Latest Updates: religous figure RSS

  • Makna Kemerdekaan 

    ghifi 8:04 am on August 9, 2009 Permalink | Balas
    Tag: , , , independence day, religous figure

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    Ketika sholat jum’at penulis mendengarkan khatib yang kebetulan pada waktu itu adalah Uztad Ahmad Satori Ismail, walaupun ceramah cukup singkat namun maknanya sangat dalam dan membekas di dalam diri penulis.  Barangkali ceramah seperti ini seharusnya sangat menginspirasi pemimpin dan rakyat negara tercinta ini untuk keluar dari keterpurukan dan menjadi bangsa yang besar dan terhormat.

    benderaBeliau memaparkan sejarah (sirah)  kerasulan Muhammad Saw. dan mengatakan bahwa kemerdakaan adalah seharusnya dalam segala aspek, termasuk aspek politik dan ekonomi.  Bahkan ketika itu Rasulullah Saw. melihat masyarakat muslim pergi ke pasar yang ketika itu dikuasai oleh kaum Yahudi, kemudian Beliau memerintahkan untuk membangun pasarnya sendiri.

    Pada suatu waktu ketika musim kemarau datang, air biasanya sulit untuk didapat dan ketika itu ada satu sumur di kota Madinah yang kebetulan juga milik kaum yahudi yang tidak pernah kering, sehingga masyarakat harus rela mengantre seperti mengantre BLT setiap hari dan harus membayar sejumlah uang kepada si pemilik.  Melihat kondisi seperti ini Rasulullah saw., prihatin dan beliau bersabda,”Wahai Saudara-Saudaraku barangsiapa yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu dan disumbangkan kepada umat maka akan mendapatkan surganya Allah Swt!”

    Ketika para sahabat mendengar sabda itu yang pertama kali terhentak untuk bisa merebut sumur tersebut adalah sahabat Utsman bin Affan r.a. yang memang beliau adalah saudagar yang kaya dan cerdik.  Beliau langsung mendatangi orang yahudi tersebut dan karena yang ada dalam pikiran Utsman r.a. bahwa yang didapat adalah Surga maka beliau berniat membayar berapapun yang diminta oleh si pemilik dan akan memberikan kepada umat secara ‘gratis‘ karena seyogyanya air  memang gratis.

    Singkat cerita, sang pemilik tidak mau menyerahkan propertinya karena sumur air tersebut merupakan sumber pendapatan hariannya.  Bahkan ketika Utsman r.a. menawar harga hingga 3(tiga) kali dari harga pasar, sama sekali hal tersebut tidak digubris oleh sang pemilik.  Terpaksalah pada hari itu sahabat Utsman r.a. pulang dengan tangan hampa.  Tetapi Sahabat yang cerdik ini hari berikutnya kembali lagi tentunya membawa proposal lainnya. Beliau berkata kepada sang pemilik “Bagaimana kalau Saya membeli separo sumur Anda? Dengan begitu Engkau masih memiliki sumber pendapatan dan mendapatkan uang yang banyak!” Sang pemilik berkata, “Bagaimana caranya membagi menjadi separo?”  Sahabat mengatakan,”Yang saya maksud dengan saparo adalah hari ini sumur ini milik Saya besok sumur ini milik Anda dan begitu seterusnya!” Sang pemilik berpikir sebentar dan akhirnya setuju atas proposal Utsman r.a.

    Begitu sudah sepakat dan kontrak pembelian ditandatangani segera saja sahabat Utsman r.a. mengumumkan kepada umat muslim bahwa Beliau sudah membeli separo dari sumur, dan masyarakat bisa mengambil air gratis tetapi karena baru separo, sahabat Utsman r.a. mengatakan bahwa kalau bisa pada saat sumur tersebut menjadi menjadi miliknya sebisa mungkin mengambil air untuk persediaan dua hari sehingga masyarakat tidak perlu membayar untuk hari berikutnya.  Sehingga begitulah akhirnya, masyarakat mengambil air untuk persediaan dua hari.  Dan ketika giliran pemilik yang separo lagi, orang yahudi tersebut langsung bingung mengapa orang Muslim yang biasanya mengantre, hari tersebut tidak terlihat ada yang mengambil air, dan setelah berlangsung selama sebulan maka kembali datanglah Ustman bin Affan r.a. untuk menawarkan pembelian separuh properti orang Yahudi tersebut dari pada dia tidak mendapatkan uang sama sekali.  Dan akhir cerita sahabat Ustman berhasil membebaskan ketergantungan umat dari air.

    Sejarah tersebut seharusnya juga menginspirasi kita untuk mendapatkan kebebasan umat secara ekonomi, politik dan sosial.  Negara ini masih sangat tergantung dari pihak-pihak luar padahal sumber daya begitu kaya dan jumlah penduduk begitu potensial.  Tentunya hal ini tidak bisa disalahkan pada pemimpin di masa lalu saja, bisa jadi pemimpin kita juga memiliki keterbatasan, namun di luar itu semua dari kita harus berpikiran bahwa keuntungan jangka panjang dapat diraih bersama ketika “keuntungan” ini adalah kemasalahatan jangka panjang, dan bukan keuntungan jangka pendek (baca: bottom line).

    Bangsa ini memerankan peranan yang luar biasa penting, beberapa kali Presiden Barack Obama menyatakan ingin berkunjung ke Indonesia di bulan November 2009 ini karena Beliau membaca bahwa Indonesia yang memiliki jumlah populasi muslim terbesar di dunia dan terkenal dengan Muslim yang moderat serta dapat menghargai serta sangat toleran dengan agama lain, bisa menjadi contoh bagi dunia terutama karena dunia ini sedang dilanda oleh konflik civilization yang besar khususnya dunia Muslim dan barat, terutama di bidang sosial, politik dan ekonomi.  Presiden Barack Obama melihat bahwa kekayaan seni budaya baik yang tradisional maupun kontemporer bisa membawa kedekatan antara dua budaya yang sedang berkonflik (sumber: project syndicate)

    Mudah-mudahan kemerdekaan bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. dan rakyatnya terbuka matanya untuk memahami makna hakiki dari kemerdekaan yaitu kemerdakaan dalam segala hal, dan pada akhirnya diri Kita sendirilah yang menentukan arah kemana bangsa ini akan pergi dan posisi bangsa ini ketika berdiri dan bersanding sejajar serta mendapatkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain karena budaya toleran dan saling menghargai yang merupakan  fondasi utama karakter bangsa ini, dan bisa jadi salah satu modal kekuatan untuk mandiri dan memberikan kontribusinya kepada dunia.

    Merdeka!!!

    Wallahua’lam bishowaab

     
  • Al-Ghazali 

    ghifi 7:29 am on April 5, 2009 Permalink | Balas
    Tag: islamic theology, religous figure

    Assalammu’alaikum wr. wb.

    gz-movieBarangkali Al-Ghazali (Algazel in English) merupakan salah satu idola saya saat ini.  Beliau adalah seorang filosof di abad kesebelas dilahirkan pada tahun 1058 dan meninggal di tahun 1111 Masehi.

    Dalam umur yang relatif muda (53 tahun) beliau sudah meninggal tetapi telah meninggalkan begitu banyak karya yang bermanfaat sepanjang masa.  Beliau telah menulis karya hingga 72 karya, belum lagi karya-karya termasuk tentang beliau yang tidak dalam buku namun tersebar bisa mencapai 457 karya.  Barangkali kalau saya menulis karya walaupun harus mencurahkan segala tenaga dengan ribuan referensi, 10 karya pun saya belum tentu bisa mencapainya, dan karya yang orisinal serta memiliki pengaruh sepanjang masa barangkali 1 karya pun belum tentu.

    Beberapa julukan yang diberikan kepadanya seperti Hujattul Islam (Proof of Islam) dan  Zainuddin.

    Saya begitu terkesima dengan karya-karya beliau adalah salah satu karya yang ditulisnya “The Revival of Religious Sciences” (Ihya’ul Ulumuddin) dan jika semua ilmu Islam hilang maka, Islam dapat diambil kembali dari ihya’ul Ulumuddin.  Dalam buku ini beliau menuliskan bahwa ilmu pengobatan / kedokteran dan Matematika merupakan fard khifayah atau menjadi kewajiban komunitas. (Pemikiran Sosio Ekonomi Al-Ghazali)

    Pemikiran akan skepticism ” My mind can only go so far the rest is my emotions” sepertinya quote ini begitu menjelaskan akan keterbatasan kita di dalam memahami semua ada yang ada di dunia. Skepticism merupakan salah satu filosofi dalam melihat dunia, dia mengajari kita untuk tidak terlalu bergantung kepada logika, mengajari kita untuk lebih open mind, dan tidak taqlid (mengikuti kepercayaan / pendapat / keyakinan secara brutal.:) ).  Filosofi skepticism di jaman andalusia juga pernah terjadi.  Pada saat itu terjadi perdebatan antara school of avicennian (Ibn Rushd) dengan Ash’ari (Al-Ghazali), dimana Al-Ghazali menulis buku Tahafut al Falasifa (Incoherence of Philosphoper). Avicennian yang mehubungkan antara filosofi aristotle dengan ajaran religi melalui logika yang ditentang dalam buku Tahaful al Falasifa.

    Namun intinya adalah bahwa pemahaman kita hanya terbatas, seperti filosofi dari Plato yang cenderung untuk salah narasi atau membaca peta sehingga telalu fokus pada bentuk-bentuk yang murni dan terdefinisi dengan baik misalnya seperti bentuk segitiga, pandangan-pandangan sosial, seperti utopia, bahkan nasionalitas.  Konstruksi-konstruksi serba nyata ini memenuhi pikiran kita sehinggak kita memberikan perhatian yang lebih besar kepada hal-hal itu dibandingkan kepada hal-hal lainnya yang tidak terdefinisi dengan baik.

    Model-model ini mirip dengan obat penyakit yang memiliki potensi untuk manjur, meskipun jarang, namun dapat menghadirkan efek-efek samping yang sangat berbahaya, akan tetapi  sulitnya adalah 1) kita tidak mengetahui sebelumnya (baru setelah kejadian) di mana peta akan keliru, 2) kesalahan tersebut dapat mengantar ke akibat-akibat yang buruk. (baca: Black Swan).

    Insya Allah Bersambung

    Wallahu’alam bi showab

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal