangan (development aid).

    Tidak ada salah dan benar untuk membuat program pengentasan kemiskinan atau ekonomi kerakyatan, namun tentunya ada imbas dalam setiap pengambilan keputusan di dalam sebuah pemerintahan, mengingat waktu yang diberikan hanya 5 tahun, dan menurut pengalaman pemerintah yang efektif hanya bisa berjalan sekitar 4 tahun, karena tahun ke-5 disibukkan dengan pesta demokrasi.

    Tentunya pemerintah dalam mengambil keputusan akan memilih solusi yang paling efektif dalam mengentaskan kemiskinan.  Pemerintah incumbent sudah punya modal yaitu melalui good governance, karena bisa jadi good governance merupakan modal dasar yang memungkinkan ekonomi trickle down (ekonomi berbasiskan pertumbuhan) bisa berjalan (model ekonomi yang dijadikan pijakan oleh partai Republikan di Amerika Serikat, dan mungkin di Indonesia oleh salah satu partai besar pemenang pemilu 2009).

    Membahas mengenai program pengentasan kemiskinan memang sangat menarik, karena banyak cara bisa ditempuh, seperti salama ini melalui pembiayaan mikro, namun apakah skema yang selama ini berlaku di Indonesia apakah sudah berhasil mengentaskan kemiskinan di Indonesia? Masih menjadi pertanyaan besar.  Atau program lain seperti skema grameen bank yang berlaku di Bangladesh yang notabene memberdayakan perempuan miskin?  Apakah berhasil mengentaskan kemiskinan atau malah menimbulkan ketergantungan terhadap pinjaman ini? Bisa saja skema pinjaman mikro malah menggantikan dana-dana sosial (public safety net) yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan sekarang diarahkan menjadi pinjaman mikro.

    Seperti sudah penulis tandaskan di depan, tidak ada pilihan yang benar dan salah, yang ada adalah imbas terhadap pilihan yang diambil karena bisa jadi pemimpin mengambil jalan pintas untuk mengentaskan kemiskinan guna mengakali angka-angka statistik semata.Microcredit_Timoho-fertilizing-method-workshop

    Kita lihat ke depan apakah pemimpin baru atau pemimpin incumbent yang terpilih kembali akan merubah konsep berpikir dalam menyelamatkan ekonomi melalui pengentasan kemiskinan?  Bagaimana menurut Anda?

    Wallahua’lam bi showaab

    Insya Allah Bersambung

     
    • Yuda 9:32 am on Mei 19, 2009 Permalink

      Ekonomi kerakyatan sebenarnya merupakan salah satu bentuk fokus perekonomian, menjadi santer diperbincangkan di momen-momen pemilu, tapi belum ada bentuk pengewajantahan yang pasti, dari dulu semenjak dicanangkan M.Hatta sampai sekarang.

      Mungkin kita bisa belajar dari M. Yunus, peraih nobel dari Bangladesh mengenai konsep kredit mikro.

    • ghifi 1:58 pm on Mei 19, 2009 Permalink

      Dear Yuda,

      Seperti yg. sedang kita bahas, Prof. Mubyarto juga getol di ekonomi kerakyatan melalui Mubyarto Institute http://www.ekonomirakyat.org/index.php, dan memang sih ekonomi kerakyatan rootnya lebih banyak di Eropa dibandingkan di Amerika Serikat.

      M. Yunus sendiri adalah kapitalisme yang mencoba memberdayakan wanita dan tingkat pengembaliannya cukup tinggi, namun bukan berarti tanpa masalah, karena banyak micro loan tersebut yang diterima oleh kaum perempuan malah digunakan oleh suaminya, adik laki2nya, kakak laki2nya, bapaknya, atau bahkan anak laki2nya, bahkan anak perempuannya tidak bisa mendapatkan loan tersebut hal ini menempatkan perempuan pada credit risk yang tinggi dan sekaligus sebagai debt collector, coba baca tulisannya Gina neff jurnalis dari New York mengenai micro credit micro result….

  • Change! World Economics Order Needs To Overhaul Fundamentally 

    ghifi 10:03 am on March 31, 2009 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi, ,

    Assalammu’alaikum Wr Wb.

    Dalam rangka menyambut Pertemuan tingkat tinggi G 20 yang akan berlangsung di London Inggris pada tanggal 1 April 2009 dan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 negara termasuk negara-negara Eropa, Brazil, Australia, Rusia, China, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Mereka akan ditemani oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari masing-masing negaranya. Ada pembicaraan yang menarik oleh peraih nobel ekonomi Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz.

    Sebenarnya berbicara mengenai ekonomi dunia sepertinya seperti berbicara di atas awang-awang dan hanya para ekonom yang memahami, mungkin karena suasana krisis di dunia belum sepenuhnya dirasakan oleh Indonesia seperti di tahun 1997-1998. Namun demikian angin itu akan segera datang cepat atau lambat, dan apabila tidak bersiap badai krisis juga akan menimpa negara republik yang kita cintai ini.

    Ada sebuah cerita dimana seekor sapi muda merasa sangat berbahagia dimana setiap hari si pemilik selalu memberikan makanan rumput berkualitas tinggi, dan yang dia perlu lakukan setiap harinya hanya makan/minum cukup dan istirahat.  Dia tidak pernah terbayang (barangkali karena seekor sapi:) ) bahwa ketika sebuah hari besar tiba seperti hari lebaran, maka pada saat itu juga si sapi akan segera disembelih tanpa dia sadari sebelumnya karena si pemilik begitu baiknya setiap hari selama 6 bulan memberi makan kepadanya.  Dia tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba.

    Bisa jadi cerita di atas juga akan menimpa kepada kita, karena kita tidak sadar bahwa the day of reckoning akan tiba dan kita belum sempat melakukan apapun karena kita mengira hal tersebut tidak akan terjadi.

    Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketika saya membaca hasil interview antara Presiden Barack Obama dengan Financial Times menunjukkan masih belum ada langkah-langkah nyata yang radikal untuk merubah keadaan yang diharapkan pada kelompok G20.  Langkah-langkah radikal tersebut dapat dibaca pada sambutan pidato Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz di Shanghai tanggal 17 Maret 2009, berikut adalah cuplikannya:

    Peraih Nobel Ekonomi 2001, Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz berbicara di depan pemirsa di Shanghai 17 Maret 2009 menyerukan akan adanya perubahan fundamental pada orde ekonomi dunia melaui system global reserve baru dan pembentukan institusi multilateral di luar IMF dan World Bank untuk mengembalikan ekonomi dunia ke kondisi semula.

    Indonesia sendiri berusaha melepaskan tekanan dari US Dollar melalui BCSA (Bilateral Currency Swap Agreement) dengan China sehingga kebutuhan akan US Dollar akan sedikit menurun dan memberikan diversifikasi valas.

    Menurut beliau sumber dari kekacauan ini adalah ketidakadilan ekonomi sebagai sumber permasalahan sehingga menyebabkan krisis.

    Ketidakadilan ekonomi telah menyebabkan krisis KPR yang menyebabkan krisis finansial dan sistem reseve US dollar yang menyebabkan Amerika Serikat mengekspor krisis dan menjadi krisis global.

    Ketidakadilan ekonomi memiliki arti bahwa kita memindahkan uang dan aset dari orang-orang yang seharusnya tidak mampu yang dipaksa membelanjakannya kepada orang-orang kaya yang tidak mau membelanjakan uang atau aset mereka. Orang-orang ini dipaksa untuk berbelanja dan diberikan pinjaman oleh lembaga keuangan (bank maupun non-bank), Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun hampir di seluruh dunia. Jumlah rumah kosong dan orang-orang yang gelandangan sangat besar di Amerika Serikat, dan masalah kemiskinan, pengangguran di negara berkembang yang artinya bahwa “sistem supply dan demand tidak bekerja“, hal ini perlu dirubah!!

    Prof. Stiglitz menyerukan dunia untuk mengubah arah ekonomi pada jalan yang konsisten dengan visi ke depan dan menyelesaikan permasalahan kebutuhan jangka panjang bukan menciptakan kembali sistem yang sudah gagal.

    China sebaliknya memiliki rencana 5 tahunan yg. kesebelas kalinya untuk membangun ekonomi yang inovatif untuk merekstrukturisasi ekonomi untuk lebih ramah lingkungan dan memfokuskan ekonomi dari ketergantungan ekspor kepada konsumsi dalam negeri dan investasi.

    negara-negara berkembang di kawasan Asia, telah menimbun cadangan US dollar secara berlebihan yang menimbulkan adanya penurunan aggregate demand, dan menurut Prof. Stiglitz disebabkan oleh manajemen buruk IMF pada krisis finansial di Asia di tahun 1997 hingga 1998. Dan ditambah degan adanya penurunan konsumsi negara-negara berkembang dan diikuti / diimbangi oleh konsumsi berlebihan  di Amerika Serikat.

    Jelas hal ini merupakan fenomena aneh pada ekonomi global yang menyebutkan bahwa negara-negara terkaya harus melakukan konsumsi melebihi kemampuannya untuk menjaga agar ekonomi global tetap dapat bertumbuh.

    Di lain pihak, adalah sebuah ironi ketika krisis global menyebar dari Amerika Serikat menuju dunia secara keseluruhan.  Menyebabkan masyarakat di negara berkembang mereka mengkoleksi valas US Dollar walaupun sebenarnya nilainya makin menurun.

    Menurut Prof. Stiglitz sistem global reserve hanya pada satu currency menyebabkan masalah karena seluruh dunia harus melihat ekonomi berbasiskan satu mata uang dimana negara miskin meminjamkan uang kepada negara kaya pada suku bunga hampir nol persen dibandingkan dengan membelanjakan di dalam negerinya.

    Hal ini menyebabkan berlebihnya menurunnya aggregate demand dunia dan Prof. Stiglitz menyerukan adalanya diversifikasi sistem global reserve atau penciptaan sistem reserve yang bersifat regional seperti pada inisiatif Chiang Mai yang merekomendasikan Cina, Jepang dan Korea untuk mengkontribusikan 80 persen pool of fund yang akan digunakan untuk membantu 10 negara di Asia pada saat krisis atau ketika dibutuhkan.

    Pada saat yang bersamaan Prof. Stiglitz juga menyerukan adanya institusi multilateral yang baru di luar IMF dan Bank Dunia. Beliau melihat IMF bukanlah institusi yang baik untuk diberi uang karena mentalitas Wall Street yang memaksakan deregulasi dan kebijakan pro-cyclical yang menyebabkan masalah pada ekonomi dunia.  Hal ini menyebabkan banyak negara tidak bersedia bekerja sama dengan IMF yang menyebabkan usaha untuk mendesain paket stimulus global menjadi kurang penting.

    Beliau juga mengatakan adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi cara untuk disbursement/expenditure termasuk di dalamnya pertimbangan untuk penciptaan fasilitas baru, insititusi baru, dan pengaturan peminjaman baru serta sistem manajemen baru, yang memberikan pertimbahan lebih baik kepada baik negara-negara berkembang maupun negara-negara donor. Dia mencontohkan inisiatif yang dilakukan di negara-negara Asia untuk menciptakan AMF (Asian Monetary Fund) yang terjadi juga di Amerika Selatan, yang pada akhirnya memerikan dukungan terhadap diversifikasi bagi negara-negara berkembang.

    Prof. Stiglitz juga beranggapan bahwa Cina memiliki peranan yang sangat penting di dalam krisis finansial untuk membantu negara-negara berkembang. Cina dan negara-negara lainnya akan dengan cepat menciptakan fasilitas baru untuk mendapatkan uang dan membelanjakannya dalam rangka membantu negara-negara lain yang membutuhkannya. Hal ini sangat konsisten dengan prinsip-prinsip deplomasi Cina dan kebutuhan makro ekonominya.

     
  • Kehancuran Amerika, Kemenangan China? 

    ghifi 3:55 pm on November 29, 2008 Permalink | Balas
    Tag: ekonomi

    Bicara mengenai kondisi ekonomi global, tidak bisa lepas begitu saja dari peranan negara-negara Asia, khususnya China.  China adalah Negara besar dengan tradisi yang luar biasa di masa lalu maupun di masa yang akan datang.  Barangkali dengan kita belajar mengenai China, akan memberikan pelajaran yang sangat penting yang kita tidak akan dapatkan di masyarakat lainnya di dunia.

    Dalam usaha pemerintah AS untuk memberikan rencana bailout kepada system finansial Amerika, usaha pemerintahan  Bush ini mengingatkan kembali kejadian the Great Depression di tahun 1930an.  Akan tetapi untuk masyarakat Asia kehancuran ekonomi masih terdengar belum lama. Krisis finansial yang terjadi 10 tahun yang lalu membawa perbankan, korporasi dan pemerintahan dalam kehancuran.  Krisis yang dimulai oleh kolapsnya mata uang Bath Thailand di pertengahan tahun 1997.  Kemudian meluas ke belahan Asia timur lainnya dengan imbas terjadinya devaluasi mata uang Asia hingga mencapai Rusia dan Brazil.  Kesinambungan “keajaiban ekonomi” di Korea Selatan dan Hong Kong telah berakhir begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Thailand.

    Pelajaran penting yang dapat diambil dari krisis tersebut adalah melakukan penimbungan cadangan devisa.  Hal ini menjadi semacam kepercayaan pada pemerintahan di Asia Timur.  Di tahun 1990an, pertumbuhan ekonomi Asia yang cepat hanya memiliki cadangan yang kecil, walaupun pada saat itu ekspor dan investasi asing sangat pesat perkembangannya.  Ketika krisis datang di tahun 1997, kekurangan cadangan devisa mempersulit kemampuan pemerintah Asia untuk menyelamatkan perbankan, memaksa mereka untuk memohon pertolongan dari institusi internasional.

    Akan tetapi bailout dari IMF datang dengan banyak persyaratan termasuk paksaan untuk liberalisasi pasar  modal yang pada akhirnya menyebabkan krisis makin memburuk.  Bahkan negara-negara barat memberikan sebuah “panggilan” krisis finansial Asia sebagai Krisis IMF, kegagalan pemerintah dan keputusasaan ekonomi bersama IMF secara vital mengkonfirmasi  pentingnya mempertahankan cadangan devisa dalam jumlah besar, sebuah masalah tidak hanya menjaga kestabilan mata uang, akan tetapi juga kemerdekaan ekonomi sebuah Negara.

    Satu Negara di Asia yang tidak terimbas oleh krisis finansial pada tahun 1997-1998 adalah China.  Banyak alasan mengapa hal ini terjadi terutama pada saat itu China sudah memiliki cadangan valuta asing sebesar 100 Miliar US Dollar dan menolak untuk merevaluasi mata uangnya ketika krisis menyerang.
    Sejak itu China secara agresif mendorong perkembangan ekonomi yang pesat, ekspor, dan model investasi untuk pembangunan ekonomi melalui pematokan mata uangnya dan memproduksi lebih banyak dari pada mengkonsumsi, cadangan devisa China bertumbuh menjadi monster menyentuh angka 1 Triliun US Dollar di tahun 2005.  Bahkan ketika China mendapatkan tekanan dari menteri keuangan AS untuk membiarkan mata uang Yuan mengambang terbatas di tahun 2005, cadangan devisa ini tumbuh hingga 200 Miliar US Dollar per tahun.  Dan 1.5 tahun belakang ini cadangan devisa China meroket hingga 1.8 Triliun US Dollar dan menjadi yang terbesar di dunia.

    Namun menjadi paradox ketika cadangan devisa pada hari ini tidaklah kekayaan nyata yang dikembalikan ke dalam ekonomi dalam negeri, malahan cadangan devisa ini merupakan soft loan kepada pemerintah AS.
    Bahkan sebelum kehancuran Wall Street, terdapat consensus kuat di China bahwa cadangan devisa telah tumbuh jauh di atas yang dibutuhkan untuk menahan krisis seperti di tahun 1997.  Usulan untuk melakukan devesifikasi strategi investasi mulai menguat.  Investasi pada US Treasury Bill hanyalah menyebabkan kerugian karena adanya gap antara yield yang didapat dengan apresiasi mata uang Yuan.
    Dengan penciptaan SWF sebesar 200 Miliar US Dollar, yang disebut dengan China Investment Corporation, Beijing memposisikan dirinya lebih ke investasi ekuitas (walaupun investasi pada Blackstone Group dan Morgan Stanley mendapatkan kritikan).  Andy Xie seorang ekonom dari Morgan Stanly memberikan usulan bahwa pemerintah seharusnya menjual asset US Dollarnya dalam  bentuk kepemilikan di perusahaan AS dalam skala besar, menantang AS untuk menyelesaikan masalah keetakutan untuk mencegah bencana kekurangan kapitalisasi

    Namun banyak masyarakat di China mulai dari blogger yang nasionalis sampai dengan aktivis keadilan sosial memberikan kritikannya pada cadangan devisa yang sangat besar dari China.  Mengapa harus membantu memberikan pembiayaan kepada ekonomi AS yang berbasiskan utang, ketika kebutuhan rumah tangga sendiri masih jauh dari yang diharapkan?  China merupakan salah satu masyarakat yang egaliter pada akhir tahun 1985.  Hari ini China mengalami permasalahan adanya gap antara si kaya dan si miskin.  Hari ini gaya kapitalisme di China mempertontonkan perlawanannya pada ajaran dasar Konfusius yaitu: jangan khawatir terhadap kemiskinan, khawatirlah terhadap ketidakadilan.

    Perkembangan pesat infrastruktur fisik di kota-kota di China yang mengalami modernisasi yang luar biasa namun infrastruktur sosial dan lingkungan yang hancur, terutama populasi di pedesaan dan daerah terpencil.  Bertahun-tahun pemerintah pusat bicara mengenai keharmonisan sosial melalui system baru yaitu sistem layanan bersama kesehatan di pedesaan, melalui peningkatan anggaran untuk pendidikan menjadi 4% dari GDP dan menghilangkan SPP pendidikan, dan mengimplementasikan program pengembangan yang berkesinambungan. Janji ini begitu besar, tetapi tindakan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi.  Dan biaya ekonomi karena keterbatasan akses kepada kesehatan, pendidikan di atas minimnya air bersih & sumber air akan menyebabkan kerusakan dalam jangka menengah dan jangka panjang.
    Tantangan bagi China di masa yang akan datang adalah melepaskan diri untuk pembiayaan utang AS dan memulai investasi pada kesehatan, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tahunan mendekati 10% mejadi hal yang mudah.

    Disadur dari tulisan John Delury – Direktur China Boom Project pada Asia Society di New York

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal