Latest Updates: makro ekonomi RSS

  • Sebuah Konsekuensi Sosial Pertumbuhan Ekonomi (Bagian II) 

    ghifi 9:20 pm on June 16, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , , makro ekonomi,

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Kemenangan Adalah Pada Pendapatan

    ‘Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!’

    Bureaucracy_CartoonDalam bukunya Friedman banyak berbicara topik-topik yang luas, dengan sebuah analisa tentang kebijakan apa yang Amerika Serikat terapkan untuk mencapai visinya mengenai pertumbuhan yang lebih bermoral.  Diskusi ini secara bersamaan bersifat optimis dan pesimis.  Kebijakan yang diambil secara jelas masih dalam genggaman kita.  Namun kebijakan tersebut masih jauh dari kebijakan yang diambil oleh amerika serikat pada tahun-tahun belakangan ini. Yang menyebabkan kemunduran besar, secara bersamaan , menyebabkan pertumbuhan menjadi mandeg (konsekuensi terburuk yang akan berlangsung bertahun-tahun ke depan) dan membangun sebuah masyarakat yang ditandai dengan ketidak adilan sosial yang lebih besar.
    Dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya Amerika Serikat telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dalam hal pendapatan, atau Anda mungkin mengasumsi jika Anda fokus secara eksklusif pada GDP.  Statistik GDP ternyata sangat menyesatkan.  Mereka tidak mengukur sebaik apa Negara bekerja atau seberapa baik rakyatnya menjadi makmur!
    Tidak ada seorangpun yang melihat hanya omset penjualan sebuah perusahaan untuk melihat seberapa bagus perusahaan bekerja.  Jauh lebih relevan adalah melihat buku besarnya (balance sheet) yaitu bagaimana antara asset dan kewajibannya.  Hal ini juga berlaku terhadap sebuah Negara.  Argentina telah bertumbuh sangat cepat di awal tahun 1990 yang utamanya merupakan hasil dari konsumsi berlebihan yang didanai oleh pinjaman luar negeri.  Akan tetapi pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berkesinambungan  atau dapat dibuat menjadi berkesinambungan.  Mirip dengan Amerika serikat yang meminjam berlebihan dari luar negeri pada rasio USD 2 Miliar per hari.  Akan menjadi lain apabila pinjaman ini dipergunakan untuk investasi yang memiliki produktif tinggi.  Pada kenyataannya, pinjaman ini digunakan untuk menandai peningkatan konsumsi dan pengurangan pajak kepada warga amerika yang kaya.
    Pertimbangkan contoh berikut:  Ketika anda dapat memilih Negara mana Anda dapat hidup tapi akan diberikan pendapatan yang sifatnya acak dari distribusi pendapatan Negara tersebut, apakah anda akan memilih Negara dengan GDP per kapita paling tinggi? Jawabannya adalah tidak.  Yang lebih relevan terhadap pengambilan keputusan adalah median pendapatan ( level pendapatan dimana 50% dari populasi di bawah dan 50% di atas).  Ketika distribusi pendapatan menjadi lebih terdistorsi (skew), dimana median menjadi bertambah turun di bawah mean.  Inilah mengapa walaupuan GDP per kapita meningkat di Amerika Serikat tetapi median pendapatan rumah tangga sebenarnya menurun.
    Ada alasan lain mengapa seseorang belum tentu ingin melihat hanya kepada GDP per kapita.  Seseorang mungkin khawatir terhadap rasa amannya.  Bagaimana kalau dia sakit? Atau kehilangan pekerjaannya?  Bagaimana ketika dia harus pensiun? Mungkin dia juga khawatir terhadap tindak kejahatan.  Dia juga khawatir terhadap kualitas sekolah anak2nya.  Bagaimana anak2nya berkompetisi dengan yang lain yang dapat membayar sekolah terbaik atau dengan negara2 seperti S’pore yang memberikan fasilitas publik terbaik untuk pendidikan? Dia mungkin juga khawatir terhadap lingkungan.  Apakah regulasi pemerintah melarang kadar arsenik dalam air?
    Ketika kita melihat melalui lensa-lensa ini maka Amerika Serikat tidak terlihat lebih baik.  Beberapa dimensi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang lain sebagai contoh Amerika Serikat memiliki 5 s/d 10 kali populasi penjara per kapita dibandingkan dengan Negara-negara industri lainnya dan bekerja lebih lama dalam seminggu.  Amerika serikat juga memiliki keamanan pekerjaan lebih jelek, asuransi pengangguran yang lebih buruk dan lebih sedikit orang yang dapat dilindungi asuransi kesehatan.
    Pastinya mimpi-mimpi orang amerika masih menarik bagi jutaan orang di seluruh dunia.  Namun mimpi-mimpi itu bisa saja hanya berdasarkan pada mitos  pada kenaikan status di Amerika Serika dan pernghargaan yang minimal terhadap kesulitan yang dialami oleh orang miskin.  Walaupun tidak ada standar yang dapat membandingkan antara standar kehidupan di Amerika Serikat dengan negara-negara miskin, dan hal ini memang bukan pijakan yang dapat dijadikan sandaran.

    Langkah Separo-Separo dan Salah Langkah

    ‘Rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan’

    robin hoodDalam perdebatan imbas globalisasi pada kemiskinan.  Friedman mendukung padangan walaupun globalisasi telah diasosiakan dengan meningkatnya ketidakadilan di antara Negara-negara globalisasi dapat menurunkan kemiskinan dan ketidakadilan secara global.  Ada tiga yang secara fundamental memiliki kelemahan dalam analisasnya.  Yang pertama adalah definisi kemiskinan.  Bank Dunia telah menekankan pada banyak poin, bahwa kemiskinan tidak hanya masalah pendapatan, namun rasa ketidakamanan dan suaranya yang tidak didengar juga merupakan bagian dari profil kemiskinan.  Analisa Friedman mengabaikan penuh dimensi-dimensi lain daripada kemiskinan.
    Kritikan kedua ada terkait dengan poin dengan yang penting adalah bukanlah globalisasi per se namun leibh kepda kebijakan yang spesifik yang terkait dengan globalisasi.  Liberalisasi pasar modal, sebagai contoh mendukung integrasi yang lebih dekat dengan pasar modal pada khususnya yaitu modal masuk dalam jangka waktu pendek.  Teori ekonomi modern dan analisa empiris menunjukkan bahwa adanya ketidaksempurnaan pasar modal bahwa integrasi seperti ini akan menyebabkan ketidakstabilan kepada ekonomi. Sebuah kesimpullan bahwa bahkan IMF sudah mendukungnya, dan tidak memiliki imbas yang siknifikan pada pertumbuhan.  Ada bukti lain bahwa si miskin harus menerima imbas dan beban terburuk dari naiknya ketidakstabilan ini.  Pendeknya, aspek pada integrasi ekonomi seperti ini sebenarnya meningkatkan kemikinan tanpa memberikan imbas pada pertumbuhan.

    Yang ketiga adalah bahwa Friedman terlalu mengandalkan hasil karya Xavier Sala-i-Martin (The Disturbing “Rise” of Global Income Inequality) dan Surjit Bhalla (Imagine There’s No Country: Poverty, Inequality, and Growth in the Era of globalization) yang menjadi subjek kritikan besar, tanpa mengingatkan kepada pembaca mengenai perdebatan mengenai angka-angka tersebut.  Dapat dikatanan bahwa memiliki artikel yang dipublikasikan dalam jurnal yang mendapatkan review dari rekannya dan memiliki kesimpulan yang diimitasi di dalam media tidak sacara otomatis secara implicit memiliki validitas).  Masalah adalah mudah untuk dibeberkan namun susah untuk diperbaiki, penelitian mengenai ketidakadilan dan kemiskinan adalah berdasarkan dari survey pendapatan dan pengeluraran rumah tanga, namun angka-angka itu dapat dikumpulkan dari penelitian-penelitian itu menjadi tidak konsisten dengan akun pendapatan nasional, sebuah outcome yang melansir adanya kurangnya laporan pada survey rumah tangga.  Satu solusi yan gmudah kepada discrepancy (ketidaksamaan ) ini  adalah pendekatan yang dgunakan oleh Sala-i-Martin dan bhalla, yang membesar-besarkan angka dari survey rumah tangga.  Ketika rata-rata pendapatan dilaporkan adalah USD 3000 dan akun pendapatan nasional menunjukkan rata2 pendapatan rumah tangga sebesar USD4000, adanya peningkatan laporan pendapatan individu sebesar 1/3.  Hal ini secara langsung berdampak mengurangi angka jumlah orang yang hidup di dalam kemiskinan.
    Namun pendekatan yang lebih canggih mengobservasi bahwa individu dengan pendapatan tinggi lebih takut dan khawatir kepada petugas pajak dibandingkan dengan si miskin.  Dalam sudut pandang ini, ketidakbenaran pada laporan ini dihitung oleh orang-orang dengan pendapatan besar, dan jumlah orang2 yang dilaporakan hidup dalam kemiskinan sesuai dengan survey rumah tangga sepertinya cukup akurat.  Penilikan pada kesalahan di laporan mendukung pandangan ini, sebuah  pandangan yang mengatakan bahwa dunia masih jauh dalam mencapai tujuan mengurangi kemiskinan menjadi 50% sebelum tahun 2015 (Untuk melihat perdebatan kedua belah pihak mengenai isukemiskinan, lihatlah perdebatan pada pengukuran kemiskinan, sebuah buku yang diproduksi oleh initiative for Policy Dialogue, dimana saya melakukan edit bersama dengan Paul Segal dan Sudhir Ananda).
    Kemudian pendapat Friedman mengenai pertumbuhan dapat membawa sebuah kesempurnaan moral mengenai keterbukan yang lebih besar dan toleransi mengundang pertanyaan yaitu apakah Amerika Serikat, ketika menjadi lebih kaya, menjadi lebih terbuka den toleran? Apakah keterbukan dan toleransi memastikan titik berat yang sama di ilmu sains modern dibandingkan dengan pandangan masa kegelapan (pre-enlightment)?
    Namun demikian Friedman juga benar dengan argumentasinya yaitu demokrasi relatif lemah untuk bertahan di Negara-negara miskin.  Sehingga jika Bush serius mengenai komitmenya untuk memperluas demokrasi, Dia akan melakukan investasi lebih di Negara-negara ini sebagai bagian dari development,  melaksanakan kesepakatan yang sudah disetujui oleh negara2 maju untuk memberikan komitmennya sebesar 0,7 % dari GDPnya untuk memberikan batuan kepada Negara-negara miskin.  Uang tesebut akan memberikan perbedaan yang besar baik untuk kualitas Negara-negara berkembang dan prospek demokrasi di sana.  Tentunya hal yang lebih besar dari uang juga dibutuhkan, tidak ada yang lebih meyakinkan sebagai contoh yang sukses dari pada masyarakat yang lebih terbuka dan lebih toleransi yang mampu membawa buah dari pertumbuhan dan demokrasi kepada masyarakatnya.  Bagaimana amerika serikat dapat mengklaim dapat memberikan fasilitas seperti contoh di atas apabila dia sendiri tidak peduli dengan dirinya sendiri?

    Mitos Invisible Hand

    ‘Alasan bahwa Invisible Handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya Invisible Hand tidak pernah ada’

    Para ekonom amerika memiliki tendensi yang kuat untuk tidak melibatkan pemerintah dalam invisible-hand-wmmelakukan intervensi terhadap ekonomi.  Asumsinya adalah seringkali pasar bekerja secara umum dengan sendirinya dan hanya pada saat tertentu saja peran pemerintah dibutuhkan untuk mengkoreksi kegagalan pasar; kebijakan ekonomi pemerintah harus hanya membatasi intervensi untuk memastikan efisiensi pada ekonomi.
    Fondasi intelektual untuk mendukung asumsi ini sangatlah lemah.  Pada ekonomi pasar dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksimetrisan informasi dan pasar yang tidak penuh, yaitu ingin dikatakan bahwa setiap ekonomi pasar, alasan bahwa Invisible handnya Adam Smith adalah invisible yaitu karena sebenarnya tidak ada. Para ekonomi yang tidak efisien pada dirinya sendiri.  Pemikiran seperti ini memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya adanya peranan pemerintah yang lebih siknifikan.
    Friedman memulai diskusinya dengan memperhatikan kepada pembatasan umum, mengidentifikasikan externality yang menggaransi interfensi pemerintah. Dia menandaskan pentingnya investasi, baik fisikal dan sumber daya manusia, dan memperhatikan bahwa defisit APBN (tidak menabung) akan melukai investasi-investasi itu.  Ekonom pasar sempurna akan tidak menganggap hal ini: private saving pada akhirnya bertambah untuk mengimbangi saving pemerintah yang negatif, dan jika warga negaranya ingin mengkonsumsi lebih dan menyimpan sedikit, tidak berarti bahwa mereka dibolehkan untuk memaksakan keinginannya pada kita.  Ekonom seperti itu akan berkata bahwa saving domestik lebih penting di dalam dunia globalisasi, bukan keseimbangan global supply dan demand untuk dana.
    Adalah penting untuk dapat mengetahui alasan mengapa prediksi model market sempurna mengalami kegagalan, kegagalan market terjadi jauh diluar externality.  Memahami keterbatasan ini pasar menyebabkan pentingnya peranan pemerintah untuk mempromosikan pertumbuhan dan memastikan bahwa peranan tersebut adalah peranan yang tepat.
    Ada sebuah contoh ketika peranan yang lebih besar dari pemerintah dalam mempromosikan ilmu dan teknologi lebih besar dibandingkan dari Friedman yang rekomendasikan.  Sebuah laporan oleh Council Advisor Ekonomi (ketika saya menjadi ketuanya) menemukan bahwa tingkat pengembalian dari investasi publik pada ilmu dan teknologi jauh lebih besar dibandingkan investasi di bidang swasta pada area ini dibandingkan dengan investasi konvensional dalam pabrik dan peralatan.  Dengan pendidikan terutama pada waktu dimana kualitas sekolah Amerika dan terutama pendidikan keluarga dengan pendapatan rendah. Voucher, sejumlah tertentu diberikan kepada privatisasi parsial pada sekolah dasar dan menengah pada sistem pendidikan telah dikedepankan sebagai bagian dari solusi pasar bebas menyebabkan kualitas pendidikan yang menurun.  Namun advokasi voucher tidak pernah memberikan kasus yang kuat bahwa mereka didesain untuk mempromosikan kualitas pendidikan yang lebih baik dan integrasi rasial yang lebih besar pada system pendidikan dibandingkan dengan mereka yang menerima voucher.
    Buku Friedman merupakan vaksin yang penting terutama bagi pandangan popular gerakan anti pertumbuhan, dan kepada para ekonom pasar bebas yang mengatakan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya yang kita butuhkan.  Adanya seruan bersama untuk melakukan perubahan arak kebijakan ekonomi di Amerika Serikat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkesinambungan.  Apakah anda setuju atau tidak dengan saran kebijakan yang diberikan oleh Friedman, ini adalah analisa yang sangat beralasan yang sangat dibutuhkan oleh Amerika serikat untuk kembali ke track yang benar.

    Wallahua’lam bi showaab

    Pembahasan Buku: “The Moral Consequences of Economic Growth,” Pengarang Benjamin M. Friedman tahun 2005 Oleh Joseph E. Stiglitz

    Moral Consequences

     
    • Dian Milani Hakim 8:45 am on Juni 17, 2009 Permalink

      Hai Ghifi, thanks to share the notes. Tapi rasanya sistem Amerika itu ga cocok diterapkan di Indonesia. Simply, apakah 5 tahun sekarang lebih baik dr 5 th sblmnya?? Apakah hidup makin enak, lebih mudah menyekolahkan anak, dpt kerja lebih gampang, kesejahteraan meningkat? Mudah2an siapapun pemimpin nasional kita benar2 mampu menyelesaikan pmasalahan bangsa n dibukakan mata dan hati untuk mencintai negara kita tercinta ini.

    • ghifi 1:32 pm on Juni 17, 2009 Permalink

      Dear Dian, saya di sini sebenarnya pengen melihat pendapat dari rekan-rekan yang mengenai pertumbuhan ekonomi (btw: 3 capres/cawapres kita khan mengusung isu ini), bisa saja konsep dari kapitalisme, social market, islam dan lain-lain, namun demikian harus melihat inti masalah secara jeli. Sehingga perubahan yang diharapkan juga pada akhirnya dapat tergapai.

      Demikian dari saya
      cheers,

    • ivenxadytia 6:18 pm on Juli 17, 2009 Permalink

      wah… serujuga baca blog nya…
      success yah….

  • Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman? Bagian II 

    ghifi 10:46 am on May 22, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , kapitalisme, keynesian, makro ekonomi, neo-classic

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    capitalismKembali pada topic diskusi diatas, walaupun begitu, saat ini kritisi kelemahan system keuangan tidak hanya focus pada paradigma pasar bebas (privatisasi) yang dominan dimiliki oleh Klasik, tetapi juga pada pondasi Kapitalisme, yaitu credit system dan prilaku serakah yang ter-legal-kan oleh Kapitalisme (misalnya perusahaan sekuritas hanya mengandalkan assessment dari perbankan terhadap credit risk dalam menerbitkan surat-surat berharganya). Dengan credit system dan ciri prilaku spekulatif-nya, system keuangan konvensional modern dikritisi secara alami memiliki fragility. Prilaku serakah pada gilirannya membuat kecenderungan-kecenderungan dimana fenomena dan kebijakan ekonomi kehilangan esensinya sebagai alat pengentasan masalah perekonomian. Dalihnya ekonomi semakin maju, tetapi masalah esensi ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran atau bahkan kriminalitas ternyata semakin meningkat disekitar kita.

    Sejauh ini suara para akademisi yang meneriakkan something wrong with the system!, semakin menguat dan nyaring terdengar. Tidak heran semakin inovatif solusi yang coba ditawarkan oleh mereka. Jurnal-jurnal ilmiah mulai diwarnai dengan isu ini, setelah sekian lama media-media tersebut lebih banyak berdiskusi di ranah microeconomics. Mari kita perhatikan perkembangan-perkembangan selanjutnya, sembari juga terus berupaya, merenung, berdiskusi dan mencoba mewujudkan sesuatu untuk ekonomi yang lebih baik.

    Harapannya madzhab baru yang muncul dan mulai dilirik konsepsinya, walaupun tak penting namanya untuk saat ini,  dalam jangka pendek diharapkan ekonom barat terinspirasi oleh mekanisme ekonomi yang digerakkan oleh produktifitas real dengan prilaku ekonomi yang lebih bermoral.  Arah itu sudah terlihat kok, didahului oleh artikel Rational Fool-nya Amartya Sen tahun 70-an, dan kini ada angin segar yang diusung oleh Joseph E Stiglitz (bahkan sudah ada yang menisbahkan madzhab tersendiri bagi pemikiran beliau, Stiglitzian!!). Silakan baca buku beliau “towards a new paradigm of monetary system”, “Roaring Nineties” atau yang paling fenomenon “Globalization and its discontents”Pyramid_of_Capitalist_System

    Rational Fool menawarkan paradigma baru prilaku ekonomi yang mengedepankan simpati dan empati, meskipun pemikiran Sen ini “mandeg” karena tak ada tools yang practicable yang tersedia di ranah kapitalisme ingat memang Moral sudah ditendang jauh-jauh hari sebelum bangunan ekonomi kapitalisme sudah sangat kompleks seperti sekarang ini – lihat Principles of Economics-nya Marshall atau Ulasan Herbert Spencer terhadap tulisannya Adam Smith di Theory of Moral Sentiment.

    Sementara itu Stiglitzian mengusung isu kerancuan peradigma keseimbangan umum ekonomi, bubble economics, greedy behavior dan inkonsistensi dalam penerapan teori-teori ekonomi. (meskipun ini (isu stiglitz) menjadi sangat usang kalo kita lihat tulisan-tulisan yang sudah dikeluarkan oleh ekonom Muslim seperti Umer Chapra).

    Akan muncul mekanisme-mekanisme ekonomi (dan memang harus kita upayakan untuk muncul) yang inspirasinya dari Islam. akan muncul mekanisme keuangan/perbankan yang mengedepankan risk sharing instead of risk transfer (interest rate concept), akan muncul pajak yang berkarakteristik zakat yang definitif penggunannya untuk apa (meskipun namanya tetap pajak). akan muncul teori-teori filantropis yang mengedepankan isu ramah lingkungan dan sosial dengan nilai-nilai ukhuwah dan tausiyah (meskipun menggunakan nama CSR dan Humanity).

    Tapi semua ini tergantung kesiapan jumlah manusia-manusia beriman (berilmu) dan sabar bukan?! Jadi mari kita wujudkan manusia-manusia itu dulu , di kelas-kelas yang kita pegang, di tempat kita bekerja, di forum-forum informal seperti taklim-taklim yang kita ada didalamnya, di keluarga-keluarga yang memang menjadi amanah kita. kita wujudkan manusia yang cerdas secara akal, ruhiyah dan fisiknya, meskipun boleh jadi kita bukanlah termasuk pasukan yang akan merasakan kemenangan yang kita dambakan nanti.

    Wallahua’lam bi showaab

    Disadur dari Berbagai Sumber

     
  • Ekonomi Neoliberalisme Sebuah ‘Kesalahkaprahan’ Pemahaman? 

    ghifi 9:13 pm on May 20, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , great depression, makro ekonomi

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Saya mendengar istilah neo liberal economist menjadi sangat santer baru-baru ini.  Opini publik polyp_cartoon_rich_poor_neoliberalseperti dengan mudah membentuk buruk sangka pada ekonom-ekonom Indonesia yang saya tahu sudah bekerja begitu keras menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global. Indikator-indikator seperti inflasi, valas, pengangguran, melepaskan diri dari jeratan IMF & pendiktean negara maju, kemudian berusaha vokal di forum global, termasuk menghindari kebijakan proteksionisme, serta selalu berkoordinasi untuk menjaga keseimbangan regional ekonomi bersama negara-negara tetangga dijalankan dengan sangat baik, bahkan nilai Rupiah menjadi terjaga tidak terjerembab lebih jauh.

    Instrumen baru keuangan seperti sukuk, perbankan syariah, instrumen fiskal untuk mengawal penurunan kinerja ekonomi, pengurangan pajak, regulasi yang cukup ketat dan peran pemerintah dijalankan dengan serius. Di mana masa-masa sebelumnya ekonomi Indonesia sudah terlanjur liberal melalui deregulasi perbankan, privatisasi (penjualan perusahaan-perusahaan BUMN contohnya), pasar modal dan pasar valas sehingga eksposure global juga mengenai pasar modal, valas, dan perbankan kita.  Namun imbasnya lebih banyak mengenai spekulan-spekulan ditambah perusahaan atau pun perbankan yang menggunakan instrumen derivative (intrumen hasil rekayasa keuangan) misalnya untuk membiayai investasi jangka panjang dengan instrumen finansial jangka pendek yang sangat berisiko.

    Sedikit melihat ke belakang dan membuka-buka sejarah ekonomi di masa lalu, kita dapat mengambil pelajaran dari Great Depression sebagai turbulensi dahsyat ekonomi di awal abad 20 telah membelah pemikiran ekonomi konvensional modern menjadi 2 madzhab besar, yaitu Klasik dan Keynesian. Meskipun pada perkembangannya kedua pemikiran ini menelurkan sekte-sekte yang mencampurkan dua pemikiran besar tersebut. Akan tetapi kedua gerbong pemikiran ini memiliki warna unik yang menjadi panduan para pengikut dan pengusungnya. Madzhab Klasik relative dikenali melalui keyakinannya pada kekuatan kompetisi pasar yang mampu menyeimbangkan perekonomian dalam jangka panjang. Jean Babtist Say terkenal dengan kalimatnya yang menggambarkan mekanisme ekonomi Klasik, yaitu “supply creates its own demand” (Say Law). Kebijakan ekonomi dari madzhab ini kental sekali dengan nuansa market mechanism.

    Sementara itu, madzhab Keynesian memiliki kecenderungan yang sedikit berlawanan, dimana madzhab ini percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangannya (negara tidak dapat berlepas-tangan) . Keynesian tidak mempercayai waktu “jangka panjang” akan menentralisir setiap ekses dan anomaly ekonomi. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”. Kebijakan Keynesian lebih terlihat pada kebijakan diskresi negara dalam perekonomian. Namun begitu, kedua madzhab besar ini “menari” berdasarkan irama yang sama, yaitu irama Kapitalisme.Dalam beberapa decade, setelah Breton Woods Agreement runtuh perekonomian dunia dalam pengembangannya terkesan lebih berpedoman pada madzhab Klasik (Neo-Klasik) . Hal ini terlihat dari kecenderungan perekonomian modern yang mengusung Globalisasi dengan program-program seperti WTO, freetrade zone, kebijakan liberalisasi dan privatisasi. Pengusung Klasik boleh berbangga dengan capaian itu semua, karena memang inspirasi utama dari fenomena itu adalah mereka.

    cartoonTetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depression, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.

    Wallahua’lam bi showaab

    Insya Allah Bersambung

    Disadur dari berbagai sumber

     
    • Yuda 9:22 am on Mei 22, 2009 Permalink

      Paham Neoliberalisme intinya adalah pasar bebas dan perdagangan bebas. Masalahnya belum ada satu negarapun yang memberlakukan neoliberalisme murni, bahkan Amerika, yang baru-baru ini memproteksi rokok lokalnya dengan larangan impor rokok.

      “Salahkaprah”-nya kan mengaitkan orang atau pemerintah dengan paham neoliberalisme. Karena kenyataannya sebagai negara berkembang Indonesia tidak akan bisa serta merta, terlepas dari negara lain, ataupun membiarkan rakyatnya tidak terlindungi.

    • ghifi 10:14 am on Mei 22, 2009 Permalink

      Dear Yuda, tentunya tidak ada yang murni namun kebijakan utama negara AS adalah memang mengusung ekonomi neo klasik dan meminimalisasi peran pemerintah (ini ciri khas neo klasik), mereka masih punya safety net (untuk asuransi kesehatan, dan pengangguran) seperti pelajaran finance/ekonomi yang sudah pernah kita pelajari, bahwa ekses ekonomi akan normal dalam jangka panjang (isu sentral neo klasik).
      Indonesia juga tidak murni kapitalis misalnya subsidi minyak, beras & listrik untuk keperluan public safety net.
      Demokrasi sendiri juga merupakan resep yang sangat penting pada sistem kapitalisme kalau sistem tersebut diharapkan langgeng.
      wallahua’lam bi showaab

  • Change! World Economics Order Needs To Overhaul Fundamentally 

    ghifi 10:03 am on March 31, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , , makro ekonomi

    Assalammu’alaikum Wr Wb.

    Dalam rangka menyambut Pertemuan tingkat tinggi G 20 yang akan berlangsung di London Inggris pada tanggal 1 April 2009 dan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 negara termasuk negara-negara Eropa, Brazil, Australia, Rusia, China, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Mereka akan ditemani oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari masing-masing negaranya. Ada pembicaraan yang menarik oleh peraih nobel ekonomi Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz.

    Sebenarnya berbicara mengenai ekonomi dunia sepertinya seperti berbicara di atas awang-awang dan hanya para ekonom yang memahami, mungkin karena suasana krisis di dunia belum sepenuhnya dirasakan oleh Indonesia seperti di tahun 1997-1998. Namun demikian angin itu akan segera datang cepat atau lambat, dan apabila tidak bersiap badai krisis juga akan menimpa negara republik yang kita cintai ini.

    Ada sebuah cerita dimana seekor sapi muda merasa sangat berbahagia dimana setiap hari si pemilik selalu memberikan makanan rumput berkualitas tinggi, dan yang dia perlu lakukan setiap harinya hanya makan/minum cukup dan istirahat.  Dia tidak pernah terbayang (barangkali karena seekor sapi:) ) bahwa ketika sebuah hari besar tiba seperti hari lebaran, maka pada saat itu juga si sapi akan segera disembelih tanpa dia sadari sebelumnya karena si pemilik begitu baiknya setiap hari selama 6 bulan memberi makan kepadanya.  Dia tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba.

    Bisa jadi cerita di atas juga akan menimpa kepada kita, karena kita tidak sadar bahwa the day of reckoning akan tiba dan kita belum sempat melakukan apapun karena kita mengira hal tersebut tidak akan terjadi.

    Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketika saya membaca hasil interview antara Presiden Barack Obama dengan Financial Times menunjukkan masih belum ada langkah-langkah nyata yang radikal untuk merubah keadaan yang diharapkan pada kelompok G20.  Langkah-langkah radikal tersebut dapat dibaca pada sambutan pidato Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz di Shanghai tanggal 17 Maret 2009, berikut adalah cuplikannya:

    Peraih Nobel Ekonomi 2001, Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz berbicara di depan pemirsa di Shanghai 17 Maret 2009 menyerukan akan adanya perubahan fundamental pada orde ekonomi dunia melaui system global reserve baru dan pembentukan institusi multilateral di luar IMF dan World Bank untuk mengembalikan ekonomi dunia ke kondisi semula.

    Indonesia sendiri berusaha melepaskan tekanan dari US Dollar melalui BCSA (Bilateral Currency Swap Agreement) dengan China sehingga kebutuhan akan US Dollar akan sedikit menurun dan memberikan diversifikasi valas.

    Menurut beliau sumber dari kekacauan ini adalah ketidakadilan ekonomi sebagai sumber permasalahan sehingga menyebabkan krisis.

    Ketidakadilan ekonomi telah menyebabkan krisis KPR yang menyebabkan krisis finansial dan sistem reseve US dollar yang menyebabkan Amerika Serikat mengekspor krisis dan menjadi krisis global.

    Ketidakadilan ekonomi memiliki arti bahwa kita memindahkan uang dan aset dari orang-orang yang seharusnya tidak mampu yang dipaksa membelanjakannya kepada orang-orang kaya yang tidak mau membelanjakan uang atau aset mereka. Orang-orang ini dipaksa untuk berbelanja dan diberikan pinjaman oleh lembaga keuangan (bank maupun non-bank), Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan  penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

    Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun hampir di seluruh dunia. Jumlah rumah kosong dan orang-orang yang gelandangan sangat besar di Amerika Serikat, dan masalah kemiskinan, pengangguran di negara berkembang yang artinya bahwa “sistem supply dan demand tidak bekerja“, hal ini perlu dirubah!!

    Prof. Stiglitz menyerukan dunia untuk mengubah arah ekonomi pada jalan yang konsisten dengan visi ke depan dan menyelesaikan permasalahan kebutuhan jangka panjang bukan menciptakan kembali sistem yang sudah gagal.

    China sebaliknya memiliki rencana 5 tahunan yg. kesebelas kalinya untuk membangun ekonomi yang inovatif untuk merekstrukturisasi ekonomi untuk lebih ramah lingkungan dan memfokuskan ekonomi dari ketergantungan ekspor kepada konsumsi dalam negeri dan investasi.

    negara-negara berkembang di kawasan Asia, telah menimbun cadangan US dollar secara berlebihan yang menimbulkan adanya penurunan aggregate demand, dan menurut Prof. Stiglitz disebabkan oleh manajemen buruk IMF pada krisis finansial di Asia di tahun 1997 hingga 1998. Dan ditambah degan adanya penurunan konsumsi negara-negara berkembang dan diikuti / diimbangi oleh konsumsi berlebihan  di Amerika Serikat.

    Jelas hal ini merupakan fenomena aneh pada ekonomi global yang menyebutkan bahwa negara-negara terkaya harus melakukan konsumsi melebihi kemampuannya untuk menjaga agar ekonomi global tetap dapat bertumbuh.

    Di lain pihak, adalah sebuah ironi ketika krisis global menyebar dari Amerika Serikat menuju dunia secara keseluruhan.  Menyebabkan masyarakat di negara berkembang mereka mengkoleksi valas US Dollar walaupun sebenarnya nilainya makin menurun.

    Menurut Prof. Stiglitz sistem global reserve hanya pada satu currency menyebabkan masalah karena seluruh dunia harus melihat ekonomi berbasiskan satu mata uang dimana negara miskin meminjamkan uang kepada negara kaya pada suku bunga hampir nol persen dibandingkan dengan membelanjakan di dalam negerinya.

    Hal ini menyebabkan berlebihnya menurunnya aggregate demand dunia dan Prof. Stiglitz menyerukan adalanya diversifikasi sistem global reserve atau penciptaan sistem reserve yang bersifat regional seperti pada inisiatif Chiang Mai yang merekomendasikan Cina, Jepang dan Korea untuk mengkontribusikan 80 persen pool of fund yang akan digunakan untuk membantu 10 negara di Asia pada saat krisis atau ketika dibutuhkan.

    Pada saat yang bersamaan Prof. Stiglitz juga menyerukan adanya institusi multilateral yang baru di luar IMF dan Bank Dunia. Beliau melihat IMF bukanlah institusi yang baik untuk diberi uang karena mentalitas Wall Street yang memaksakan deregulasi dan kebijakan pro-cyclical yang menyebabkan masalah pada ekonomi dunia.  Hal ini menyebabkan banyak negara tidak bersedia bekerja sama dengan IMF yang menyebabkan usaha untuk mendesain paket stimulus global menjadi kurang penting.

    Beliau juga mengatakan adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi cara untuk disbursement/expenditure termasuk di dalamnya pertimbangan untuk penciptaan fasilitas baru, insititusi baru, dan pengaturan peminjaman baru serta sistem manajemen baru, yang memberikan pertimbahan lebih baik kepada baik negara-negara berkembang maupun negara-negara donor. Dia mencontohkan inisiatif yang dilakukan di negara-negara Asia untuk menciptakan AMF (Asian Monetary Fund) yang terjadi juga di Amerika Selatan, yang pada akhirnya memerikan dukungan terhadap diversifikasi bagi negara-negara berkembang.

    Prof. Stiglitz juga beranggapan bahwa Cina memiliki peranan yang sangat penting di dalam krisis finansial untuk membantu negara-negara berkembang. Cina dan negara-negara lainnya akan dengan cepat menciptakan fasilitas baru untuk mendapatkan uang dan membelanjakannya dalam rangka membantu negara-negara lain yang membutuhkannya. Hal ini sangat konsisten dengan prinsip-prinsip deplomasi Cina dan kebutuhan makro ekonominya.

     
  • Pajak PPh Obligasi Berkurang Menjadi Hanya 15% 

    ghifi 10:49 am on February 20, 2009 Permalink | Balas
    Tag: makro ekonomi, , obligasi syariah, pajak,

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.
    Berdasarkan info dari Kompas kemaren, pajak obligasi baik untuk kupon maupun diskonto harga bagi investor dalam negeri telah berkurang dari 20% menjadi 15% sesuai Peraturan Pemerintah no.6 Februari 2009, sehingga diharapkan dapat meningkatkan antusias para investor dalam negeri dan merupakan berita baik bagi penerbitan obligasi di dalam negeri

    Namun hal ini tidak berlaku bagi investor luar negeri yang masih tetap bertengger di 20%. Kalau dibandingkan dengan malaysia masih tidak sepadan karena mereka sudah menghilangkan pajak untuk investor individu dan perusahaan, di S’pore & Vietnam juga 0% untuk investor individu.

    Padahal pemerintah sangat memerlukan instrumen obligasi ini untuk membiayai APBN yang saat ini diperkirakan akan defisit sebesar 2.6% dari PDB atau sekitar Rp. 137 Triliun.  Instrumen yang bisa diunggulkan saat ini seperti sukuk, baik sukuk reguler, sukuk global, sukuk retail, termasuk sukuk yang mempunyai tenor pendek seperti Islamic Treasury Bills.

    Asset yang akan dijaminkan untuk kepentingan instrumen ini diperkirakan mencapai Rp. 55 Triliun, walaupun yang sudah disetujui baru sekitar Rp. 13 Triliun.

    Sedangkan pajak reksadana fixed income sampai dengan tahun 2010 masih tetap 0% kemudian menjadi 5% sampai 2013, dan di tahun 2014 menjadi 15%

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal