Tagged: macro economics RSS

  • ghifi 9:20 pm on June 16, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , macro economics, ,   

    Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II) 

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Kemenangan Adalah Pada Pendapatan

    ‘Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!’

    Bureaucracy_CartoonDalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral.  Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis.  Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita.  Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
    Dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya Amerika Serikat telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dalam hal pendapatan, atau Anda mungkin mengasumsi jika Anda fokus secara eksklusif pada GDP.  Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!
    Tidak ada seorangpun yang melihat hanya omset penjualan sebuah perusahaan untuk melihat seberapa bagus perusahaan bekerja.  Jauh lebih relevan adalah melihat buku besarnya (balance sheet) yaitu bagaimana antara asset dan kewajibannya.  Hal ini juga berlaku terhadap sebuah Negara.  Argentina telah bertumbuh sangat cepat di awal tahun 1990 yang utamanya merupakan hasil dari konsumsi berlebihan yang didanai oleh pinjaman luar negeri.  Akan tetapi pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berkesinambungan  atau dapat dibuat menjadi berkesinambungan.  Mirip dengan Amerika serikat yang meminjam berlebihan dari luar negeri pada rasio USD 2 Miliar per hari.  Akan menjadi lain apabila pinjaman ini dipergunakan untuk investasi yang memiliki produktif tinggi.  Pada kenyataannya, pinjaman ini digunakan untuk menandai peningkatan konsumsi dan pengurangan pajak kepada warga amerika yang kaya.
    Pertimbangkan contoh berikut:  Ketika anda dapat memilih Negara mana Anda dapat hidup tapi akan diberikan pendapatan yang sifatnya acak dari distribusi pendapatan Negara tersebut, apakah anda akan memilih Negara dengan GDP per kapita paling tinggi? Jawabannya adalah tidak.  Yang lebih relevan terhadap pengambilan keputusan adalah median pendapatan ( level pendapatan dimana 50% dari populasi di bawah dan 50% di atas).  Ketika distribusi pendapatan menjadi lebih terdistorsi (skew), dimana median menjadi bertambah turun di bawah mean.  Inilah mengapa walaupuan GDP per kapita meningkat di Amerika Serikat tetapi median pendapatan rumah tangga sebenarnya menurun.
    Ada alasan lain mengapa seseorang belum tentu ingin melihat hanya kepada GDP per kapita.  Seseorang mungkin khawatir terhadap rasa amannya.  Bagaimana kalau dia sakit? Atau kehilangan pekerjaannya?  Bagaimana ketika dia harus pensiun? Mungkin dia juga khawatir terhadap tindak kejahatan.  Dia juga khawatir terhadap kualitas sekolah anak2nya.  Bagaimana anak2nya berkompetisi dengan yang lain yang dapat membayar sekolah terbaik atau dengan negara2 seperti S’pore yang memberikan fasilitas publik terbaik untuk pendidikan? Dia mungkin juga khawatir terhadap lingkungan.  Apakah regulasi pemerintah melarang kadar arsenik dalam air?
    Ketika kita melihat melalui lensa-lensa ini maka Amerika Serikat tidak terlihat lebih baik.  Beberapa dimensi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang lain sebagai contoh Amerika Serikat memiliki 5 s/d 10 kali populasi penjara per kapita dibandingkan dengan Negara-negara industri lainnya dan bekerja lebih lama dalam seminggu.  Amerika serikat juga memiliki keamanan pekerjaan lebih jelek, asuransi pengangguran yang lebih buruk dan lebih sedikit orang yang dapat dilindungi asuransi kesehatan.
    Pastinya mimpi-mimpi orang amerika masih menarik bagi jutaan orang di seluruh dunia.  Namun mimpi-mimpi itu bisa saja hanya berdasarkan pada mitos  pada kenaikan status di Amerika Serika dan pernghargaan yang minimal terhadap kesulitan yang dialami oleh orang miskin.  Walaupun tidak ada standar yang dapat membandingkan antara standar kehidupan di Amerika Serikat dengan negara-negara miskin, dan hal ini memang bukan pijakan yang dapat dijadikan sandaran.

    Langkah Separo-Separo dan Salah Langkah

    ‘Rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan’

    robin hoodDalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan.  Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global.  Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya.  Yang pertama adalah definisi kemiskinan.  Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan.  Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
    Kritikan kedua ada terkait dengan poin dengan yang penting adalah bukanlah globalisasi per se namun leibh kepda kebijakan yang spesifik yang terkait dengan globalisasi.  Liberalisasi pasar modal, sebagai contoh mendukung integrasi yang lebih dekat dengan pasar modal pada khususnya yaitu modal masuk dalam jangka waktu pendek.  Teori ekonomi modern dan analisa empiris menunjukkan bahwa adanya ketidaksempurnaan pasar modal bahwa integrasi seperti ini akan menyebabkan ketidakstabilan kepada ekonomi. Sebuah kesimpullan bahwa bahkan IMF sudah mendukungnya, dan tidak memiliki imbas yang siknifikan pada pertumbuhan.  Ada bukti lain bahwa si miskin harus menerima imbas dan beban terburuk dari naiknya ketidakstabilan ini.  Pendeknya, aspek pada integrasi ekonomi seperti ini sebenarnya meningkatkan kemikinan tanpa memberikan imbas pada pertumbuhan.

    Yang ketiga adalah bahwa Friedman terlalu mengandalkan hasil karya Xavier Sala-i-Martin (The Disturbing “Rise” of Global Income Inequality) dan Surjit Bhalla (Imagine There’s No Country: Poverty, Inequality, and Growth in the Era of globalization) yang menjadi subjek kritikan besar, tanpa mengingatkan kepada pembaca mengenai perdebatan mengenai angka-angka tersebut.  Dapat dikatanan bahwa memiliki artikel yang dipublikasikan dalam jurnal yang mendapatkan review dari rekannya dan memiliki kesimpulan yang diimitasi di dalam media tidak sacara otomatis secara implicit memiliki validitas).  Masalah adalah mudah untuk dibeberkan namun susah untuk diperbaiki, penelitian mengenai ketidakadilan dan kemiskinan adalah berdasarkan dari survey pendapatan dan pengeluraran rumah tanga, namun angka-angka itu dapat dikumpulkan dari penelitian-penelitian itu menjadi tidak konsisten dengan akun pendapatan nasional, sebuah outcome yang melansir adanya kurangnya laporan pada survey rumah tangga.  Satu solusi yan gmudah kepada discrepancy (ketidaksamaan ) ini  adalah pendekatan yang dgunakan oleh Sala-i-Martin dan bhalla, yang membesar-besarkan angka dari survey rumah tangga.  Ketika rata-rata pendapatan dilaporkan adalah USD 3000 dan akun pendapatan nasional menunjukkan rata2 pendapatan rumah tangga sebesar USD4000, adanya peningkatan laporan pendapatan individu sebesar 1/3.  Hal ini secara langsung berdampak mengurangi angka jumlah orang yang hidup di dalam kemiskinan.
    Namun pendekatan yang lebih canggih mengobservasi bahwa individu dengan pendapatan tinggi lebih takut dan khawatir kepada petugas pajak dibandingkan dengan si miskin.  Dalam sudut pandang ini, ketidakbenaran pada laporan ini dihitung oleh orang-orang dengan pendapatan besar, dan jumlah orang2 yang dilaporakan hidup dalam kemiskinan sesuai dengan survey rumah tangga sepertinya cukup akurat.  Penilikan pada kesalahan di laporan mendukung pandangan ini, sebuah  pandangan yang mengatakan bahwa dunia masih jauh dalam mencapai tujuan mengurangi kemiskinan menjadi 50% sebelum tahun 2015 (Untuk melihat perdebatan kedua belah pihak mengenai isukemiskinan, lihatlah perdebatan pada pengukuran kemiskinan, sebuah buku yang diproduksi oleh initiative for Policy Dialogue, dimana saya melakukan edit bersama dengan Paul Segal dan Sudhir Ananda).
    Kemudian pendapat Friedman mengenai pertumbuhan dapat membawa sebuah kesempurnaan moral mengenai keterbukan yang lebih besar dan toleransi mengundang pertanyaan yaitu apakah Amerika Serikat, ketika menjadi lebih kaya, menjadi lebih terbuka den toleran? Apakah keterbukan dan toleransi memastikan titik berat yang sama di ilmu sains modern dibandingkan dengan pandangan masa kegelapan (pre-enlightment)?
    Namun demikian Friedman juga benar dengan argumentasinya yaitu demokrasi relatif lemah untuk bertahan di Negara-negara miskin.  Sehingga jika Bush serius mengenai komitmenya untuk memperluas demokrasi, Dia akan melakukan investasi lebih di Negara-negara ini sebagai bagian dari development,  melaksanakan kesepakatan yang sudah disetujui oleh negara2 maju untuk memberikan komitmennya sebesar 0,7 % dari GDPnya untuk memberikan batuan kepada Negara-negara miskin.  Uang tesebut akan memberikan perbedaan yang besar baik untuk kualitas Negara-negara berkembang dan prospek demokrasi di sana.  Tentunya hal yang lebih besar dari uang juga dibutuhkan, tidak ada yang lebih meyakinkan sebagai contoh yang sukses dari pada masyarakat yang lebih terbuka dan lebih toleransi yang mampu membawa buah dari pertumbuhan dan demokrasi kepada masyarakatnya.  Bagaimana amerika serikat dapat mengklaim dapat memberikan fasilitas seperti contoh di atas apabila dia sendiri tidak peduli dengan dirinya sendiri?

    Mitos Invisible Hand

    ‘Alasan bahwa Invisible Handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya Invisible Hand tidak pernah ada’

    Para ekonom amerika memiliki tendensi yang kuat untuk tidak melibatkan pemerintah dalam invisible-hand-wmmelakukan intervensi terhadap ekonomi.  Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
    Fondasi intelektual untuk mendukung asumsi ini sangatlah lemah.  Pada ekonomi pasar dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksimetrisan informasi dan pasar yang tidak penuh, yaitu ingin dikatakan bahwa setiap ekonomi pasar, alasan bahwa Invisible handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya tidak ada. Para ekonomi yang tidak efisien pada dirinya sendiri.  Pemikiran seperti ini memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya adanya peranan pemerintah yang lebih siknifikan.
    Friedman memulai diskusinya dengan memperhatikan kepada pembatasan umum, mengidentifikasikan externality yang menggaransi interfensi pemerintah. Dia menandaskan pentingnya investasi, baik fisikal dan sumber daya manusia, dan memperhatikan bahwa defisit APBN (tidak menabung) akan melukai investasi-investasi itu.  Ekonom pasar sempurna akan tidak menganggap hal ini: private saving pada akhirnya bertambah untuk mengimbangi saving pemerintah yang negatif, dan jika warga negaranya ingin mengkonsumsi lebih dan menyimpan sedikit, tidak berarti bahwa mereka dibolehkan untuk memaksakan keinginannya pada kita.  Ekonom seperti itu akan berkata bahwa saving domestik lebih penting di dalam dunia globalisasi, bukan keseimbangan global supply dan demand untuk dana.
    Adalah penting untuk dapat mengetahui alasan mengapa prediksi model market sempurna mengalami kegagalan, kegagalan market terjadi jauh diluar externality.  Memahami keterbatasan ini pasar menyebabkan pentingnya peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan dan memastikan bahwa peranan tersebut adalah peranan yang tepat.
    Ada sebuah contoh ketika peranan yang lebih besar dari pemerintah dalam mempromosikan ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dari Friedman yang rekomendasikan.  Sebuah laporan oleh Council Advisor Ekonomi (ketika saya menjadi ketuanya) menemukan bahwa tingkat pengembalian dari investasi publik pada ilmu dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan investasi di bidang swasta pada area ini dibandingkan dengan investasi konvensional dalam pabrik dan peralatan.  Dengan pendidikan terutama pada waktu dimana kualitas sekolah Amerika dan terutama pendidikan keluarga dengan pendapatan rendah. Voucher, sejumlah tertentu diberikan kepada privatisasi parsial pada sekolah dasar dan menengah pada sistem pendidikan telah dikedepankan sebagai bagian dari solusi pasar bebas menyebabkan kualitas pendidikan yang menurun.  Namun advokasi voucher tidak pernah memberikan kasus yang kuat bahwa mereka didesain untuk mempromosikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan integrasi rasial yang lebih besar pada system pendidikan dibandingkan dengan mereka yang menerima voucher.
    Buku Friedman merupakan vaksin yang penting terutama bagi pandangan popular gerakan anti pertumbuhan, dan kepada para ekonom pasar bebas yang mengatakan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya yang kita butuhkan.  Adanya seruan bersama untuk melakukan perubahan arak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkesinambungan.  Apakah anda setuju atau tidak dengan saran kebijakan yang diberikan oleh Friedman, ini adalah analisa yang sangat beralasan yang sangat dibutuhkan oleh Amerika serikat untuk kembali ke track yang benar.

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. Stiglitz

    Moral Consequences

     
    • Dian Milani Hakim 8:45 am on Juni 17, 2009 Permalink

      Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.

    • ghifi 1:32 pm on Juni 17, 2009 Permalink

      Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.

      Demikian dari saya
      cheers,

    • ivenxadytia 6:18 pm on Juli 17, 2009 Permalink

      wah… serujuga baca blog nya…
      success yah….

  • ghifi 5:03 pm on June 15, 2009 Permalink | Balas
    Tags: book review, , macro economics   

    Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian I) 

    Pertumbuhan mungkin segalanya namun tidak hanya satu-satunya

    economic growth cartoonPara ekonom sejak lama memiliki konstituen untuk mendukung pertumbuhan. Karena walaupun sebuah Negara terkaya memiliki sumber daya yang terbatas, pusat permasalahan pada ekonomi adalah pilihan: Apakah kita mendanai pemotongan pajak kepada yang kaya atau melakukan investasi pada infrastruktur dan R&D, atau perang di Iraq atau bantuan kepada kaum miskin di Negara-negara berkembang atau diri kita sendiri?  Dengan memfasilitasi keseluruhan sumber daya, pertumbuhan dalam teori seharusnya membuat pilihan-pilihan ini sedikit lebih mudah.

    Amerika Serikat di pihak lain mendemonstrasikan ketika pertumbuhan meningkatkan supply, juga menumbuhkan aspirasi.  Pilihan Negara-negara kaya yang harus diambil tidak terlihat lebih mudah dibandingkan Negara-negara miskin, sebagai contoh, harus memilih apakah menggunakan budget kesehatan yang terbatas untuk membayar biaya sepenuhnya perawatan penyakit akibat merokok, beberapa penderita penyakit akibat merokok akan hidup sebagai hasilnya, tetapi orang lain yang membutuhkan layanan kesehatan akan meninggal, karena uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu tidak tersedia.  Untuk sumber daya yang bergantung dengan pertumbuhan hal ini adalah yang membedakan antara hidup dan mati.

    Tetap saja pertumbuhan memiliki banyak pengkritik. Ada literatur yang dikembangkan sangat baik oleh para anti-pertumbuhan yang populis yang prihatin dengan imbas pertumbuhan pada lingkungan dan kemiskinan. Hasil karya, The Moral Consequences of Economic Growth oleh Benjamin Friedman menerima kritik seperti itu, memposisikan pertumbuhan tidak hanya memberikan keuntukan ekonomi namun juga keuntungan moral. Dia berargumentasi pertumbuhan memiliki potensi untuk meningkatkan lingkungan, mengurangi kemiskinan, mempromosikan demokrasi, dan membangun lingkungan sosial yang lebih terbuka dan lebih bertoleransi.

    Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa Friedman, Professor ekonomi di Harvard University, seorang yang naïf pendukung ekonomi pasar. Pesannya memberikan perbedaan halus ( walaupun untuk beberapa hal tidak sehalus yang Saya inginkan) dan Dia menyadari bahwa pertumbuhan tidak selalu membawa keuntungan yang dijanjikan. Ekonomi pasar tidak secara otomatis memberikan garansi pada pertumbuhan, keadilan sosial, atau ekonomi yang efisiensi; untuk mencapai tujuan ini mensyaratkan pemerintah memberikan peranannya.

    Biarlah Bertumbuh

    Dalam sejarah, para ekonom mempertanyakan paling tidak pada fase awal dari perkembangan, GGN.wuerker-paradepertumbuhan akan didukung oleh kondisi sosial seperti keadilan yang lebih besar dan lingkungan yang lebih baik. Peraih nobel ekonomi Simon Kuznet memberikan argumentasinya berdasarkan pengalamannya sebelum perang dunia kedua bahwa adanya peningkatan ketidak adilan pada fase-fase awal perkembangan. Arthur Lewis pemenang Nobel ekonomi lainnya menelaah lebih lanjut, adanya ketidaksamaan yang lebih besar adalah penting untuk dapat memberikan saving/tabungan yang dibutuhkan oleh pertumbuhan. Generasi ekonom berikutnya memposisikan keberadaan kurva lingkungan Kuznet: fase awal pada pertumbuhan menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi bukan kesehatan pada lingkungan.

    Kuznet dan pengikutnya mempertahankan bahwa pada akhirnya pertumbuhan akan membawa keadilan sosial (equality yang lebih besar, kemiskinan yang berkurang) dan lingkungan yang lebih baik. Namun hal ini tidak ada satu pun yang terealisasi yang berarti bahwa walaupun hal ini benar di masa lalu, namun mungkin belum tentu di masa yang akan datang. Ketidakadilan (inequality) yang terlihat menurun di Amerika Serikat setelah Great Depression, namun dalam 30 tahun terakhir hal ini ternyata meningkat sangat pesat. Berbagai macam bentuk polusi telah banyak menurun ketika negara-negara kaya memperhatikan isu-isu kualitas udara, Namun emisi rumah kaca dengan segala aspek berbahaya yang mereka timbulkan terkait masalah pemanasan global telah berlanjut meningkat dengan pertumbuhan ekonomi, khususnya di Amerika Serikat.

    cartoon_carbon_gas_elevatorFriedman menekankan khususnya akan pentingnya pengaruh externality (efek transaksi ekonomi), Dalam banyak contoh dimana perbuatan pelaku ekonomi memiliki konsekuensi-konsekuensi bagi pihak-pihak lain dimana pelaku ekonomi tersebut tidak harus membayar (negative externalities) atau dimana pihak tersebut tidak dikompensasi (positive externalities).

    Hampir setiap orang mengenali “kegagalan pasar” ini yaitu ketika pasar itu sendiri tidak dapat memproduksi hasil yang efisien serta implikasinya, yang dapat dicatat yaitu kerusakan terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat mengakibatkan biaya yang besar kepada yang lain terutama pulau-pulau yang letaknya tidak terlalu tinggi dari laut yang bisa terimbas kenaikan permukaan laut di masa yang tidak terlalu lama di masa depan, namun perusahaan-perusahaan Amerika dan konsumen tidak membayar biaya-biaya ini.

    Mengkoreksi kegagalan pasar seperti ini tidak membutuhkan subsidi kepada perusahaan-perusahaan minyak untuk meningkatkan produksi minyak karena tidak ada kegagalan pasar pada arah ini, hal ini lebih membutuhkan pencegahan. Namun externality ini memberikan implikasi argumentasi yang lebih umum yaitu ketika pertumbuhan memiliki keuntungan sosial melebihi apa yang didapat oleh setiap individu atau perusahaan, kemudian pasti ada peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan.

    32SellingDemocracyWalaupun salah satu dari keuntungan sosial yang lebih luas adalah lebih terbuka dan toleran dalam sebuah komunitas, Friedman menjelaskan secara berhati-hati bahwa hubungan antara demokrasi dan pertumbuhan adalah 2 (dua) arah; pertumbuhan mempengaruhi demokrasi, demokrasi mempengaruhi pertumbuhan. Kedua aspek hubungan ini sangat kompleks dan seringkali tidak jelas. Bangsa Cina tidak secara khusus adalah Negara yang mengusung demokrasi atau secara politik terbuka namun memiliki pertumbuhan yang paling cepat dan paling berkesinambungan dibandingkan negara lain karena mereka lebih diterima oleh khalayak ramai, lebih memperhatikan kepada si miskin. Namun Cina telah melakukan lebih banyak pengurangan kemiskinan dibandingkan negara-negara lainnya. Pada periode trakhir, Amerika Serikat melihat median real income menurun di rumah tanga dan si kaya mendapatkan potongan pajak yang besar walaupun si miskin bertumbuh.

    Tidak seperti ekonom yang pro pertumbuhan, Friedman menyadari bahwa isunya bukan hanya tumbuh atau tidak, namun kebijakan yang menyebabkan pertumbuhan. Hasil karyanya memberikan kritik penting kepada karya-karya (salah satunya adalah karya Paul Collier dan David Dollar dari World Bank) yang mengkorelasikan pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan atau pertumbuhan dan integrasi ke dalam global ekonomi. Sesungguhnya keputusan dalam menerapkan kebijakan tidak terfokus pada pertumbuhan atau tidak bertumbuh atau berintegrasi atau tidak berintegarasi dan mengkerucutkan masalah pada masalah tersebut.

    Pertanyaannya akan lebih spesifik, apakah ada pengurangan tarif atau tidak, ada liberalisasi pasar modal atau tidak, ada  investasi pada penelitian dan pengembangan (R&D) atau tidak, atau memperbesar akses kepada pendidikan atau tidak. Dan jawabannya akan jauh lebih kurang jelas. Beberapa kebijakan ini beberapa akan mempromosikan pertumbuhan yang meningkatkan kemiskinan, atau dapat juga mempromosikan pertumbuhan dengan jalan mengurangi kemiskinan. Beberapa startegi pertumbuhan mungkin baik bagi lingkungan mungkin tidak.

    Pendeknya debat seharusya tidak dipusatkan pada apakah seseorang mendukung pertumbuhan polyp_cartoon_free_tradeatau tidak. Pertanyaan seharusnya apakah ada kebijakan yang dapat mempromosikan apa yang disebut dengan pertumbuhan yang bermoral, yaitu pertumbuhan yang berkesinambungan yang meningkatkan standar kehidupan tidak hanya hari ini tapi untuk generasi mendatang dan membangun masyrakat yang lebih bertoleransi, sebuah mayarakat yang terbuka? Dan apakah ada yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa keuntungan dari petumbuhan dapat dibagi secara merata, membangun masyarakat degan keadilan sosial dan penuh solidaritas dibandingkan dengan pemisahan atau pembuatan gap yang sangat terlihat jelas di New Orleans ketika ada bencana alam badai Katrina?

    Masalahnya adalah hampir semua bukti empiris yang tersedia yang datang dari analisa antar Negara, tidak terlalu memberikan informasi. Karya Friedman memfasilitasi kembali seruan Bank Dunia untuk melakukan penelitian lebih ke level mikro atau kasus per kasus untuk melihat adanya trade off (pertukaran) antara pertumbuhan dengan pengurangan kemiskinan dan penurunan kualitas lingkungan.

    Bersambung…

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. StiglitzMoral Consequences

     
  • ghifi 10:03 am on March 31, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , macro economics,   

    Change! World Economics Order Needs To Overhaul Fundamentally 

    Assalammu’alaikum Wr Wb.

    Dalam rangka menyambut Pertemuan tingkat tinggi G 20 yang akan berlangsung di London Inggris pada tanggal 1 April 2009 dan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 negara termasuk negara-negara Eropa, Brazil, Australia, Rusia, China, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Mereka akan ditemani oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari masing-masing negaranya. Ada pembicaraan yang menarik oleh peraih nobel ekonomi Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz.

    Sebenarnya berbicara mengenai ekonomi dunia sepertinya seperti berbicara di atas awang-awang dan hanya para ekonom yang memahami, mungkin karena suasana krisis di dunia belum sepenuhnya dirasakan oleh Indonesia seperti di tahun 1997-1998. Namun demikian angin itu akan segera datang cepat atau lambat, dan apabila tidak bersiap badai krisis juga akan menimpa negara republik yang kita cintai ini.

    Ada sebuah cerita dimana seekor sapi muda merasa sangat berbahagia dimana setiap hari si pemilik selalu memberikan makanan rumput berkualitas tinggi, dan yang dia perlu lakukan setiap harinya hanya makan/minum cukup dan istirahat.  Dia tidak pernah terbayang (barangkali karena seekor sapi:) ) bahwa ketika sebuah hari besar tiba seperti hari lebaran, maka pada saat itu juga si sapi akan segera disembelih tanpa dia sadari sebelumnya karena si pemilik begitu baiknya setiap hari selama 6 bulan memberi makan kepadanya.  Dia tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba.

    Bisa jadi cerita di atas juga akan menimpa kepada kita, karena kita tidak sadar bahwa the day of reckoning akan tiba dan kita belum sempat melakukan apapun karena kita mengira hal tersebut tidak akan terjadi.

    Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketika saya membaca hasil interview antara Presiden Barack Obama dengan Financial Times menunjukkan masih belum ada langkah-langkah nyata yang radikal untuk merubah keadaan yang diharapkan pada kelompok G20.  Langkah-langkah radikal tersebut dapat dibaca pada sambutan pidato Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz di Shanghai tanggal 17 Maret 2009, berikut adalah cuplikannya:

    Peraih Nobel Ekonomi 2001, Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz berbicara di depan pemirsa di Shanghai 17 Maret 2009 menyerukan akan adanya perubahan fundamental pada orde ekonomi dunia melaui system global reserve baru dan pembentukan institusi multilateral di luar IMF dan World Bank untuk mengembalikan ekonomi dunia ke kondisi semula.

    Indonesia sendiri berusaha melepaskan tekanan dari US Dollar melalui BCSA (Bilateral Currency Swap Agreement) dengan China sehingga kebutuhan akan US Dollar akan sedikit menurun dan memberikan diversifikasi valas.

    Menurut beliau sumber dari kekacauan ini adalah ketidakadilan ekonomi sebagai sumber permasalahan sehingga menyebabkan krisis.

    Ketidakadilan ekonomi telah menyebabkan krisis KPR yang menyebabkan krisis finansial dan sistem reseve US dollar yang menyebabkan Amerika Serikat mengekspor krisis dan menjadi krisis global.

    Ketidakadilan ekonomi memiliki arti bahwa kita memindahkan uang dan aset dari orang-orang yang seharusnya tidak mampu yang dipaksa membelanjakannya kepada orang-orang kaya yang tidak mau membelanjakan uang atau aset mereka. Orang-orang ini dipaksa untuk berbelanja dan diberikan pinjaman oleh lembaga keuangan (bank maupun non-bank), Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun hampir di seluruh dunia. Jumlah rumah kosong dan orang-orang yang gelandangan sangat besar di Amerika Serikat, dan masalah kemiskinan, pengangguran di negara berkembang yang artinya bahwa “sistem supply dan demand tidak bekerja“, hal ini perlu dirubah!!

    Prof. Stiglitz menyerukan dunia untuk mengubah arah ekonomi pada jalan yang konsisten dengan visi ke depan dan menyelesaikan permasalahan kebutuhan jangka panjang bukan menciptakan kembali sistem yang sudah gagal.

    China sebaliknya memiliki rencana 5 tahunan yg. kesebelas kalinya untuk membangun ekonomi yang inovatif untuk merekstrukturisasi ekonomi untuk lebih ramah lingkungan dan memfokuskan ekonomi dari ketergantungan ekspor kepada konsumsi dalam negeri dan investasi.

    negara-negara berkembang di kawasan Asia, telah menimbun cadangan US dollar secara berlebihan yang menimbulkan adanya penurunan aggregate demand, dan menurut Prof. Stiglitz disebabkan oleh manajemen buruk IMF pada krisis finansial di Asia di tahun 1997 hingga 1998. Dan ditambah degan adanya penurunan konsumsi negara-negara berkembang dan diikuti / diimbangi oleh konsumsi berlebihan  di Amerika Serikat.

    Jelas hal ini merupakan fenomena aneh pada ekonomi global yang menyebutkan bahwa negara-negara terkaya harus melakukan konsumsi melebihi kemampuannya untuk menjaga agar ekonomi global tetap dapat bertumbuh.

    Di lain pihak, adalah sebuah ironi ketika krisis global menyebar dari Amerika Serikat menuju dunia secara keseluruhan.  Menyebabkan masyarakat di negara berkembang mereka mengkoleksi valas US Dollar walaupun sebenarnya nilainya makin menurun.

    Menurut Prof. Stiglitz sistem global reserve hanya pada satu currency menyebabkan masalah karena seluruh dunia harus melihat ekonomi berbasiskan satu mata uang dimana negara miskin meminjamkan uang kepada negara kaya pada suku bunga hampir nol persen dibandingkan dengan membelanjakan di dalam negerinya.

    Hal ini menyebabkan berlebihnya menurunnya aggregate demand dunia dan Prof. Stiglitz menyerukan adalanya diversifikasi sistem global reserve atau penciptaan sistem reserve yang bersifat regional seperti pada inisiatif Chiang Mai yang merekomendasikan Cina, Jepang dan Korea untuk mengkontribusikan 80 persen pool of fund yang akan digunakan untuk membantu 10 negara di Asia pada saat krisis atau ketika dibutuhkan.

    Pada saat yang bersamaan Prof. Stiglitz juga menyerukan adanya institusi multilateral yang baru di luar IMF dan Bank Dunia. Beliau melihat IMF bukanlah institusi yang baik untuk diberi uang karena mentalitas Wall Street yang memaksakan deregulasi dan kebijakan pro-cyclical yang menyebabkan masalah pada ekonomi dunia.  Hal ini menyebabkan banyak negara tidak bersedia bekerja sama dengan IMF yang menyebabkan usaha untuk mendesain paket stimulus global menjadi kurang penting.

    Beliau juga mengatakan adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi cara untuk disbursement/expenditure termasuk di dalamnya pertimbangan untuk penciptaan fasilitas baru, insititusi baru, dan pengaturan peminjaman baru serta sistem manajemen baru, yang memberikan pertimbahan lebih baik kepada baik negara-negara berkembang maupun negara-negara donor. Dia mencontohkan inisiatif yang dilakukan di negara-negara Asia untuk menciptakan AMF (Asian Monetary Fund) yang terjadi juga di Amerika Selatan, yang pada akhirnya memerikan dukungan terhadap diversifikasi bagi negara-negara berkembang.

    Prof. Stiglitz juga beranggapan bahwa Cina memiliki peranan yang sangat penting di dalam krisis finansial untuk membantu negara-negara berkembang. Cina dan negara-negara lainnya akan dengan cepat menciptakan fasilitas baru untuk mendapatkan uang dan membelanjakannya dalam rangka membantu negara-negara lain yang membutuhkannya. Hal ini sangat konsisten dengan prinsip-prinsip deplomasi Cina dan kebutuhan makro ekonominya.

     
  • ghifi 4:09 am on November 27, 2008 Permalink | Balas
    Tags: Add new tag, finance, insurance, macro economics, risk management   

    Akhirnya Apakah Pemerintah AS Menyelamatkan Pasar…? Atau Hanya Citigroup…? 

    Paman Sam akhirnya mulai menjual systematic risk insurance melalui surat berharga dengan grade yang high yang ditukar dengan preferred stock. Ini merupakan fungsi yang sangat penting pada pemerintah AS, karena Paman Sam adalah satu-satunya pemain yang memiliki kemampuan melakukan hedging pada systemic risk karena dia adalah satu-satunya pemain yang mampu mengambil tindakan untuk menjaga agar system ekonomi secara keseluruhan pada jalan yang seharusnya

    Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah apakah pemrintah AS akan mulai menjual system-risk insurance secara rutin dan membantu likuiditas Triliunan US Dollar sekuritas berbasikan mortgage yang memiliki grade yang tinggi yang dimiliki oleh perbankan dan institusi finansial lainnya yang sangat membutuhkan dana untuk mendukung pembiayaan baru.

    Membuat perjanjian asuransi dengan beberapa pemain besar seperti Citigroup tidaklah sama dengan membuat perjanjian asuransi dengan semua pemain yaitu mengeluarkan surat berharga dengan grade yang tinggi sesuai harapan (conforming), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan sekuritisasi pada kewajiban. Kita menekankan pada kata-kata “sesuai harapan” karena sangat penting bagi pemerintah untuk mulai membedakan surat berharga mana yang aman di bawah kondisi normal dan mana yang “toxic” dan kemudian tidak lagi dipegang oleh institusi intermediary

    Seperti yang transaksi underwriter asuransi, Paman Sam tidak hanya mengetahui dan menyetujui apa yang dia asuransikan, tetapi Dia juga harus memastikan bahwa adanya deductible dan provisi asuransi secara bersama untuk mengurangi moral hazad kepada nasabah yang diasuransikan. Moral hazard yang dimaksud disini adalah ketika institusi finansial mencoba menjual loan dengan grade rendah sebagai loan dengan grade tinggi.

    Kesepakatan akhir minggu dengan Citigroup merupakan instruksi dalam melakukan klasifikas alami asuransi yang pemerintah ingin jual secara rutin . Kesepakatan untuk mendukung sejumlah 306 Miliar dollar MBS yang dimiliki oleh Citigroup menetapkan batas bawah nilai terbaik dari surat berharga tersebut yaitu sebesar 90 cent per dollar. Kesepakatan mewakili penggunaan pertama dalam hal kemampuan memberikan asuransi yang diotorisasi oleh Section 102 pada TARP.

    Struktur dari kesepakatan cukup kompleks, sehingga membutuhkan penyidikan untuk melihat secara akurat asuransi apa yang dijual dan pada harga berapa. Kami diberitahu bahwa Citigroup sendiri harus menanggung kerugian sebear 29 Miliar US Dollar (ditambah dengan kerugian cadangan yang ada pada pembukuannya) pada cash flow yang harus dibayar pada 306 Miliar US Dollar pada mortgage. Jumlah ini kasarnya adalah 10% deductible.

    Apabila terjadi kerugian di atas 29 Miliar US Dollar maka akan dibagai antara pemerintah (90%) dan Citigroup (10%). Asuransi ini meruapakan asuransi bersama. Asuransi ini akan berjalan selama 10 tahun ke depan, dan Citigroup membayar single premi sebesar 7 Miliar dollar untuknya menggunakan preferred stock. Artikel kami bersama Alistair Milne (Recapitalizing the Bank is not enough) memberikan advokasi deductible, bukan co-pay, akan tetapi co-pay sepertinya dalah ide yang bagus.

    Seperti yang sudah diprediksikan kesepakatan asuransi dengan Citigroup telah mencairkan assetnya, dengan harga saham naik sebesar 53 sen segera setelah pengumuman kesepakatan oleh Citigroup yang memungkinkan assetnya yang diasuransikan sebagai collateral (jaminan) untuk meminjam dalam bentuk repo dan pasar commercial paper. Bahkan kesepakatan memungkinkan Citigroup menggunakan 306 Miliar US Dollar dari pada assetnya sebagai collateral untuk meminjam dari bank Sentral pada suku bunga overnight index swap (OIS) ditambah 300 basis poin, suku bunga saat ini dicharge pada ABC paper menggunakan fasilitas dana commercial paper bank sentral. Ini memastikan likuiditas penuh pada asset-asset tersebut.

    Pada saat ini, hanya asset-asset yang spesifik pada balance sheet pada salah satu institusi yang mendapatkan dampak, namun struktur kesepakatan ini dapat dengan mudah diterapkan pada class asset yang sama pada balance sheet manapun. Imbasnya akan mengerem nilai dari semua asset class yang ada dan memulai kembali secondary market pada asset2 yang ada. Struktur asuransi yang mirip dapat digunakan untuk mendukung valuasi surat berharga baru yang dikeluarkan pada asset yang sama, sehingga memulai kembali pasar yang baru yang merupakan sumber utama kredit pada order finansial kita.

    Kesepakatan Citigroup bukanlah contoh yang pertama dari penjualan system risk default insurance oleh Paman Sam. Model 90/10 risk sharing pertama kali diterapkan pada Fasilitas Money Market Investor Funding. Dibawah platform tersebut MMMF menjal asset pasar uang dengan grade tinggi kepada SPV (Special Purpose Vehicle), namun SPV berbagi 10% loss dan Bank Sentral memberikan cover sisa 90%.

    Dibawah kesepakatan Citigroup, risk sharing 90/10 terhadap loss pada asset pasar modal dengan grade tinggi diluar deductible awal 10%. US Treasury menanggung 5 Miliar Dollar berikutnya, FDIC 10 Miliar Dollar berikutnya, dan Bank Sentral seluruhnya setelah 15 Miliar US Dollar.

    Struktur yang kompleks ini merefleksikan provisi pada TARP bill, ketiga berubah, terhadap dana 700 Miliar Dollar yang dimiliki Paulson, keseluruhan face value dari polis asuransi telah dijual oleh US Treasury. Jika saja Pemerinatah AS, dan bukan Bank Sentral, yang memberikan asuransi untuk keseluruhan asset Citigroup sebesar 306 Miliar US Dollar, Pemerintah AS harus sudah melakukan charging sebesar 306 Miliar Dollar terhadap sisa dana TARP. Dalam skema ini Pemerintah AS hanya dicharge 5 Miliar Dollar dan mendapatkan 4 Miliar Dollar dari premi pembayaran. FDIC mendapatkan 3 Miliar Dollar untuk mengcover 10 Miliar Dollar berikutnya. Peran The Fed dating dari komitmennya untuk memberikan dana terhadap asset pool yang tersisa dengan loan yang sifatnya non-recourse subjek yang sama yaitu aturan 90/10 risk sharing.

    Karena keterlibatan yang dalam dari Citigroup dengan surat berharga dengan underlying mortgage, terutama melalui SIV yang bermasalah, maka adalah pantas pemerintah AS memulai dengan Citigroup. Akan tetapi rencana pemerintah AS akan bekerja ketika hal ini juga diterapkan diluar Citigroup

    Kemudian, struktur asuransi harus dibuat lebih jelas sehingga pasar lebih memahami konsekuensi pada valuasi pada underlying securities. Pemerintah harus secara eksplisit melakukan penjualan credit insurance tidak melalui jalan belakang (back door).

    Pemerintah seharusnya menawarkan asuransi pada asset dengan kualitas tertinggi tanpa meliaht siapa yang memegang asset tersebut. Tindakan ini seharusnya mendukung pasar bukan institusi. Karena hal ini, maka sangatlah penting untuk memahami bahwa Paman Sam tidak melakukan asuransi hanya pada Citigroup. Melainkan pemerintah memberikan asuransi khususnya pada asset dengan face value senilai 306 Miliar Dollar yang merupakan MBS dengan grade tinggi, surat berharga dimana Citigroup sekarang dapat menjual ke pihak ketiga atau digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang dari pihak ketiga.

    Disadur dari Tulisan Kolom Ekonomi Laurence Kotlikoff and Perry Mehrling

    Laurence Kotlikoff is a professor of economics at Boston University. Perry Mehrling is a professor of economics at Barnard College, Columbia University

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal