Tagged: money RSS

  • ghifi 6:09 pm on March 24, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , money   

    A Short Story About Little Happiness 

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    “My major hobby is teasing people who take themselves & the quality of their knowledge too seriously & those who don’t have the courage to sometimes say: I don’t know.…” (You may not be able to change the world but can at least get some entertainment & make a living out of the epistemic arrogance of the human race).– quoted by Nassim Nicholas Taleb

    Saya sedikit tergelitik salah satu cerita pendek pada hasil karya tulisan Nassim Nicholas Thaleb yang menceritakan mengenai seseorang pengacara yang bernama Mac yang telah sukses sebagai lulusan universitas terbaik di Amerika Serikat (Yale & Harvard) dan tinggal di kawasan elit di upper Manhattan (New York)  namun harus bercerai dengan istri pertamanya yang bernama Janet, karena Janet tidak merasa bahagia dan kurang perhatian dari suamiya.

    Padahal dibandingkan dengan teman-temannya terutama dari bangku SMA, Mac termasuk dalam kategori 99,5% tersukses dari sisi karir dan material, kemudian dibandingkan dengan teman-teman kuliahnya  mungkin Ia masuk golongan di atas 60% dalam hal kesuksesan. Dan tentunya Mac termasuk golongan tersukses apabila dibandingkan koleganya sebagai seorang warga negara Amerika Serikat.

    Namun prestasi karir seperti ini  menjadi biasa saja ketika Mac & Janet pindah ke kawasan elit di Upper Manhattan.  Lokasi tempat tinggal ini memang  tidak jauh dari tempat kerjanya si Mac, dan  Mac sangat terbantu karena lokasi yang strategis.

    Barangkali istrinya (menurut penulis) tidak melihat kesuksesan dari sisi kesuksesan yang telah dicapai tetapi melihat kesuksesan Mac relatif pada lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Upper Manhattan.  Orang-orang yang tinggal di lokasi itu termasuk sukses dan tidak ada satu pun orang-orang yang tinggal di daerah itu dikenal sebagai pecundang.

    Performa Mac tentunya menjadi biasa-biasa aja dan istrinya meninggalkannya, bahkan kemudian Janet menikah dengan orang lain yang memiliki profesi yang sama seperti Mac namun nampaknya Janet merasa lebih bahagia.

    randomness1Menurut Penulis (baca: Nassim Nicholas Taleb) si  istri tidak dapat membedakan antara kemungkintan-kemungkinan (probabilitas) dan keacakan (randomness) dalam kehidupan, sehingga si istri terperangkap dalam keacakan dalam kehidupannya.  Kalau saja  dia bisa memahami adanya kemungkinan-kemungkinan  yang telah dicapai oleh Mac, sebagai contohya apabila si Mac tinggal di wilayah lain yang tidak se-glamour Upper Manhattan barangkali keluarga Mac dan Janet terlihat paling berhasil dan Janet akan menghargai kesuksesan suaminya itu.

    Namun siapa tahu di balik semua itu barangkali memang sebenarnya manusia mudah terperangkap dengan “fakta nyata”yang dihadapkan padanya, serta tidak dapat dengan mudah melihat sesuatu yang abstrak di luar fakta yang ada. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan mengambil sikap yang sama seperti Janet?

    Wallahu’alam bi showab

     
  • ghifi 2:01 pm on February 27, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , money   

    Can Happiness Bring Money, Then? 

    happiness_in_islam_part_1_of_3_-_concepts_of_happiness_001Assalammu’alaikum Wr. Wb. (Was: Lanjutan tulisan Does Money Bring Happiness?

    Kebahagiaan tidak datang melalui resep dokter walaupun ada sebagian orang yang mengkonsumsi obat2an anti depressants terutama yang mengalami sakit mental, namun obat-obat tersebut tidak akan membantu memberikan kebahagiaan

    Salah satu jalan menuju kebahagiaan adalah melalui yang disebut “flow” yaitu melalui kegiatan yang menyenangkan menurut psykolog Mihaly Csikzentmihalyi seperti yang ditemukan pada seorang atlit, pemusik, penulis, pemain game, dan pelaku keagamaan, mereka semuanya dapat merasakan persaan tersebut.  Kebahagiaan datang terasa lebih sedikit pada apa yang anda lakukan dibandingkan bagaimana anda melakukannya.

    Sonja Lyubormisky peneliti dari universitas california menyarankan kita untuk membuat sebuah daftar berisisi segala sesuatu yang membuat anda bahagia di dalam hidup kita, seperti melakukan perbuatan baik kepada orang lain, memaafkan orang-orang yang  anda anggap musuh atau yang berperilaku buruk, menghargai kesengan-kesenangan kecil dalam hidup, memperhatikan kesehatan anda, berlatih untuk selalu dapat berpikiran positif, dan memanfaatkan waktu dan tenaga lebih untuk hubungan persahabatan serta hubungan  bersama  keluarga.  Menurutnya, biasanya orang yang paling bahagia adalah orang yang memiliki persahabatan yang kuat

    Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang berterima kasih, optimis, dan pemaaf mendapatkan pengalaman lebih baik dengan kehidupannya, lebih bahagia, tidak mudah terkena serangan stroke, dan mendapatkan income lebih tinggi! Dan apabila orang tersebut membuat dunia menjadi lebih baik, maka hal itu adalah bonus dari kehidupannya.

    Diener juga mengatakan berdasarkan data yang dikoleksinya, dia mengevaluasi kebahagiaan pada orang-orang yang menjadi obyek penelitiannya, biasanya memiliki sistem immune (baca: pertahanan tubuh) terhadap penyakit lebih baik, menjadi warga yang baik pada pekerjaannya, mendapatkan income lebih baik, kondisi perkawinan yang lebih baik, lebih sosial, dan lebih tabah dalam menghadapi berbagai macam kesulitan hidup.

    Sebaliknya, ketidakbahagiaan menurut Easterbrook dari Brooking Insititute adalah merupakan kondisi default (baca: kondisi given dalam kehidupan) karena sebenarnya untuk tidak bahagia seseorang tidak dibutuhkan untuk melakukan apapun dibandingkan dengan orang yang ingin bahagia.

    Jika kita ingin menemukan hal-hal yang kita keluhkan, dengan mudah kita akan menemukannya.  Dibutuhkan usaha keras untuk mendapatkan kebahagiaan di dalam kehidupan, sayangnya kebanyakan orang tidak melakukannya.  Seseorang lebih suka melalui kehidupan yang tidak sulit karena sebenarnya lebih mudah menjadi tidak bahagia dibandingkan dengan menjadi bahagia.

    Insya Allah bersambung…

     
  • ghifi 4:20 pm on February 26, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , money   

    Does Money Bring Happiness? 

    71014_moneyhappiness_vl-vertical

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Ini adalah pertanyaan sepanjang masa, tidak pernah ada jawaban yang sangat memuaskan walaupun dari sudut pandang ilmu pengetahuan, sudah terdapat jawaban-jawaban yang empiris yang kemudian dilengkapi lagi dari sisi agama termaktub dalam ajaran-ajarannya. 

    Orang-orang dengan pendapatan Rp 500 juta per tahun lebih bahagia dibandingkan  dengan orang-orang yang memiliki pendapatan 24 juta per tahun. Namun orang-orang yang memiliki pendapatan Rp 3 Miliar per tahun tidak lebih berbahagia dibandingkan dengan yang memiliki pendapatan Rp. 500 juta per tahun.

    Kalau Anda sudah menonton film “Slumdog Millionaire”? Film ini menceritakan kehidupan orang miskin yang tinggal di daerah kumuh di Mumbai, dan kemudian cerita berlanjut ketika seorang pemuda miskin menjadi yatim piyatu sehingga terpaksa menjadi anak jalanan.  Dan bagaimana suasana di India terutama di perkotaan seperti Mumbai (dalam film tersebut) yang terasa berat.  Sama dengan kondisi negara republik yang juga tidak lebih ringan, banyaknya pengangguran dan angka kemiskinan yang tinggi merupakan fenomena tersendiri. TV hiburan “Who wants to be a Millionnaire” menjadi favorit pemirsa televisi,  karena acara tersebut menjanjikan ketegangan, sedikit pertaruhan, dan ketenaran karena ditayangkan di TV dengan iming-iming hadiah uang yang besar. Barangkali kalau ada produser film yang membuat film tentang kehidupan keras dan nyata di Jakarta, film tersebut juga akan mendapatkan Oscar seperti film Slumdog Millionaire.

    Menurut Survey yang dilakukan oleh Daniel Gilbert secara global untuk mengetahui pendapat orang-orang mengenai level kebahagiaan mereka menggunakan ukuran skala 1-7,  dimana skala 1 berarti “Tidak puas dengan kehidupan Saya”, sedangkan skala 7 bararti “Sangat puas dengan kehidupan saya”. Ternyata orang-orang yang homeless yang disurvey di India memberikan skala 2,9 terhadap kondisi mereka, namun mereka yang hidup dan tinggal di daerah kumuh melakukan rating terhadap diri mereka pada skala 4,6.  Orang-orang yang hidup di Greenland yang tidak memiliki kehidupan mewah atau peternak sapi di daerah Kenya yang tidak memiliki listrik atau air bersih merating diri mereka pada skala 5.8.  Milyuner yang disurvey di Amerika Serikat merating diri mereka pada skala 5,8.  Menurut penulis ”Stumbling happiness” Daniel Gilbert (2006) orang-orang dengan pendapatan Rp 500 juta per tahun lebih bahagia dibandingkan  dengan orang-orang yang memiliki pendapatan 24 juta per tahun. Namun orang-orang yang memiliki pendapatan Rp 3 Miliar per tahun tidak lebih berbahagia dibandingkan dengan yang memiliki pendapatan Rp. 500 juta per tahun.

    Membandingkan uang dengan kebahagiaan tidak  semudah yang diperkirakan. Kebahagiaan  sifatnya tidak materiil (baca: immaterial) sedangkan uang sifatnya materiil.  Banyak sudah para ilmuwan, ekonom berbicara mengenai uang dan kebahagiaan.  Dulu memang banyak yang berkata bahwa kebahagiaan dapat diukur dengan tingkat pendapatan seseorang, namun dengan berjalannya waktu dan apalagi kita berbicara mengenai ajaran spiritual, ternyata uang tidak selamanya membawa kebahagiaan (lihat hasil survey di atas), malahan bisa jadi uang menjadi sumber malapetaka, dan untuk mencegahnya uang harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih dari sekedar mencari keuntungan pribadi (baca: irrational exuberance).

    Kalau kita membandingkan sesuatu, maka paling mudah adalah membandingkan sesuatu yang sama. Sebagai contoh uang yang sifatnya materiil bisa dibandingkan dengan makan dan minum yang sifatnya juga materiil. Kita makan dan minum dengan menu yang sama setiap saat, tentunya bosan. Kita juga lapar mata ketika melihat berbagai jenis makanan yang tersedia di sebuah pesta perkawinan, dan inginnya semuanya dicicipi akan tetapi, apa daya kapasitas perus kita terbatas, baru mencoba dua-tiga menu sudah terasa kekenyangan.  Beberapa individu dapat memoderasi nafsu ini namun, beberapa yang lain belum tentu bisa.  Kenikmatan makan dan minum menjadi berkurang ketika kita mulai merasa cukup (baca: kenyang), sehingga kita tidak butuh lagi asupan makanan dan minuman yang malah dapat menimbulkan akibat buruk seperti penyakit (baca: A Theory of Human Motivation oleh Abraham Maslow).

    Lain lagi ceritanya ketika uang pada saat kita butuhkan untuk membeli kebutuhan dasar,  sangat berkolerasi langsung misalnya untuk membeli rumah, kendaraan, sandang, kebutuhan sehari-hari, kebutuhan anak sekolah, asuransi kesehatan, asuransi jiwa.  Kita akan merasa lebih bahagia ketika kita dengan susah payah dapat memenuhi kebutuhan dasar ini yang juga digambarkan oleh teori di atas yang ditulis lebih dari 65 tahun yang lalu.

    Menurut Diener dan Seligman, “Ketika kebutuhan dasar kita terpenuhi, kebahagiaan tidak melulu mengenai perbedaan jumlah pendapatan, akan tetapi lebih sering karena faktur-faktor seperti hubungan sosial dan kecintaan akan pekerjaannya.”Peneliti lain menambahkan ”Kesadaran bahwa kehidupan memiliki arti seperti keberadaannya di lingkungan masyarakat, atau dalam sebuah kelompok/grup, atau hidup di alam demokrasi yang menghargai hak-hak manusia serta aturan hukum.”

    (afwan)

    Insya Allah bersambung…

     

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal